Jumat, 22 Januari 2016

Ada Apa dengan Surat Undangan Berbahasa Mandarin untuk Jokowi?


Saat asyik masyuk ber-fesbuk ria, tak sengaja saya baca postingan seorang teman soal surat undangan peresmian ground breaking proyek KA Cepat yang dilayangkan oleh delegasi China. isinya meminta Presiden RI Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama mega proyek High Speed Rail (HSR) atau kereta cepat Jakarta-Bandung di Walini, Bandung Barat.

Postingan itu laku keras, karena isi suratnya menggunakan bahasa Mandarin (yang nggak umum bagi kita). Pasukan bodrek pun berduyun-duyun pada nge-share, like dan juga komen sinis. Bahkan menuduhnya sebagai Chinanisasi. Terakhir saya lihat postingan tersebut dishare lebih dari 250 orang. Subhanalloh..

Oalaa pakde..

Itulah kebanyakan orang kita, kagetan dan nggumunan. Lihat surat berbahasa Mandarin saja langsung heran, uring-uringan, negative thinking. Lha wong yang bikin surat orang China kok..mau bahasa Mandarin, prokem, alay, atau bahasa rumput.. terserah mereka.

Sebelum suudzon atau menuduh yang tidak-tidak mending kita teliti dulu. Jangan menilai sesuatu cuman dilihat dari yang tersurat tapi teliti apa yang tersirat, ada apa dibalik semua itu.

Rupanya banyak yang belum kenal dengan karakteristik bangsa China. Rakyat China sangat mencintai adat dan budayanya. Nasionalisme mereka sangat tinggi. Orang China tidak akan pernah mau menganggap bahasa Inggris (atau bahasa lain) lebih hebat dari bahasa Mandarin.

Selain huruf dan pelafalan yang otentik, orang China sangat bangga atau percaya diri bahwa mereka adalah bangsa yang kuat (hebat). Mereka akan memaksa orang asing yang berhubungan dengan mereka berbahasa Mandarin, bukan mereka yang berbicara Indonesia atau Inggris.

Walaupun mungkin bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris, tapi mereka tak mau berlama-lama berbahasa Inggris. Jadi kita mutlak harus bisa Mandarin untuk berhubungan dengan orang China asli. Maaf, China yang saya maksud bukan Warga keturunan Tionghoa yang oleh para Rasis di Indonesia disebut sebagai Cina itu.

Nggak cuman bangsa China yang nasionalismenya sangat tinggi. Korea dan Jepang karakteristiknya juga seperti itu. Walaupun sudah modern dan maju tapi orang yang bisa berbahasa Inggris (lancar) bisa dihitung dengan jari. Lihat saja boy band atau boy girl dari Korea, sedikit bahkan tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Bisanya cuman 'oh yes', 'oh no' dan 'oh my God'.

Kita saja yang minder dengan bahasa kita. Bangga sekali kalau bisa bahasa Inggris atau asing. Orang China, Korea atau Jepang lebih bangga dengan bahasanya sendiri. Di sana jarang ada nama orang yang pakai nama kebarat-baratan. Sedang di sini malu pakai nama asli Indonesia. Bahkan untuk menyatakan cinta pada bangsanya pun pakai bahasa Inggris, 'I Love Indonesia'. Kenapa nggak 'Aku Cinta Indonesia'.

Anak kelahiran era milennium jarang sekali bahkan tidak ada yang bernama Wagimun, Dalijo, Tukiran atau nama asli Indonesia lainnya. (Soal nama-nama klasik Indonesia kapan-kapan saya bahas..tolong jangan didahului yaaa.. Plisss.) Karena pikiran kita telah terseret oleh pikiran orang Barat. Standar nilai dalam banyak hal juga ngikut standar orang sono.

Kejadian ini membuktikan bahwa kita gampang sekali menuduh atau mempermasalahkan hal yang sama sekali nggak perlu dipermasalahkan. Cepat sekali panas, emosi, berprasangka yang tidak-tidak tanpa fakta, bukti, investigas yang cermat. Digiring oleh kebencian yang amat sangat pada Jokowi. Pikiran burek, cupet bin mbundet.

Saya memang nggak pernah ke China, Korea atau Jepang. Pengetahuan saya tentang budaya mereka sangat terbatas (makanya nulisnya pendek saja Mblo..takut kelihatan kupernya). Tapi, percaya atau tidak silahkan tanyakan pada orang China (yang asli bukan KW).

Wis ah..Percoyo karepmu gak percoyo urusanmu, trims.


-Robbi Gandamana-

Berita Ilusi yang Bikin Sensi

Sebelum membahas lebih jauh ngalor ngidul nganti ngulon, ada baiknya kita kenali dulu macam tulisan yang umum di tulis media: berita, artikel dan esai. Berita adalah laporan tercepat mengenai kejadian yang sifatnya sementara sedangkan artikel adalah karya tulis faktual yang berupa ilmu pengetahuan sifatnya tetap (nggak sementara).

Esai adalah tulisan yang membahas tentang sebuah masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya. Isinya adalah opini penulis dengan sebuah masalah, dan subyek masalah tersebut diberikan nilai si penulis. Begitu kata seorang dosen di Institut Google Indonesia.

Di era digital yang serba cepat dan instan ini, bukan kita yang mencari berita tapi berita yang mencari kita. Situs-situs berita berlomba-lomba menjaring pembaca dengan judul yang bikin penasaran, kreatif, bombastis juga kontroversi. Agar rating terdongkrak naik. Berharap diserbu iklan. Tapi malah dapat teguran dari KPI.

Nggak cuman situs berita atau media massa mainstream yang membuat berita, semua orang bisa menulis berita. Nggak peduli kamu bakul akik, sales kaos kaki maupun tukang ketik kelurahan. Semua punya potensi menulis berita, selama dia punya akun medsos.

Masalahnya nggak semua berita itu valid, ada buanyak sekali berita ilusi yang berdasar asumsi tanpa bukti. Yang berpotensi menimbulkan kegaduhan, polemik di masyarakat. Atau juga membuat rakyat kehilangan kepercayaan dan simpati pada pemerintah.

Saya sebut sebagai berita ilusi karena ditulis tanpa fakta, bukti dan logikanya payah (istilah orang pinter: logical fallacy). Ditulis dengan bahasa tinggi bak seorang profesor. Benar-benar meyakinkan, seolah-olah seorang pakar di bidangnya. Buktinya banyak yang langsung terpikat dan nge-share : 'emejing!..ijin share Mblo!'.

Dan ketika berita ilusi tersebut dipersoalkan fakta dan buktinya, mereka selalu punya pembenaran yang luar biasa, singkat, padat dan..salah. Ada benarnya juga perkataan seorang kyai yang bilang bahwa Tuhan itu maha menyesatkan, bagi mereka yang pantas disesatkan (karena kebencian atau kecintaan yang amat sangat pada sesuatu atau seseorang).

Tapi ada juga yang bahasanya sinis, emosi yang meledak-ledak dan kesimpulan yang tergesa-gesa. Biasanya yang begini adalah pengamat kagetan. Ketika ada komen yang bernuansa debat, langsung melarikan diri atau si komentator diblokir...beress, aman terkendali.

Berita ilusi paling gres adalah berita soal teror Sarinah yang dipelintir sebagai pengalihan isu perpanjangan kontrak Freeport, pengalihan isu korupsi Setyo Novanto, pengalihan isu mbahmu yang belum sunat dan sebagainya.

