Selasa, 21 Juli 2020

Kisah Nyata Awal Mula Pocong Keliling yang Menggemparkan Sukabumi di Tahun 2008 (Bagian 2)



                                                                   (Kisah sebelumnya)

Rombongan pencari pocong Ririn bingung memulai pencariannya dari mana. Karena ternyata jin penguasa gunung Salak tidak mau ngasih informasi Ririn diusir kemana. Mereka pun mati gaya.
Tapi akhirnya mereka memutuskan untuk sowan dan sekaligus minta tolong ke para ustadz atau kyai sekitar situ yang dianggap paham soal dunia gaib.
Ada beberapa laporan atau berita kalau ada pocong di suatu desa sekitar Sukabumi. Mereka pun bergerak menuju tempat yang disebutkan. Selama pencarian Aria ditugasi sebagai penunjuk jalan. Karena dia sudah khatam desa-desa sekitaran Sukabumi.
Malam pertama, malam kedua, sampai malam keenam pencarian tidak membuahkan hasil. Tiap kali datang ke desa yang disinyalir ada pocong, ternyata nggak ada. Kadang hanya ada samar-samar suara tangis, tapi pocongnya nggak nongol-nongol.
Sampai akhirnya di malam ketujuh ada kabar di suatu desa ada pocong yang menangis di atas rumah warga. Mereka pun bergegas ke sana. Sampai di sana jam 11 malam. Ternyata benar, ada sesosok pocong yang sedang stress duduk rileks di atas genteng. Dia terus-terusan nangis bombay minta tolong.
Warga di sekitar nggak ada yang tertarik menolong (ya iyalah, lihat saja takut). Mereka malah sembunyi, masuk ke dalam rumah atau hanya melihat dari kejauhan.  Kalau sudah menghadapi pocong, Rambo pun pasti akan cari aman, duduk manis di dalam kamar terkunci sambil baca Yasin. Itu kalau Rambonya mualaf.
Ritual pun disiapkan, mantra dan doa dibacakan. Orang pinter dengan bantuan ustadz berjibaku menangkap pocong yang becandanya kelewatan itu. Ketika orang pinter naik ke genteng dan sudah hampir mendekap, si pocong mendadak hilang pindah tempat yang tak jauh dari situ. Begitu terus sampai orang pinternya kecapekan. Fak yu tenan.
Sampai akhirnya orang pinter menyiapkan jaring yang kasat mata. Dari bawah genteng dia melemparkan jaringnya. Kayak nonton acara sulap, dimana seorang mentalist sedang beraksi. Mulanya nggak berhasil. Tapi dengan dibantu oleh ustadz dengan mantra dan doa, akhirnya pocong Ririn terjerat jaring.
Dengan susah payah, nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran, si orang pinter menarik pocong ke bawah. Setelah sampai di bawah, si pocong yang terus berusaha lepas itu didekap erat dan dicopot pocongnya oleh orang pinter dengan bantuan ustadz. Setelah kain pocong terlepas, kain tersebut berubah jadi mantel lagi.
Tubuh Ririn terkulai lemas di tanah dengan keadaan telanjang dengan beberapa luka di tubuhnya. Badannya yang dulu berisi, sekarang jadi kurus kering kurang gizi. Untung saat itu nggak ada petugas kesehatan. Kalau ada, mungkin akan di-rapid test.
Saat itu badan Ririn lemah lunglai tak berdaya karena selama seminggu terperangkap mantel maut yang dihuni jin penguasa tambang itu. Mana sempat makan dan minum. Membaca saja susah.
Aroma bau busuk menyeruak menusuk hidung. Aria yang berada tidak jauh dari arena duel jin penguasa tambang dan para orang pinter tadi sampai mau muntah. Mungkin karena pocong Ririn seminggu nggak mandi kali ya. Kalau kebelet pipis nggak buka kain pocongnya, langsung ngompol.
Setelah mantelnya dibakar dengan disertai doa, mereka pun membawa Ririn ke rumah sakit. Di sana Ririn menjalani pemulihan selama 4 hari.
Selama di rumah sakit, Aria masih setia ikut menjaga Ririn dengan ditemani si orang pinter. Karena si jin penguasa tambang masih bebas berkeliaran dan ditakutkan akan melakukan balas dendam.
Esoknya ibunya Ririn dan teman ceweknya Ririn datang menjenguk. Mereka menangis melihat nasib Ririn. Saat itu ibunya marah besar pada suaminya, "Sampai kapan main ilmu-ilmuan!? Apa nggak kasihan lihat anak sendiri yang jadi korban!? Monyet loe! (eh yang ini tambahan dari saya)."
Setelah Ririn dinyatakan sehat, rombongan keluarga Ririn langsung pulang ke Jakarta. Aria pun lega. Urusan perpocongan akhirnya tuntas. Dia bisa pulang ke rumah dan melanjutkan hidup. Memanggul karung isi tepung terigu di pasar. Judulnya : Aria the Backbone Family (Aria si tulang punggung keluarga).
Tapi ternyata Aria salah besar. Ririn sebenarnya masih dalam penguasaan jin penguasa tambang. Dia nggak rela karena mantel yang sudah jadi sarangnya itu dibakar habis. Dia menuntut bapaknya Ririn membelikan mantel yang sama persis dengan mantel sebelumnya. Kalau tidak dituruti, Ririn akan terus diganggu dan kemungkinan besar nyawanya terancam.
Jin penguasa tambang nggak akan bisa lepas dari bapaknya Ririn jika tidak dikasih tumbal dari keluarga Ririn sendiri. Di malam saat setelah menumbalkan 2 karyawannya,  bapaknya Ririn didatangi jin penguasa tambang yang marah besar, "Ini perjanjian antara aku dan kamu. Jika ingin membatalkan atau mengakhiri, kamu harus mengorbankan keluargamu sendiri. Bukan orang lain!"
Beberapa hari setelah Ririn pulang ke Jakarta, Ririn telpon Aria. Intinya Ririn minta Aria main ke rumah Ririn di Jakarta. Dia ingin ketemu Aria. Tapi Aria belum bisa nyanggupi karena memang belum liburan sekolah.
