Senin, 11 Juli 2016

Apakah Ente Termasuk Orang yang 'Ngelu Ndase'?

Saat mendekati hari raya, biasanya banyak orang yang ngelu ndase. Dapat THR tapi ngelu ndase, bingung membelanjakannya: lihat diskon gila-gilaan di mal, ngiler lihat teman ganti hape canggih , ngelu ndase lihat tetangganya renovasi rumah atau ngredit mobil baru.

Yang nggak dapat THR ngelu ndase, iri sama yang dapat THR. Yang dapat THR tapi nominalnya sedikit (habis buat bayar utang) ngelu ndase, membayangkan dapat THR gede, nelongso memaki-maki nasibnya.

Begitulah kita, sukanya membandingkan hidup orang lain dengan diri kita (dalam konteks materi). Akhirnya ngelu ndase. Orang jadi ngelu ndase karena punya hasut, dengki, cemburu lihat harta orang lain lebih banyak darinya, mobil orang lain lebih bagus dari mobilnya, hp orang lain lebih canggih dari hp-nya.

Lihat teman-temanya pada punya mobil baru, gengsi, nekad ikutan kredit mobil, padahal gaji pas-pasan. Walhasil tiap awal bulan ngelu ndase. Untuk menghibur diri, ngomong ke teman, "Gak kroso rek, kredit mobilku wis berjalan setahun..".

Gak kroso raimu, yang tak terasa itu waktu yang cepat berlalu, tapi saat gajimu kepotong untuk nyicil, terasa bianget. Gaji 3 juta dipotong 1.5 juta. Ente pun misuh-misuh dalam hati, ngelu ndase..

"Lha ya'opo, nek gak nekat gak duwe mobil anyar e mas.." Itu boleh juga, tapi itu bisa menenggelamkan otak manusia. Lha ente nuruti gengsi ae. Berlagak parlente tapi sebenarnya kere. Gaji senin kemis berlagak artis. Akhire ngelu ndase diuber-uber debt collector. Stres, wajah jadi boros, ketok tuweekk. Umur 30 tahun koyok 50 tahun. Kerut di wajah jelas bianget koyok diorek-orek karo spidol.

Manusia memang materialistis, tak pandai bersyukur. Dapat uang sejuta membayangkan uang 10 juta. Makan tempe membayangkan sea foodAkhire ngelu ndase, sudah sea food-nya cuman angan, makan tempenya jadi nggak nikmat. Bercita-cita dapat uang 10 juta itu bagus, tapi saat dapat uang sejuta jangan bercita-cita, cita-cita ditunda dulu.

Makanya jangan sering ikut seminar-seminar rejeki yang punya andil besar menciptakan kapitalis-kapitalis yang ngelu ndase itu. Pandai memanfaatkan peluang untuk mendapatkan uang tapi nuraninya kering. Yang ada di otak cuman Itung-itungan, laba rugi laba rugi laba rugi laba rugi laba rugi laba rugi...

Akhirnya ibadah pun niatnya biar sukses (secara materi). Shalat biar jadi PNS, naik haji agar tokonya laris, dan seterusnya..

Ibadah itu dalam rangka bersyukur, tidak untuk mencari rejeki. Rejeki itu efek, bonus. Shalat is shalat, dalam rangka menyembah Tuhan. Malah sebenarnya sungkan kalau minta imbalan. Tuhan sudah menganugerahkan kehidupan, kok masih minta imbalan.

Dan shalat nggak ada hubungannya dengan kesuksesan materi (ada sih kalau dihubung-hubungkan). Buanyak orang yang tak pernah shalat tapi kaya raya. Jadi..ojok salah niat rek.

Nggak masalah anda rajin ke seminar rejeki, MLM atau sejenisnya selama  bisa menjaga kesejatianmu, kemurnianmu, tidak jadi materialisme. Gak pikirane duwik tok ae. Sedekah tapi ngincer kembalian berlipat. Niatnya jadi rusak, ente sedekah apa dagang?

Saya pernah diprospek sama anak MLM. Semangatnya luar biasa, bicara berapi-api seraya mengepalkan tangan, ludahnya muncrat-muncrat, seperti akan jihad ke Palestina: "Ayo!! ..ini uang mas!! Uang!! Semangat!!" Aku bingung, ono opo iki?..ngelu ndasku.

Semangat seperti itu sebenarnya bagus kalau diterapkan ke hal lain, misalnya shalat. "Ayo shalat! ..ini surga mas!! Surga!! Semangat!!" Akhirnya shalat tahajjud tiap malam. Tapi kayaknya semangat seperti hanya berlaku di wilayah materi atau sesuatu yang berhubungan dengan uang. Ora popo, manusiawi..

Bukannya saya nggak butuh uang, tetep butuh banget. Cuman derajat manusia itu lebih tinggi daripada uang. Jadikan uang itu anak buahmu, bukan malah jadi budaknya. Uang bukan satu-satunya hal yang membuat orang bahagia.

Dipikirnya kenikmatan yang utama itu adalah materi . Materi memang memberi kenikmatan. Tapi sesungguhnya bukan itu yang nomer satu. Yang paling primer adalah kemampuan kita menikmati (betapa indahnya) apa saja yang diberikan Tuhan kepada kita.

Bercita-cita jadi orang kaya itu bagus kalau itu akan memudahkanmu beribadah (walau manusia itu sudah kaya sejak lahir karena dikaruniai akal pikiran dan panca indera). Lebih baik jangan kaya kalau akan menjauhkanmu dari Tuhan.

Kaya itu banyak jenisnya. Ada jenis orang kaya yang sebenarnya bukan orang kaya tapi saat membutuhkan uang, eh ndilalah kok dapat uang. Ada yang kaya, omah magrong magrong pinggir embong, tapi saat menepi berdua, curhat..buanyak tanggungan utang, kredit...ngelu ndase.

Maka lebih baik bercita-cita jadi orang bahagia daripada jadi orang kaya. Kaya nggak menjamin orang jadi bahagia. Orang miskin yang nggak bahagia itu gampang obatnya, dikasih uang..hilang sedihnya, tapi kalau sudah kaya..nggak juga bahagia....ngelu ndase.

Saya nggak anti MLM atau sejenisnya. Dan kalau diprospek MLM atau apa saja, saya tidak me-reject-nya. Bisa jadi suatu hari mungkin itu penting. Dan orang yang punya kans besar mendapatkan hidayah adalah yang mau mendengarkan omongan orang. Nggak masalah yang ngasih advice atau motivasi itu orang kere, orang sukses atau siapa saja.

Kalau ente pikir seorang motivator itu harus orang yang sukses (secara materi), ente termasuk orang yang ngelu ndase.

Saya pribadi nggak butuh motivasi tapi kalau ada orang yang memovitasi dengan kata-kata bijak akan saya dengarkan atau baca, walau kadang bikin ngelu ndase.

Motivasi itu lebih kepada soal vitamin jiwa, tidak semata-mata untuk kesuksesan materi (mungkin ente terbiasa menghadiri seminar-seminar rejeki itu. Pikiran ente teracuni dengan hal-hal yang berbau materialistis, kapitalis). Tujuannya agar tidak kesasar saat berjalan menuju Tuhan.

Jadi bukan masalah siapa yang ngasih motivasi (kaya atau miskin, sukses atau tidak).