Padahal yang dituliskan si penulis tersebut hanya berdasarkan asumsi yang tak berdasar. Isinya nggak lebih dari 'menurut saya'. Kont..eh konyolnya tulisan 'menurut saya' tersebut dijadikan berita oleh sebuah situs berita dengan judul provokatif. Seakan-akan berita tersebut hasil dari investigasi bertahun-tahun, padahal cuman cocoklogi.

Ada juga berita ilusi soal pengalihan isu lainnya yang dihimpun dari kumpulan status dari Facebook, Twitter dan Chirpstory. Hanya karena status-status tersebut jadi viral di Medsos (di-like dan di-share banyak orang). Dengan harapan bisa mendongkrak rating atau popularitas. Tanpa perduli akibat yang ditimbulkan: kegaduhan dan hilangnya simpati pada aparat yang sudah berkorban maupun yang jadi korban.

Sebagai orang awam, saya nggak pernah tahu yang sesungguhnya, apakah kejadian teror Sarinah adalah rekayasa atau bukan. Saya hanya tahu berita tersebut dari media mainstream atau situs-situs berita yang kredibel. Jadi saya nggak akan percaya sama sekali dengan kasak kusuk para netizen antah berantah atau berita dari situs nggak jelas.

Yang cukup bikin saya herman....bagaimana bisa status atau tulisan oleh orang yang sama sekali tidak berkompeten di bidangnya bisa dipercaya dan di-share begitu saja oleh gemblunger all over the medsos. Subhanalloh..

Sepertinya masyarakat kita buanyakk yang belum bisa move on total. Benih benih perseteruan dari Pilpres kemarin masih belum sepenuhnya padam. Karena berita ilusi di atas (kebanyakan) adalah berita negatif yang menyudutkan pejabat, aparat pemerintah dan presidennya saat ini.

Kedua kubu ini berlomba-lomba membuat berita ilusi untuk menjatuhkan mental lawan. Tulisan soal pengalihan isu teror Sarinah ditulis oleh Jokowi Haters. Tulisan soal Fachri Hamsah Vs. KPK kebanyakan ditulis oleh Jokowi Lovers. Saya sebagai Golput menikmati pertunjukan itu dengan rileks di sela-sela kesibukan kerja. Ayo Mblo..kamu bisaaaaaa!

Saya pribadi tak pernah percaya (masuk hati) berita yang nggak jelas juntrungannya, lebih baik menunggu berita resmi atau berita dari situs berita yang kredibel. Boleh sih..dan halal baca berita ilusi asal tidak dimasukkan di hati, sekadar hiburan semata. Jika berita tersebut 'miring' , kita tak terpancing untuk emosi yang berujung pada debat yang tak berujung.

Berita ilusi bernuansa politik dan sejenisnya kebanyakan berdasar atas kedengkian antar kubu yang berseteru saat Pilpres 2014. Jadi lebih baik bacalah dengan hati yang terbuka, netral, jangan dimasukan di hati dan pikiran. Kalau terlalu serius mbacanya jadi ikut terjerumus ke lembah gemblung.

Kebencian yang amat sangat itulah yang menjadikan hati dan pikiran mereka burek, nggak bisa berpikir jernih. Sehingga mereka langsung meng-iya-kan berita apa pun yang mewakili kebenciannya. Akhirnya plonggg!, 'Alhamdulillah Ya Rabb..'

(Sori saya Golput, tak ada urusan dengan hater, lover atau gemblunger. I don't want to be a part of this sick society!)

Dengan kata lain, kebencian itulah yang menyeret hati untuk selalu curiga, berprasangka, ber-ilusi yang ujungnya dituangkan dalam bentuk tulisan. Jrengg..dan disebarkan ke sesama kaum pendendam. Jadilah viral di dunia maya. Oh yessss...lanjut!

Jika bukan orang yang berkompeten di bidangnya, jangan gegagah sok nulis berita teror Sarinah jika nggak 
punya fakta, bukti kuat dan meyakinkan. Itu bisa jadi fitnah, bila berita tersebut menyudutkan seseorang atau lembaga tertentu. Di-share wong sak endonesah mas bro.

Lebih baik nulis artikel picisan daripada menulis berita tapi tanpa fakta dan bukti yang kuat. Karena berita ilusi berpotensi menimbulkan perpecahan, kegaduhan, polemik, kebencian antar umat. Terutama 2 kubu yang masih saja bertikai itu.

So, jika tidak berani bertanggung jawab dengan artikel dan berita yang ente tulis....bikinlah puisi cinta saja...aman.

**
Nggak cuman berita ilusi yang bikin sensi tapi juga berita yang menertawakan tragedi. Memang setiap kejadian pasti ada sisi lucunya tapi ente jangan terang-terangan mengumbarnya. Menjadikannya meme dan atau tulisan humor dari sebuah kejadian tragis.

Saya jadi ingat dulu ketika ada acara berdoa bersama antar umat beragama di gedung DKM Malang. Ketika itu Harry Rusli cerita berapi-api bagaimana dulu saat mudanya demo ditangkap polisi. Di kantor polisi diinterogasi, dipukuli dan.. dikencingi ramai-ramai oleh Polisi. Semua yang mendengar bergidik ngeri, trenyuh, marah plus jijik. Tapi saya malah ngakak sendirian...karena membayangkan yang mengencingi adalah Polwan. *__*

Kejadian setragis apa pun selalu ada sisi lucunya. Cuman kita harus jaga diri, agar tidak mengekspresikannya di depan korban. Nggak mungkin kita mendatangi orang yang meninggal dengan tertawa terbahak-bahak sebab meninggalnya karena ditabrak becak.

Ingat juga dulu tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi yang menabrak gunung Salak. Buanyakk orang yang menjadikannya guyonan. 'Salak segede gunung, kok nggak tahu ya..gile loe ndro!', begitu salah satu guyonan netizen yang kurang ajar.

Apalagi postingan berita tersebut menampilkan gambar korban atau pelaku yang berdarah-darah tanpa di-blur atau sensor. Kemarin di Facebook ada postingan foto kemaluan pelaku teror Sarinah yang copot dari raga (akibat bom bunuh diri). Semprulll....!

Wis ah...lama-lama kok jadi ngelantur nggak karu-karuan. Trims.


-Robbi Gandamana-

Tertawalah dalam Hati Saja



aku punya cerita yang menarik
tentang nasib para buruh di sebuah pabrik
bagaimana susahnya hidup dengan gaji pas-pasan
tampang sangar rambut gondrong dekil awut-awutan
ada juga yang rambut klimis, gagah, seragam rapi elegan
bawa bekal kotak makan warna centil sialan
bergambar Doraemon, Sponge Bob atau Sinchan
demi untuk ngirit, imej jatuh persetan
yang penting akhir bulan tak cari utangan
tapi tolong jangan tertawa
tertawalah dalam hati saja 

pernah suatu kali aku terpana
orang bisu mengamen di sebuah bis kota
aku bingung, harus sedih atau tertawa
nada gitarnya kemana, vokalnya dimana
gitarnya cuma sepotong kayu yang ada senarnya
lagu yang dinyanyikan tak pernah ada di dunia
tapi penumpang takjub mulut menganga
menikmati tontonan absurd instrumentalia
tapi tolong jangan tertawa
tertawalah dalam hati saja