Hari berikutnya bapaknya Ririn yang telpon. Dia benar-benar serius minta Aria main ke rumah Ririn di Jakarta. Soal biaya dan tetebengeknya, Bapaknya Ririn yang ngurus. Pokoknya Aria diminta dengan sangat untuk datang ke Jakarta. Titik, tanpa koma.
Karena sungkan, Aria pun menyanggupi. Datanglah dia ke Jakarta bersama kakak temannya yang dulu jadi tour guide di gunung Salak. Padahal saat itu nggak libur sekolah. Aria berani bolos karena bapaknya Ririn yang menjamin semuanya. Dia ijin langsung ke Kepseknya Aria. Pokoknya "86" lah kalau sama orang kaya.
Sesampai di terminal Lebak Bulus, Aria dijemput oleh bapaknya Ririn. Di rumahnya Ririn yang super mewah, Aria dan kakak temannya ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon sampai berbusa-busa.
Tak terasa hari telah sore, jarum jam menunjukan angka 3. Artinya mereka harus balik pulang kalau tidak mau kemalaman di Sukabumi.
Saat pamit pulang, Ririn menahan mereka,  "Eh pulangnya nanti saja. Ririn khan masih kangen. Masih ingin ditemani. Nginep saja di sini."  Sejam dua jam berlalu, Aria terus saja pamitan. Tapi selalu ditahan Ririn.
"Kenapa sih, Ririn khan sudah bukan pocong lagi. Kalau abangnya (kakak temannya Aria) mau pulang, pulang saja dulu.." pinta Ririn serius.
Dan benar, kakak temannya Aria pun cabut pulang ke Sukabumi meninggalkan Aria sendirian.  Swemproel bener si kakak. Anak yang masih polos umur 17 tahun itu ditinggal sendirian di Jakarta, hutan belantara metropolitan.
Ya sudahlah, pikir Aria. Dia juga menikmati kemewahan yang ada di depannya. Sofanya nyaman, tivinya gede banget (itu tivi apa layar tancep), dan tempatnya luas. Serasa jadi bos pengedar narkoba di film-film India.
Malam itu Aria yang belum tidur, nonton tivi sendirian di ruang tamu. Ndilalah ada telpon masuk di henponnya. Ternyata dari teman ceweknya Ririn.
"Ini bener Aria ada di Jakarta nginep di rumahnya Ririn? " kata si cewek di seberang sana.
"Iya bener. Kenapa?" tanya Aria.
"Sebenarnya aku ingin sekali nemani Ririn. Tapi takut, karena Ririn kalau pas tengah malam berubah jadi pocong... " kata si cewek lagi.
Tentu saja Aria nggak percaya begitu saja, walau takut juga, "Swemproel, jangan nakut-nakuti aku dong.."
"Beneran, aku pernah nemani Ririn. Tapi takut, kalau tengah malam berubah jadi pocong. Dia tidur pakai piyama, tapi lama-lama berubah jadi kain kafan lusuh ada bekas tanahnya. Aku langsung nangis ketakutan dan nggak berani nemani lagi.." Cerita si cewek panjang lebar.
Setelah ngasih info jahanam itu, si cewek menutup telponnya. Aria sendiri pingin misuh-misuh. Cewek kurang ajar, tega-teganya ngasih info yang bikin jantung mau rontok. Tapi Aria agak lega, dia tidak tidur sekamar dengan Ririn.
Tengah malam saat asyik-asyiknya nyimak acara tivi, ada suara langkah di ujung tangga kamar atas. Tangga tersebut terletak di belakang sebelah kanan. Betapa terkejutnya ketika dia menoleh ke belakang, sesosok pocong sedang memandang Aria sambil bilang, " Aria, sini tidur di kamar Ririn saja.."
Pocong bajingan, Aria langsung teriak-teriak minta tolong dengan mata seperti dikunci, menatap terus tanpa berkedip ke arah pocong. Apesnya, bapak ibunya Ririn nggak datang juga. Jangan-jangan dia dijadikan umpan untuk tumbal jin penguasa tambang kampret sialan.
Akhirnya setelah capek teriak, bapaknya Ririn datang. Ketika tahu apa yang terjadi. Dia tergopoh-gopoh langsung memapah tubuh pocong Ririn kembali ke kamar.
Dengan meminta maaf, bapaknya Ririn cerita panjang lebar kenapa Ririn tiap tengah malam berubah jadi pocong. Intinya jin penguasa tambang nggak rela mantelnya dibakar. Dia minta mantel pengganti yang sama persis dengan mantel sebelumnya bla bla bla sudah kuceritakan di awal.
Makanya Ririn belum sembuh betul. Tiap tengah malam arwahnya melayang entah kemana, tapi raganya tetap bersama dia. Itu akan terjadi terus selama 99 hari. Setelah itu mungkin Ririn akan mati, kecuali mantel penggantinya sudah ada. Ririn sendiri tidak sadar dengan keadaan itu. Karena setelah subuh, tubuhnya kembali seperti semula. Yang dirasakan saat tidur hanya mimpi buruk yang mengerikan. Makanya dia ingin selalu ditemani.
Saat bapaknya cerita panjang lebar, pocong Ririn datang lagi. Tetap dengan permintaan yang sama, "Aria sini temani Ririn.."
Bapaknya Ririn bilang ke Aria, "Sudah temani aja, kasihan. Nggak bakalan ada apa-apa. Besok pagi nggak jadi pocong lagi.."
Ndasmu pak. Enak saja bapak bilang begitu, bapak kasihan sama Ririn, tapi nggak kasihan sama saya, kira-kira begitu batin Aria.
Akhirnya dengan berat hati, Aria pun menemani Ririn. Tapi nggak sampai masuk ke dalam kamar, dia hanya di bibir kamar dekat pintu. Kalau ada apa-apa bisa lari kencang tanpa penghalang.
Penampakan Ririn saat jadi pocong bener-bener bikin merinding. Wajahnya putih pucat pasi, hidungnya disumpali kapas dan kain kafannya kotor seperti mayat yang digali lagi dari kuburnya. Antara takut dan nggak tega melihatnya. Sampai kapan Ririn akan seperti itu. Mungkinkah dia terbebas dari cengkeraman jin sakti penguasa tambang?
Bersambung...
-Robbi Gandamana-