Di Indonesia buanyak orang yang falsafah hidupnya mateng. Tukang becak pun banyak yang filosofi hidupnya jos gandos. Makanya negara ini lebih tenang menghadapi berbagai krisis  yang menimpa.

Menurutku bagus orang berani mengutarakan pendapatnya, opininya, quotes-nya. Soal itu salah atau benar, relatif. Tiap orang punya masa dan massa-nya sendiri. Mungkin 10 tahun ke depan saya malu baca tulisanku : "Duh, aku kok sok ngustadz, sok bijak se rekk.." Tapi untuk sekarang aku nggak perduli, aku menulis apa yang ingin aku tulis, daripada ngelu ndase.

Wis ah cukup..ngelu ndasku.

***
Kalau tulisan ini menyinggung anggaplah sebuah kritikan, kalau menghibur semoga menjadi semangat, kalau inspiratif semoga menjadi ide untuk berkarya. Mohon maaf lahir batin. Trims.


*ngelu ndase = pusing kepalanya = kepala cenut-cenut = headache

--------
*Pertama kali dipublish di Kompasiana

Jujur Saja Kalau Tidak Suka Puasa, Itu Hebat

dokumentasi pribadi
Iklan sirup Marjan telah ditayangkan, pertanda bulan puasa telah tiba. Bulan penuh diskon pahala gila-gilaan. Diskon susu SGM di swalayan Luwes nggak ada apa-apanya. Maka mumpung puasanya rame-rame, rugi kalau nggak ikutan puasa. Zuukk gaess..

Kalau dicap 'mendadak alim' atau dijuluki 'Islam insidental', cuek saja! Perbanyak makan sayur Rebung biar jadi 'rai gedek', nggak gampang malu. Apa pun yang terjadi tetap ibadah all the way.

Tapi kalau mau jujur, sebenarnya nggak ada orang yang suka puasa. Ngaku aja Mblo. Walaupun alim ulama, kyai, ustadz atau apa pun, kalau mereka jujur pasti akan bilang nggak suka puasa.

Kalau ente pikirannya linear, pasti ngamuk-ngamuk oleh pernyataan di atas. Tapi saya maklum, itulah penyakit kebanyakan orang sekarang : kesempitan. Dikit-dikit teriak "Dajjal!", "Babi kafir!", "Laknatulloh!"

Tenangkan pikiran, ambil nafas, tatap mata saya..

Kenapa manusia nggak suka puasa? Logikanya manusia lebih suka kenyang daripada lapar. Aneh kalau ada manusia yang hobinya lapar. Lapar itu pedih jendral!

Kebanyakan manusia menjalankan puasa karena tergiur oleh pahala yang melimpah  (mayoritas manusia modern level imannya 'pedagang', apa pun ujung-ujungnya urusan jual beli,  laba nggak? aku oleh opo?). Atau terpaksa menjalankannya karena hukumnya wajib.

Jika hukum puasa Ramadhan cuman sunnah, pasti sangat sedikit yang menjalankannya. Lihatlah saat puasa Syawal, sudah diiming-imingi pahala besar (puasa seminggu sama dengan puasa setahun), tetap saja sepi peminat.

Jika pun ada yang mau menjalankan puasa sunnah, itu karena ada maunya : biar cepet jodoh, biar diterima jadi PNS, biar tokonya laris, biar kredit motor nggak ditagih...yo wis ora popo.

Asumsinya, Tuhan memerintahkan puasa karena manusia tidak suka puasa. Kalau manusia sudah suka, ngapain diperintahkan. Dan semua ibadah yang diwajibkan itu sebenarnya tidak disukai manusia.

- Perintah dari Tuhan pasti sesuai dengan fitrah manusia, bermanfaat bagi rohani dan jasmani (dapat dibuktikan secara empiris). PerintahNya 100% untuk kebaikan dan pemahaman manusia, bukan untuk 
Tuhan, Tuhan nggak butuh itu semua -

Justru orang yang nggak suka puasa tapi tetap melakukan puasa itu hebat! Melakukan hal yang tak disukai apalagi dengan niat ikhlas karena Alloh, itu emejing banget Mblo.

Manusia yang derajatnya tinggi adalah manusia yang mau melakukan hal (berat) yang sangat tidak disukainya, melawan ego dan nafsunya. Karena dia tahu itu baik bagi dirinya.

Apa hebatnya jika sudah suka puasa, terus melakukan puasa (hal yang disukainya itu)?? Kayak orang yang suka piknik dikasih liburan gratis ke tembok China, yo tambah seneng..

Bukan berarti kalau tidak suka puasa terus nggak puasa. Kalau itu sih gemblung namanya. Saat ditanya kenapa nggak puasa, jawabannya sinis : "Diakali wong Arab!"

Kondisi Terbaik Adalah Saat Kita Lapar
Semua pasti tahu lah kalau puasa itu menyehatkan secara medis, tapi jarang yang tahu kalau kondisi tubuh yang paling baik adalah saat lapar (asal tidak sampai pada tahap kelaparan; tentu saja puasa nggak akan bikin kelaparan). Pada kondisi itu tenaga prima, hati dan pikiran lebih jernih.

Dan kenyang itu sebenarnya tidak baik. Perut kenyang membuat orang jadi ngantuk, males mikir, gampang tersulut nafsu seksnya. Maka jangan sampai kekenyangan. Biasanya yang makan di standing party resepsi pernikahan. Semua jenis makanan dicaplok. Aji mumpung, nggak mesti setahun sekali makan enak.
Mice Cartoon Harian Kompas
Ilmu tertinggi dalam kesehatan adalah : "Makanlah saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang".
Menurut ilmu kesehatan, kita merasakan kenyang setelah 20 menit setelah berhenti makan.  Kalau kita makan sampai kenyang itu sebenarnya memang perut sudah nggak muat.

lidah dan mulut itu adalah alat dari Tuhan agar manusia memahami kesehatan. Jadi kalau ente mau memasukan makanan ke tubuhmu, lidah akan mendeteksi ini sehat atau tidak. Nggak cuman maknyussss ae.

Salahnya orang modern adalah menggunakan lidahnya untuk sekedar fungsi kuliner. Seharusnya untuk memahami ini sehat atau tidak. Dengan begitu kita akan paham kapan saatnya makan dan tidak makan. Nggak memamahbiak all the time ae rek.

Tidak sehat bukan cuma urusan bahannya tapi juga dosisnya. Nasi itu bagus tapi kalau dosisnya kelebihan bisa bikin diabetes, gula darah naik. Maka puasa pun bisa mengurangi gula darah.

Saat puasa kita meningkatkan pemecahan glukosa, yang dilakukan agar tubuh bisa memperoleh energi. Ini akan mengurangi produksi insulin yang terletak di pankreas, dan glukagon diproduksi untuk memfasilitasi pemecahan glukosa. (Aku nggak yakin ente paham, Bukan gayaku menulis bergaya intelek, model tulisan makalah atau skripsi. Karena cuman satu dua orang yang ngerti).

Wis ah..banyak sekali manfaat puasa yang lain, ente pasti sudah pernah membaca soal itu. Kalau belum tahu, tanyakan saja Mbah Google. Kalau saya tulis semua pasti akan sangat membosankan. Wis tau.