ada cerita yang bikin dada sesak
seorang nenek mati terinjak-injak
demi duit duapuluh ribu perak
saat antri di hajatan Indonesia Mencari Zakat
acara setahun sekali oleh seorang Ustadz
kere hore penjuru pelosok pada merapat
ah, sungguh trenyuh nasib rakyat
demi makan harus rela dulu sekarat
tapi kuharap kalian jangan tertawa
tertawalah dalam hati saja

bicara soal umat beragama
masih banyak orang yang reseh soal ibadah
yang bilang ibadah mengada-ada alias bid'ah
'huahahahahahaha Tahlilan
huahahahahahaha Yasinan
woiiii itu tata cara nenek moyang!'
tapi tolong jangan tertawa
tertawalah hanya di dalam hati saja

umat yang lain juga teriak lantang
'jangan hanya dibaca itu tulisan
itu otak tolong gunakan!
huahahahahahaha celananya cingkrang
huahahahahahaha pakai serban
woiiiii kau ini orang nusantara!'
sebaiknya kalian jangan tertawa
tertawalah hanya di dalam hati saja

ada apa dengan mereka?
dianggap musuh karena berbeda pandangan
galaknya kayak anjing Siberian
membunuh berdalih membela Tuhan
padahal Tuhan nggak butuh dibela
Tuhan bukan makhluk lemah
nggak kayak pengecut yang beraninya keroyokan
ditantang duel pura-pura ngajak baikan
maka sekarang aku yang tertawa
tertawa tak hanya dalam hati saja

Aku sangat percaya
Tuhan sengaja membuat makhluknya berbeda
untuk menguji di antara kalian semua
siapa yang bajingan, siapa yang paling taqwa
itulah alasan ..
kenapa Tuhan menciptakan alam semesta
kenapa Tuhan menciptakan kehidupan
kau pikir Tuhan dulu bingung sendirian?
bingung nggak ada kerjaan?
(walau aku juga sempat berpikir demikian)
tapi soal ini jangan pernah kalian tertawa
walau cuma di dalam hati saja

hidup di dunia tak lebih dari sekedar humor
selalu ada kelucuan sekalipun di cerita yang paling horror
se-tragis apapun hidup pasti ada sisi lucunya
jadi kenapa kau selalu bermuka masam
muka cepat boros, bak besi berkarat tersiram air asam
perut buncit, kulit keriput, rambut beruban
karena terlalu serius mikir kehidupan
huahahhahaha ada apa dengan kalian?
sampai lupa caranya tertawa
tertawa pun sangat hati-hati saja

hidup sekali mestinya disyukuri
nggak uring-uringan menggerutu tiap hari
susah sedikit langsung sembelih botol alias mabuk
tak lupa update status meratap di dinding fesbuk
kesusahan diberitakan berharap empati
tapi yang didapat cuma 'like' satu kali
memang ambigu tingkah laku para dzalimin
pamer musibah dan memaksa orang komen 'Amin'
tapi tolong jangan tertawa
tertawalah dalam hati saja

-Robbi Gandamana-

Jonru Adalah Bahan Agar Kita Mesra


Sejak ada 2 kandidat Capres di Pemilu 2014 (Jokowi dan Prabowo), rakyat Indonesia serasa terbelah menjadi dua : Pro Jokowi atau Prabowo. Dua kubu ini tak pernah kenal lelah bahu membahu saling mengekspos kekurangan atau aib masa lalu jagoan lawan. Sampai sekarang pun masih terasa hawa perang tersebut, walaupun nggak sepanas dulu. Kayaknya sudah pada minum parasetamol.

Dari perang antar kubu tadi lahirlah pula pesohor-pesohor dadakan yang pinter memanfaatkan kesempatan. Dengan kelihaian dalam mengolah kritik (pelintiran) yang jadi semacam kitab suci bagi jiwa-jiwa galau yang tak terima jagoannya kalah. Tulisan dangkal yang berisi kritikan, kekecewaan pada kebijakan Presiden yang tidak jelas validitasnya.

Salah satu tukang kritik (baca : tukang pelintir) yang paling fenomenal adalah Jonru Ginting. Seorang yang bukan apa-apa menjelma jadi pesohor karena kelihaianya membaca situasi dengan tulisan yang berhasil memikat jiwa-jiwa labil yang kurang gizi.

Karena kebenciannya yang amat sangat pada Jokowi, mereka mudah sekali termakan oleh kicauan Jonru. Tanpa pikir panjang langsung share. Dan herannya mereka-mereka ini tidak kapok nge-share walau sering tulisan Jonru terbukti tidak benar atau hoax. Setelah tahu hoax, langsung delete postingan seraya celingak celinguk tanpa rasa bersalah...semprul! isin mblo.

Namanya juga haters, sekali benci tetap benci. Berbuat baik aja dibenci (dituduh pencitraan) apalagi saat berbuat kesalahan. Mereka selalu mencari celah, kesalahan sekecil apa pun. Kadang juga menyerang fisiknya dengan membuat meme foto presiden yang lagi memble. Ditambah dengan tulisan yang menurutnya lucu (ya kadang lucu juga sih..jujur).

Apesnya Jokowi ini orang yang tidak fotogenic. Jadi sebagian besar fotonya terlihat wagu. Mungkin perlu ada pelatihan kilat khusus buat bergaya di kamera bagi seorang Presiden kali ya. Jaga-jaga agar saat difoto, hasilnya bagus..nggak memble.

Kembali ke soal Jonru..

Do'i memang tukang pelintir tahan banting, bak monyet terlatih yang dilatih keras untuk jadi bintang topeng monyet. Di saat teman Pelintirer lainnya sudah lelah atau ditahan polisi karena pelintirannya kebablasan. Dia masih semangat 69 meneruskan perjuangan : Pelintir atau mati!

Ingat bagaimana dulu Jonru menuduh Quraish Shihab sebagai Syiah, mengedit spanduk untuk merusak citra Jokowi, memprovokasi massa untuk membenci Ahok dan masih banyak lagi. Tapi ketika diserang selalu berdalih dakwah membela kebenaran.

Hasil karya terbaru Jonru adalah fitnah foto Presiden Jokowi di Raja Ampat. Doi bilang bahwa itu adalah foto editan. Dasar gemblung, berani-beraninya melangkahi Roy Suryo. Konyol sekali, nggak ahli Photoshop tapi berani menuduh foto orang lain nggak asli alias editan. Kurang kerjaan amat..Karepmu opo to Jon.

Soal do'i akan diproses hukum, saya sih setuju-setuju aja (walaupun bakalan kehilangan hiburan). Sekali-kali memang dikasih pelajaran, juga agar ada efek jera bagi mereka yang akan menjonru yang bernada Hate Speech.

Eh..Petisi yang kemarin di change.org ' jebloskan Jonru ke penjara' kayaknya belum berhasil ya...


**
Sejak dulu saya suka mengamati sepak terjang si Jonru ini. Bukan suka dengan konten plintiranya, tapi suka dengan komen-komen yang ada postingan tersebut. Saya jadi sedikit terhibur, melihat orang berdebat mati-matian demi membela orang yang tidak benar benar membela hidupnya.

Saya pribadi mengganggap Jonru itu sebagai bahan untuk menjadikan hubungan pertemanan jadi lebih mesra. Karena setelah membaca postingan Jonru, jadi punya bahan untuk melucu. Lumayan.....thank you so muacch Jonru.

Jonru memang fenomenal, selain karena postingannya yang sering bikin resah juga karena follower-nya yang ribuan. Saya tak habis pikir, apa yang ada di pikiran pengikut Jonru ini. Mungkin kebencian mereka akan Jokowi terwakili oleh postingan Jonru yang benci mati sama Jokowi.

