Sabtu, 13 Mei 2017
Kita Sedang Sakit
Jangan Gampang Jatuh Cinta, Kagetan dan Nggumunan
Kelemahan bangsa Indonesia yang paling fatal adalah gampang jatuh cinta. Apalagi cintanya berlebihan, pikiran pun jadi dodol. Kalau sudah dodol, maunya minum air mineral tapi yang ditenggak karbol.
Kalau seorang Walikota memberi santunan pada tukang becak, Gubernur memberikan Umroh gratis pada para marbot, Presiden bagi-bagi hadiah itu wajar dan semestinya begitu. Mereka harus memprospek dirinya agar dipilih di Pemilu berikutnya. Agar tetap terjaga nama baiknya.
Jadi jangan kaget dan nggumun kalau ada Lurah, Camat atau Bupati membangun masjid atau sarana umum memakai dana pribadi. Mereka itu sebenarnya sedang 'kampanye'.
Memang lebih baik mencintai daripada membenci. Lebih baik berprasangka baik daripada curiga. Nggak semua hal baik yang dilakukan pemimpin rakyat itu sebuah pencitraan atau tebar pesona. Hanya Tuhan yang tahu, kalian jangan sok tahu.
Tapi memilih pemimpin harusnya bukan karena cinta atau benci. Bila karena dua hal itu, pilihan kita tidak akan berdasar pada pikiran yang jernih. Kalau sudah cinta, seandainya salah pun tetap dibela. Begitu juga kalau sudah benci, berbuat baik pun tetap dicela.
Banyak orang mewek gulung-gulung saat Ahok jadi dijebloskan ke penjara, kayak adegan di sinetron "Ratapan Anak Bombay". Meratapi pujaannya yang dijadikan tumbal kewarasan dan akal sehat anak bangsa yang dimabuk agama. Demo sampai larut malam mengganggu ketenangan publik. Itu semua karena cinta yang berlebihan.
Saya sendiri nggak sedih blas, lha lapo, wis tau. Saya sudah punya sistem imun, nggak kaget. Begitulah hukum yang berlaku di negeri ini. Vonis dijatuhkan berdasarkan pada kepentingan politik, besar kecilnya fulus dan atau tekanan publik. Begitu juga yang terjadi pada Ahok. Karena tekanan publik (mayoritas) begitu kuat, hakim pun cari selamat.
Kebencian mereka pada Gubernur Ahok yang non Muslim dan Cina, membuat mereka subyektif dalam menilai Ahok. Seandainya Ahok masuk Islam pun tetap akan dibenci. Ketika Ahok mengkritisi malah diartikan menghina, dianggap menistakan agama.
Penista agama itu kayak Salman Rushdie yang melecehkan Islam, Nabi Muhammad dan Al Qur'an lewat bukunya "The Satanic Verses". Kalau Ahok itu cuman mengkritisi politikus wedus yang menggunakan surat Al Maidah 51 sebagai alat untuk meraup suara rakyat, sasarannya adalah muslim yang masih ndlahom agama seperti saya.
Jujur Itu Aneh
Negara ini sedang sakit parah, karena terlalu lama berkubang dalam kecurangan. Hanya Tuhan yang sanggup menyembuhkan, karena kecurangan di negeri ini sudah jadi peradaban. Kalau sudah jadi peradaban, nggak bisa dirubah lagi. Nasi sudah jadi bubur. Apalagi buburnya sudah terlanjur basi. Anjing saja nggak doyan.
Hebatnya, walaupun negeri ini sakit, rakyatnya enjoy saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Kata Cak Nun, Indonesia adalah pasien yang tidak punya 3 pengetahuan : Tidak tahu sakitnya apa? Tidak tahu mau minta tolong siapa? Dan tidak tahu kalau dia sakit.
Karena bangsa ini sudah lama menggunakan 'produk gagal' yang penuh kecurangan yang tidak memihak rakyat dan lebih menguntungkan pembuat undang-undang, jangan berharap ada hakim yang benar-benar jujur.
Kalau kecurangan sudah jadi peradaban, maka tunggulah kehancurannya. Seperti kota Sodom dan Gomora yang dimusnahkan oleh Tuhan dari muka bumi karena seks bebas kaum homo dan lesbi yang sudah jadi peradaban.
Islam datang dalam keadaan asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Islam itu bukan hanya soal shalat, puasa, zakat dan seterusnya ; jujur itu juga Islam. Zaman sekarang orang jujur itu langka. Orang jujur biasanya dicap lugu, polos bahkan bodoh. Seperti kisah Paimo yang menjual HP miliknya di sebuah counter HP. Dia ditanya oleh pemilik counter, "Kenapa HP-nya dijual mas?" Paimo pun menjawab serius, "Karena kemarin kecemplung kolam mas."
Orang jujur di zaman sekarang itu kesepiaan, mereka jadi alien di lingkungan masyarakatnya. Dianggap aneh, antik, goblok dan nggak normal.
Di bidang apa pun hampir penuh dengan kecurangan, nggak jujur. Kalau ada celah untuk bisa curang, maka hal itu akan dilakukan. Di dunia kerja pun begitu. Jarang ada pengusaha jujur. Laporan pajak kebanyakan tipu-tipu. Banyak peraturan perusahaan yang dibuat untuk mencurangi pekerjanya.
Maka sebenarnya NKRI tidak harga mati. Banyak sistem di NKRI yang harus dibenahi. Yang pantas harga mati itu Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Jangan sampai ideologi Pancasila diganti ideologi kacau yang diadopsi dari Arab atau Barat.
NKRI boleh berubah. Kalau memang jadi lebih baik, why not? Tapi tentu saja bukan Khilafah. Khilafah tidak cocok diterapkan di negara yang sangat beragam agama dan suku ini. Khilafah bukan syariat, itu sistem pemerintahan Arab setelah Rasulullah wafat. Tidak ada satu nash pun di Al Qur'an dan Hadits yang mengharuskan sistem pemerintahan khilafah.
Dan juga nggak perlu jadi negara Syariah. Pancasila itu sangat Syariah. Sila Ketuhanan yang maha Esa itu pengejawantahan dari Surat Al Ikhlash. Sila kedua sampai kelima juga sangat Islam. Coba dipelajari, saya bukan ustadz. Jangan sampai duduk mekangkang naik motor dikasih Perda. Kalau semua etika di masyarakat dikasih Perda, capek aparat ngurusnya. Itu urusan moral pribadi umat dengan hidupnya.
That's all.
(C) Robbi Gandamana, 14 Mei 2017
Jumat, 05 Mei 2017
Cak Nun, Kyai Yang Ideal Bagi Generasi Millinneal
Iki serius rek.
Seandainya aku jatuh cinta pada seorang pria, mungkin aku jatuh cinta pada Cak Nun (bukan dalam artian fisik, aku bukan hombreng).
Cak Nun adalah contoh ideal Kyai yang mumpuni. Ngomong agama oke, ngomong politik sip, ngomong budaya joss gandoss, ngomong opo ae asyik. Ngelawak sangat bisa, ngomong serius juga luar biasa. Dan yang paling mbois itu sepak terjangnya selaras dengan omongannya.
Cak Nun bukan bagian dari kelompok apa pun, netral. Beliau sangat otentik dan berdaulat atas dirinya sendiri. Bukan NU, Muhammadiyah, apalagi LDII atau MTA. Tapi beliau bisa merangkul dan menerima semuanya. Tidak menuding-nuding madzhab dan atau agama lain "Kafir!", "Jahannam!"
Cak Nun sanggup meniadakan dirinya. Artinya dia nggak kemaruk popularitas. Pernah beberapa kali nulis dengan nama samaran Joko Umbaran. Ada kelompok teater mementaskan naskah dramanya Cak Nun tanpa tahu itu karya Cak Nun, karena inisial penulisnya Joko Umbaran.
Menurutnya, jangan sampai melakukan sesuatu hal itu tujuannya popularitas, eksistensi, apalagi materi. Pokoknya melakukan sesuatu yang terbaik. Kalau mencari akhirat pasti dapat dunia. Maka dari itu Cak Nun tidak perduli dengan tarif tiap kali dia diundang tampil. Nggak kayak Ustadz sekarang yang pasang tarif. Ustadz dijadikan profesi.
Tuhan bukan saingannya uang. Hakikatnya Tuhan lah yang membuat uang. Kalau kamu cari Tuhan, maka akan dimudahkan mendapatkan uang dengan halal. Manusia itu derajatnya lebih tinggi dari uang. Jangan sampai ditaklukan oleh uang. Uang yang seharusnya kita taklukan. Makane sekali-sekali duwik iku dipisuhi, "Jiancok koen wik!"
Cak Nun bisa saja beli mobil mewah, rumah mewah, poligami dengan banyak istri, tapi itu semua tidak dilakukannya. Beliau hidup secara miskin, dari dulu budayanya ya seperti. Pakaiannya, kendaraannya, gayanya, cara hidupnya nggak berubah blas. Maka beliau dengan mudah berbaur dengan segala macam golongan. Dari golongan wedus sampai golongan iwak lohan.