Jika ada perbedaan hari awal puasa, nggak usah galau. Percaya saja sama kyainya. Mau ikut yang hari minggu atau senin, monggo. Karena pada intinya sama saja, sama-sama tanggal 1 Ramadhan (nggak ada yang memulai puasa tanggal 2 Ramadhan). 

Kita cuman umat, kalau ada kesalahan penetapan hari, yang tanggung jawab kyainya. Tenang ae..


*Pertama kali dipublish di Kompasiana

Ini yang Membuat Rakyat Indonesia Selalu Bisa Bangkit dari Keterpurukan

dokumentasi pribadi
Sebenarnya tulisan ini akan saya tulis dan tayangkan saat bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (HKN). Tapi karena suatu kesibukan, terpaksa harus tertunda penayangannya. Biasa, tawaran shooting main film datang bertubi-tubi (film Flora Fauna, memerankan Luwak).

Walaupun HKN diperingati untuk mengenang bangkitnya pemuda dalam organisasi Boedi Oetomo, tapi sebenarnya juga mengenang kebangkitan bangsa Indonesia secara umum. Yang penting bagaimana kita bisa mengambil semangat dan nilai-nilai yang diperjuangkan para pemuda dulu dalam merintis kemerdekaan. Nggak cuman mengenang doang Mblo.

Ngomong soal bangkit, sebenarnya rakyat kita adalah pakar dalam hal bangkit-membangkit. Berdasarkan fakta sejarah selama ratusan tahun. Tanpa diajari untuk bangkit, rakyat sudah paham caranya. Mereka adalah bangsa lelaku, nggak gampang dikalahkan oleh penderitaan hidup. Jadi para ahli nggak usah nggaya ngajari rakyat untuk bangkit.

Kebangkitan di sini jangan diartikan sempit, bangkit melawan penjajah (Belanda). Tapi kebangkitan secara umum, terutama bangkit melawan krisis (ekonomi), keterpurukan. Di bawah ini adalah beberapa fakta kenapa rakyat kita selalu bisa terus bangkit dari kubur eh..krisis:

- Pinter Mengakali
Mengakali di sini dalam artian yang positif, bukan mencurangi, menipu atau merekayasa (walaupun ahli juga soal itu). 

Mengakali di sini contohnya sepeda motor yang sebenarnya sudah nggak layak pakai tapi bisa dipakai karena diakali sedemikian rupa. Walau mereka nggak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang mesin (lha wong tahunya sepeda motor hanya Honda, walau merknya Yamaha, Suzuki atau lainnya, tetap dibilang Honda).

Tapi mereka biasanya glagepan, plungkar plungker kalau disuruh menjelaskan seperti insinyur mesin menjelaskan soal mesin. Karena ilmu mereka adalah amalnya. Mereka jenis manusia tukang, bukan sarjana atau jenis konseptor yang kerjanya merumuskan.

Nggak cuman pada mesin saja yang mereka akali, tapi juga soal apa saja, termasuk makanan.
Dulu kalau ada anak desa yang sekolah di kota jadi bahan ejekan temannya karena doi makanan pokoknya gaplek, tiwul dan sejenisnya. Padahal sekarang nasi sisa yang seharusnya buat makan hewan atau dibuang, diakali dijadikan nasi aking dan seterusnya dikonsumsi. Inilah yang membuat rakyat kita selalu bisa selamat dari krisis.

Jajanan yang sebenarnya remeh temeh bisa disulap menjadi jajanan gaul. Kreatif. Ampas tahu yang seharusnya buat makanan Sapi atau Babi, disulap menjadi Tempe Gembus alias Menjes alias Tempe Levi's (karena tekturnya persis celana jins).

- Multi Talenta
Rakyat Indonesia rata-rata mempunyai bakat lebih dari satu. Karena keadaan ekonomi yang carut marut membuat rakyat harus atau terpaksa belajar apa saja. Maka tak heran jika pekerjaan orang Indonesia buanyak yang tak sesuai jurusan. Sarjana Pertanian jadi desainer, Sarjana Ekonomi jadi tukang servis HP, Sarjana Filsafat jadi pengusaha roxy (rongsokan besi), ahli IT jadi Menteri Pemuda dan Olah raga (di era SBY..duh).

Walaupun sebenarnya multi talenta juga bisa membuat kita terpuruk (karena tidak fokus pada satu bidang, sedang orang Barat fokus pada satu bidang sehingga banyak melahirkan  para ahli). Tapi setidaknya saat lapangan kerja begitu sempit atau di-PHK, mereka bisa survive dengan ilmu, bakat yang bermacam-macam.

- Pinter Main 'Akrobat'
Pasti ente pernah lihat betapa luwesnya orang mengendarai motor (ngebut) sambil main Hengpon. Atau juga Penjual kasur lipat yang menjajakan dagangannya hanya pakai motor atau sepeda ontel. Kasur lipat ditumpuk di jok. Dan masih sempat-sempatnya zig zag di jalan saat jam sibuk. Belok kiri (keluar dari gang) nggak pakai noleh ke kanan (belakang). 

Hebatnya, dengan keadaan jalanan yang kacau balau tersebut, angka kecelakaan tak setinggi negara maju yang masyarakatnya sangat tertib : Jepang, Korea dan atau negara maju lainnya.
Karena pinter 'akrobat' itulah rakyat Indonesia oke-oke saja. Kuli bangunan di gedung tinggi, rileks tanpa alat pengaman yang memadai. Begitu juga saat menambang pasir, batu kapur, sarang burung walet, emas, akik, atau apa saja di tempat yang berbahaya..mereka oke saja. Bahkan masih sempat-sempatnya selfie.

- Tidak Tergantung Apa-Apa
Ini salah satu asyiknya orang Indonesia. Mereka tidak masalah jadi apapun. Jadi orang kaya Alhamdulillah, miskin juga nggak masalah. Jadi orang sukses..syukurlah, nggak sukses..biarlah. Yang penting mangan ora mangan kumpul, nabung buat beli gadget yang canggih buat ngeksis, sehari makan 3 kali, beresss. 

Bandingkan dengan orang Korea, Jepang atau bangsa lain.  Begitu hidupnya gagal, nggak sukses..langsung bunuh diri.

- Sengsara adalah Prestasi
Kebanyakan ini terjadi pada orang lama yang masih teguh pada budaya nenek moyang. Mengamalkan berbagai laku tirakat untuk melatih dan meneguhkan diri. Misal orang Jawa yang Puasa Ngebleng, puasa selama 3 hari nonstop nggak makan minum dan menahan hawa nafsu. 

Karena tahan sengsara itulah ketika krisis datang, mereka nggak akan pernah kaget. Krisis opo se rek..Dan mereka tetap berangkat bekerja, ngojek, nguli, bakul di pasar, berburu rongsokan, bahkan jangan kaget kalau masih menemui orang yang memanggul dipan kayu (tempat tidur) dijajakan keliling kampung.

- Hidup dengan Sugesti
Pernah dengar khan ada anak yang hobinya makan batu bata tapi tubuhnya oke-oke saja. Secara logika atau teori pastilah nggak baik makan benda seperti itu, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Bahkan di Jawa ada tanah liat yang dijadikan cemilan (Ampo).