Saya sih nggak mau jadi follower atau fan Jonru walaupun saya Golput. Ngefan kok pada orang yang kerjanya ngritik membabi buta tanpa pernah ngasih solusi atau memuji satu kali pun saat Jokowi berprestasi. Apalagi jika ada yang nggak setuju sama do'i, langsung diblokir. Oalaaa....I don't want to be a part of this sick society!

Well, Ini adalah pelajaran berharga bagi kalian semua wahai umat manusia! Janganlah menjonru karena mengikuti kebencianmu yang amat sangat pada seseorang. Apalagi sampai jadi pengikutnya si Jonru..amit-amit!
Dan saya sangat bersyukur tidak terlahir seperti Jonru. Terkenal tapi sebagai penyebar kebencian dan fitnah. Alhamdulillah...Ya Alloh jauhkan saya dari hal-hal yang sifatnya menjonru..Al Fatihah...Aamiin. 


-Robbi Gandamana-

Minggu, 03 Januari 2016

Ngaji via Terompet


Ternyata masih banyak orang yang belum luas hatinya. Lihat saja ketika ditemukan terompet bersampul tulisan Arab yang biasa termuat di Al Quran, mereka gusar bukan main. Kertas-kertas tadi adalah barang sortiran atau produk gagal yang akan dijadikan Al Quran. Dengan kata lain kertas tersebut belum jadi Al Quran atau belum bisa disebut Al Quran.

Jika masih belum bisa disebut sebagai Al Quran, kenapa kita mempermasalahkan itu. Oke, di sana memang ada kata 'Alloh'. Tapi itu cuman tulisan, kata, simbol..Tuhan tahu apa yang ada di hati manusia, niat dan tujuannnya si pembuat terompet.

Orang kita masih sensitif pada huruf dan bahasa Arab. Makanya nggak heran kalau ada orang Arab ceramah langsung di-Amin-i, dikira sedang berdoa. Bisa jadi nanti jika ada makanan yang dibungkus kertas huruf Arab, ramai lagi. Dipikirnya dari Al Quran padahal buku dari Arab.

Kita tahu, banyak undangan pernikahan yang memuat ayat suci (yang tentu saja menyebut nama Tuhan). Nggak cuman di undangan resepsi, di buku, koran maupun majalah (muslim) ada yang memuat ayat-ayat suci. Dan banyak dari kertas-kertas tadi yang dijadikan bungkus makanan atau lainnya. So, apa bedanya?

Kalau kita nggak terima ada kertas yang memuat ayat suci dijadikan bungkus terompet, berarti kita jangan menuliskan ayat suci di surat undangan, buku, majalah, koran atau apapun. Karena kita nggak bakalan tahu, setelah barang tersebut nggak dipakai akan dijadikan apa. Apakah seperti itu?

Lagian kertas itu milik mereka sendiri. Dibeli dengan uangnya sendiri. Jadi terserah kertas tadi akan dijadikan apa..itu hak mereka. Gitu aja kok repot...Jangan gampang terprovokasi angkat pedang atau pentung untuk membela (simbol) Tuhan. Lagian kok ente dengan pede-nya membela Tuhan. Seolah-olah Tuhan itu mahkluk lemah yang butuh bantuan.

**
"Tuhan nggak perlu dibela..!", begitu kata Gus Dur suatu kali (yang sekaligus jadi judul buku beliau). Tuhan punya bala tentara sendiri atau bahkan tanpa bala tentara pun Tuhan akan dengan mudah menghancurkan musuhnya atau siapa pun yang membangkang. Dengan sekali tunjuk para pembangkang bisa berubah jadi Sponge Bob.

Gus Mus, salah seorang sahabat Gus Dur, menambahkan, “Tuhan itu sebenarnya nggak butuh kita. Kalau se-Indonesia ini mau jadi kafir semua, Tuhan juga nggak akan bermasalah." Tuhan ngasih demokrasi pada umatnya. Mau alim silahkan, mau kafir monggo. Tugas manusia cuman mengajak, tidak memaksa. Nggak kayak sekarang, sudah tahu kesasar kok nggak ditunjukan jalan yang benar..malah dipentung ndase.

Quotes Gus Dur di atas sama sekali tidak melemahkan jihad. Jihad dilakukan jika ada intervensi dan tindakan 
dekstruktif pada umat Islam. Pengertian jihad itu luas, nggak cuma soal perang melawan mereka yang terang-terangan memusuhi Islam. Seorang suami mencari nafkah untuk keluarga itu juga jihad. Apapun itu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk menegakan agama itu adalah jihad.

Tapi quotes Gus Dur tadi nggak berlaku bagi mereka yang sampai sekarang masih nguotottt membela Tuhan. Alih-alih membela agama padahal yang sebenarnya terjadi adalah membela golongannya, tafsirnya atau madzhabnya. Akibat salah kaprah Ustadzzz masa kini yang datang mengenalkan tafsir sebagai agama. Apalagi jamaahnya gampang sekali diprovokasi...komplit wis! Pentung-pentungan terus. Sumbunya pendek, gampang emosi.

Kembali ke soal terompet yang di dibungkus kertas (bakal calon) Al Qur'an. Masyarakat muslim langsung geger. Karena di kertas tadi ada lafal Alloh?. Oalaaa bukannya saya meremehkan Tuhan (yang tertulis di kertas tadi), tapi hanya Tuhanlah yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia (niat). Kita tidak bisa serta merta menuduh itu penistaan.

Apalagi bungkus terompet tadi adalah kertas bekas, sortiran, yang nggak layak jual dari sebuah penerbitan buku. Artinya kertas-kertas tadi di-recycle untuk sesuatu yang bermanfaat. Lumayan menghidupkan ekonomi rakyat.

Pengrajin terompet juga orang awam tak berpendidikan yang butuh penghasilan untuk makan. Mereka bukan kaum agamis yang tahu betul tata cara agama, bagaimana seharusnya Al Qur'an diperlakukan : jika sudah rusak (tak terpakai) dibakar atau dipendam di dalam tanah.

Apalagi ini bukan Al Quran, hanya kertas bekas (bakal calon Al Quran) yang berisi ayat-ayat suci. Sama seperti undangan resepsi, buku agama, majalah, koran atau apa pun yang di dalamnya memuat ayat suci.

Jangankan dijadikan terompet, seandainya diinjak-injakpun..silahkan saja, kalau berani menanggung akibatnya. Tenang saja..Al Quran akan tetap ada dan abadi sampai akhir jaman, tanpa berubah isinya sedikit pun. Dijamin!

Ya'opo se rek, memanfaatkan barang bekas kok disebut penistaan agama. Tuhan nggak akan galau. Kecuali kertas tadi diambil dari Al Quran yang masih baik untuk dipakai. Seandainya masih bagus pun kalau ada yang berani menjadikannya terompet silakan, urusannya langsung dengan Sang Pencipta Quran...Tuhan.

Hakikatnya Al Quran adalah milik Tuhan, barang siapa yang merusaknya dengan sengaja akan berurusan langsung dengan pembuatnya. Monggo, nek wani nglawan sing kuoso...dadi mendol koen. Tapi Tuhan sendiri nggak bakalan rugi jika semua Al Quran dinistakan. Walaupun sakral, itu cuman simbol belaka.