Cak Nun tidak bercita-cita. Pokoknya lakukan saja sesuatunya dengan baik dan sungguh-sungguh, maka Tuhan pasti akan ngasih. Apa hebatnya bercita-cita terus mendapatkan yang dicita-citakannya. Yang hebat itu tidak bercita-cita tapi diam-diam Tuhan ngasih.
Sejak awal Reformasi, Cak Nun nggak mau lagi tampil di media nasional, beliau memutuskan untuk keliling Shalawatan, mencerdaskan, membesarkan hati, dan menghibur rakyat dengan kelompok musik Kyai Kanjeng. Menurutnya Reformasi itu ReformASU. Karena memang nggak murni Reformasi. Tokoh-tokoh yang dulu ikut meneriakan Reformasi ternyata ngincer jabatan, posisi, lahan basah. Maka beliau tidak mau jadi bagian dari kumpulan politikus busuk itu.
Generasi millennial banyak yang mencemooh Cak Nun sebagai Ustadz yang nggak laku. Maklum, mereka nggak tahu sepak terjang Cak Nun sejak awal. Ngertinya kalau Ustadz nggak sering muncul di TV itu nggak hebat. Cak Nun itu Ustadznya Ustadz, Kyainya Kyai. Orang sekarang baru hafal Al Qur'an terjemahan Depag (Google translate), sudah berani ngeklaim dirinya Ustadz.
Zaman sekarang, Ulama itu kayak artis yang funky dan trendy. Ulama kok kolektor barang mewah, apalagi itu diaplot (pamer) di medsos. Oke Ulama boleh kaya, tapi sebisa-bisanya tetap hidup secara miskin (sederhana). Seorang ulama harusnya bisa berpakaian yang sama dengan pakaian umatnya yang paling miskin. Ulama itu panutan umat. Nggak cuman nyuruh umatnya hidup sederhana tapi dia sendiri ngoleksi barang mewah.
Kendaraan mewah jangan disamakan dengan kuda milik Rasulullah yang hebat (istimewa). Rasulullah panglima perang, tentu butuh kuda yang hebat. Dan juga jangan nggaya niru Nabi Sulaiman sang Nabi miliuner itu. Nabi Sulaiman sebenarnya lebih memilih ilmu (kebijaksanaan) daripada harta, tapi Tuhan ngotot ngasih harta plus ilmu. Salahe sopo.
Sekarang banyak Ulama yang gemar demo. Ikutan teriak-teriak dengan bahasa yang menyakitkan orang lain. Hidup itu tidak cuman soal baik dan benar, tapi juga pantas dan tidak pantas. Ini soal etika. Pantes nggak se Ulama teriak-teriak memakai bahasa kasar yang menyakitkan hati manusia. Sampeyan iku Ulama, Rocker, opo kuning?
Paham nggak? nggak khan...aku dewe yo bingung.
Generasi Millennial yang mulai dikepung oleh ideologi kacau, radikalisme dari Arab maupun Barat membutuhkan figur panutan yang bukan dari golongan atau kelompok mana pun. Menurut saya, Cak Nun adalah figur yang sangat tepat untuk itu. Dalam pengajiannya, tak hanya muslim saja yang hadir, tapi non muslim pun banyak. Bahkan mungkin jin pun suka dengan pitutur Cak Nun yang mencerahkan dan membuka pori-pori kecerdasan itu.
Wis ah.
(C) Robbi Gandamana, 5 Mei 2017
Rabu, 03 Mei 2017
Harusnya Pengakuan Rekor Prestasi Dari MURI Tidak Pada Karangan Bunga, Tapi Pada Ahok
Syukurlah, kiriman bunga yang membanjiri Balai Kota Jakarta akhirnya diakui MURI sebagai rekor karangan bunga terpanjang yang belum pernah didapatkan oleh seorang Gubernur atau pejabat negara. Soal karangan bunga tadi settingan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.
Saya sendiri nggak pernah bermimpi (berharap) dapat prestasi dari MURI. Buat apa? MURI itu lembaga yang belum pernah punya prestasi apa-apa, kok kita ingin dapat pengakuan prestasi dari mereka yang belum punya prestasi. Seseorang yang dapat gelar doktor, pastilah gelar itu hasil penilaian dari para doktor yang sudah mumpuni di bidangnya.
Saya seorang tukang gambar, banyak rekan sesama tukang gambar yang berharap prestasi dari MURI. Entah itu rekor menggambar tercepat, menggambar dengan kanvas terpanjang atau nggambar dengan peserta ribuan orang. Itu semua bagi saya bukan prestasi. Prestasi itu menghasilkan karya yang baik, bukan tercepat, terbesar, terbanyak.
Muri itu hanya menilai dari segi tercepat, terbanyak, tersantai, tapi tidak yang terbaik. Itu pembodohan. Banyak orang yang 'tertipu' oleh pretasi semu semacam itu. Rame-rame kumpul di tanah lapang melakukan hal tertentu agar mendapat selembar sertifikat konyol, rekor tergemblung se-Indonesia. Apalagi demi mendapatkan prestasi (rekor) itu harus menyetorkan sejumlah uang yang tidak sedikit.
Ada seorang yang mendaftarkan diri ke MURI agar dicatat prestasinya karena tiap malam pentas wayang selama 30 tahun di sebuah taman hiburan rakyat. Mereka pun dapat sertifikat rekor pentas wayang selama 30 tahun. Yang dinilai kok kwantitasnya, kwalitasnya donggg. Tapi okelah, mungkin prestasinya adalah istiqomah dalam melestarikan budaya wayang, soal efek positif dan kwalitasnya itu nomer kesekian. Yo wis lah.
Kalau kita kembalikan ke rekor karangan bunga untuk Ahok, seharusnya pemberian rekor itu untuk sebuah prestasi, bukan pada banyak dan panjangnya karangan bunga. Jadi, bukan pada karangan bunganya, tapi prestasi Ahok memenangkan hati pendukungnya yang salut atas kerja kerasnya selama jadi Gubernur.
Sampai sini, anda paham khan? Oke, kalau begitu saya lanjutkan.
Apalagi ternyata rekor itu diberikan karena adanya himbauan dari banyak pihak. Bukan murni dari hati yang dalam dari seorang Jaya Suprana. Jaya Suprana sendiri tidak sejalan dengan cara yang dipakai Ahok dalam mengurus Jakarta. Jaya Suprana juga mendukung FPI dan malah ingin berguru ke Rizieq Syihab.
Jadi saya nggak percaya kalau penganugerahan rekor karangan bunga tadi murni dari hati Jaya Suprana. Artinya MURI memberikan gelar itu jelas ada sesuatu yang menguntungkan MURI, apa itu nama baik atau lainnya, aku gak eruh, hanya MURI dan Tuhan yang tahu.
MURI itu adopsi dari etos kegembiraan orang Barat : Guinness Book of Record. Di sana tingkat kesejahteraan tinggi, maka urusan perut sudah terpenuhi. Mereka pun bisa melakukan hal yang neko-neko tanpa terbebani pikiran akan kelaparan. Bikin kompetisi yang nggak penting dan mubazir : kuat-kuatan makan cabe, lomba paling banyak dan cepat makan ayam goreng, dan lainnya. Lomba kok menyiksa diri. Makan ayam dengan cepat dan banyak itu bukan prestasi, tapi gemblung!
Kesimpulannya, jangan berharap pengakuan prestasi (rekor) dari MURI. Nggak penting! Begitu juga dengan karangan bunga untuk Ahok, yang dicatat sebagai prestasi (rekor) itu harusnya prestasi Ahok, satu-satunya Gubernur yang karena prestasinya memimpin rakyat Jakarta sehingga mendapatkan banyak simpati berupa kiriman bunga yang melimpah.
Melakukan sesuatu itu yang terbaik, bukan yang terpanjang, terpendek, dan ter ter lainnya. Kalau cuman panjang tok tapi begitu nempel langsung keluar, itu ejakulasi dini namanya.
That's all.
(C) Robbi Gandamana, 4 Mei 2017
*Daripada membahas soal kiriman bunga, mending baca tulisan saya di sini (klik saja). Dijamin mencerahkan dan mencerdaskan. Jangan membaca tulisan yang cuman menyajikan berita tapi tanpa ilmu. Mubazir!
Selasa, 02 Mei 2017
10 Pemikiran Cak Nun yang Revolusioner
Sebenarnya ini adalah rangkuman dari tulisan soal Cak Nun terdahulu. Saya ambil sepuluh pemikiran saja yang paling menginspirasi. Lha wong sepuluh saja males bacanya apalagi sampai seratus, alaa raimu. Yo wis lah, semoga bisa jadi bahan renungan.
1. Negara Hukum Itu Rendah.
Hukum itu paling rendah. Di atas hukum itu ada akhlak, di atas akhlak ada taqwa, karomah, kemuliaan dan seterusnya. Jangan pernah sebuah negara jadi negara hukum. Harus kalau bisa jadi negara akhlak atau moral. Kalau negara hukum, ada orang mati di jalan, anda lewati (tidak menolong), tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak.