Saat harga melambung tinggi, susu tak terbeli, maka tajin pun jadi. Anehnya tajin malah lebih dahsyat dari susu (instan). Bayi bisa tumbuh normal layaknya bayi yang minum susu mahal. Dan itu semua karena kekuatan sugesti.

****
Oke, walaupun rakyat kita kesadarannya rendah (jam karet, sulit antri, buang sampah sembarangan, dan sebagainya), tapi Rakyat Indonesia adalah jenis manusia yang anomali, tidak ada rumusnya. Nggak bisa ditebak, bisa jadi malaikat dan setan di waktu yang sama. Hari ini korupsi, besok umroh. Kelihatannya alim, kalem, tapi diam diam mencuri rantang.

Itulah yang bikin konspirasi dunia sulit menguasai Indonesia. Konspirasi dunia tak kan bisa mempengaruhi bangsa ini secara total, paling cuman hinggap sementara. Juga karena mereka adalah rakyat yang fanatik pada budaya lokal. Walaupun lama dijajah Belanda, bahasa mereka tetap bahasa Nusantara nggak berubah jadi Belanda.  

Kalau pun mereka lari ke K-Pop, Metal, Rasta, Punk.. itu hanya sementara saja. Mereka akan tetap kembali jadi Indonesia.

Rakyat Indonesia itu tahan banting. 'Monyet terlatih' yang teruji sejak berabad-abad. Diplokhotho Belanda, diinjak-injak Jepang (bahkan sampai saat ini pun masih 'dijajah' oleh persekutuan kolonialis 
global). Tapi mereka masih bisa ketawa ketiwi gumbira huwehehehehehehehe..

Tak ada bangsa yang segembira bangsa Indonesia. Sebagai manusia, sangat nyaman hidup di sini. Tapi sebagai warga, remukkk..ditakut-takuti, diporotin oleh aparat juga direpoti oleh pemerintah. Tahu sendirilah, ingin urusan lancar harus pakai uang.

Saat Belanda dulu menguras tambang dan kekayaan alam buat makan rakyatnya, rakyat Indonesia rileks-rileks saja : "Monggo sana ambil! masih buanyak tambang yang belum digali. Indonesia is the promised land!" Kita negara kaya kok, mereka yang miskin. Pede aja.

Mereka hanya melawan ketika disakiti, kalau cuman soal harta tambang diambil, silahkan saja. Harta benda kok diurusi, Tuhan maha kaya. Gitu aja kok repot.

Apapun kebijakan pemerintah (yang bikin sengsara), rakyat pasti mampu melaksanakan. Memang seminggu, dua minggu rakyat protes, demo habis-habisan. Tapi setelah itu mereka akan menyulapnya menjadi hikmah, revolusi diri dan optimisme melangkah ke depan.

Mereka adalah ahli krisis. Begitu seringnya ditimpa krisis sampai akhirnya lupa dan terbiasa dengan krisis. Krisis what? sudah lupa tuh. Media saja yang sukanya mendramatisir, yang sebenarnya terjadi tidak seheboh itu.

Wis ah...trims.

*pertama kali dipublish di Kompasiana

Kamis, 19 Mei 2016

Negeri Pengidap "Palu Arit Phobia" Akut


Dalam konteks kebebasan berekspresi, kupikir di era Reformasi ini pemerintah lebih rileks (baca : cerdas). Ternyata masih idem dengan Orba : 'Palu Arit Phobia'. Ada anak pakai kaos bergambar palu arit langsung dihancurken, dituduh melakuken tindaken yang buken-buken (Harto mode on). "Enak jamanku to?"..enak gundulmu!

Bandingkan dengan negara yang pernah dihinggapi komunis. Rusia menjadikan lambang komunis plus tokohnya sebagai suvenir, gantungan kunci dan sejenisnya. Di Jerman, Kreator salah satu band thrash metal favoritku, menyematkan lambang 'palu arit' di salah satu albumnya : "At The Pulse Of Kapitulation - Live In East Berlin" (1990). Untuk mengenang bercokolnya komunis di Jerman Timur (1949-1990).

Don't try to take our dreams away from us / We will never be like you/ Love us or hate us, it doesn't matter to me/ We don't want to be a part of this sick society!!!! Sori, nulis tak sambi karo nyanyi.."Love Us Or Hate Us" dari Kreator. Mille Petrozza rules! \m/.

Kalau ente pernah nonton konser musik metal gedabukan (underground), ente pasti menjumpai buanyak Metalhead (anak metal) yang pakai kaos yang sangat 'ngeri' jika dipahami secara linear. Kalau cuma 'palu arit' mah..ndeso!

Di sana, jangan kaget kalau menjumpai kaos band black metal Cradle Of Filth yang bertuliskan 'Jesus is a Cunt' atau band Marduk dengan tulisan 'Fuck me Jesus'. Dan banyak lagi kaos dengan  menampilkan tulisan 666 (lambang setan) atau gambar pentagram (Anti-Christ). Sangar yo..metal pakde.

Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru nuduh kalau makai kaos lambang pentagram adalah Anti-Christ atau penyembah setan, makai kaos Che Guevara pasti menganut paham Marxisme (cikal bakal komunisme), makai kaos gambar 'palu arit' pasti kader PKI.

Sebenarnya mereka (yang pakai kaos payah itu) cuman mengambil kulitnya doang.  Hanya untuk sekedar sangar-sangaran, gaya-gayaan, keren-kerenan, seru-seruan dan lucu-lucuan belaka. Suatu yang jamak terjadi saat  kita menginjak usia 17 - 25 tahun. Wis tau..

Si pemakai kaos banyak yang nggak ngerti paham-paham begituan, yang penting nggaya biar dibilang gaul (biasanya pemakai kaos bergambar Che Guevara yang ada kaos plesetannya : Cewek Gue Parah). Jangankan paham Marxisme, Che Guevara itu siapa, nggak tahu kok.

Ada orang yang senang pakai kaos bergambar siluet wajah Charles Manson (penjahat legendaris Amrik) tapi sama sekali nggak pernah bercita-cita jadi pembunuh. Ada juga yang suka sekali pakai kostum bajak laut tapi sama sekali tak ingin jadi bajak laut. Jangankan naik kapal laut, naik angkot aja mabuk.  

Cuman pakai kaos 'palu arit' saja sudah babak belur, itu belum mengibarkan benderanya. 

Ingat dulu saat Piala Dunia (bola), banyak orang terbawa euphoria mengibarkan bendera tim pujaannya. Yang menjagokan Belanda mengibarkan bendera Belanda, ngefan tim Brazil mengibarkan bendera Brazil. Ndilalah dulu nggak ada yang ngefan tim Rusia yang berbendera 'palu arit' (atau China, kalau sekarang).

Apalagi stigma yang beredar di masyarakat bahwa komunis itu ateis, membuat mereka semakin buenci komunis, terutama kaum kolot . Kalau ente meyakini komunis itu pasti ateis berarti ente termakan oleh propaganda Orba. Ndeso! Orba sialan itu benar-benar berhasil membuat rakyat mengalami trauma yang mendalam pada apa pun yang berbau komunis.

Ingat dulu saat masih SD (80an) diwajibkan nonton pilem "Pengkhianatan G30S PKI" di gedung bioskop yang tak ada AC-nya, puanasss (itu gedung bioskop apa Spa). Nonton bersama bu guru, pak guru, pakde, bude, kakak, om...lho tantenya mana?..angon wedus om.