Soal terompet dihubung-hubungkan dengan tradisi orang Yahudi....come on gaess, jangan sempitkan pikiranmu. Terompet sama dengan benda yang lain, tak ada agamanya. Kecuali kalian main terompet saat ibadah di dalam masjid. Iso disepak ndasmu karo wong sak masjid.

Jadi jangan gampang terprovokasi. Luaskan hati, hidup itu luas dimensinya. Dan orang sekarang ngomong agama tidak dengan dimensi budaya, dimensi sosial dan lainnya. Makanya pikirannya sempit gampang diprovokasi..raine burek terus. Tapi dengan kejadian ini kita bisa jadi mengkaji soal agama lagi..ya semacam ngaji via terompet.

Wis ah, trims.


-Robbi Gandmana-


*pertamakali dipublish di Kompasiana

Selasa, 29 Desember 2015

Hai Wanita Indonesia, Jangan Jual Martabatmu Hanya Untuk Sebuah Kontes Kecantikan!


Bangsa timur dikenal dengan bangsa yang santun, ramah dan setia pada adat budaya warisan leluhur. Begitu juga dengan Indonesia, walaupun agama atau ideologi sudah berhaluan Barat atau Arab, mereka akan tetap kembali 'pulang' menjadi orang Indonesia seutuhnya. Sekali tempo mereka 'kesasar' tapi akan ada saatnya mereka kembali ke habitat aslinya.

Pada momen tertentu mereka akan melakukan ritual tradisi nenek moyang yang tentunya sudah dimodifikasi atau disesuaikan dengan keyakinannya yang baru. Misal kalau di Jawa ada mitoni (peringatan kehamilan pada usia 7 bulan), kenduren atau selametan dan masih banyak lagi (aku nggak hafal Mblo..) yang doanya sudah diganti dengan doa Islam atau agama baru lainnya.

Dan yang paling penting adalah orang Indonesia sangat menjaga kesopanan. Di Jawa ada istilah subasita yang artinya unggah ungguh, tatakrama atau sopan santun. Orang yang tidak tahu subasita dikatakan sebagai orang yang degsura atau kurang ajar. Orang yang seperti itu cocoknya hidup di Taman Margasatwa Ujung Kulon sama Badak.

Pada umumnya orang Jawa sopan santunnya sangat tinggi. Terutama di Solo, saat kaki diinjak orang pun masih bilang dengan sopan, 'nyuwun sewu mas...sikil kulo kepidak panjenengan' (maaf mas, kaki saya diinjak oleh anda). Mungkin kalau ditempat lain sudah dibogem mukanya.

Tapi sekarang adat sopan santun mulai luntur di masyarakat. Kita nggak sadar telah 'dijajah' oleh budaya (pemikiran) dari Barat. Dalam berkehidupan sosial, orang kita banyak yang meniru gaya dan budaya Barat.
(Saya sih monggo-monggo saja selama tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Bagaimana pun kebenaran adalah kesepakatan. Dan tiap daerah punya kesapakatan sendiri dalam berbudaya.)

Orang Barat telah meracuni otak kita melalui 5 F, yaitu : Food (makanan), Fantasy (Hiburan), dan Fashion (Pakaian), Film, dan Fly (minuman keras dan narkoba).

Masyarakat kita, sadar nggak sadar, sedang mengalami dekadensi budaya. Tapi kayaknya kita enjoy-enjoy saja dengan itu. Contoh yang paling nyata adalah perhelatan Miss Universe kemarin. Ada satu penilaian yang mengharuskan tiap peserta hanya memakai celdam dan BH berjalan lenggak lenggok di hadapan sejumlah pria. Nggak sopan blasss..

Lelaki yang normal pasti ereksi dan berimajinasi liar (mesum) jika di depannya ada wanita cantik yang hanya pakai celdam dan BH lenggak lenggok dengan gemulai. Kalau tidak begitu, pasti jenis 'lelaki perjuangan', yang berjuang keras agar kemaluannya bisa berdiri walau ada cewek telanjang bulat di depan mata (biasanya pria usia lanjut).

Bagi saya Miss Universe, Miss World dan Miss Miss lainnya adalah kegiatan amoral yang berkedok (untuk) kemanusiaan. Setelah bergelar Miss, menjelma jadi aktivis, duta kemanusiaan yang banyak membantu kaum miskin di seluruh dunia. Tapi untuk menjadi aktivis atau pejuang kemanusiaan nggak perlu harus punya wajah cantik dan bodi mulus. Berjalan lenggak lenggok pakai pakaian dalam yang membuat para pria orgasme.

Kita orang Indonesia bung! Budaya kita dan mereka jauh berbeda. Bagi mereka itu biasa, bagi kita itu merendahkan martabat. Mempertontonkan bagian tubuh yang seharusnya dijaga dari pandangan umum. Nggak munafik..saya juga pasti senang melihat itu. Asyik bagi saya, rugi bagi dia. Tubuhnya diumbar gratis. Kecuali dia seorang exhibitionism.

Mungkin dengan keikutsertaan Indonesia di ajang Miss Universe adalah mempromosikan pariwisata. Tapi bagi saya itu sama saja berbuat baik dengan jalan yang konyol. Seolah-olah Miss Indonesia jadi tumbal. Dengan pamer keindahan tubuhnya (katanya juga cerdas) seraya bergerilya promosi pariwisata.
Harusnya yang boleh dijual itu kepandaian, pengalaman, prestasi serta faktor X yang lain. Sedangkan martabat jangan pernah dijual. Itu kalau ingin jadi wanita terhormat dan bermartabat. Kalau tidak ya monggo.

Cuma, Indonesia harus punya kemandirian dan kedaulatan budaya. Jangan mau tunduk dengan adat dan budaya asing. Kita punya budaya sendiri yang berbeda. Budaya kita budaya timur yang sangat beradab. Bukan budaya buka-buka baju kayak manusia purba. Melakukan porno aksi berjamaah.

Saya bukan orang alim, ustadz dan bukan juga anggota MUI. Saya cuman ngasih pandangan yang mungkin bisa bahan renungan. Kalau tidak ya teruskan saja..no problem at all. (ngomong, 'sok suci' tak sepak ndasmu...:) )

Lagian, konyol kalau kecantikan distandarkan. Seolah-olah kategori wanita cantik itu seperti yang di Miss World. Dan wanita Indonesia banyak yang jadi 'korban'. Banyak wanita kita yang lari dari dirinya dengan merubah warna kulit, bentuk fisik hidung sampai payudara agar seperti mereka. Padahal kulit kita (sawo matang) adalah warna kulit yang ideal, tidak terlalu putih dan terlalu hitam.

Konsep Miss World sebenarnya bagus : 'cantik dan bermanfaat'. Cuman sayang kalau menilai seseorang cantik atau tidak itu harus membuka baju. Lagian jika menilainya dilihat dari kemulusan kulit, harusnya kontestan telanjang bulat. Kalau tidak begitu tidak sah, siapa tahu di dalam celana dalam dan di balik BH Miss Universe ada panu-nya.

Syukurlah ajang Miss World 2015 kemarin tidak ada aksi berlenggok dengan bikini. Ajang Miss World menekankan aksi sosial dalam program Beauty with a Purpose. Rupanya penyelenggaranya mulai dapat hidayah..:) Semoga Miss Universe juga mulai tobat, nggak pakai lenggak lenggok dengan bikini.

Ingat, berlian berada jauh dan tertutup rapat di dalam tanah. Mutiara berada Jauh di dalam samudra, tertutup dan dilindungi oleh cangkang yang indah. Emas berada Jauh di dalam tambang, ditutupi dan dilapisi oleh bebatuan.