Hukum itu paling rendah. Di atas hukum itu ada akhlak, di atas akhlak ada taqwa, karomah, kemuliaan dan seterusnya. Jangan pernah sebuah negara jadi negara hukum. Harus kalau bisa jadi negara akhlak atau moral. Kalau negara hukum, ada orang mati di jalan, anda lewati (tidak menolong), tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak.
Ada orang kecelakaan anda tidak tolong, tidak masalah menurut hukum. Ada orang lapar tidak anda kasih makan, tidak masalah menurut hukum, tapi salah menurut akhlak. Maka negara hukum itu rendah. Hukum itu hanya jalan kalau ada aparatnya. Sialnya banyak aparat yang malah suka mengancam : "Wani piro!?"
Rakyat sekarang tidak punya parameter berpikir yang benar. Rakyat dgn bodoh menyelesaikan semua urusan pada negara. Baik dan buruk diserahkan pada hukum, itu bodoh! Hukum itu tidak mampu mengurusi kebaikan dan kebenaran sampai tingkat yang diperlukan manusia. Hukum itu tahunya satu level kecil, orang nyopet yang dilihat nyopetnya, dia tidak pernah bertanya kenapa nyopet.
Kewajiban negara menghukum secara hukum (yuridis), masyarakat menghukum secara kebudayaan dan moral. Tapi sekarang hukuman kebudayaan dan moral ini sudah tidak dipegang oleh rakyat. Ingat penyanyi cowok yang terlibat kasus penyebaran video cabul dirinya dengan sejumlah artis, setelah keluar penjara malah dielu-elukan, dicium tangannya, jadi bintang besar.
2. Surga Itu Nggak Penting
Kalau orang cari surga mungkin akan dapat surga, tapi surganya tidak seindah kalau tujuannya Tuhan. Sebab kalau dia cari Tuhan pasti dapat surga. Tauhid itu menyatukan diri dengan Tuhan, bukan dengan surga. Surga itu efek akibat, pelengkap penderita dari penyatuan kita dengan Tuhan.
Kalau orang cari surga mungkin akan dapat surga, tapi surganya tidak seindah kalau tujuannya Tuhan. Sebab kalau dia cari Tuhan pasti dapat surga. Tauhid itu menyatukan diri dengan Tuhan, bukan dengan surga. Surga itu efek akibat, pelengkap penderita dari penyatuan kita dengan Tuhan.
"Surga nggak penting", itu cuman ungkapan, tidak ada maksud meremehkan surga. Surga tetap penting. Cak Nun tidak anti surga. Itu ungkapan orang yang level imannya di atas rata-rata. Ibadahnya dalam rangka bersyukur (merdeka), bukan karena minta imbalan dan takut neraka. Bukan seperti kita yang Shalat Dhuha berharap jadi PNS, naik haji berharap dagangannya laris, sedekah Avanza berharap dapat kembalian Alphard, Tuhan diperlakukan sebagai mitra bisnis.
3. Hak Asasi Manusia Itu Menipu
Hanya Tuhan yang punya hak, manusia punyanya hanya kewajiban. Satu-satunya hak manusia adalah memilih pemimpin saat Pemilu. Seseorang punya hak di masyarakat atau negara karena punya 'saham'. Orang yang tidak bayar pajak, tidak punya andil di masyarakat, dia tidak punya hak apa pun di masyarakat. Jadi yang benar itu bukan Hak Asasi Manusia tapi Wajib Asasi Manusia.
Hanya Tuhan yang punya hak, manusia punyanya hanya kewajiban. Satu-satunya hak manusia adalah memilih pemimpin saat Pemilu. Seseorang punya hak di masyarakat atau negara karena punya 'saham'. Orang yang tidak bayar pajak, tidak punya andil di masyarakat, dia tidak punya hak apa pun di masyarakat. Jadi yang benar itu bukan Hak Asasi Manusia tapi Wajib Asasi Manusia.
Hak Asasi Manusia adalah ideologi yang Anti Tuhan. Atas nama Hak Asasi, orang boleh menikah dengan sesama jenis, bahkan dengan hewan. Manusia begitu menyanjung kebebasan. Padahal kebebasan adalah jalan menuju batasan. Kalau manusia tidak tahu batasannya, mereka akan jadi binatang, bahkan lebih rendah.
Jadi, kita nggak butuh ideologi HAM yang diadopsi dari Barat itu. Kita punya Hukum Negara maupun Hukum Adat untuk mengatasi pelanggaran hukum apa pun.
4. Kita Semua Sesat
Kalau ada orang yang ngakunya paling benar dan lurus itu berarti dia sombong. Lha wong semua Nabi saja ngakunya dzalim kok. Walau dijamin surga, semua Nabi tidak pernah menyombongkan ilmu dan imannya.
Kalau ada orang yang ngakunya paling benar dan lurus itu berarti dia sombong. Lha wong semua Nabi saja ngakunya dzalim kok. Walau dijamin surga, semua Nabi tidak pernah menyombongkan ilmu dan imannya.
Kalau kamu sudah merasa sudah benar dan lurus, jangan mendatangi pengajian. Pengajian itu tempatnya orang yang merasa salah, merasa masih sesat, merasa rapuh imannya, merasa sedikit ilmunya. Penganjian itu bukan mengajari, tapi kumpulan manusia yang bersama-sama mencari derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah.
Tiap hari seorang muslim diwajibkan selalu membaca doa dalam Shalat, "ihdinas siratal mustaqim" (tunjukan kami jalan yang lurus). Artinya, walaupun sudah shalat, puasa, zakat dan haji, tetap kita masih butuh petunjuk ke jalan yang lurus.
Kebenaran (sejati) itu tidak ada, yang bisa dilakukan manusia itu sebisa mungkin menuju kebenaran. Kebenaran itu ada 3 : benarnya diri sendiri, benarnya orang banyak dan kebenaran sejati. Dan yang bikin kita bentrok itu karena seseorang atau umat ngotot dengan benarnya sendiri.
Jadi nggak usah sombong dengan madzhabmu, sektemu, aliranmu. Islamnya NU, Muhammadiyah, LDII, MTA, dan lain-lainnya itu tidak ada yang betul-betul benar, semua dalam rangka mencari Islamnya Rasulullah.
5. Tidak Ada Tafsir yang Betul-betul Benar
Suara kokok ayam versi orang Madura itu "kukurunuk", orang Sunda "kongkorongkong, orang Jawa "kukuruyuk". Yang benar yang mana? semuanya salah. Yang benar adalah taruh ayamnya di tengah ketiga orang tadi dan sama-sama mendengar suara kokok ayamnya.
Suara kokok ayam versi orang Madura itu "kukurunuk", orang Sunda "kongkorongkong, orang Jawa "kukuruyuk". Yang benar yang mana? semuanya salah. Yang benar adalah taruh ayamnya di tengah ketiga orang tadi dan sama-sama mendengar suara kokok ayamnya.
Jarak antara kokok ayam dengan kita menirukan suara kokoknya itu namanya tafsir. Tafsir itu melahirkan madzhab dan pengelompokan-pengelompokan. Itu karena pendengaran tiap orang berbeda terhadap suara kokok ayam.
Kita harus saling menyadari bahwa yang benar itu ayamnya bukan kokoknya. Antara tafsir 'kukuruyuk', 'kukurunuk' dan 'kongkorongkong' harus saling menyadari kelemahan masing-masing sehingga tercipta toleransi. Kalau nganggap benarnya sendiri, egois atau egosentris dengan tafsirnya sendiri maka akan terjadi bentrok.
Jadi, tidak ada tafsir yang betul betul benar. Anda boleh menafsirkan menurut pikiranmu yang penting itu membuatmu menjadi lebih dekat, lebih cinta pada agama dan Tuhanmu. Dan tentu saja tidak menimbulkan kemudharatan umat.
Sebenarnya menafsirkan Al Qur'an itu hanya bisa dilakukan oleh ahli tasfir, kita sebagai orang awam bisanya hanya tadabbur, mencari manfaat dari pergaulan kita dengan nilai-nilai Islam (terutama Al Qur'an). Parameter keberhasilannya adalah yang penting kita menjadi lebih baik sebagai manusia.
Paham atau nggak paham itu bukan parameter. Benar atau tidak benar pemahamanmu itu juga bukan parameter. Parameternya adalah setelah kamu baca dan mencintai Al Quran kamu menjadi lebih dekat pada Allah apa tidak, lebih beriman apa tidak, kamu lebih baik menjadi manusia apa tidak.
6. Ucapan Ulama Itu Bukan Kebenaran
Ucapan Ulama, Kyai atau Ustadz itu bukan kebenaran, tapi tafsir. Saya sudah bahas tadi bahwa tidak ada tafsir yang betul-betul benar. Jadi ucapan ulama kayak apa pun itu tidak mutlak benar. Yang pasti benar itu Al Quran, bukan tafsir yang diucapkan Ulama atau siapa pun.