Orba begitu spartan melakukan propaganda, doktrin akan bahaya laten komunisme (PKI). Sehingga begitu kuat tertanam di otak paling pojok rakyat Indonesia. Lihat gambar 'palu arit' langsung 'adem panas', gulung-gulung..epilepsi.

Bagi saya komunis itu nggak masalah, selama jadi ideologi pribadi. Karena sebenarnya komunisme datang untuk menolak kapitalisme. Perduli pada nasib kaum proletar yang dieksploitir kaum kapitalis untuk keuntungan pribadi. Tak heran jika pemimpin besar PKI dulu sebenarnya muslim yang taat : Musso, DN Aidit dan lainnya (ojok ngomong sopo-sopo yo).

Jika ente punya band, nggak masalah memberlakukan sistem komunis : Tak ada kepemilikan pribadi, semua milik bersama (jika berhubungan erat dengan band) dan hasil keberuntungan band dibagi rata. Tapi jangan pernah bercita-cita bikin negara komunis, walau hanya dalam mimpi, tak kaplok ndasmu! huwehehe guyon mas..

Banyak orang salah kaprah  membedakan komunis dan PKI. Komunisme adalah paham yang menolak kepemilikan barang pribadi, semua barang produksi menjadi milik bersama. Sedangkan PKI adalah partai politik yang berideologi komunis. Partai yang dilarang keras di Indonesia. Catet!

Jangankan komunis, agama pun kalau dijadikan partai akan jadi 'busuk'. Banyak orang alim begitu berpolitik terseret jadi munafik. Walaupun tidak semua politikus seperti itu. Cuman ingat. satu orang munafik lebih berbahaya dari seratus orang kafir.

Semua gerakan yang menggulingkan pemerintah tentu saja akan membunuh jika dihalang-halangi. Apa pun paham yang dianut oleh gerakan itu. Mau PKI, DI TII atau yang lain, pasti akan membantai habis siapapun yang dianggap musuh (menghalangi). Kill 'em all! No Remorse! Seek and Destroy!

PKI memakai lambang 'palu arit', sedang DI/TII memakai 'bulan bintang'. Kalau gambar 'Palu arit' dilarang, seharusnya 'bulan bintang' juga dong.  Jadi kenapa meributkan sebuah gambar, toh mereka (yang pakai kaos 'palu arit') tidak melakukan tindakan teror.  Mending disangka komunis (padahal tidak) daripada agamis tapi sebenarnya teroris.

Bukan gambar atau lambang yang harus ditakuti. 'Palu arit' bukan hanya milik PKI, 'bulan bintang' juga bukan cuma milik DI/TII. Jadi yang perlu ditakuti adalah gerakan nyata radikalisme yg berkedok agama, ekstrimis, teroris, organisasi massa, partai politik yang melakukan tindakan dekstrutif dan mengintimidasi orang lain agar sepaham dengannya.

Saiki tenangno pikirmu, Pancasila sudah terbukti sakti. Nggak perlu takut dengan aliran-aliran brengsek yang akan menghancurkan Pancasila. Mereka cuma anak PAUD yang sedang berebut permen.

Repot kalau cara berpikirnya sempit : Gambar 'Palu arit' pasti PKI, lambang 'swastika' adalah Nazi,  'bulan bintang' itu pasti DI/TII (mungkin itu alasan kenapa Partai Bulan Bintang berganti nama, takut dikira Neo DI/TII) . Lama-lama anak sekolah dilarang menggambar pelangi, karena akan dianggap pro LGBT.

PKI sudah jauh berlalu, zuukkk mari kita move on! Pancasila never die!
Wis ah..

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

(Robbi Gandamana, Mei 2016)

*pertama kali dipublish di Kompasiana

Rabu, 18 Mei 2016

Sudahlah Jangan lebay, MSG Bukan Racun!



ilustrasi

Sebelum lebih jauh membahas soal penyedap rasa atau istilah kerennya MSG, saya kasih tahu bahwa saya bukan karyawan BPOM atau ahli gizi. Paham saya soal MSG sama sekali nggak mendalam. Lagian buat apa mempelajarinya sampai detail, saya nggak sedang membuat skripsi.

Karena itu saya nggak terlalu mengulas MSG-nya, tapi lebih condong pada konsumennya yang terperosok ke dalam mitos yang nggak jelas tentang MSG. Soal aman atau tidak, itu tergantung dari kapasitas tubuh ente.  Apa pun yang dikomsumsi berlebihan akan jadi penyakit. Nasi pun kalau dikomsumsi berlebihan bisa bikin diabetes.

MSG Itu Baik!
MSG berawal dari penelitian Prof. Kikunae Ikeda (1908) dan diproduksi secara komersil oleh Zusuki bersaudara di Jepang dengan merk Ajinomoto (1909).  Masyarakat kita mengenal MSG sebagai Micin atau Vetsin walaupun merknya Ajinomoto, Sasa atau Miwon. Maklum wong Jowo.

Sejak jaman sepur klutuk, MSG dipakai masyarakat kita sebagai penyedap rasa. Dan selama itu MSG aman-aman saja. Kalau MSG itu bikin gemuk ya wajar saja, karena makanan jadi tambah enak, akhirnya makannya berlebih. Jadi bukan MSG-nya tapi karena orangnya yang nggak kontrol. Rakus sihh..

Ada juga mitos yang menyatakan bahwa MSG adalah biang kerok dari kebodohan anak. Bahwa anak yang kebanyakan mengomsumsi Vetsin jadi gemblung permanen. Oalaa, pusat MSG di Jepang, tapi yang jadi gemblung kok orang Indonesia? Ini yang salah MSG-nya atau orangnya?

Pada dasarnya MSG diciptakan untuk membantu penyerapan nutrisi makanan secara maksimal oleh tubuh. Badan-badan kesehatan dunia atau Amerika, Komunitas Kesehatan Eropa, dan BPOM pun mengamini. Jadi kalau ente gemblung itu bukan karena vetsin tapi mergo utekmu metel!

Vetsin juga dituduh penyebab orang tak berumur panjang. What a stupid!  Umur panjang atau tidak itu urusan Tuhan, bukan karena Vetsin atau MSG.

Kalau orang pelosok desa jadul bisa berumur panjang, bukan karena tak pernah mengomsumsi MSG. Banyak faktor yang menentukan. Salah satunya karena pikiran mereka lebih fresh, nggak mikir berat-berat. Nggak terikat oleh kekakuan-kekakuan dalam rutinitas sehari-hari.

Bandingkan dengan orang kota yang tiap hari stress terjebak macet, kerjaan numpuk, cicilan motor nunggak, selingkuhan hamil, mikir harus ganti gadget yang terbaru dan sebagainya.

Kalau pikiran fresh dijamin akan sehat wal afiat. Sumber segala penyakit ada di dalam pikiran yang burek. Kalau pikiran sudah salah, maka perintah yang datang dari otak (pusat pikiran) ke jantung, lambung, paru-paru dan organ tubuh lainnya jadi nggak beres. Maka timbulah jerawat, udun, sakit jantung, stroke..opname.

Bagaimana pikiran bisa benar? Ya belajar tiap hari. Sadar atau tidak sadar, setiap orang melakukan penelitian. Maka jadikan belajar sebagai kebutuhan. Ojok belajar cuman pas onok THB tok ae.