Tubuhmu jauh lebih berharga dari emas, berlian, dan mutiara...maka tutup dan lindungi tubuh indahmu dari pandangan Donal Trump. Kontes Miss World, Miss Universe atau Miss Miss yang lain sangat tidak sebanding dengan harga diri dan martabatmu.

Wis ah..trims.

-Robbi Gandamana-


*dipublish pertama kali di Kompasiana

Wiji Thukul : Apa Gunanya Banyak Baca Buku, kalau Mulut Kau Bungkam Melulu!




Kita tahu Orba adalah era dimana kebebasan berpendapat dimandulkan. Pada era ini orang harus tunduk pada pemerintah : manut atau dilenyapkan.

Kalau ada orang yang berani mengkritik, mengusik kebijakan, nasibnya bakalan berakhir merongos di penjara atau di kuburan.

Cekal dan bredel adalah momok yang ditakuti oleh media atau siapa saja yang berani melanggar garis batas kebijakan penguasa. Tapi walaupun begitu masih ada saja manusia-manusia berani, koclok, radikal dan nekat bersuara menentang penindasan itu.

Salah satu yang berani itu adalah Wiji Thukul. Pemuda kerempeng ringkih tapi akan berubah jadi raksasa buas yang bisa merusak rencana busuk para penindas dalam memuaskan syahwatnya. Bak Kresna yang bertiwikrama menjadi Brahala yang membuat para Kurawa kocar-kacir. Subhanalloh..

Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo 26 Agustus 1963 ini bernama asli Wiji Widodo. Nama belakang 'Thukul' disematkan oleh Cempe Lawu Warta saat dia mulai aktif berteater di kelompok teater Jagat. Cempe Lawu Warta sendiri adalah Seorang anggota Bengkel Teater asuhan WS. Rendra.

Pendidikan terakhirnya hanya sampai kelas 2 di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari. Putus sekolah karena tak kuat menanggung biaya yang ditanggung bapaknya yang seorang tukang becak. Apalagi Kemajuan transportasi yang begitu pesat, lahan becak pun semakin ciut.

Untuk menyambung hidup, Thukul bekerja apa saja. Dari kuli bangunan, loper koran sampai mengamen dengan baca puisi yang diiringi gamelan ala kadarnya.

Istrinya, Sipon, bekerja sebagai tukang jahit di rumah. Mereka dikaruniai 2 anak, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Dia juga bekerja membantu istrinya dengan menerima pesanan sablon kaos, tas, dan lain-lain.

Sejak di bangku SD Thukul sudah menulis puisi. Disamping berpuisi Thukul juga main teater. Bersama dengan sanggar teaternya Thukul mementaskan cerita yang idenya kebanyakan berangkat dari sebuah protes sosial di sekitar kampungnya yang kumuh.

Dalam menulis puisi, Thukul memiliki prinsip tersendiri. Bagi dia puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan rakyat kecil yang tertindas dan juga bagi kaum tertindas di masa Orde Baru.

Dengan membacakan puisi-puisinya, Thukul menyertai rakyat dalam demo-demo menentang kebijakan yang merugikan rakyat kecil. Hari-harinya diisi dengan bersuara membela kaum proletar tadi. Banyak sekali demo yang diikutinya, dari buruh pabrik yang dirugikan sampai rakyat kecil yang dirampas tanahnya. Yang membuatnya selalu diburu oleh aparat.

Apalagi saat dia didapuk jadi ketua divisi budaya oleh PRD (Partai Rakyat Demokratik). Dia punya alat dan wadah untuk lebih mempermudah jalannya menyuarakan, membela rakyat kecil.

Banyak seniman di masa Orba tak setuju pada sikap Thukul ini. Bagi mereka seni tak bisa dicampuradukkan dengan politik. Seni untuk seni dan politik hanya mengotori kesuciannya. Tapi selalu ada masa saat orang terpaksa berhadapan dengan sistem yang menindas dan seniman ikut terpanggil menentangnya.

Pernah suatu malam Thukul tiba-tiba menangis. Ternyata Thukul sedang menulis sajak tentang penderitaan penduduk Cimacan yang di rampas tanahnya dan hanya mendapat ganti Rp 30 (tiga puluh rupiah!) per meter:

DI TANAH NEGERI INI MILIKMU CUMA TANAH AIR

bulan malam membuka mataku
merambati wuwungan rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
di muka parit yang suka banjir
membayanglah masa depan
rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
lentera minyak gemetar merabamu
penggembara oh penggembara yang nyenyak
bulan malam menggigit batinku
mulutnya lembut seperti pendeta tua
menggulurkan lontaran nasibmu
o tanah-tanah yang segera rata
berubahlah menjadi pabrik-pabriknya
kita pun kembali bergerak seperti jamur
liar di pinggir-pinggir kali
menjarah tanah-tanah kosong
mencari tanah pemukiman disini
beranak cucu melahirkan anak suku-suku terasing
yang akrab derngan peluh dan matahari
di tanah negri ini milikmu cuma tanah air

(Solo, tanpa tahun)

Puisi-puisi Wiji Thukul sangat lugas, miskin rima, apa adanya tanpa kiasan atau kaidah puisi pada umumnya. Jauh dari kesan indah atau romantis. Tapi puisi-puisinya bernyawa, perkasa sekaligus getir.

Di puisi-puisi Wiji Thukul saya tak menemukan cerita soal cewek ketemu cowok, bercinta, menikah, hamil, punya anak bla bla bla. Dan segala isapan jempol soal romantisme yang banyak kita jumpai ketika berumur belasan.

Puisi yang paling cadas dan sering dipakai untuk menyuarakan ketidakadilan penguasa adalah 'Peringatan'. Kalimat dalam puisi ini yang sering dijadikan tagline adalah 'hanya ada satu kata: lawan!'

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa berpidato
Kita harus hati hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : LAWAN !

(Solo,1986)

Nuansa kemiskinan sangat jelas mewarnai karya-karya Thukul. Jelas terbaca bagaimana dia menggambarkan kepedihan hidup dengan kata lugas dan jelas. Seakan kejahatan yang paling laknat adalah kemiskinan. Dan apesnya puisi tidak mungkin bisa untuk memperbaiki hidup.

CATATAN HARI INI

aku nganggur lagi
semalam ibu tidur di kursi
jam dua lebih aku menulis puisi
aku duduk menghadap meja
ibu kelap-kelip matanya ngitung utang
jam enam sore:
bapak pulang kerja
setelah makan sepiring
lalu mandi tanpa sabun
tadi siang ibu tanya padaku:
kapan ada uang?
jam setengah tujuh malam
aku berangkat latihan teater
apakah seni bisa memperbaiki hidup?

(Solo, juni 86)

Prestasi tertinggi Thukul di bidang sastra adalah ketika menerima penghargaan Wertheim Encourage Award (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra. Pada tahun 2002 dia diganjar dengan penghargaan Yap Thiam Hien Award 2002.

Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2002 terdiri dari Prof Dr Soetandyo Wignjosoebroto, Prof Dr Azyumardi Azra, Dr Harkristuti Harkrisnowo, HS Dillon, dan Asmara Nababan, pada 27 November 2002, memutuskan secara bulat Thukul sebagai penerima Yap Thiam Hien Award ke-10, menyisihkan Sembilan puluhan peserta dan dua nominator.