Ucapan Ulama, Kyai atau Ustadz itu bukan kebenaran, tapi tafsir. Saya sudah bahas tadi bahwa tidak ada tafsir yang betul-betul benar. Jadi ucapan ulama kayak apa pun itu tidak mutlak benar. Yang pasti benar itu Al Quran, bukan tafsir yang diucapkan Ulama atau siapa pun.
"Yang saya omongkan tidak harus anda anut. karena anda berdaulat atas diri anda sendiri, anda bertanggung jawab atas diri anda sendiri di hadapan Allah. Jadi setiap keputusan, langkah, pikiran dan sikap anda harus berasal dari anda sendiri karena nanti tanggung jawabnya juga anda sendiri. Saya bukan makelar umat! " Kata Cak Nun.
"Saya tidak bisa mempertanggungjawabkan kelakuan anda. Saya bukan Nabi Muhammad. Kalau Muhammad harus ditaati, karena bisa menolong kita. Sedangkan saya tidak bisa menolong anda. Tugas Ulama itu mempopulerkan Rasulullah, jangan sampai lebih populer dari Rasulullah, " lanjutnya.
Apakah Kyai, Ulama, Ustadz bisa menyelamatkan kamu? tidak bisa. Begitu juga dengan pemuka agama yang lain, tidak bisa menyelamatkan kita. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kamu sendiri di hadapan Allah. Maka kalau kamu beribadah pada Allah jangan ada siapa-siapa (antara kamu dan Allah).
Jadi jangan taat pada Ulama, Kyai, Ustadzmu. Bahkan pada orang tua sendiri pun nggak harus taat kok. Pada orang tua kita hanya diwajibkan berbuat baik. Walau wujud berbuat baik itu adalah taat, tapi hakikatnya taat itu hanya pada Allah.
---"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri......" (Kahlil Gibran)---
"Jangan pernah punya keputusan yang tidak otentik pada diri anda. Artinya kalau shalatmu itu ya shalat kamu dan Allah, itu otentik. Bukan kamu plus Cak Nun, plus Kyai, plus Ustadz, plus Ulama dan Allah, " kata Cak Nun.
"Jangan mau ditipu oleh siapapun yang menghadir-hadirkan Tuhan kepadamu. Yang menghalang-halangi hubunganmu dengan Allah. Jangan percaya kepada Cak Nun, Kyai, Ustadz atau siapapun. Itu hak pribadimu untuk menemukan Tuhanmu dengan gayamu dan caramu, " kata Cak Nun lagi.
7. Kemuliaan Itu Melakukan Kewajiban yang Tidak Disukai
Kita selalu menjawab "Suka!" saat ditanya, "kamu suka puasa Ramadhan nggak?" Padahal tidak ada seorang pun yang suka puasa. Orang melakukan puasa itu karena perintah wajib. Tuhan sengaja mewajibkan puasa karena manusia tidak suka. Kalau manusia sudah suka, ngapain diwajibkan.
Kita selalu menjawab "Suka!" saat ditanya, "kamu suka puasa Ramadhan nggak?" Padahal tidak ada seorang pun yang suka puasa. Orang melakukan puasa itu karena perintah wajib. Tuhan sengaja mewajibkan puasa karena manusia tidak suka. Kalau manusia sudah suka, ngapain diwajibkan.
Justru baik kalau orang yang tidak suka puasa tapi tetep puasa. Apa hebatnya melakukan puasa kalau sudah suka puasa. Yang gemblung itu yang puasa tapi mencari jalan bagaimana caranya agar tidak merasa lapar. Dengan cara minum suplemen atau cara lain. Lha wong puasa itu agar kita merasa lapar, mencicipi penderitaan orang miskin. Cuman mencicipi, nggak merasakan benar susahnya jadi orang kere yang paginya sahur sorenya nggak pasti berbuka.
Nggak cuman puasa, sepertinya semua ibadah wajib nggak ada yang kita suka. Cobalah untuk jujur pada diri kamu sendiri. Nggak papa nggak suka, asal tetap ikhlas melakukan ibadah tersebut dengan baik. Itu lah kemuliaan. Letak kemuliaan itu melakukan hal yang tidak disukai tapi tetap ikhlas melakukannya, karena tahu kewajiban dari Tuhan itu pasti baik dan bermanfaat.
Jadi, jujurlah kalau sebenarnya kamu tidak suka menjalankan kewajiban ibadah.
8. Melayani Umat Bukan Dagang
Allah 'membeli' sembahyang, pelayanan dan cinta kita padaNya. Ongkosnya adalah segala macam rahmat dan berkah alam semesta yang dihamparkan pada kita. Jadi Allah sangat menjual murah rahmatNya itu hanya agar kita shalat, puasa dan lainya. Tapi Allah tidak menjual martabat (harga diri) Nya.
Allah 'membeli' sembahyang, pelayanan dan cinta kita padaNya. Ongkosnya adalah segala macam rahmat dan berkah alam semesta yang dihamparkan pada kita. Jadi Allah sangat menjual murah rahmatNya itu hanya agar kita shalat, puasa dan lainya. Tapi Allah tidak menjual martabat (harga diri) Nya.
Kehancuran manusia sekarang itu karena di setiap bidang tidak diurai mana hal yang boleh dijual dan mana yang tidak boleh dijual. Guru mengajar itu bukan jualan ilmu. Dia menerima gaji karena waktu, energi yang dipakai si guru saat mengajar, bukan karena ilmu dan martabatnya. Martabat tidak boleh dijual.
Dokter menyembuhkan orang sakit itu bukan peristiwa dagang. Pasien membayar dokter itu yang dibayar obatnya, waktu dan energi si dokter, juga ikut urunan alat dan sarana yang dibeli dokter untuk menyembuhkan pasien.
Ustadz, Motivator dan sejenisnya, jangan pasang tarif. Pekerjaan memotivasi, mengajari, menyemangati, mencerahkan, mencerdaskan orang itu melayani umat, bukan jualan ilmu dan martabat. Kalau kita membayar Ustadz, itu karena kita menghargai waktu dan energi si Ustadz saat menyampaikan ilmunya.
Kalau mengajar, mengajarlah yang baik. Kalau menulis, menulislah yang beneran, nggak usah mikir tarif. Bahkan jualan nasi pun, nggak perlu dipikir labanya tapi bagaimana caranya bikin nasi yang baik dan sehat, jualan yang sopan, bertanggung jawab pada pembeli, pasti akan dapat rejeki.
9. Belajarlah Memilih Pemimpin, Bukan Dipilih
Pemimpin yang baik itu yang diajukan rakyat, yang didorong-dorong agar maju jadi pemimpin, bukan mereka yang mencalonkan diri. Seperti juga Imam Shalat, Imam yang baik itu yang diajukan oleh makmum, bukan diri sendiri yang mengajukan dirinya jadi imam. Sampeyan iku sopo mas?
Pemimpin yang baik itu yang diajukan rakyat, yang didorong-dorong agar maju jadi pemimpin, bukan mereka yang mencalonkan diri. Seperti juga Imam Shalat, Imam yang baik itu yang diajukan oleh makmum, bukan diri sendiri yang mengajukan dirinya jadi imam. Sampeyan iku sopo mas?
Di Al Qur'an tidak ada perintah untuk menjadi pemimpin (yang ada hanya kriteria pemimpin). Yang disuruh Allah belajar adalah memilih pemimpin. Jadi urusannya adalah memilih, bukan dipilih. Kalau ada debat "Bagaimana supaya dipilih jadi pemimpin" itu berarti menyalahi Al Qur'an.
Manusia itu harusnya bisa rumangsa, bukan rumangsa bisa. Kita itu hamba Tuhan, kita punya muka, punya malu, punya martabat. Tapi kita sudah terlanjur mempermalukan diri dengan proses yang ada selama ini. Seharusnya sejak awal pemimpin itu sudah tumbuh secara natural, sosial, kultural.
"Rumus saya : barang siapa yang masih mencalonkan diri (jadi pemimpin), saya sudah tidak percaya lagi pada dia. Kalau negeri ini masih hidup dengan orang yang mencalonkan diri, negeri ini bakalan hancur, " kata Cak Nun.
10. Jangan Sampai Diperalat Sekolah
Belajar boleh pada apa dan siapapun. Nggak masalah mempelajari Fir'aun, Hitler, Che Guevara, Fidel Castro. Semua yang ada di dunia ini adalah cahaya ilmu. Selama kita dewasa, kita nggak akan gampang 'masuk angin' oleh kalimat kayak apapun. Yang penting nggak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang mblendes.
Belajar boleh pada apa dan siapapun. Nggak masalah mempelajari Fir'aun, Hitler, Che Guevara, Fidel Castro. Semua yang ada di dunia ini adalah cahaya ilmu. Selama kita dewasa, kita nggak akan gampang 'masuk angin' oleh kalimat kayak apapun. Yang penting nggak mudah terseret untuk menyalahkan atau membenarkan. Ambil saja makna dan manfaatnya. Simpan yang baik, tendang jauh-jauh yang mblendes.