Kata Kyai, manusia adalah Khalifah, sebagai wakil Tuhan di Bumi : memelihara dan mengolah Bumi untuk kehidupan makhlukNya. Jadi manusia dikasih hak sedikit persen untuk 'memerintah' apa yang ada di Bumi. Maka jadikan apa yang ada di dirimu dan luar dirimu anak buah.

Pada tanganmu, kakimu, matamu, organ tubuhmu, uang, gadget, mobil, benda materi lainnya..jadikan mereka anak buahmu, bukan malah jadi budaknya.

Jadi sama MSG, jadikan dia anak buahmu. Kalahkan dia dengan niat dan sugestimu.

Kalau ente meyakini MSG itu baik, maka dia akan jadi baik beneran. Begitu juga pada makanan yang lain, kecuali yang jelas-jelas racun atau yang diharamkan agama.  Kalau ente meyakini MSG itu buruk, jangan kaget kalau setelah makan MSG jantungmu ambrol.

Jangan Mudah Percaya
Jangan mudah percaya dengan ilmu-ilmu kesehatan yang nggak jelas. Apalagi yang dihembuskan oleh orang Barat. Mereka itu gen lemah. Percayalah bahwa orang Nusantara adalah manusia hibrida plus. Cuman makan tajin dan pisang, bayi bisa tumbuh besar. Jadi nggak usah terlalu serius ngomong gizi...gizi gundulmu!

Banyak mitos keliru yang diyakini masyarakat kita. Misal minum air putih minimal 6-8 gelas sehari yang ternyata cuma propaganda perusahaan air minum. Bahkan jargon '4 sehat 5 sempurna' yang dulu digembar-gemborkan, sekarang nggak dipakai. Itu karena terlalu percaya ilmu kesehatan dari Barat.

Rakyat kita juga banyak yang belum sadar bahwa negeri ini masih dijajah oleh persekutuan kolonialis global. Persekutuan bangsa Barat yang mengerdilkan negeri ini sampai sekerdil-kerdilnya, lebih kerdil dari kaum Hobbit.

Banyak mitos kesehatan telah diciptakan.  Dilegalisasi oleh WHO, UNICEF bahkan IMF. Semuanya bukan dalam kerangka kejujuran ilmiah, melainkan atas nama kepentingan, persaingan dagang dan penghancuran budaya lokal.

Bagaimana dulu di negeri ini kopra pernah berjaya dengan minyak kelapanya. Sampai akhirnya terpuruk karena kita ditakut-takuti oleh Barat akan bahaya kolesterol yang terkandung di minyak kelapa. Akibatnya kita lari ke minyak kedelai atau Canoli yang banyak diproduksi oleh orang sono.

Begitu juga dengan garam. Dengan garis pantai terpanjang kedua dunia, garam Indonesia pernah jadi primadona. Sampai akhirnya remuk jaya karena mulai dikampanyekan garam beryodium oleh Akzo Nobel yang memproduksi garam beryodium sejak 1918.

Tembakau juga cengkeh (industri kretek) tak kalah remuk nasibnya. Bagaimana industri kretek kita dikebiri oleh rokok putih (asing). Bahaya tembakau dibesar-besarkan bla bla bla bla bla....kapan-kapan saya teruskan, ini lagi sibuk.

****
Intinya semua makanan itu baik (kecuali racun dan yang diharamkan) tergantung bagaimana atau cara ente mengkomsusinya. Semua makanan bisa membunuhmu jika anda berlebihan atau salah dalam mengkomsumsinya.

Wis ah..

-Robbi Gandamana-

Referensi :

Jumat, 13 Mei 2016

Sistem Pendidikan yang Membentuk Siswa Jadi Burung Beo itu Ndeso

Dokumentasi pribadi
Hardiknas (bukan Hari Menghardik Nasional; akronim yang konyol) sudah berlalu. Tapi kalau ngomong soal pendidikan, saya jadi ingat sebuah film ciamik yang nyindir institusi pendidikan yang masih makai sistem kolot. Film itu adalah "3 Idiots".

Film Bollywood terbaik yang dirilis tahun 2009 ini memang oyee. Sunnah muakkad untuk ditonton oleh para pendidik yang kolot, lulusan IKIP, FKIP, PGSD, siapapun yang ingin jadi pengajar dan yang diajar. Saya sendiri mempelajari film ini, nggak sekedar nonton.

Kalau ente bilang, "Film India!?? Gengsi ah, nehiii!" Gemblung! Jangan terpenjara dengan padatan-padatan: India, Korea, Amrik, Arab, Mbantul, Mbeji. Film is film. Selama itu menghibur, bermanfaat  dan menginspirasi, why not? Oke, Bollywood memang selalu ada joget yang wagu. Skip aja yang itu. Beresss.

sumber : www.india.com

Mencintai Fotografi Menikah dengan Mesin
Dikisahkan ada 3 orang pemuda dengan karakter dan latar belakang berbeda, kuliah di ICE (The Institution of Civil Engineers). Sebuah kampus favorit yang mencetak ahli mesin yang handal.

Ketiga orang tersebut adalah Rancho (Aamir Khan), Farhan (R. Madhavan) dan Raju (Sharman Joshi). Rancho adalah seorang pemuda yang anti-mainstream. Pola pikirnya nggak umum. Doi selalu bikin takjub Farhan dan Raju atas tindakan dan pemikirannya yang kickass!

Rancho bagaikan burung yang merdeka yang hidup di 'sarang' diktator. Yang selalu menantang dunia dalam setiap langkahnya.

Rancho kuliah di jurusan mesin karena doi  memang cinta mati pada mesin. Beda dengan Farhan dan Raju yang harus kuliah karena desakan orang tua agar bisa mendongkrak ekonomi keluarga.

Farhan sendiri nggak terlalu tertarik pada mesin, doi lebih mencintai fotografi dan punya obsesi menjadi fotografer profesional. Tapi karena 'sungkan' sama ayahnya, Farhan pun rela 'menikah' dengan mesin.

Persis seperti orang kita yang menuntut anaknya kuliah ekonomi padahal anaknya sangat berbakat dan mencintai seni. Memperkosa hati nurani anak demi nuruti egoisme orang tua. Tapi nggak papalah manut orang tua...biar masuk surga. T:T

Tapi pada akhirnya Farhan nekat 'menggugat' orang tuanya setelah dikompor-kompori oleh Rancho. Dan juga karena kalah dalam sebuah pertaruhan dengannya.

"Aku tidak ingin menjadi insinyur, Ayah. Aku tidak menyenangi Ilmu Mesin. Meski bisa, aku akan menjadi insinyur yang buruk! Rancho berpesan, buat obsesimu menjadi profesimu sehingga bekerja akan serasa bermain!" jelas Farhan serius.

"Memang hanya gaji kecil yang kudapat. Tapi yang penting aku bahagia. Dan aku akan belajar banyak 5 tahun dari sekarang. Hidup sebagai insinyur hanya akan membuatku frustasi lalu akan mengutukmu ayah! Mengutuk karena memberiku kehidupan bla bla bla bla, " tambah Farhan yang membuat ayahnya luluh dan mengikhlaskannya jadi fotografer.