Sebuah prestasi yang sangat luar biasa, mengingat Wiji Thukul adalah seorang putus sekolah tapi bisa menjelma jadi pemuda cadas dengan pemikiran luar biasa cerdas dan berani menyuarakan kebenaran melampaui mereka-mereka yang lulusan amrik.

Dari riwayat perjuangan Wiji Thukul ini kita banyak belajar banyak hal. Keberanian, keyakinan dan kesabaran luar biasa. Bahwa kebenaran tak bisa dikalahkan. Wiji Thukul mungkin berhasil dilenyapkan oleh kaki tangan Orba (sampai saat ini belum diketahui keberadaanya) tapi seribu Wiji Thukul akan lahir. Mereka adalah yang berempati dan terinspirasi yang meneruskan perjuangan. Penindas tak akan pernah tidur tenang lagi.

Melalui puisinya Thukul mengingatkan agar kita berani bersuara, tidak cuma diam asal boss senang. Seperti dalam puisinya :

SAJAK SUARA

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakkan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

(Solo, tanpa tahun)

Wiji Thukul juga mengkritik pedas orang yang berilmu tinggi tapi untuk membodohi dan menguasai rakyat jelata. Juga pada mereka yang berilmu tapi hanya diam membisu padahal angkara murka berada di sekitarnya.

APA GUNA

Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu

(Solo, tanpa tahun)

Sebenarnya masih banyak cerita soal Wiji Thukul yang sangat menarik yang kalau ditulis bisa menghabiskan berjilid-jilid buku. Tapi saya yakin ente nggak punya waktu seharian untuk baca tulisan in. Masih buanyak artikel di luar sana yang lebih ciamik dan bermanpangat.

Setidaknya dari sekelumit kisah di atas, kita bisa banyak mengambil hikmah dari sebuah pelajaran hidup dari seorang miskin dan lemah tapi berani menegakan kebenaran walaupun itu pahit.

Maka nggak salah kalau kisah Wiji Thukul ini akan diangkat ke layar lebar. Adalah Okky Madasari, novelis yang dikenal dengan karya-karya yang menyuarakan kritik sosial akan berkolaborasi dengan sutradara Yosep Anggi Noen yang akan mewujudkannya. Kita tunggu aja tanggal mainnya. Trims.

-Robbi Gandamana-

Referensi :
http://www.kaskus.co.id/thread/516be33c621243e151000004/wiji-thukul-hanya-ada-satu-kata-lawan/
http://tribute-to-wiji-thukul.blogspot.co.id/2012/03/di-bawah-selimut-kedamaian-palsu-puisi.html

Selasa, 15 Desember 2015

Aib yang Menginspirasi

Saya sudah lumayan banyak membaca tulisan kisah keluarga miskin, broken home atau curhatan kegagalan rumah tangga. Yang tentu saja begitu menyedihkan, tragis dan inspiratif. Yang membuat saya jadi bersyukur, ternyata masih ada orang yang lebih remuk dari saya. Subhanalloh..

Well, tak ada masalah dengan tulisan-tulisan mewek tersebut. Akan jadi masalah jika kisah kemiskinan atau kesusahan itu adalah aib yang harusnya ditutup rapat. Tidak seharusnya disebar atau diberitakan ke masyarakat umum. Makanya saya heran dengan orang yang menceritakan dengan vulgar atau detail kisah kehancuran rumah tangganya di depan umum. Ciyus ? Enelan..??

Parameter aib atau tidak memang tak sama pada tiap individu. Tergantung dari lingkungan di mana kita tinggal. Di lingkungan Jawa ada sebuah falsafah "Mikul Duwur Mendhem Jero".  Pergertiannya kurang lebih begini, ada sesuatu yang harus dijunjung tinggi dan ada yang harus ditanam dalam-dalam

Orang modern mungkin rileks saja mengekspos kegagalan rumah tangga ke umum. Tapi orang yang budaya timurnya kuat, nggak bisa begitu. Kita bisa curhat soal utang atau apapun yang sifatnya privasi ke sahabat, tapi kita nggak bisa menjadikankan itu sebuah status di Facebook: "Mohon doa restu, hutang 20 juta di Bank Nganu bisa lunas.." atau "..Suami kerjanya ngelus akik, istri sendiri tak pernah dielus..cerai aja!"

Kalau di Amrik sana, aborsi  bukanlah hal yang memalukan. Kalau di Indonesia, bisa bikin malu tujuh turunan. Bahkan kalau nggak tahan malu, bisa bunuh diri atau gila alias gendeng.

Bagi saya, tulisan kisah sedih (di hari minggu :) ) sebenarnya lebih mudah secara teknis (wuiik.sombong!), tapi tanggung jawab moralnya yang susah. Kita tak pernah tahu, apa orang yang kita ekspos itu bangga kalau kisah kemiskinannya atau kegagalan hidupnya diangkat di media. 

Apa ya ada orang yang bangga terkenal karena kemiskinan atau kegagalan rumah tangga? Kalau ada, bisa jadi orang itu sedang 'nggak beres'. Atau kemugkinan nggak punya teman curhat.  Mungkin malah kebanyakan piknik. Hingga sampai kisahnya keluarganya yang hancur dicurhatkan dalam bentuk tulisan di medsos atau dunia maya.  

Di satu sisi memang baik juga, ada yang terinspirasi dan tergugah hatinya. Tapi di sisi lain secara nggak sadar dia sedang memberitahukan aibnya sendiri ke masyarakat luas. Woiiii heloowww...!

Ada baiknya 'kisah hidup' semacam itu ditulis dengan nama samaran atau memakai Inisial saja.  Bisa jadi orang yang dikisahkan atau yang mengkisahkannya sendiri no problem, tapi kita nggak tahu dengan keluarganya yang lain. Anaknya, suaminya atau keluarga lain. Bisa-bisa malah di-somasi karena mencemarkan nama baik. Seperti yang dilakukan kebanyakan artis jika istri cerita soal keburukan suami di media (pasangan artis tadi rumah tangganya berantakan).

Jangan Menggadaikan Martabat

Saya sendiri nggak mampu, tak sampai hati menuliskan kisah sedih saya atau saudara saya. Walaupun bisa jadi bakalan inspiratif, membuat orang bakalan nangis-nangis menghabiskan bergulung-gulung tisu.  Tapi nggak ah..riskan,  takut malah akan jadi aib bagi keluarga saya. Maluuu...(tutup muka pakai telapak tangan).

Disamping bukan gaya saya, juga nggak enak sama Ustadz yang bilang begini :
"Jangan memberitakan (menyebarluaskan) kesedihan (musibah), kejelekan atau aibmu atau saudaramu ke masyarakat umum." 

Padahal saya punya banyak sekali bahan tulisan soal itu. Di keluarga besar saya sendiri, di lingkungan sekitar rumah maupun di kantor.  Ada seorang Office Boy kantor saya yang mantan guru SMA. Tapi nggak saya tulis, sungkan sama anaknya, mantan istrinya yang mungkin malu bila ketahui oleh umum. Sebenarnya kalau ditulis bisa jadi sinetron, judulnya "Ratapan Anak Bombay". 

Dulu, banyak sekali acara TV yang mengupas orang susah, menjual kesusahan.  Mengeksploitir kesusahan mereka secara vulgar untuk kepentingan rating. Begini ya Mblo, Kalau menemukan orang miskin, kasih saja bantuan semampunya. Nggak perlu dipertontonkan, yang bisa jadi malah bikin malu keluarga tersebut. Kecuali yang sifatnya urgen, seperti orang miskin yang sakit akut yang butuh bantuan dana. 