Kalau kita cermati saat bayi baru lahir. Kok si bayi ini menggerak-gerakan mulutnya, bisa tahu tempat dan caranya menyusui. Kok bisa anak kucing yang masih merah bisa tahu puting susu induknya. Maka sebenarnya pendidikan itu jangan ge-er, guru itu tidak bisa mengajari orang, guru itu bisanya menemani. Agar murid punya bahan dalam rangka meneliti dirinya sendiri. Kalau kita tidak tahu diri kita ini siapa, bagaimana kita tahu kemampuan kita.
Kalau nggak tahu kita ini kiper apa penyerang, maka saat di lapangan sepakbola, kita bakalan kebingungan, aku iki lapo nang kene? Kalau kucing jangan diajari menggongong. Kalau kambing jangan diajari terbang. Maka kenali dirimu, barang siapa mengenali dirinya sesungguhnya ia mengenali Tuhannya.
Kalau kamu bernama Paimo. Apa kamu itu memang Paimo? Itu khan nama yang diberikan bapakmu. Kalau kamu menamai dirimu sendiri, pasti bukan Paimo. Jadi dirimu itu bukan Paimo, bukan Markeso, bukan semua itu. Dirimu dijadikan tertutup. Begitu kamu punya orang tua, begitu masuk sekolah TK sampai kuliah, kamu ditutupi. Tugas sekolah adalah membuka tabir siapa dirimu, memberikan alat supaya mengenal dirimu. Tapi, sekolah malah menutup-nutupi dan malah ditambahi sarjana anu, ditambah doktor, ditambah kepala dinas, dsb.
"Kamu itu harus jadi tuan, sekolah itu alat anda, jangan sampai diperalat sekolah. Andai kamu perlu ijazah, oke no problem, ikutilah aturan sampai mendapatkan ijazah. Tapi tidak ada hubungannya dengan cari ilmu. Kalau cari ilmu ya banyak tempatnya, tidak hanya di sekolah. Kuliah itu mencari ijazah untuk membahagiakan orang tuamu. " kata Cak Nun yang pendidikannya hanya sampai semester satu Fakultas Ekonomi UGM tapi otaknya nggak kalah dengan Profesor yang paling top.
Jadi jangan salah niat. Kalau niatnya mencari ilmu, goblok! Kita bersekolah itu biar punya sertifikat buat mencari pekerjaan. Sekolah itu tidak mengenal Tuhan. Tuhan tidak diakui secara akademis. Karena Tuhan tidak bisa diteliti, didata, dianalisis dan disimpulkan. Segala sesuatu yang tidak memenuhi persyaratan akademis (nggak ilmiah) itu tidak diterima. Jadi semua universitas itu sebenarnya atheis!
Jangan terjajah oleh dunia pendidikan. Penting mana anda sekolah atau belajar? Anda 'diperalat' sekolah atau anda 'memperalat' sekolah? Anda bergantung pada sekolah ataukah sekolah yang tergantung pada anda? Terhadap pendidikan, jadikan anda subyek dari sekolah, bukan obyek sekolah.
******
Sebenarnya masih banyak pemikiran Cak Nun yang dahsyat, tapi jujur, saya capek nulisnya, enak awakmu moco tok. Lagian anda juga pasti males bacanya, ngaku saja. Saya sudah beberapa kali nulis pemikiran-pemikiran Cak Nun. Banyak bajingan internet yang mengcopy paste (seluruh tulisan atau cuman satu dua kalimat) tanpa ijin, tanpa menyertakan nama penulis dan link.
Sebenarnya masih banyak pemikiran Cak Nun yang dahsyat, tapi jujur, saya capek nulisnya, enak awakmu moco tok. Lagian anda juga pasti males bacanya, ngaku saja. Saya sudah beberapa kali nulis pemikiran-pemikiran Cak Nun. Banyak bajingan internet yang mengcopy paste (seluruh tulisan atau cuman satu dua kalimat) tanpa ijin, tanpa menyertakan nama penulis dan link.
Tulisan saya dulu yang "Surga Itu Nggak Penting" dicopy paste oleh beberapa situs nggak jelas, inisial penulisnya diganti bukan saya, tapi Cak Nun. Sehingga orang mengira Cak Nun sendiri yang nulis. Akibatnya, Cak Nun (seharusnya saya) dicibir banyak pembaca yang hati dan pikirannya nggak luas, yang memahami pemikiran Cak Nun dengan sangat gemblung dan sempit. Jadi sekarang, dilarang keras copy paste! Kalau ingin ngeshare, share dari link tulisan ini.
Ya Alloh, jauhkan tulisan saya dari tukang copy paste yang kemaruk popularitas. Berilah mereka hidayah. Aamiin.
(C) Robbi Gandamana, 2 Mei 2017
Kamis, 27 April 2017
Kiriman Bunga Buat Ahok Memang Aneh dan Tidak Wajar

Adanya kiriman karangan bunga, surat terbuka, surat cinta, dan petisi yang menginginkan Ahok jadi gubernur di daerah lain, menunjukan bahwa Ahok memang istimewa pakai telor. Nggak salah kalau dia dianggap sebagai aset bangsa.
Jadi, selamat buat Ahok yang telah memenangkan hati para pendukungnya di seluruh negeri. Selamat bagi mereka yang masih menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, toleransi dan akal sehat. Bukan mereka yang berpikiran sempit yang memilih Gubernur, Lurah, RW, RT atau pemimpin lainnya harus muslim. Kalau nggak milih pemimpin muslim otomatis jadi munafik, kafir, laknatulloh!
Di atas kertas Ahok mungkin keok, tapi fakta membuktikan bahwa dia lah yang paling berhasil membenahi Jakarta dibandingkan dengan para Gubernur sebelumnya. Jika sekarang dia tidak terpilih, itu bukan karena Ahok kalah hebat dengan Anies, tapi karena dia Cina dan non Muslim. Itu 2 hal yang dimainkan oleh rival Ahok dengan baik dan salah.
Isu sesat yang dihembuskan terus menerus dan massif, lama-lama akan jadi kebenaran. Orang jadi percaya dengan isu itu. Cuci otak yang paling ampuh adalah agama. Jadi hati-hati dengan politikus yang berkampanye menggunakan ayat-ayat suci, ngajak Tuhan kampanye. Maka nggak salah kalau Jokowi bilang agar soal agama dan politik dipisahkan.
Dalam sejarah Jakarta, baru di era Ahok lah Tanah Abang (dan daerah 'angker' lainnya) bisa ditertibkan. Sebelum dipimpin Ahok, Tanah Abang hampir tak tersentuh. Gubernur lama yang terkenal paling tegas pun mlempem jika diminta menertibkan Tanah Abang. Jangankan melakukan, mimpi saja nggak berani.
Jadi, jika sekarang ada yang menginginkan Ahok jadi gubernur Bali, Sumut atau daerah lain, itu wajar. Ahok pasti siap memenuhi panggilan itu. Itu kalau Ahok berpolitik niatnya mengabdikan diri untuk bangsa, bukan karena mengejar karier semata. Nggak cuman ngincer Jakarta doang, karena Jakarta adalah jalan tol menuju tahta Presiden.
Tapi jabatan yang paling efektif bagi Ahok itu Mendagri atau Ketua KPK (kayaknya nggak mungkin). Posisi tersebut sangat pas dengan karakter Ahok : keras, tegas dan tidak bisa dibeli. Di samping wilayah kerjanya seluruh Indonesia. Dan yang jelas kariernya semakin cemerlang.
Bicara soal karier, pejabat atau pemimpin rakyat sebaiknya tidak mengincar jabatan untuk tujuan karier doang. Jika berkarier di Partai politik itu karena butuh alat untuk menuju jabatan (kekuasaan). Kalau sudah jadi Gubernur, harusnya tidak punya jabatan apa pun di partai, agar lebih fokus mengabdi pada rakyat. Jangan kayak SBY dulu, sudah jadi Presiden tapi masih jadi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
Jadi politik itu cuman alat, tujuannya kekuasaan. Setelah berhasil menduduki jabatan pemerintah, integritasnya harusnya pada rakyat, bukan pada partai lagi.
Pemimpin rakyat yang baik itu di dalam dirinya penuh kepentingan rakyat dan Tuhan. Kepentingan dirinya hampir tidak ada. Dia tidak akan menyakiti rakyatnya karena Tuhannya akan marah dan tidak akan khianat pada Tuhan karena rakyatnya bisa sengsara.
Hakikatnya, pemimpin rakyat adalah pelayan rakyat, mereka dibayar rakyat untuk ngurusi negara. Jadi, rakyat itu juragannya. Kalau ada iring-iringan rombongan Presiden lewat, jangan mau minggir. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau saya yang nyuruh yaaa.
Di Indonesia, pada umumnya jabatan DPR, Walikota, Gubernur, Presiden atau lainnya, itu sebuah pencapaian karier. Bukan niat total pengabdian pada rakyat. Dengan menjadi pejabat negara, mereka berharap dapat keuntungan finansial, nggak cuma dapat akses kekuasaan. Pikirannya cuman bagaimana caranya setelah nggak jadi pejabat dapat laba sebesar-besarnya.