Jangan Kayak Burung Beo!
Rancho, mahasiswa yang kontra sistem pendidikan populer, yang mementingkan menghafal daripada memahami. Mewajibkan murid hafal persis  teks yang ada di buku tanpa pemahaman, penghayatan yang mendalam. Sistem pendidikan yang menitik beratkan pada nilai ujian, tidak pada kreatifitas siswa.

Jika jawaban murid tidak sama dengan yang tertulis di buku (atau yang dikatakan guru) akan di-reject. Padahal secara garis besar jawaban tersebut benar.

Rancho selalu menjawab pertanyaan dosennya dengan bahasa sederhana. Yang berbeda dengan yang tertulis di buku. Padahal dosennya menuntut mahasiswanya menjawab dengan jawaban rinci, sama persis yang ada di buku. Akibatnya Rancho sering diusir dari kelas.

Suatu kali saat diusir dari kelas, buku Rancho tertinggal. Doi pun kembali ke kelas. Si dosen dengan mata mendelik bertanya kenapa Ranco kembali. Rancho menjawab dengan bahasa yang sangat rinci untuk mendefinisikan kata 'buku':

"Instrumen yang merekam, menganalisa, meringkas, mengorganisir, memperdebatkan dan menjelaskan informasi yang digambarkan, dan tak digambarkan dengan sampul tebal, sampul tipis, tersampul dan tak tersampul. Dengan prakata, pengenalan, daftar tabel, daftar isi yang bertujuan untuk memberi penerangan dan pemahaman. Mengayak, meningkatkan, dan mendidik otak manusia untuk mencapai visi, atau setidaknya mendekati."

Mendengar jawaban yang rinci itu, Dosen pun ndlahom. Doi bertanya kenapa tidak menggunakan bahasa sederhana. Rancho nyahut, "Saya khan sudah lakukan sebelumnya, tapi Anda tidak suka bahasa yang sederhana (sukanya bahasa yang rinci)."

Towengwengwenggg..

Kisah Rancho di atas buanyak terjadi di dunia pendidikan kita. Bagaimana kita selama di sekolah dulu dipaksa menghafal persis berdasar yang ada di buku. Apalagi ujian pun lebih banyak soal pilihan daripada esai. Jadi kita dibiasakan untuk tidak kreatif dalam mengembangkan bahasa.

Dari dulu tujuan utama kita sekolah adalah untuk mengejar nilai ujian yang bagus (pasti dicap lugu kalau tujuannya cari ilmu). Nilai ujian yang diabadikan di ijazah. Dengan ijazah, kita mudah dapat kerja. Bisa juga untuk mencalonkan diri jadi lurah. Akhirnya ijazah palsu pun merajalela.

Kalau sudah jadi peradaban begitu, terus mau ngomong apa....susah dirubah. Terusno ae..babah wis.

Ngomong  soal hafal menghafal, otak langsung nyambung pada para Hafidz (hafal Qur'an). Dipikirnya kalau sudah hafidz itu sudah pasti paham Al Qur'an. Hafidz itu baik, tapi apa gunanya kalau cuman hafal, tapi tanpa pemahaman. Akhirnya kayak burung Beo yang bisa menirukan persis ucapan orang tapi sama sekali tak paham apa yang diucapkan.

Apalagi yang Hafidz Qur'an itu anak Arab, yo gak kaget. Lha wong bahasanya sendiri. Baru hebat kalau hafids Qur'an itu wong jowo, omahe pelosok ndeso, cengah cengoh,  ibuke rondo, anake songo, uripe soro,  mangane telo, kerjone luru boto, warisan ora ono....

Al Qur'an dihafal-hafal persis seperti yang tertulis pada terjemahan Depag yang mirip Google Translate itu. Jika tidak sama persis dengan hafalannya dicap sesat. Padahal maksud dan esensinya sama. Oyeeee..pasukan bodrek siaap!!

Menjalankan Sekolah Bak Sebuah Perusahaan Akan Menghasilkan 'Keledai'
Di film ini Kampus ICE digambarkan bagaikan sarang diktator. Diktator tersebut adalah Viru Sastrabudi (mahasiswanya menjulukinya Virus), seorang direktur yang menjalankan sekolah bak perusahaan, industri pendidikan.

Di kampus itu mereka tidak membicarakan penemuan atau gagasan baru, mereka hanya berbicara peringkat, peluang kerja, atau paling banter kerja di AS (luar negeri). Mereka hanya mengajari bagaimana cara memperoleh nilai yang bagus. Mereka bahkan tak mengajari mahasiswanya menjadi insinyur yang handal.

Kebanyakan mahasiswa hanya jadi robot bagi profesor Virus. Maka jangan heran jika kampus yang seperti itu banyak menghasilkan 'keledai'. Duh aku tersindir Mblo...sarjana keledai!

Tiap menyambut mahasiswa baru, Profesor Virus selalu berkhotbah dengan kata yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Sampai-sampai seorang OB di kampus tersebut hafal di luar kepala isi ceramahnya :

"Burung Koel tidak pernah membuat sarangnya sendiri. Mereka menaruh telur-telurnya di sarang burung lain. Dan ketika anak mereka menetas, apa yang mereka lakukan pertama kali? Mereka menendang telur-telur lain keluar dari sarang. Kompetisi berakhir!

"Hidup dimulai dengan 'membunuh'. Itulah alam, Bersaing atau mati. Kalian semua bagaikan burung Koel dan mereka semua adalah telur-telur  yang kalian singkirkan untuk diterima di ICE."

Tapi Virus tak selamanya salah. Doi mengingatkan mahasiswanya bahwa hidup ibarat sebuah perlombaan. Jika kau tidak cepat, seseorang akan mengalahkanmu dan melaju kencang meninggalkanmu. Dan Jangan pernah jadi nomer dua. Tak ada yang perduli dengan yang kedua. Seperti kata Virus:

"Neil Armstrong adalah orang pertama yang menginjakan kaki di bulan. Tapi siapakah yang kedua? Jangan sia-siakan waktumu (untuk mencari tahu jawabannya), karena itu tidak penting! Tak akan ada orang yang mencoba mengingat 'Orang kedua'!"

Suatu kali Rancho ditantang (dipaksa) Virus untuk memberikan perkuliahan yang benar di depan kelas. Karena Virus tersinggung dengan ucapan Rancho yang menuduh Virus menekan Joy Lobo  (salah satu mahasiswa yang sepaham dengan Rancho) yang mengakibatkan Joy Lobo bunuh diri.

Saat di depan kelas Rancho hanya menuliskan dua kata 'Farhanitrate' dan 'Prerajulation'. Setelah itu menyuruh mahasiswa di dalam kelas (termasuk Virus) mencari tahu arti kata tersebut dalam waktu hanya 30 detik.

Saat itu juga semua mahasiswa kalut dan berlomba mencari jawaban. Tapi sampai batas waktu yang ditentukan, tak ada yang bisa menemukan jawaban. Padahal kata 'Farhanitrate' dan 'Prerajulation' itu sama sekali bukan kata yang berarti. Itu adalah nama dua teman Rancho : Farhan dan Raju.

"Ketika kulontarkan pertanyaan tadi, apakah kalian antusias? Kalian temukan suatu pengetahuan baru? Tidak. kalian semua hanya kalut dan berlomba. Apa gunanya metode seperti ini, sekali pun kamu yang duluan apakah pengetahuanmu meningkat? Tidak, hanya ada tekanan.  Ini adalah Universitas, bukan panci bertekanan," kata Rancho.