(Diceritakan kembali kisahnya dari YouTube/RJL 5, Twitter/Arangga Aria, dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya) 


Kisah Nyata Awal Mula Pocong Keliling yang Menggemparkan Sukabumi di Tahun 2008

sumber gambar : dagelan.co


Ini kisah Aria, seorang tour guide asal Sukabumi yang mengantarkan rombongan pendaki ke gunung Salak di Februari 2008 silam. Yang salah satu pendakinya berubah jadi pocong. Kok bisa? Simak saja kisahnya.
Kisah berawal dari Aria yang saat itu masih kelas 2 SMA bertemu dengan cewek, kakak kelasnya, di pasar dimana dia kerja sampingan jadi kuli panggul ngangkut karung isi tepung terigu. Saat itu dia nggak ikut Study Tour ke Jogja dikarenakan nggak ada biaya. Kondisi Aria memang lagi kere. Jangankan biaya Study Tour, untuk makan sehari-hari saja susah.
Teman cewek tadi berharap dengan sangat Aria main ke rumah. Dia ngasih alamat, nomer henpon serta ongkos angkot. Rupanya si cewek ini akan ngasih kerjaan ke Aria. Mungkin nggak tega lihat Aria yang kerempeng itu jadi kuli. Kasihan tepung terigunya.
Singkat cerita, Aria main ke rumah si cewek dan langsung dikenalkan ke kakaknya yang ternyata menawari Aria jadi semacam asisten Tour Guide di gunung Salak. Saat itu bayarannya 500 ribu rupiah selama 4 hari 3 malam. Tentu saja Aria setuju. Kapan lagi bisa piknik ke gunung dan dapat bayaran.
Uang 500 ribu di tahun 2008 itu jumlah yang lumayan untuk anak kelas 2 SMA. Bisa buat beli Nokia 3310, hape sejuta umat.
Waktu yang telah ditentukan pun tiba. Aria bersama kakak temannya meluncur menuju Lido Bogor, tempat yang telah disepakati sebagai titik pertemuan dengan rombongan pendaki dari Jakarta. Pendakinya ada 7 orang, 3 Perempuan dan 4 laki-laki. Ditambah Aria dan teman kakaknya, jadi totalnya semua ada 9 orang.
FYI, saat itu umur Aria masih 17 tahun. Umur rombongan pendaki berkisar antara 23 - 25 tahun. Sedangkan kakak teman Aria umurnya di atas 25 tahun.
Dari Lido Bogor mereka langsung menuju Gunung Salak dan nyampai di sana pada pukul jam 5 sore. Nggak ke puncaknya, masih di bawah. Karena hari mulai gelap, mereka pun mendirikan tenda. Setelah mendirikan tenda, Aria mencari kayu bakar untuk api unggun.
Malam itu mereka hepi-hepi layaknya wisatawan yang sedang piknik. Nyanyi-nyanyi plus makan minum yang enak-enak. Mereka juga bikin permainan dengan memutarkan botol. Jika botol berhenti dan ujungnya menunjuk seseorang, maka orang yang kena tunjuk akan memberi pertanyaan pada temannya. Yang ditanya harus jujur menjawab. Kalau tidak mau menjawab, mukanya dicoret spidol.
Di saat permainan terakhir, karena sudah larut malam, cewek yang bernama Ririn mendapat pertanyaan dari temannya yang cewek, "Rin, apa yang paling kamu takutin?"
Ririn menjawab dengan canda, "Aku takut kalau aku mati, aku jadi hantu penasaran yang gentayangan menghantui kalian semua.."
Terus ditanya sama yang lainnya, " Memangnya kalau kamu jadi hantu, siapa yang akan kamu takuti.."
"Aria..," jawab Ririn.
Semua yang mendengar candaan Ririn cuman cengengesan saja. Nggak ada yang nyangka bahwa candaan Ririn ini adalah firasat akan sesuatu yang akan terjadi nantinya. Dan dari sinilah cerita horor itu di mulai. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Kabut pun perlahan turun yang memaksa mereka masuk tenda. Pesta pun berakhir.
Masih di malam pertama,  dua orang cowok minta tolong Aria diantarkan ke sungai yang nggak jauh dari tenda untuk kencing. Sebenarnya Aria takut setengah mati, tapi apa boleh buat, dia adalah tour guide yang harus menjalankan tugas.
Di tengah perjalanan ada suara cekikikan cewek yang terdengar jelas. Nggak mungkin suara itu dari tenda teman ceweknya. Karena jarak dari situ ke tenda nggak mungkin suaranya bisa sejelas itu. Nggak cuman cekikikan, tapi juga suara orang berantem. Dan itu yang membuat salah satu cowok pendaki lari terbirit-birit balik ke tenda. Tinggal satu orang lagi yang bersama Aria.
Saat perjalanan kembali ke tenda,  Aria dan si cowok  berpapasan dengan dua orang teman cowok yang sedang menuju ke sungai. Saat disapa, mereka diam saja. Sesampai di tenda, orang yang dari sungai tadi teriak kaget. Dua orang temannya yang tadi di temui di perjalanan ternyata ada di tenda. Jadi orang yang mereka temui tadi siapa?
Kejadian-kejadian aneh terus menghantui. Di malam kedua mereka kumpul-kumpul lagi di depan tenda. Saat itu Ririn merasa kedinginan. Dia pun masuk tenda, mencari-cari mantel yang ternyata nggak ada di dalam tasnya. Ririn mulai nggak sabar, "Ada yang tahu mantel Ririn nggak? Dicari-cari kok nggak ada?"
Semua orang pun sibuk mencari mantel dimanapun yang memungkinkan mantelnya berada, tapi tetap tidak ditemukan. FYI, mereka mendirikan 3 tenda. Tenda kiri berisi Aria dan kakak temannya. Tenda yang di tengah diisi pendaki cewek. Dan tenda kanan isinya pendaki cowok.
Lama dicari nggak ketemu juga, Ririn jadi kelabakan, "Itu mantel kesayangan bapak dan aku belum minta ijin juga. Kalau hilang gimana!?"
Karena malam mulai larut, pencarian mantel dilanjutkan esok hari. Saat semua sudah ada di dalam tenda, Aria dan kakak temanya masih ngobrol-ngobrol di depan tenda. Mereka dikejutkan oleh keberadaan benda putih yang melayang-layang di udara.
Setelah diamati dengan seksama, ternyata benda itu sebuah mantel. WTF! Tentu saja keduanya kaget luar biasa. Wah, ada setan nge-prank nih. Aria dengan sok cool berinisiatif mengambil mantel tersebut, tapi cepat-cepat dicegah kakak temannya. Dia takut kalau ada apa-apa. Karena menurutnya mantel itu sedang dipinjam jin. Takut jinnya ngamuk.
Mereka pun memutuskan ngambil mantelnya besok pagi. Sebelum tidur dia minta Aria berdoa dan berjaga sampai jam 2 pagi. Tak lama bilang begitu dia pun ngorok, tinggal Aria yang celingak-celinguk sendirian ditemani rokok dan segelas bandrek. Sementara dibalik tenda Aria melihat mantel beberapa kali melayang-layang di atas tenda cewek dan setelah itu menghilang.
Ndilalah tak lama kemudian Ririn dan satu teman ceweknya minta diantar Aria ke sungai karena kebelet kencing. Di tengah perjalanan mereka dipanggil satu cewek yang masih di tenda. "Rin tunggu!" Mereka pun berhenti. Tapi karena lama yang ditunggu nggak nongol dan di dalam perut juga terus berontak mau keluar, akhirnya mereka pun bergegas OTW ke sungai. 
Padahal cewek yang manggil Ririn tadi sedang tidur pulas di tenda, dan baru bangun saat Ririn datang kembali ke tenda. Ketika Ririn tanya, apakah dia tadi manggil Ririn. Si cewek bengong, "Siapa yang manggil kamu. Lha wong aku baru saja bangun tidur..."
Di sungai, Ririn dan temannya pun melangsungkan hajatnya. Aria sendiri menunggu tak jauh dari situ dengan detak jantung ngebut total.
Setelah urusan hajat selesai, Ririn melihat benda putih di tengah sungai di atas batu besar. Setelah diamati sejenak, ternyata benda itu adalah mantel dia yang hilang. "Siapa sih yang naruh di situ?  Becandanya kelewatan.."
Mulanya Ririn mau mengambil sendiri mantel itu, tapi Aria mencegahnya ---biasalah naluri lelaki, inginnya melindungi perempuan---. Akhirnya dengan sok berani (padahal takut setengah mati) Aria mengambil mantel tersebut yang sebelumnya dia lihat dengan jelas melayang-layang di atas tenda.