Nggak salah jika Gus Mus pernah bilang, orang yang mencalonkan diri jadi pemimpin daerah atau negara Indonesia harusnya kaya raya dulu. Kalau sudah kaya raya, nggak ngiler lagi dengan uang. Walaupun itu tidak menjamin orang untuk tidak korupsi, tapi minimal meminimalisir korupsi.
Jika soal pengabdian dan karier ini dihubungkan dengan Ahok, menurutmu Ahok jadi Gubernur itu dalam rangka pengabdian atau karier? Jawabannya mudah sekali, tergantung anda Ahoker atau Hater. Saya sendiri nggak perduli, itu urusan Ahok dengan hidupnya, selama doi bisa memenuhi janjinya saat kampanye, itu sudah bagus.
Zaman sekarang pejabat yang baik dan buruk itu abu-abu, nggak jelas. Kelihatannya baik ternyata cuman pencitraan, dalam rangka memprospek dirinya agar tetap memilih dia di Pemilu berikutnya.
Jadi kalau ada pejabat yang membangun jalan, jembatan, masjid pakai dana pribadi, itu jangan cepat diartikan dia adalah orang baik. Kita lihat niatnya dulu, lha wong dia membangun sarana tadi dalam rangka menyuap (membeli suara) warga kok. Dan saya percaya Ahok tidak seperti itu (semoga).
Ahok adalah Gubernur paling istimewa jika dibandingkan gubernur-gubernur sebelumnya. Nggak salah kalau banyak kalangan yang merasa kehilangan saat Ahok tidak terpilih lagi. Seribu karangan bunga simpati pun membanjiri balai kota.
Kalau ada yang menganggap kiriman bunga tadi settingan, itu pasti Hater. Kiriman bunga jelas wajar, yang tidak wajar adalah yang mempersoalkannya. Kiriman bunga buat Ahok memang aneh dan tidak wajar, karena belum pernah terjadi di era gubernur sebelumnya.
That's all.
(c) Robbi Gandamana, 27 April 2017
Jumat, 21 April 2017
Nggak Gampang Legowo Itu Bagus

Istilah 'kalah' dan 'menang' dalam Pilkada, Pilpres dan Pil yang lain, sebenarnya nggak asyik. Pilkada bukan balap karung. Asyiknya istilah yang dipakai adalah 'terpilih' dan 'tidak terpilih'. Kita saudara sebangsa. Mencari yang terbaik bukan siapa yang menang. Dan yang terpilih bukan berarti terbaik, kita lihat dulu hasil kerjanya lima tahun ke depan. Sesuai dengan janjinya nggak. So, mari kita kawal program rumah DP 0%.
Nggak ada orang yang senang dicap kalah, apalagi dibilang pecundang atau loser. Kata-kata seperti itulah yang merusak persahabatan. Pelacur pun marah kalau dibilang lonte. Jadi mari kita sama-sama jaga cangkem.
Kalau Ahok legowo karena tidak terpilih, itu biasa. Tapi kalau pendukungnya langsung legowo atas tidak terpilihnya Ahok, itu baru janggal. Pendukung yang sekarang belum bisa legowo, kecewa atau sedih..itu bagus! Itu menunjukan kalau mereka memilih Ahok dengan sepenuh hati. Seperti kesedihan seorang jomblo yang gagal kawin. Kesedihan itu akan mengendap berhari-hari lamanya di kepala.
Jadi silakan saja kecewa, sedih, marah! satu sampai tiga hari ini. Asal tidak anarkis dan memancing keributan. Menjeritlah, jika itu dianggap penyelesaian : "Jiancokkkk kalahhhh..!"
Buat yang jagoannya terpilih nggak usah nggaya, biasa ae Bude. Jangan menuding-nuding orang lain dengan sebutan pecundang, loser. Pecundang itu orang yang banyak kehilangan teman, sahabat, saudara, pacar, selingkuhan, istri,..akibat terlalu fanatik membela jagoan neon. Pilkada kok diambil hati. Karena ulah si Didik, rusaklah susu si Julaikah.
Akibat tidak bisa menempatkan cangkem dalam menyikapi Pilkada, para sahabat yang dulu suka ngobrol atau ngumpul membahas suatu hobi yang sama : musik, seni, film, badokan,..jadi berkurang drastissss tiss tissss. Awalnya Pilpres, lalu disempurnakan oleh Pilkada. Burek sudah persahabatan kita, seburek tungkak yang full rangen.
Medsos itu bagus untuk sarana komunikasi, memudahkan silaturahmi, tapi nggak bagus untuk pembangunan mental diri. Medsos sangat membuka peluang untuk melampiaskan diri. Padahal fungsi agama itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Maka berhati-hatilah pada apa pun yang membuat kita melampiaskan diri dengan mudah.
Di medsos,wajah nggak berhadapan langsung, jadi nggak sungkan kalau nyetatus mewek, mengasihani diri atau ngamuk-ngamuk nggak jelas. Saya herman baca status fesbuk semacam itu. Apes kok dipamerkan, punya mental karak kok bangga. Sudah kwalitasnya KW, mudah mlempem pula.
Hermannya, status-status 'sakit' tadi nggak selalu ditulis oleh abege, tapi juga para babe yang sudah mulai keriput, rambut sudah beruban krowak di sana sini (mbrodol, salah shampo). Mereka dengan suka rela, ikhlas lilahitaala jadi buzzer mengkampayekan jagoannya. Baguslah kalau mereka dikasih gelar Pahlawan Tanpa Tanda Terima.
Kekacauan Pilkada ini pelajaran untuk menyongsong Pilpres 2019 nanti. Apakah kalian nanti jadi lebih dewasa atau tambah babak belur? monggo terserah. Saya dari dulu nggak pernah tertarik eyel-eyelan membela Capres tertentu, jika sudah saling ejek dan bully paling aku cuman tepuk tangan. Hiburan gratis.
Sekarang bagi yang jagoannya gagal terpilih, tenangno pikirmu, gagal itu bukan aib. Gagal terpilih bukan berarti kalah. Istilah 'kalah' dan 'menang' pada saat Pilkada itu berpotensi merusak kerukunan umat, apalagi yang kalah selalu disalahkan, yang menang selalu dianggap benar.
Pilkada itu soal memilih hijau atau merah. Kalau seleramu hijau pilih yang hijau. Simpel banget. Setelah itu boleh berharap pada janji-janji gubernur terpilih saat kampanye dulu, tapi jangan terlalu yakin. Karena janji-janji kampanye itu kebanyakan hoax!
Wis ah, ada yang lebih penting daripada membahas Pilkada. Utangmu ndang disahurrr!
Zuukk mariiiii...
(c) Robbi Gandamana, 21 April 2017
Selasa, 18 April 2017
Disneyland Boyolali : Antara Hoax dan Neko-neko
Banyak netizen kecewa, berita soal proyek pembangunan Disneyland di Boyolali ternyata hoax! Padahal pihak istana sudah sumringah, menanggapi positif rencana itu. Tapi mereka langsung tengsin saat tahu pernyataan dari Walt Disney : "Kami tidak memiliki rencana untuk membuka Disneyland di Indonesia saat ini." Jrenggg..
Wis talah nggak usah neko-neko bikin Disneyland, cukup Dermolen ae wis apik. Kita tahu selama ini Boyolali dikenal sebagai sentra susu sapi yang lumayan buat perbaikan gizi. Jadi, nggak cocok kalau Disneyland, lebih tepatnya Susuland.
Sekelas petinggi negara pun termakan hoax, apalagi kita-kita yang ndlahom ini. Pigimana nggak percaya, lha wong yang ngeshare berita tersebut media nasional yang lumayan terpercaya.
Sebenarnya nggak benar-benar hoax, cuman ada sedikit kesalahpahaman. Yang akan dibangun itu wahana seperti Disneyland, bukan Disneyland. Jadi wajar kalau Walt Disney membantah membuka Disneyland di Boyolali. Walaupun Walt Disney diikutsertakan (21-23%) di proyek itu.
Saya sendiri nggak terlalu yakin, Boyolali dijadikan lokasi Disneyland? Ciyussss? Enelan? Menurutku Boyolali nggak marketable dijadikan lokasi mega wisata seperti itu. Bisa-bisa malah ngerusak imej atau nama besar Walt Disney. Mungkin itu alasan kenapa namanya nanti bukan Disneyland. Itu strategi untuk menyelamatkan muka jika proyeknya gagal.
Sori, saya nggak meremehkan Boyolali, tapi kok rasanya fals di kuping, Disneyland Boyolali. Kecuali kalau namanya diinggriskan, Disneyland Crocodile Forget. (Boyolali = buaya lupa)
Sebenarnya nggak perlu-perlu amat mbangun Disneyland di Indonesia. Kok ya mau diakali orang Amrik. Di Indonesia, wahana seperti Disneyland itu konsumsinya manusia gengsi. Artinya rekreasi ke Disneyland itu lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gengsi daripada kebutuhan hati. Seperti kebanyakan pengunjung di makanan cepat saji impor itu. Sukanya kok memuja impor.
Negeri kita itu kaya destinasi wisata dan orang kita juga buanyak yang mampu bikin wahana wisata seperti Disneyland, cuman hanya ada sedikit investor yang pede dan juga karena birokrasinya yang super rumit.