Ada memang kisah sedih yang inspiratif tentang kakek yang tetap semangat jualan amplop. Atau kisah nenek 109 tahun yang menjual kacang di Stasiun Tugu Yogya. Kalau tulisan model begini sih bukan aib, tapi malah membanggakan. Sudah tua tapi semangat kerja dan tidak meminta-minta. Juga ada kisah Desi (17) penjual Slondok demi biaya sekolah di Yogya.  

Jadi tidak mengeksploitirnya dengan menampilkan kehidupan sehari-hari secara vulgar. Diperlihatkan saat makan sama nasi yang hampir basi. Atau tidur di dekat kandang kambing dan seterusnya.

Kalau boleh ngasih saran, janganlah menggadaikan martabat keluarga ente atau saudara ente untuk sebuah tepuk tangan, voting atau hadiah uang jutaan. Itu jelas nggak sepadan. Seandainya memang ditulis, pakailah nama-nama fiktif atau disamarkan. Atau ceritakan seolah-olah itu bukan kisah anda.

Untuk apa penghargaan tinggi kalau membuat anda, anak anda atau keluarga anda malu. Bisa jadi kayak kasusnya Kevin Carter, fotografer yang memenangkan hadiah Pulitzer yang akhirnya bunuh diri, malu karena di-bully jutaan orang. Hasil jepretannya menggambarkan anak kelaparan yang dihampiri oleh seekor burung pemakan bangkai. 

Jangan diartikan saya mendiskreditkan atau kontra pada penulis 'kisah hidup' mewek tadi. Sama sekali enggak, anggap saja ini saran (kalau bisa disebut begitu). Pokoknya tetep semangat nulis ...!

Wis ah..trims

18 September 2015
Robbi Gandamana

*dipublish pertama kali di Kompasiana

Michael Kiske, Vokalis Metal Spesialis Lagu Religi

Michael Kiske (47) pertama kali dikenal luas oleh para metalhead (penikmat musik metal) sejak bergabung dengan Helloween sebagai tukang cuap-cuap di tahun 1986. Saat itu umurnya baru 18 tahun (gambar di atas adalah saat do'i masih muda, sekarang sudah botak, diduga akibat salah shampo). Sebelumnya do'i sudah menelurkan sebuah demo dengan bandnya, Ill Prophecy. Sayangnya demo tersebut tidak diproduksi secara komersil bla bla bla bla bla...

Maaf saya nggak memperpanjang cerita soal riwayat hidup, karir maupun prestasinya. Soal itu mending di-search di Mbah Google saja. Di sana ente bakalan menemukan informasi yang sangat komplit dan istimewa pakai telor. Untuk sekarang, saya hanya mengulas ciri khas lagu-lagu yang digubah oleh Michael Kiske.
Kita tahu bahwa kebanyakan orang menganggap pemusik Rock adalah mahkluk urakan, anti kemapanan, seks bebas, drug dan dekstruktif. Jangan salah Mblo, tidak semua pemusik rock seperti itu, salah satunya adalah Michael Kiske. Bagi saya, do'i adalah penulis 'lagu religi' Metal (juga Rock).

Eits, jangan artikan lagu religi di sini seperti lagunya OpickHaddad Alwi atau Maher Zein. Juga bukan pula lagu rohani Kristen. Semua lagu bisa jadi lagu religi. Tergantung dari sudut mana kita ngambilnya. Jadi memang istilah religi itu salah kaprah. Musik tidak ada agamanya. Kalau disebut lagu religi, lagu selain lagu religi bisa disebut lagu sekuler, lagu kafir, lagu setan,...

Kebanyakan lagu yang ditulis oleh Michael Kiske (saat masih di Helloween) liriknya sifatnya tausiyah atau ajakan untuk berbuat baik. Simak saja lagu "A Little Time", "We Got The Right", "You Always Walk Alone", "Kids Of The Century", "Don't Run For Cover", "Your Turn", dan banyak lagi.

Simak saja sepenggal lirik lagu "Don't Run For Cover"..Don't run for cover / Don't cry alone / Make a step on your stairway / One step closer to what you live for / Don't run for cover / Don't throw away / The only chance that you got / To be the fire in a hot life you choose..Sori, translate sendiri ya Mblo. Intinya lagu ini untuk pemuda galau, labil dan lemah mental.

Simak juga lirik "Your Turn"..This world is crying to be free / This world is dying can't you see / We need a turn to do it right / We need a mind-revolution / To get away from this selfishness / Stop playing blind / break free!!! Di lagu ini do'i  mengisyarakatkan betapa dunia saat ini membutuhkan revolusioner bukan para bajingan pengecut yang menghalalkan segala cara.

Saat tak lagi jadi vokalisnya Helloween pun lagu-lagu Michael Kiske tetep dengan ciri khas di atas. Sebut saja album Instant Clarity (1996) yang liriknya santun, bijak tapi tetep nge-rock.  Tak ada satu pun kata 'fuck' apalagi 'jancok'. Di album-album solo lainya juga begitu : Readiness To Sacrifice (1999), Kiske (2006) dan Past In Different Ways (2008). Begitu pula saat bersama Unisonic, band terakhirnya saat ini bersama Kai Hansen (sesama ex-Helloween).

Bahkan saat ikut proyek musisi lain, Michael Kiske kebanyakan disodori 'lagu religi'. Coba simak lagu Timo Tolkki "Key To The Universe" di album Hymn To Life (2002), yang dinyanyikan oleh Michael Kiske..Life's not always very easy / There are times when it all feels black / But I tell you there is always a way / And the key to the universe is love / And this key could free the mankind....kunci untuk mengatasi problematika di dunia ini adalah cinta. Oh yesss..

Begitu juga saat digaet bandnya Tobbias Sammet, Avantasia (pada lagu "Reach Out For The Light" dan lagu lainya) , Edguy ("Judas At The Opera"), Gamma Ray ("Land Of The Free", "Time To Break Free", dan lainya), Place Vendome ("Cross the Line") dan band metal lainnya. Lagu-lagu tersebut sangat mencirikan Michael Kiske. Bukan ciri khasnya Ridho Rhoma.



Walupun sudah lama hengkang dari Helloween, Michael Kiske tetap dikenang sebagai orang penting yang juga berperan membesarkan nama Helloween. Helloween (era Andi Deris) saat Live sudah tak pernah lagi memakai lagu-lagu karya Michael Kiske. Disamping faktor ego dan etika, juga royalti (jika direkam jadi album Live)

Jadi bagi mereka yang ngefan Michael Kiske jangan berharap lagi mendengar lagu macam "We got The Right", "A Little Time" dan lainnya. Seperti yang yang terjadi saat konser kemarin malam (22 Oktober ) di Hall Basket Senayan Jakarta. Juga besok malam (24 Oktober 2015) di lapangan parkir Stadion Maguwoharjo Jogjakarta. Lagu-lagu Michael Kiske sudah terkubur dalam-dalam dari memori Helloween.  Tak ada satu pun karya Michael Kiske dalam song list.

Bagaimana pun Andi Deris berhasil menghilangkan bayang-bayang Michael Kiske dari Helloween. Jangan berharap Michael Kiske bakalan reuni dengan Helloween. Nikmati saja Helloween yang sekarang, tapi jangan lupakan peran Michael Kiske, Kai Hansen atau personel lain yang juga membesarkan nama band, respect!


-Robbi Gandamana-
23 Oktober 2015


*pertamakali dipublish di Kompasiana