Di malam ketiga mereka ngumpul lagi, bersenang-senang seperti malam sebelumnya. Karena terlalu asyik, nggak terasa malam sudah sangat larut. Saat itu jam 2 pagi, Ririn merasa kedinginan. Dia pun kembali ke tenda mengambil mantel.
Beberapa saat setelah masuk tenda, terdengar jeritan Ririn minta tolong. Tapi nggak ada seorang pun yang tergerak. Teman-temannya menganggap Ririn sedang caper atau mau ngeprank. Jadi mereka terus saja melanjutkan acara hepi-hepi Helloween.
Tapi ketika jeritan semakin keras, merekapun menyerbu ke tenda Ririn dan ngecek apa yang terjadi. Ternyata di tenda Ririn sedang berusaha keras melepaskan mantelnya sambil teriak kepanasan. Mantelnya seperti perangkap yang merangkap tubuh Ririn dan terus berusaha membawa Ririn pergi keluar tenda.
Semua orang berusaha keras menolong. Tapi sia-sia, karena mantel seperti dialiri listrik bertegangan tinggi. Ketika tangan mulai megang mantel, badan langsung terpental ke belakang. Tenda pun jadi rusak berantakan. Lama-lama tubuh Ririn berhasil keluar dari tenda. Semua orang mengejar dan berusaha menolong, tapi tetap saja nggak berhasil.
Tubuh Ririn yang terus bergerak, seperti ada yang menyeretnya, akhirnya tertahan di bawah pohon besar. Saat akan ditangkap, tubuh Ririn malah melayang ke atas pohon. Dan saat itulah perlahan-lahan tubuh Ririn berubah jadi pocong yang berbau busuk.
Karena usaha menolong terus saja gagal, mereka pun putus asa. Akhirnya mereka putuskan untuk turun ke bawah malam itu juga untuk mencari bantuan. Siapa tahu di bawah ada ustadz atau orang pinter yang bisa ngatasi. Dan di bawah sinyal henpon juga bagus. Bisa nelpon teman atau saudara terdekat.
Dengan tergesa-gesa dan perasaan kalut nggak karu-karuan, mereka pun packing. Di tengah kekalutan ada salah satu cewek yang sempat pingsan. Satu cewek lagi terus saja menangis, sedih dan nggak percaya dengan apa yang barusan dia alami. Bagaimana mungkin manusia tiba-tiba berubah jadi pocong. Semuanya kalut, ini beneran nyata atau prank.
Mereka bergegas menuju ke bawah diiringi suara tangis Ririn yang terus-terusan minta tolong. "Tolongin Ririn...Jangan tinggalin Ririn.."
Tubuh pocong Ririn sendiri timbul tenggelam di pepohonan membuntuti mereka. Kayak Teletubbies yang main petak umpet. Tapi lama-lama kelamaan lenyap ditelan rimbunnya pepohonan, entah kemana.
Sesampai di perkampungan ada telpon masuk di henpon Ririn. Ketika dicek ternyata Bapaknya Ririn. Sesaat semua mata saling bertatapan, tidak ada yang berani ngangkat.
Akhirnya salah satu cewek memberanikan menerima panggilan. Mode loudspeaker pun dihidupkan. Si cewek bilang, "Ini bukan Ririn om. Ini temannya.."
Di seberang sana suara bapaknya terdengar jelas, "Ririn dimana? Tolong bilangin Ririn, mantelnya jangan dipakai!"
"Anu om.....Nggak tahu kenapa Ririn tiba-tiba jadi pocong om. Kami semua nggak bisa nolong dia.." kata temanya Ririn.
Bapaknya Ririn langsung misuh-misuh, "Wasyu!..bla bla bla bla...sekarang kasih tahu alamatnya dimana. Saya ke sana sekarang!"
Harusnya rombongan pendaki pulang ke Jakarta, tapi terpaksa mampir dulu di rumah teman kakaknya Aria menunggu bapaknya Ririn datang dari Jakarta. Dan jam 8 pagi bapaknya Ririn datang dengan beberapa orang.
Sebelum ngobrol jauh soal Ririn, para pendaki disuruh pulang sama bapaknya Ririn. Dia hanya butuh Aria dan kakak temannya untuk menjelaskan kronologi saat Ririn menjelma jadi pocong.
Di situlah Aria jadi tahu, ternyata mantel yang dipakai Ririn ada penghuninya, sebangsa jin peliharaan bapaknya Ririn sebagai jimat pesugihan. Barang siapa saja yang makai, selain bapaknya Ririn, akan berubah jadi pocong dan mati jika tidak segera dilepas. Padahal untuk melepasnya pun harus oleh orang yang benar-benar berilmu tinggi.
Saat itulah warga sekitar Sukabumi geger. Tiap malam "diteror" oleh pocong Ririn yang minta tolong dilepaskan dari mantel yang telah berubah jadi pocong.
Bapaknya Ririn minta kakak temannya Aria menyertai pencarian pocong Ririn yang mereka pikir masih di gunung Salak. Tapi dia menolak keras sambil menangis permintaan itu karena ketakutan. Akhirnya mau nggak mau Aria yang saat itu masih culun harus ikut pencarian mewakili si kakak yang berbadan gede tapi penakut itu.
Saat itu juga bapaknya Ririn mencari orang pinter di sekitar daerah tersebut untuk membantu mencari pocong Ririn. Sekaligus membuat sayembara, barang siapa yang bisa menyelamatkan anaknya akan dituruti apa pun permintaannya.
Bapaknya Ririn ini orang kaya, bos besar di perusahaaan tambang batu bara yang nggak etis disebut namanya dan letak daerahnya.
Di tambang batu bara itulah semuanya bermula. Dia bertemu dengan jin penguasa tambang yang sulit diusir. Tapi dengan bantuan seorang dukun, jin ini mau dipindahkan ke mantel bapaknya Ririn. Tapi dengan syarat : hanya bapaknya Ririn yang bisa makai mantel itu. Jika orang lain yang makai, dia akan mati.
Sebenarnya itu adalah akal-akalan si dukun. Dia bersekutu dengan jin sakti untuk memperbudak bapaknya Ririn. Dengan begitu si dukun bisa leluasa menikmati harta kekayaan si bapak. Hidup leha-leha dapat harta melimpah tapi mati nggak masuk surga.
Akibat kelicikan si dukun, kakek dan kakak cowoknya Ririn meninggal dijadikan tumbal. Si kakek meninggal karena sakit di rumah sakit. Si kakak tewas dalam kecelakaan motor.
Awalnya dua karyawan bapaknya Ririn yang dijadikan tumbal dengan skenario sedemikian rupa yang seolah-olah adalah kasus kecelakaan kerja. Dengan harapan si jin mau pergi dan tidak mengganggu bapaknya lagi. Tapi dua karyawan itu gagal mati, hanya luka parah. Ternyata si jin marah besar, dia hanya mau tumbal dari keluarganya Ririn. Akibat kemarahannya itulah kakek dan kakak Ririn celaka.
Begitulah asal muasal lahirnya mantel si samber nyawa. Kembali ke Aria yang terpaksa ikut dalam tim pencari pocong Ririn di gunung Salak dan sekitarnya.
Singkat cerita, rombongan pemburu pocong pun sampai di gunung Salak dan membuka tenda di sana. Malamnya orang pinter yang paling pinter melakukan ritual pencarian. Beberapa saat kemudian datanglah sesosok mahkluk tinggi besar yang menyerupai kakek-kakek. Tingginya setinggi pohon di gunung tersebut. Langkah kakinya terdengar jelas dan suaranya menggelegar saat berkomunikasi dengan si orang pinter. Aria pun menangis ketakutan.
Di tengah ketakutan yang luar biasa, si orang pinter njawil pundaknya Aria. Rupanya si jin penguasa gunung tadi marah, tersinggung karena Aria memejamkan mata ketika ada di hadapannya. Aria pun membuka mata tapi tidak berani melihat wajahnya. Walau akhirnya penasaran juga, melihat wajah si kakek berjenggot panjang dengan mimik yang mengerikan.
Dari pembicaraan si orang pinter dengan penguasa gunung, ternyata Ririn telah diusir oleh jin penguasa gunung. Jin penguasa gunung tidak mau menerima keberadaan Ririn di gunung yang menjadi pocong karena tidak dari proses kematian. Ririn sendiri belum mati, tapi hidup di dua alam. Alam manusia dan alam lelembut.
Tentu saja bapaknya Ririn semakin gusar dan ketakutan. Karena kalau Ririn tidak segera ditolong, tidak dilepaskan dari mantel maut tadi selama 7 hari, Ririn akan mati.
-Robbi Gandamana-
(Diceritakan kembali kisahnya dari YouTube/RJL 5, Twitter/Arangga Aria, dengan penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya)