Sekarang, nggak masalah apakah Disneyland jadi dibangun apa tidak. Yang masalah sekarang adalah begitu mudahnya berita hoax terhembuskan. Mungkin karena diberitakan oleh media yang kredibel. Hanya karena kesalahan pengucapan satu dua kata, arti dan maknanya bisa lain. Kasihan Bupati Boyolali yang akhirnya dituduh menyebar hoax. Cacingannn dehh loee.
Di zaman sekarang, orang yang paling 'aman' adalah orang yang buta huruf dan budek, atau wong ndeso sing gak eruh opo-opo. Pikiran mereka freshhh. Dengan kebutaan dan kebudekannya itu pikiran mereka tidak terkontaminasi oleh berita-berita ngawur yang beredar di dumay.
---Konon orang budek itu umurnya panjang lho. Kok bisa gitu??? Karena tiap kali dipanggil Tuhan, dia nggak dengar. Towengwengwengwengwengggggg---
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini adalah media yang paling kredibel pun tidak bisa dijamin validitas beritanya. Jadi jangan gampang menganggap berita itu valid karena diberitakan oleh media yang kredibel, walaupun nara sumbernya juga orang penting.
Ini pelajaran buat mereka yang suka ngrasani pemerintah. Jangan ngrasani pemerintah kalau sumbernya dari berita-berita di internet. Berita-berita yang ada di dumay itu adalah berita yang dibuat oleh pembuat berita. Mereka dibayar untuk membuat berita. Berita dengan membuat berita itu beda.
Pembuat berita itu beritanya tidak otentik, karena sudah dipoles dan dibumbui dengan bahasa yang 'wah'. Apalagi berita politik. Berita politik yang ada adalah versi kebencian dari kubu A atau B. Jelas tidak ada kemurnian di berita-berita tersebut.
Internet itu tempat ngumpul para bajingan sedunia. Dengan memakai akun palsu mereka bisa lempar apa saja ke dumay tanpa rasa berdosa, malu dan takut. Dan gerombolan ndlahomer seperti saya ini langsung mengkonsumsinya mentah-mentah. Setelah itu digoreng lagi dijadikan tulisan baru. Kalau ada istilah junk food, maka yang ini disebut junk note.
Jadi waspadalah pada berita apa pun, jangan gampang percaya. Tabayyun jelas sulit, karena kita nggak bisa menjangkau sumbernya sampai ke ring satu. Latih saja sensormu. Bagaimana caranya? aku gak eruh.
Kalau anda punya jam terbang tinggi dalam hal membaca berita, anda akan bisa memilah dengan sendirinya, mana berita yang bagus dan mana yang mbladus. Seperti pengendara motor yang lama di jalan raya, dia akan paham pengendara motor di depannya akan belok kanan atau kiri walau tanpa menyalakan lampu sein, hanya dengan melihat gelagatnya.
Wis ah, jangan percaya begitu saja tulisan ini, bisa jadi ini hoax!
(c) Robbi Gandamana, 18 April 2017
Rabu, 12 April 2017
Antara Tas Mewah, Ikan Asin dan Air Keras
Kadang aku penasaran dengan isi tas Jessica Iskandar atau Ayu Ting Ting yang harganya bisa buat mbangun rumah itu. Jangan-jangan sama kayak cewek-cewek buruh pabrik itu, tasnya merk terkenal (KW) tapi isinya cuman kotak makan bekal makan siang, isinya sayur bayem dan ikan asin. Ngirit yang dibungkus kemewahan.
Tentu saja, tidak ada larangan untuk membeli tas mewah. Aku guduk bapake rek. Mungkin bagi para Selebritis itu, tas tadi bukan barang yang lux, dia bisa beli tiap hari. Bagi dia, beli tas mahal itu kayak minum air putih, biasa saja tanpa beban.
Kadang fungsi tas wanita memang tidak hanya untuk menyimpan barang, tapi lebih pada untuk aksesoris, hiasan. Tak ubahnya dengan kalung atau cincin. Jadi, nggak heran kalau ada wanita yang menenteng tas kemana-mana tapi tak ada isinya (biasanya saat resepsi). Seandainya diisi Kunci Inggris pun kita mau apa, wong tasnya dia sendiri, sakarepe.
Tapi wajar kalau wanita suka kemewahan. Mereka adalah makhluk yang paling mewah, sekaligus pinter ngirit. Pria juga suka kemewahan walau nggak 'separah' wanita. Sengaja atau tak sengaja, pria kadang tampil 'mewah', misal berpakaian necis dan berambut klimis. Ketika kenalan dengan cewek, dia ditanya, "Mas kerja di Kilang Minyak ya? Rambutnya klimis banget..."
Mewah tidak selalu identik dengan barang atau apa pun yang mahal. Makan mie instan pun bisa jadi sebuah kemewahan. Jika kita di tengah malam, perut lapar, yang ada hanya mie instan, itu adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Mie instan tadi seolah-olah jadi kayak the last food on earth.
Atau pada saat kumpul-kumpul sama teman, suguhannya cuman gorengan dan kopi. Itu sudah termasuk kemewahan yang paripurna. Jadi, dalam kesederhanaan pun ada kemewahan. Bahkan kemewahan sejati itu sebenarnya sederhana.
Buanyak orang yang begitu rakus mengejar materi. Itu karena mereka menganggap kenikmatan yang nomer satu itu adalah materi . Materi memang memberi kenikmatan, tapi sesungguhnya bukan itu yang nomer satu. Yang paling primer adalah kemampuanmu menikmati (indahnya, mewahnya) apa saja yang diberikan Tuhan padamu.
Jadi, jika ada orang yang penghasilannya sudah besar tapi tetap saja korupsi , itu karena mereka pikir kenikmatan yang primer itu adalah materi. Sampai tega membunuh demi mbelani uang korupsi. Bisa jadi orang yang menyiram air keras di wajah penyidik KPK, Novel Baswedan, itu masih ada hubungan dengan kasus koruspsi E-KTP yang diusutnya.
Terjadi dialoq antara Polisi dengan pelaku penyiram air keras, sebut saja Paimo. .
Polisi : "Mengapa kamu menyiram Novel dengan air keras!?"
Paimo : "Saya benci Novel pak....saya lebih suka Cerpen."
Polisi : "Ojo gojek kowe le!!"
Paimo : "Saya bukan Gojek pak, saya Uber Taxi..."
Polisi : "Bajingan weduzzz!!"
(Gojek = guyon = bercanda ; bahasa Jawa).
Polisi : "Mengapa kamu menyiram Novel dengan air keras!?"
Paimo : "Saya benci Novel pak....saya lebih suka Cerpen."
Polisi : "Ojo gojek kowe le!!"
Paimo : "Saya bukan Gojek pak, saya Uber Taxi..."
Polisi : "Bajingan weduzzz!!"
(Gojek = guyon = bercanda ; bahasa Jawa).
Tentu saja dialoq di atas cuma Simulasi. Guyon rek.
Bicara soal mewah, Indonesia adalah bangsa yang bisa hidup mewah dalam kemiskinan, keterbatasan dan keterpurukannya. Ampas tahu yang seharusnya jadi makanan hewan, disulap menjadi makanan gaul : tempe Gembus, Sate Kere. Kalau di Malang namanya Menjes atau Tempe Levi's (teksturnya mirip celana Jeans).
Mewah atau tidak, itu juga tergantung dari sikap manusianya. Jika kamu sedang makan nasi lauknya ikan asin jangan membayangkan Pizza Hut. Sudah ikan asinnya jadi nggak enak, Pizza Hut-nya cuman angan. Nikmati saja ikan asin seperti tidak ada makanan lain selain itu, itu yang membuatnya nikmat. Setelah itu boleh berangan-angan makan Pizza.
Jadi, jangan percaya kalau materi berlimpah nan mewah itu pasti membuat manusia bahagia. Maka yang benar itu bercita-citalah jadi orang bahagia, bukan bercita-cita jadi orang kaya. Sugih tapi pegatan, rumah tangga kacau, yo podo ae. Ingat falsafah Jawa, Nrimo ing pandum (ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan) bukan Nrimo ing branded.
Oalaa, embuh wis....adza adza ajza dwech ach.
(c) Robbi Gandamana, 13 April 2017
Bangsa Yang Paling Bahagia
Sepertinya PBB kurang kerjaan, bahagia kok dikompetisikan. Tahun ini PBB merilis daftar negara paling bahagia di dunia. Norwegia menempati urutan pertama, selanjutnya Denmark, Islandia, Swiss, dan seterusnya. Indonesia sendiri menempati urutan 81.
Aku gak ngurus dan nggak percaya dengan daftar peringkat semacam itu. Itu semua dibuat oleh kaum materialis. Yang selalu menilai sesuatunya dari segi materi, bahwa orang yang pendapatannya rendah, miskin, itu nggak bahagia. Dan tentu saja penilaiannya pasti subyektif.