"Bahkan singa sirkus pun belajar untuk duduk di kursi, hanya karena takut dicambuk. Tapi kalian boleh menyebut singa ini terlatih, bukan terdidik," tambah Rancho.

Tapi ada satu mahasiwa yang sangat cocok dengan sistem kolot yang dipakai Virus, yaitu Chatur (Omi Vaidya). Chatur dalam menjawab pertanyaan dosen selalu sama persis yang ada di buku. Sehingga doi jadi mahasiswa kesayangan si Virus. Tapi sayang doi selalu stres karena rangkingnya selalu di bawah Rancho.

Chatur punya pikiran licik. Doi percaya bahwa ada dua cara menjadi juara: 'Tingkatkan nilaimu, atau turunkan nilai orang lain!' Pada malam sebelum ujian, doi mengacaukan konsentrasi siswa lain, salah satunya: meminjami mereka majalah porno. O_O

****
Bagian paling konyol adalah saat Rancho mengubah isi naskah ceramah yang akan dibacakan Chatur di Hari Guru. Kata 'chamathkaar' (ajaib) diubah menjadi 'balathkaar' (cabul) oleh Rancho. Chatur sendiri tidak paham bahasa India asli, karena doi lahir dan sempat hidup di Uganda.

Berikut isi ceramahnya:

Yang terhormat Bapak Direktur, Bapak Menteri Pendidikan, Shri RD Tripati Ji, Para dosen dan teman-teman tercinta.

Hari ini jika ICE menggapai langit tertinggi..itu adalah jasa satu orang, tak lain tak bukan..Shri Viru Sahastrabuddhi.. tepuk tangan untuk beliau!

Beliau adalah orang hebat. Selama 32 tahun Beliau senantiasa memperjuangkan kampus terus menciptakan cabul demi cabul (yang dimaksud sebenarnya adalah keajaiban demi keajaiban).

Semoga beliau akan terus melanjutkannya. Kami sangat terkesima, bagaimana bisa pria seusianya, sepanjang hidupnya melakukan begitu banyak pencabulan. Dengan kedisiplinan tinggi beliau mampu melatih staminanya.

Menghabiskan tiap-tiap detik hidupnya hanya untuk pencabulan, itulah beliau salut atas metode beliau.
Esok kita mahasiswa akan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ke mana pun kita pergi, kita berjanji untuk cabul seperti beliau. Kita akan kibarkan bendera cabul pada seluruh dunia

Kita tunjukan pada dunia, kemampuan kita dalam pencabulan yang tak mampu ditunjukkan mahasiswa mana pun diatas muka bumi ini.
Bapak Menteri yang terhormat. Anda telah banyak memberi pada kampus ini, apa yang sangat dibutuhkan: Uang dan Payudara (maksudnya 'dana'; sengaja diganti Rancho).

Semua orang mempunyai payudara, tapi kebanyakan malah dikantongi. Tak seorang pun mau berbagi. Anda sudi memberikan payudara anda untuk kampus cabul yang malang ini. Sekarang lihat bagaimana beliau membuat itu tumbuh.

Dalam perayaan Hari guru ini, saya persembahkan puisi:

Uthamam dadadatu paadham
(kentut dengan nyaring, paling utama)
Madyam paadam..... tuchuk tuchuk
(kentut setengah nyaring, bisa ditolerir)
Kanishtam thud thudiya paadam
(kentut yang dibuang secara halus, mengerikan)
Sur suriiee.. praana kadaka
(meracuni orang-orang dalam keheningan)."

Semua yang hadir di acara tersebut ngakak total. Hanya Virus yang stress berat. Saat itu Rancho berbisik kepada Farhan dan Raju, "Perhatikan, beginilah hasilnya bila menghafal tanpa memahami. Dengan menghafal, kau menghemat 4 tahunmu di kampus. Tapi itu akan meremukkanmu dalam 40 tahun ke depan!"

Woii Pakde Mbokde, Jangan Bebani Anak dengan Obsesimu!
Ketakutan, tekanan, desakan orang tua tak baik dalam pendidikan. Seperti yang dialami Raju yang ditekan orang tuanya harus jadi insinyur agar bisa merubah ekonomi keluarganya yang super pas-pasan, kere!

Karena ditekan itulah nilai ujian Raju selalu buruk. Dulu Raju adalah anak yang brilian. Orang tuanya sangat berharap Raju akan mengakhiri kemiskinan keluarganya. Dan itu yang membuatnya takut gagal. Di kampus, Raju melihat banyak persaingan. Tak ada yang mau mengenalmu jika kau bukan mahasiswa top. Ketakutannya pun semakin menjadi.

Raju akhirnya lari (berharap) ke cincin (jimat). Minta dikasihani Dewa, minta ini, minta itu. Membuat Raju stres, nekat melakukan percobaan bunuh diri. 16 Tulangku patah, 2 bulan lumpuh membuatnya berpikir dan merefleksi diri. Akhirnya pikirannya terbuka:

"Jika kau terlalu takut akan hari esok, bagaimana kau akan hidup hari ini? Bagaimana kau akan fokus belajar?"

Jadi saat wawancara kerja, hati dan pikiran Raju sudah 'merdeka'. Doi ngomong dengan santainya, "Pak, hari ini saya tidak meminta pada Dewa untuk memberikanku pekerjaan ini. Hanya bersyukur atas kehidupan yang diberikan-Nya untuk saya. Jika hari ini anda menolak saya, saya takkan menyesal sedikit pun. Saya akan tetap melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam hidup saya."

****
Film ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan, kebenaran yang universal. Banyak memuat quotes inspirarif. Yaa walau quotes standar Mario Teguh tapi okelah:

"Seberapa pun besarnya masalahmu, katakan pada hatimu, 'All is well' (semuanya baik-baik saja). Apa dengan demikian permasalahan terselesaikan? Tidak, namun kau punya keberanian menghadapinya."

"Belajar serius dari hati, bukan untuk lulus belaka. Jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi untuk mencari ilmu. Jangan mengejar kesuksesan, kejarlah keunggulan maka kesuksesan menghampirimu."

"Semestinya hasil ujian bukanlah sebuah pengumuman. Mengapa kita memperlihatkan kelemahan orang di muka umum? Jika haemoglobin di darah anda ternyata rendah, apakah dokter memberimu obat atau melaporkannya di TV?"

"Salah satu tingkah laku manusia yang mendasar adalah jika temanmu  gagal, kau akan merasa sedih! Tapi jika temanmu menjadi yang terbaik..Kau akan lebih sedih!"

"Ikuti talenta yang kau punya. Jika saja bapaknya Michael Jackson menyuruh dia jadi petinju dan bapaknya Mohammad Ali memaksakan dia menjadi penyanyi. Bayangkan bencana apa itu? kalau mencintai Fotografi,  jangan menikahi mesin!"

Dan masih banyak lagi quotes yang lain, nonton saja  filmnya. Nggolek enake tok ae koen ikuWis ah, kepanjangan ya? Sori kalau menyita waktu ente. Have a nice day beibeh! Tengkyu.


-Robbi Gandamana-

*Pertama kali dipublish di Kompasiana