Rabu, 08 Juli 2020

Belajar pada Jenderal "Naif"

istimewa



Dulu aku sempat hendak posting kutipan Gus Dur yang legendaris, "Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur dan Jenderal Hoegeng". Untung nggak jadi. Karena baru-baru ini di Kepulauan Sula, Maluku Utara ada yang dipanggil polisi gara-gara mengutip quotes tersebut di fesbuk. Apes.
Di zaman Gus Dur, instansi kepolisian, terutama Satlantas, memang korup. Banyak razia motor ilegal di mana-mana. Kalau kita apes kena razia, uang dua puluh ribu melayang sebagai tanda damai.
Itu di zamannya Gus Dur lho. Kalau di zaman sekarang kayaknya sudah enggak. Polisinya banyak yang jujur. Iyo khan? Mending njawab iyo ae daripada dadi perkoro.
Asline yo nggak cuman di kepolisian, di instansi mana pun juga sama. Banyak yang nggak jujur. Ingin naik pangkat, bikin laporan palsu. Ingin dapat gaji besar, nulis laporan lemburan palsu. Dan sebagainya. Terlalu banyak godaan tapi sedikit iman.
Aslinya Gus Dur juga tidak bermaksud merendahkan instansi Polri. Dia cuman mengekspresikan kekagumannya pada pribadi Jenderal Hoegeng Iman Santoso yang super jujur. Saking jujurnya, dia dianggap naif oleh kalangan pejabat. Karena menentang arus besar korupsi yang sudah membudaya.
Orang jujur memang terkesan naif. Bayangkan saja kalau ada orang yang menjual henpon di counter jual beli henpon mengaku dengan jujur apa yang membuat henponnya rusak, "Henpon ini saya jual karena kemarin terendam air bersama jaket saya di cucian." Jujur banget.
Kejujuran Hoegeng mulai terkenal saat ditugaskan di Sumut, salah satu wilayah hitam di Indonesia saat itu. Dimana perjudian, penyelundupan, dan kejahatan yang lain merajalela.
Saat baru turun dari kapal yang membawanya dari Jakarta, Hoegeng disambut orang yang menamakan dirinya sebagai Panitia Penyambutan. Dia sudah menyiapkan penginapan dan barang-barang mewah gratis untuk Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak.
Selama bertugas, banyak utusan dari para cukong yang memberi hadiah atau bingkisan. Tapi semua barang itu dilemparkan keluar jendela. Furniture mewah pemberian panitia bajingan itu pun juga  ditelantarkan begitu saja di depan rumah. Yang terlanjur masuk di dalam rumah dikeluarkan. Pokoknya bersih dari suap atau gratifikasi.
Kasus yang paling terkenal adalah saat Hoegeng menggagalkan upaya penyelundupan mobil mewah oleh komplotan Robby Tjahyadi. Yang ternyata si Robby ini dibekingi oleh banyak pejabat atau petinggi negeri saat itu. Para pejabat ini berlomba-lomba membelanya. Karena kalau Robby dipenjara, pejabatnya juga ikut. Tapi Hoegeng tidak gentar.
Robby Tjahyadi akhirnya dipenjara beserta para pejabat yang menerima upeti darinya. Dari hukumannya yang 10 tahun penjara (ada yang bilang 7,5 tahun), dia hanya menjalani 2,5 tahun saja. Robby memang penjahat pertamax. Setelah keluar penjara malah sukses jadi pengusaha tekstil dan jadi kroninya keluarga Cendana.
Yang paling heboh lagi dari kisah Hoegeng adalah saat menangani kasus Sum Kuning. Kasus perkosaan cewek semlohai berkulit kuning penjual telur yang bernama asli Sumarijem. Dia diperkosa 3 pemuda yang nggak jelas sampai sekarang, siapa mereka. Ayo ngaku ae rek, mumpung sik durung dibatek nyowomu. Nang neroko diperkosa karo komodo.
Ada beberapa versi cerita soal kasus Sum Kuning. Yang paling dipercaya dan populer di masyarakat adalah pemerkosa Sum Kuning adalah anak orang top di Jogja. Satunya anak jenderal yang dibunuh oleh PKI dan satunya lagi anak seorang aristokrat. Tapi itu semua masih abu-abu. Walau itu berdasar pengakuan Budidono seorang makelar mobil yang ikut nyicipi tubuh Sum setelah Sum lapor polisi.
Karena menyangkut nama orang gede, masalah pun jadi runyam. Sum Kuning malah dikriminalisasi. Dia dituduh membuat laporan palsu. Juga dituduh anggota Gerwani. Dia dipaksa bugil oleh aparat untuk membuktikan bahwa di tubuh Sum tidak ada tato Gerwani. Dan sempat menginap di tahanan polisi. Siang malam dalam keadaan sakit diperiksa oleh aparat.
Karena kasus sudah mulai dipolitisasi, Soeharto pun turun tangan. Akhirnya kasusnya ditangani oleh Kopkamtip, badan yang harusnya cuman ngurusi kasus-kasus politik yang mengancam stabilitas negara. Hoegeng pun melongo, nggak bisa berbuat apa-apa, "Karepmu opo se To.."
Di zaman Orba, pelaku atau gerakan yang mengacau, menentang, mengritik penguasa pasti akan dicap komunis. Soeharto sendiri mempresentasikan dirinya sebagai Pancasila. Siapapun yang berani menentangnya dianggap anti pancasila = komunis. Makanya aktivis yang saat itu ditangkap pada misuh-misuh, "Aku gak anti Pancasila..aku anti raimu To!"
Hoegeng  yang mendukung kelompok Petisi 50 (sebuah petisi yang ditandatangani 50 orang tokoh nasional yang  menentang sikap atau gaya kepemimpinan Soeharto) pun kena getahnya. Acara musik "The Hawaiian Seniors" yang diprakarsainya di TVRI dicekal, nggak boleh siaran lagi. Bermusik pun dianggap sebagai aktivitas politik.
Hoegeng itu jenderal polisi yang multi talenta. Disamping pinter main musik, dia juga pinter ngelukis. Di masa pensiun, hari-harinya diisi dengan melukis. Pernah ada pesanan lukisan dari seorang pengusaha terkenal. Ketika lukisan jadi, si pengusaha minta inisial Hoegeng di lukisan dihapus. Rupanya dia takut kalau nanti Soeharto tahu kalau dia berkawan dengan Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak. Bisnis pun gagal. Gak sido mbayar utang.
Setelah ngurusi kasus Sum Kuning, Hoegeng diberhentikan Soeharto dari jabatan Kapolri. Alasannya peremajaan. Padahal yang menggantikannya lebih tua. Hoegeng sendiri ditawari jadi Duta Besar di Belgia. Karena merasa nggak pinter diplomasi, Hoegeng menolak secara halus. Dan Hoegeng pun pensiun dini.
Karena terlalu jujur, saat pensiun Hoegeng nggak punya rumah plus kendaraan. Untungnya Kapolri penggantinya orang baik. Hoegeng pun dikasih rumah olehnya. Para Kapolda juga urunan membelikannya mobil. Lumayan. Itulah salah satu bukti bahwa di akhir cerita orang baik selalu menang. Walau sebelumnya babak belur gak karu-karuan.
Wis ah.
- Robbi Gandamana -
(Disarikan dari buku "Hoegeng: Oase di Tengah Keringnya Penegakan Hukum di Indonesia" oleh Aris Santoso, berbagai sumber dan interpretasi pribadi)

Senin, 29 Juni 2020

Ketika Anak "Dikarbit" Orang Tua




Aku sih asyik asyik saja dengan aturan baru Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi bahwa calon murid yang usianya lebih tua lebih diprioritaskan diterima dari yang usia muda. Karena sekarang ini banyak anak yang masih bayi tapi sudah didaftarkan masuk SD.
Berharap anak cepat besar itu wajar, tapi yo ojok kebangetan. Umur belum genap 6 tahun sudah didaftarkan ke SD. Yang repot gurunya.
Pas si anak kebelet pup, gurunya yang ngurusi segala sesuatunya. Anak seumuran segitu jangankan cebok, makai celana sendiri saja belum bisa beres. Iso-iso peline kecepit resleting.
Banyak orang tua yang gak kanten (boso endonesane opo rek), kepingin anake ndang lulus, ndang kerjo. Anak pun dikarbit habis-habisan. Salah satunya dengan diikutkan program ngebut (akselerasi) agar cepat segera menyelesaikan studi.
Bagiku program akselerasi tak lebih dari bisnis sampingan terselubung pihak sekolah. SPP-nya mahal cuk. Anak ndlahom pun kalau ortunya berduit  bisa masuk program ini. Semua bisa diatur. Ojok ngomong sopo-sopo yo.
koleksi pribadi
Kalau memang pihak sekolah berniat mencari bibit unggul, jangan kotori niat baik itu dengan bisnis. Kalau memang prestasinya luar biasa, otomatis masukan ke program akselerasi. Biaya SPP-nya sama dengan yang tidak masuk akselerasi. Ojok kabeh-kabeh dibisnis. Taek kon iku..huwehehe guyon mas.
Memang bangga punya anak abege yang sudah jadi mahasiswa. Itu bisa jadi indikasi kalau si ortu berhasil mendidik anak. Tapi dosennya yang pusing, karena mengajar anak kecil.
Menghadapi anak yang mentalnya masih labil itu riskan. Dikritik sedikit saja nangis. Mahasiswa seniornya juga mumet ketika mau ngospek (untungnya sekarang dihapus). Nggak tega memplonco anak kecil.
Lebih baik biarkan anak menikmati proses masa kecilnya. Karena itu tidak akan pernah terulang. Ortu jangan merenggut masa indah anak dengan memaksanya belajar keras demi memenuhi obsesi si ortu.
Banyak ortu yang terobsesi seperti itu. Anaknya dipaksa pandai. Semua kursus berbagai bidang studi diborong habis. Masa-masa bermain anaknya pun terbengkalai. Dan anaknya pun lelah secara fisik dan mental. Dadi rodok mengong.
Hidup nggak semata mengejar prestasi. Buat apa pandai tapi kalau jiwanya kering. Koyok Michael Jackson (MJ). Di usia dewasanya malah mainnya sama anak kecil. Membangun kebun binatang, taman bermain anak-anak, dan sejenisnya untuk menghadirkan kembali masa kecilnya yang dulu hilang.
FYI, saat masih anak-anak, MJ digembleng keras oleh bapaknya untuk dijadikan penyanyi. Dia bersama kakak-kakaknya disatukan bapaknya dalam kelompok vokal Jakson 5. Tiap hari kerjanya menyonyo eh menyanyi terus. Sampai nggak sempat lagi main gobak sodor, bentengan, jumpritan dan permainan anak-anak lainnya.  
Secara prestasi MJ memang sukses besar, tapi secara jiwa dia merasakan kekeringan yang luar biasa. Kaya tapi kalau jiwanya sakit ya apa asyiknya.
Hidup itu cari bahagia. Berhasil menjual jutaan kopi album tapi nggak bahagia, apa enaknya. Sik mending raimu. Kerjo serabutan tapi ngopi karo ngerokok lancar. Bendino cengengesan nongkrong nang wedangan. Hidup tanpa beban. Nikmat mana lagi kau yang dustakan.
Kembali ke soal umur.
Umur memang tidak boleh disia-siakan, tapi juga jangan dipaksakan. Apa pun itu harus disesuaikan dengan umur, mental, dan fisiknya. Konsumsi anak balita beda dengan konsumsi anak remaja, apalagi dewasa.
Anak SD tentu belum saatnya diajarkan secara detail soal reproduksi manusia. Yang repot gurunya, "Ketika anunya pria ketemu anunya wanita..saat nganu itulah..anunya pria mengeluarkan anu...akhirnya jadilah nganu... ".
Tapi sakarepmu rek. Nggak masalah anak dikarbit kalau memang otak si anak bisa ngejar dan mentalnya juga oke. Tapi kalau tidak begitu, anakmu iso gendeng.
Anak jangan dipaksa cerdas. Sak madyo ae. Bagus kalau otaknya cerdas, prestasinya selangit. Tapi sebenarnya dalam pergaulan sehari-hari kognitif itu nggak penting-penting amat. Yang penting hatinya nyambung.
Justru orang kampus yang terlalu cerdas itu omongannya sulit nyambung dengan orang kampung. Lha ya'opo, tukang nduduk sumur dijak mbahas rumus pitagoras.
Wis ah, ojok percoyo. Eh, regane karbit piro yo saiki?
-Robbi Gandamana-

Kamis, 25 Juni 2020

Biar Miskin Asal Gagah (Sisi Baik Soekarno yang Jarang Diketahui Orang)

istimewa

Sejarah ditulis  oleh pemenang. Riwayat sejarah seorang tokoh yang dikalahkan oleh penguasa berikutnya dipastikan tidak sepenuhnya valid. Begitu juga dengan Soekarno yang dilengserkan Soeharto, kisah sisi baiknya jarang dikisahkan. Tahunya kebanyakan orang cuman : Soekarno itu seorang proklamator.
Aku tidak sedang menjelek-jelekan Soeharto. Semua orang yang pernah dan sedang memimpin bangsa ini itu orang hebat. Soale aku gak iso koyok ngono iku. Tapi hanya ada dua pemimpin besar di Indonesia. Mereka adalah Soekarno dan Soeharto. Terutama Soekarno.
Kebesarannya terbukti dengan masih banyaknya rakyat yang ngoleksi posternya, menjadikan wajahnya sebagai desain kaos yang masih laku sampai sekarang, meneladani budi baiknya dan juga masih banyak orang yang memperingati haul Soekarno yang ke 50, tanggal 21 Juni kemarin.
Dari soal nasionalisme, kepemimpinan, keberaniannya menentang kolonialis dan imperialis, kesederhanaannya dan soal wanita, Soekarno nggak ada tandingannya. 
Soekarno lah yang terbesar. Walau sudah jadi presiden, budaya hidupnya tidak berubah. Tetap sama saat belum jadi presiden. Dikenal sebagai presiden yang tongpes alias kantong kempes, bokek jaya.
Pernah suatu kali Soekarno hutang pada TD. Pardede, seorang pengusaha tekstil asal Sumut yang dermawan, hanya untuk bayar kos anaknya, Guntur Soekarno Putra.
Sebelum jadi presiden pun sering hutang pada sopir taksi, Pak Arif, yang sering mengantarnya rapat dengan tokoh-tokoh nasional saat itu. Yang akhirnya Pak Arif  ini jadi sopir pribadi presiden Soekarno.
Soekarno kalau makan nggak mau pakai sendok garpu, seringnya pakai jari saja. Dia bisa sarapan satu meja dengan ajudannya atau juga menterinya kalau pas di istana saat acara non formal . Sambil mendengar usulan atau masukan tidak resmi dari bawahannya itu. Lauknya juga sederhana, sayur lodeh, ikan asin, dan sambal.
Pernah suatu kali saat sarapan bareng dengan Soekarno, para pengawal pribadinya makan dengan sendok garpu. Soekarno pun tanya, "Siapa yang ngajari kalian makan pakai sendok garpu?" Mereka pun sungkan, dan segera menyisihkan sendok garpunya.
Soekarno bisa sangat akrab dengan pengawal pribadi atau juga menteri-menterinya. Dia suka kepo tanya soal keluarga. Bahkan Menpen saat itu, Mayjen Achmadi, yang saat itu masih jomblo pun "diperintah" untuk segera menikah.
Achmadi tinggal tunjuk perempuan mana yang disukai dan Soekarno yang akan meminangnya. Tapi ketika Achmadi menginginkan Megawati (anak Soekarno) yang jadi istrinya, Soekarno kaget. Permintaan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh Soekarno. Bukan karena apa, tapi Megawati saat itu belum lulus SMA.  
Jenderal Polisi Hoegeng (Kapolri saat itu) yang sering dipanggil di istana juga akrab dengan Soekarno. Soekarno heran dengan nama Hoegeng, kok bukan Soegeng. Soekarno berkelakar kalau nama Soekarno lebih bagus daripada Hoegeng. Hoegeng pun nyeletuk, "Tukang kebon saya namanya juga Soekarno.." Soekarno pun ngakak.
Soekarno bisa tertawa ngakak saat ngobrol sama bawahannya. Walaupun akrab dengan bawahan tapi kewibawaan Soekarno nggak luntur. Bisa jadi Soekarno sangat pandai menempatkan antara feminis dan maskulin. Kapan waktunya rileks dan kapan harus tegas. jadi nggak mendelik terus, pelit senyum.
Berbanding terbalik dengan Soeharto yang selalu jaga jarak dengan bawahannya. Kumpul hanya saat rapat atau acara kenegaraan. Dan jarang tertawa. Dia juga nggak mungkin bisa sarapan satu meja dengan ajudan saat acara non formal. Karena Soeharto priyayi Jawa. Yang harus menjaga agar jangan terlalu akrab dengan bawahan.
Kesederhanaan Soekarno memang top markotop. Dia nggak mau beli baju atau celana kalau belum rusak bener. Apalagi kalau dia suka modelnya. Tetap akan dipakai walau sudah ditambal sulam sampek nyunyut.
Pernah saat pidato di depan rakyat, Soekarno tidak menyadari kalau tambalan celana bagian belakang terkelupas. Setelah pidato selesai. Pengawal pribadinya pun segera ngasih tahu.
Aku membayangkan mungkin saat itu terjadi dialoq seperti ini :
Pengawal : "Pak Presiden, celonone sampeyan bolong, ketok sempake.."
Soekarno : "Wadoh...Untung aku ora nggawe sempak.."

Huwehehehe guyon rek.
Soekarno juga seorang penyayang binatang sejati. Dia nggak tega melihat binatang dikurung di dalam sangkar. Pernah ada utusan dari Maluku yang datang ke istana membawa burung Kakatua Raja untuk diberikan pada Soekarno. Setelah burung diterima Soekarno, si utusan malah diminta melepaskan burung tersebut dari sangkarnya.
Soekarno benar-benar menjunjung tinggi sebuah kemerdekaan  bahkan sejak dalam pikiran. Kalau manusia tidak suka dikekang, pasti burung pun seperti itu.
Jadi kalau kalian memang seorang penyayang binatang sejati, lepaskan burung peliharaanmu sekarang juga. Biarkan mereka bebas merdeka di alam raya.
Jangankan pada burung, pada cacing pun dia perduli. Pernah saat jalan-jalan di areal persawahan, di tengah jalan tidak sengaja Soekarno melihat cacing yang kepanasan. Rupanya cacing yang nyeberang kesiangan. Soekarno pun memerintahkan pengawalnya menyelamatkan si cacing. Eh ternyata Pengawalnya jijik sama cacing. Akhirnya Soekarno sendiri yang mengambil cacing tersebut dan melemparnya ke tengah sawah.
Rasa belas kasih yang tinggi tumbuh dari pengalaman penderitaan yang panjang. Itulah yang dialami Soekarno yang berkali-kali di buang ke luar pulau dan melihat sendiri penderitaan rakyat di masa penjajahan.
Dan itu juga yang menjadikannya seorang nasionalis sejati yang rela babak belur demi kemerdekaan dan kedaulatan negerinya. Yang mengajarkan rakyatnya agar tidak minder jadi bangsa Indonesia. Nggak heran kalau Soekarno nekad membangun Monas di saat ekonomi rakyat terpuruk. Menurutnya negeri ini harus punya bangunan yang ikonik yang bisa dibanggakan.
Karena martabat dan rasa percaya diri yang  kuat itulah, Soekarno berani menggertak Presiden Eisenhower, presiden Amrik yang nggak tepat waktu saat mengadakan pertemuan dengan Soekarno di gedung putih. "Kami adalah bangsa yang mudah memberi maaf. Tapi tidak untuk disepelekan.." kata Soekarno.
Mangkane dadi uwong ojok minderan rek. Biar miskin asal gagah.
Wis ah.
- Robbi Gandamana -
(Disarikan dari buku "Tertawa Bareng Bung Besar" oleh Eddie Ellison, berbagai sumber lainnya dan interpretasi pribadi)

Kita Sedang Memasuki Era Gowes


Setelah sebelumnya gila tanaman, gila ikan (Louhan dan sejenisnya), gila batu akik, dan juga gila burung, sekarang negeri ini sedang memasuki era gila sepeda.
Toko sepeda laris manis diserbu goweser pemula. Bahkan rela antri sebelum tokonya buka. Mungkin ada yang malamnya tidur di depan toko agar dapat nomor antrian pertama. Itu salah satu tips klasik agar tidak telat.
Gila sepeda ini sepertinya  efek dari pandemi Covid 19, dimana kesadaran akan hidup sehat meningkat pesat.  Jangankan sakit panas, orang pilek saja jarang sekali sekarang. Ketika ada yang bersin-bersin langsung dikucilkan.
Paimo yang dulunya paling males bangun pagi, sekarang sejak subuh sudah nggowes. Walau jarak yang ditempuh nggak nyampai satu putaran lapangan bola. Gak popo, yang penting ngeksisnya.
Yang membuat aku salut pada para goweser itu semangatnya. Totalitas tinggi. Saat nggowes mereka memakai atribut lengkap kayak atlet profesional.  Dari kaos gowes, sarung tangan, kaca mata, sampai helm khusus buat nggowes. Komplit plit. Padahal kalau naik sepeda motor males banget pakai helm.
Aku sendiri juga mulai ikut-ikutan nggowes. Walau cuman iseng. Sudah tiga hari ini. Perutku jadi agak six pack. Bahaya iki, iso tambah akeh penggemare (howeekkk). 😁
Tentu saja aku nggak setotal mereka yang pakai aksesoris lengkap. Mau nggowes atau tidak, kostumku sama : kaos, celana panjang atau pendek jeans dan sandal. That's all.
Aku sih nggak ada rencana untuk beli helm gowes. No way. Nggak ada razia khan? Dulu di tahun 80an ada razia, tapi bukan razia helm melainkan razia peneng. Peneng atau stiker yang ditempelkan di sepeda adalah bukti telah membayar pajak. Dulu sepeda gowes pun dipajaki, karena termasuk barang mewah di saat itu. Keree.
Tapi bagus juga sih kalau pakai helm. Helm itu khan berguna melindungi tempurung otak dari benturan. Kalau kamu memang takut gegar otak atau ndlahom, memang baiknya pakai helm. Kalau bisa yang full face. Pasti aman jaya.
Aku sendiri nggak ada rencana ndelosor dari sepeda (sombong). Andai jatuh di aspal pun gigi tetap rompal kalau pakai helm sepeda seperti itu. Dijamin. Lagian treknya juga di jalanan mulus. Aku nggak akan bersepeda di daerah pegunungan. Lha lapo, ate belajar gendeng ta. Uripku gak selonggar iku.
Sepedaku sepeda standar orang kantoran, bukan jenis sepeda MTB (Mountain Bike). Dan itu pun dikasih orang sebagai rasa terimakasih karena telah kugambar. Wasyik yo, nggambar dikasih sepeda. Merknya lumayanlah dan kondisinya 95 %, muluss. Ojok ngomong sopo-sopo.
Mangkane nek digambar iku ojok cumak suwun ae huwehehehe...guyon Ndes, sumpah.
Fenomena gila sepeda ini lumayan membuat usaha sepeda bergairah. Toko sepeda yang dulunya sepi nyenyet, sekarang jadi kayak pasar kaget. Ada yang beli sepeda baru, tukar tambah, atau sekedar lihat-lihat dan cek harga. Baru bisa beli kalau celengan bagong sudah penuh.
Sebenarnya ada sepeda gowes kredit. Tapi nggowes itu khan kebutuhan kesekian, nggak penting-penting amat lah. Lha lapo se, mbelani nggowes iso gak mangan. Kreditan motor sing winginane ae durung beres.
Maraknya orang bersepeda juga membuka peluang baru bagi para maling untuk beraksi. Mereka yang biasanya maling motor atau barang kelas berat lainnya jadi beralih ke sepeda gowes. Malingnya juga relatif lebih mudah. Tinggal ditaruh di jok belakang motor dan wuzz, kabur. Kiro-kiro ngono lah, aku gak tau maling sepeda.
Makanya hati-hati bagi ortu yang punya anak kecil yang hobi nggowes. Kasih tahu anaknya, nggowesnya jangan jauh-jauh, Karena sudah ada kasus anak kecil yang dirampas sepedanya oleh begal nggak profesional (beraninya sama anak kecil).
Namanya anak kecil, diancam pakai kepalan tangan saja langsung lemes. Apalagi yang ngancam rupane koyok gendruwo. Durung ngancam wis dikekno.
Wis ah, selamat bernggowes ria. Stay health and stay strong. Asam urat kumat, mangano orong-orong. 😅🙏
-Robbi Gandamana-

Senin, 15 Juni 2020

Hambarnya Kehidupan di Masa Pandemi






Pandemi membuat kehidupan jadi hambar. Sosial distancing membuat kita mati gaya. Kalau dulu bertemu bertatap muka lebih baik daripada via medsos. Sekarang malah dianjurkan sebaliknya. Leyeh-leyeh di rumah lebih utama daripada kegiatan pul kumpul di luar rumah.
Sekolah tapi nggak hadir di kelas, tapi cukup belajar di rumah. Awalnya memang fun, tapi seminggu dua minggu baru terasa hambar.  Seperti orang yang bertahun- tahun pacaran jarak jauh. Semua interaksi hanya lewat layar henpon. Setelah itu ternyata nikahnya sama orang lain.
Padahal sekolah yang asyik itu pergaulan sosialnya. Nongkrong di kantin, ngrasani guru, sekali-kali mbolos, pulang sekolah keluyuran. Itu yang membuatku semangat sekolah. Selain itu kebanyakan cuman omong kosong. Hafalan rumus-rumus mata pelajaran eksak itu cuman membuat rambutku rontok. Boros rai.
Belajar di rumah itu juga ngrepoti orang tua. Apalagi jenis orang kaya yang berani bayar mahal sekolah vaforit (ejaannya salah ya? so what?) dengan keinginan anaknya yang masih SD itu bisa pandai hanya dengan belajar di sekolah. Ortu nggak mau campur tangan dengan urusan belajar. Tiap pagi anaknya didrop di sekolah dan pulangnya dijemput. Begitu tiap hari. Pokok tahunya beres.
Ketika anaknya nggak jadi pandai, sekolah dan gurunya yang disalahkan, "Disekolahkan di SD favorit kok nggak jadi pinter!? Favorit fak yu, matane!"
Saat pandemi begini merekalah yang paling sengsara. Tiap hari uring- uringan karena nggak siap atau nggak rela jadi asisten guru anaknya. Di grup WA sekolah, gurunya dimarahi terus. Wis mbayar larang malah didadekno asisten. Fesbuk jadi terbengkalai. Nggak sempat ngeksis di IG.
Pandemi memang bikin keki. Banyak kegiatan yang terpaksa dilakukan rumah. Reuni pun via video conference. Nggak asyik blas. Nggak bisa nyeletuk. Gak iso jundu-junduan. Nggak bisa pamer tas Hermes, juga gadget canggih keluaran terbaru limited edition yang hanya ada dua di dunia. Karena ternyata itu produk gagal.😁
Yang bikin tengsin itu nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngajak video call. Ya'opo rek, tangi turu rai sik nggilap berminyak, dijak ngobrol.  Apalagi setelah itu di-screenshot dan di-share di medsos. Ditonton wong sak endonesah. Padahal pas iku rai koyok mendol kecemplung jelantah. Rembes jaya.
Aku kasihan sama mereka-mereka yang biasa foto profil pakai kamera jahat. Itu khan njeglek banget dengan foto hasil screenshot di video call. Konco nang fesbuk sing gak pernah ngerti wajah asline khan iso semaput. Dobollll.😅
Sekarang pameran lukisan juga dari rumah. Karya lukisan diposting di instagram terus dikasih hastag 'pameran dari rumah'. Bingung aku. Terus apa bedanya dengan postingan gambar atau lukisan sebelum pandemi. Berarti sejak punya akun fesbuk aku sudah berpameran dari rumah.
Yang hambar lagi itu konser musik di rumah. Bagaimana pun hebatnya permainan para musisinya, tetap saja  feel-nya nggak dapat. Terutama penonton. Nggak ada suit-suit, tanpa tepuk tangan, nggak ada jeritan histeris dari fans cewek, tanpa siraman air dari mobil damkar untuk penonton yang kepanasan. Nggak ada adegan aparat nggebuki penonton yang rusuh.
Nonton konser di rumah itu nggak jauh beda dengan nyimak video klip di YouTube. Nggak ada chemistry antar musisi dan penonton. Tapi bagus juga sih. Di saat seperti ini masih nekad konser dari rumah, itu menandakan dia musisi militan. Bermusik nggak cuman karena urusan perut tapi lebih pada soal vitamin jiwa. Salut Ndes.
Begitulah, aturan jaga jarak ini memang menyebalkan. Pandemi membuat kehidupan sosial jadi hambarwati. Tapi apa boleh buat, kalau itu yang terbaik yo sing sabar ae Ndes. Mugi-mugi pandemi enggal minggat. Aamiin.
Ya sudah itu saja.
-Robbi Gandamana-

Belajar Menanam pada Cak Num


Tulisan ini sudah aku tulis di akun IG-ku. Tapi karena di sana dibatasi jumlah hurufnya, jadi aku putuskan menulis versi expanded-nya di sini.

Jadi begini, selama ini Cak Nun (atau Mbah Nun monggo saja) telah mengajarkan kita menanam. Bagaimana selama ini  beliau menanamkan kebaikan, kesadaran, kewaspadaan,  semangat, kebesaran dan keluasan hati pada generasi muda. 
Cak Nun mengajarkan alternatif cara hidup yang asyik, baik, dan indah. Yang membuat hidup kita jadi lebih ringan.

Karena tugas manusia itu memang menanam. Nggak ada kewajiban panen. Soal panen atau enggak itu urusan Tuhan. Urusan manusia cuman berusaha. Soal nanti sukses atau tidak, Tuhanlah yang berhak menentukan.

Menanam kebaikan jangan pernah berharap dibalas kebaikan. Nothing to lose saja. Apalagi sama orang endonesyah yang sangat pandai ngirit itu. Dikasih ucapan "terimakasih" itu sudah sangat bagus. Jangan berharap ditraktir apalagi dikasih bingkisan. Ojok sampek. Gelo kon engkok.

Jadi, manusia itu tidak diwajibkan sukses. Sukses  ya Alhamdulillah, nggak sukses yo gak popo. Kate lapo kon. Kewajiban kita cuman berjalan di jalan yang lurus sesuai dengan perintahNya. Sekali-kali ngepot yo gak popo. Kadang yo off road.

Kita cuman manusia yang bisa salah. Tuhan tidak menuntut di luar batas kemampuan hambaNya. Tapi manusia juga diwajibkan berusaha keras tetap berada di jalanNya. Ojok nggampangno.

Di alam kubur kita nggak ditanya seberapa besar kekayaanmu, seberapa banyak titel dan jabatanmu, tapi seberapa tekun ibadahmu, seberapa kesungguhanmu mencintaiNya.

Ojok terlalu yakin hidupmu bakalan sukses besar secara materi. Tapi juga jangan pesimis.

Ada orang terobsesi sukses yang namanya dikasih embel-embel 'harus sukses', 'pasti sukses', atau lainnya. Biasanya untuk nama akun medsos. Misalnya Paimo Harus Sukses, Sanusi Pasti kaya, atau Gimo Wajib Sukses. Itu sebenarnya nggak etis. Yang memastikan sukses atau tidaknya manusia itu Tuhan.

Karena Tuhan bukan pegawaimu yang bisa seenaknya disuruh-suruh. Dalam soal nasib, posisi manusia itu bukan di 'pasti' tapi di 'Insya Allah', kalau Tuhan mengijinkan.

Lebih baik nggak usah bercita-cita. Apa asyiknya bercita-cita terus kesampaian. Yang asyik itu nggak bercita-cita tapi diam-diam Tuhan ngasih. Obsesi yang terlalu tinggi itu membunuhmu. Ketika obsesimu kandas, kamu bisa stres, minder dan bunuh diri.

Lakukan saja dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi passion-mu selama ini. Sampai kamu jadi master. Saat itulah uang yang akan mengejarmu. Dan kamu pun terpaksa kaya.

Jangan sampai diperalat oleh uang. Manusialah yang harusnya memperalat uang. Derajat manusia itu lebih tinggi daripada uang.  

Manusia wajib mentakaburi dunia. Karena dunia itu kecil. Manusia harus lebih besar dari dunia. Kalau ada masalah pelik, kamu harus lebih besar dari masalahmu itu. Biar nggak pusing kepala.

Makanya dunia yang harus kita mainkan. Jangan sampai dunia yang mempermainkan kita. Kalau nggak sombong pada dunia, manusia bakalan jadi budak dunia. Sudah kaya raya masih saja korupsi. Sudah punya istri dua masih ingin tambah lagi. Padahal siji ae angel openane.

Begitulah. Ada beberapa poin yang pernah aku singgung di tulisan-tulisanku terdahulu. Cuman dulu nggak mendetail.

Ingat, jangan percaya begitu saja tulisan ini.

- Robbi Gandamana -