Bangsa Indonesia itu punya keistimewaan lain dibanding bangsa-bangsa cengeng itu, yang kesejahteraan hidupnya dijamin negara. Bangsa kita punya teknologi jiwa yang dahsyat. Punya ketangguhan luar biasa karena kesejahteraan nggak dijamin oleh negara. Negara isinya cuman ngrepoti rakyatnya.
Jadi kebahagiaan bangsa Indonesia tidak bisa diukur pakai parameter pendapatannya, tata kelola pemerintah, bla bla bla bla bullshit!
Bagi saya bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling bahagia. Persetan opini kalian!
Oke, mereka akan sedih, marah ketika harga bensin, tarif listrik naik, tapi seminggu dua minggu setelah itu mereka akan lupa. Menjalani hidup seperti biasanya, seperti tidak ada kenaikan, cengengesan tanpa beban. Tetap akan berburu kuliner, beli gadget yang paling canggih, jalan-jalan naik pesawat dan seterusnya.
Mereka punya daya adaptasi yang tinggi. Oleh rakyat Indonesia, semua problema dan tekanan hidup itu akan disulap menjadi ilmu, disulap menjadi hikmah, disulap menjadi revolusi diri, disulap menjadi optimisme melangkah ke depan. Mereka bisa tertawa dengan segala keterbatasan dan penindasan.
Orang Papua yang hidup di Lembah Baliem, mangane telo, bisa sangat bahagia kok. Bahkan mendengar suara klakson Bis Sumber Selamet saja bisa membuat bangsa ini bahagia (om telolet om).
Jadi, kebahagiaan sebuah negara tidak bisa diukur dari maju atau tidaknya sebuah negara.
Jangan dipikir kalau tukang becak, tukang angkut, kuli bangunan dan bahkan pengemis itu tidak bahagia. Mereka bisa sangat bahagia. Walau sepi penumpang, para tukang becak ini tetap ketawa ketiwi main gaple di pojokan.
Pengemis pun kalau di rumah wajahnya tidak semelas saat meminta uang di jalanan. Memelas itu akting, mereka sengaja berkarir jadi pengemis. Walau ada juga yang terpaksa jadi pengemis karena memang hanya itu yang bisa dilakukan (cacat misalnya).
Angka bunuh diri di Indonesia itu lebih rendah dibanding negara lain seperti Korea, Jepang, Tiongkok dan negara maju lainnya. Di sini yang kebanyakan bunuh diri adalah 'kaum sinetron', kelas menengah ke atas. Mereka yang sukses disusupi paham-paham dari Barat, materialis, hedonis, dan seterusnya.
Kalau rakyat jelata tidak seperti itu. Sukses atau tidak sukses itu bukan parameter sebuah kebahagiaan. Selama bisa bergaul, punya gadget canggih, selalu update berita, itu sudah sangat membahagiakan mereka. Minimal urip dan nggak ngisruh ngono ae wis apik.
Kebanyakan rakyat kita itu kreatif, bisa jadi apa saja, kerja apa pun no problem, asal halal. Hanya bawa sulak membersihkan kaca mobil di lampu merah, mereka bisa hidup. Mereka jenis manusia 'fighter', tidak menggantungkan hidupnya pada negara. Seandainya negaranya hancur lebur mereka tetap bisa cengar cengir, piss man!
Di negeri ini, sangat nyaman jadi manusia, karena aturan hidup bermasyarakat tidak setertib di negara-negara lain. Lihat saja orang bisa dengan santainya menutup jalan umum saat mengadakan pernikahan anaknya (kepentingan individu di atas kepentingan umum). Tapi sebagai warga negara, kita banyak nggak nyamannya. Ngurus apa saja ruwet, banyak pungli. Birokrat dan aparatnya banyak yang korup. Tak ada uang ke laut aja.
Kita adalah bangsa yang terbiasa menderita. Bahkan bagi rakyat Indonesia penderitaan itu adalah prestasi. Penderitaan bagi mereka adalah sarana untuk meneguhkan diri, lelaku prihatin. Nenek moyang kita adalah bangsa lelaku. Puasa mutih, puasa senin kemis, puasa ngebleng (nggak makan 3 hari 3 malam) itu adalah rutinitas yang biasa dijalani.
Rakyat kita punya standar dasar filosofi hidup yang di negara maju hanya dimiliki oleh kaum terpelajar lulusan kampus. Jadi walaupun tidak sekolah tinggi, rakyat kita filosofi hidupnya matang, punya kearifan, kesabaran dan keteguhan. Di Jawa ada filosofi dasar kehidupan seperti 'jer basuki mawa bea', 'ngunduh wohing pakarti', dan seterusnya.
Kalau krisis ekonomi melanda, mereka bisa sangat survive. Bahkan mereka tidak mengenal krisis, krisis itu cuman itung-itungan di atas kertas yang dibesar-besaran oleh media.
Jadi, persetan dengan penilaian PBB, Amrik dan anteknya soal kebahagiaan. Kita punya cara yang berbeda dalam menyikapi hidup. Bahagia itu ada di dalam hati, nggak bisa diukur dari apa yang tampak di fisik luar manusia. Dan bahagia itu sebenarnya soal yang sangat sederhana, kuncinya cuma bersyukur dan sabar. Syuperrr sekaliiii.
(c) Robbi Gandamana, 27 Maret 2017
Pilkada is My Ass!
Bangsa ini belum bisa dewasa. Gampang sekali diprovokasi dan diadudomba. Kupikir setelah Pilpres selesai rakyat Indonesia akan kembali rukun, eh ternyata malah tambah ruwet.
Bangsa Indonesia saat ini kayak rumput kering yang gampang terbakar. Ada api di mata mereka. Fanatisme buta lah yang membuat mereka sangat sensitif, gampang ngamuk, raine burek.
Begitu gampangnya menyimpulkan sesuatu. Ketika melihat foto cewek menunjukan tanda 2 jari, langsung dicap Ahoker, karena identik dengan Ahok. Padahal itu tanda 'piss', cinta damai. Foto itu dibuat jauh sebelum Pilkada DKI dan orang yang difoto tadi bukan warga DKI.
Dendam simpatisan yang jagoannya kalah dalam Pilpres tahun lalu, rupanya berlanjut ke Pilkada DKI. Salah satunya karena ada Cagub yang non muslim plus keturunan China.
Gara-gara Pilkada DKI, terbukalah lebar kedok atau sifat asli teman kita di Medsos. Foto profil yang kelihatan kalem, alim, berjilbab, ternyata cangkemnya bosok total. Kita jadi tahu mana muslim yang asyik (toleran, luas hati dan pikirannya) dan mana yang kolot, yang dikit-dikit ngasih label kafir, munafik, laknatulloh.
Banyak sekali orang yang saya kenal itu baik, anteng, introvert, jadi berbalik 180 derajat temperamennya saat membela Cagub pilihannya . Dengan mengutip ayat suci, mereka dengan keras menyerukan siapa Cagub yang wajib dan haram untuk dipilih. Padahal Pilgub nggak ada hubungannya dengan agama. Ibarat bengkel yang butuh seorang mekanik handal, bukan imam agama yang pinter ngaji.
Juga banyak dari kita yang terjebak jadi Rasis dan Fasis. Ada upaya untuk memilah-milah, memisahkan mana pribumi dan mana yang China (keturunan). Seperti yang terjadi di aksi 313 kemarin (31 Maret 2017), penempelan stiker 'pribumi' di mobil-mobil. Mereka begitu takut (paranoid) negeri ini dikuasai oleh China. Seperti bangsa Jerman terhadap ras Yahudi.
Seorang muslim yang tidak menerima perbedaan, sebenarnya gagal sebagai muslim. Karena muslim itu bisa menerima semua (perbedaan) manusia, tidak perduli apa pun ras, suku dan agamanya. Karena perbedaaan itu rahmat.
Efek Pilkada DKI ini benar-benar dahsyat. Gara-gara kaum yang suka mengkafirkan orang itu, anak-anak kecil yang masih ingusan pun ikut-ikutan teriak "kafir!" pada temannya yang non muslim. Bahkan mengganggap non muslim itu halal darahnya alias boleh dibunuh.
Siapa pun yang membela Ahok pasti langsung dapat label kafir. Tidak terkecuali Djarot, Wagub DKI pasangan Ahok, saat mengikuti haul Soeharto dicemooh dengan kata-kata kotor dan diteriaki "kafir!" oleh mereka yang ngakunya muslim. Padahal saat itu sedang di dalam Masjid, rumah Tuhan.
FYI, muslim adalah orang yang menyelamatkan, menentramkan sesama manusia. Jadi kalau masih suka menyakiti hati manusia, mereka gagal jadi seorang muslim.
Jadi, tidak salah ketika GP Ansor menghentikan paksa ceramah Ustadz Khalid Basalamah beberapa waktu lalu. Karena ucapannya menyinggung, menyakiti perasaan umat NU. Penghentian itu nggak ada hubungannya dengan sentimen Wahabi. Siapapun yang menyakiti hati manusia pasti dapat masalah.
Akibat kejadian tersebut, GP Ansor disindir dengan lagu lama : "Sama umat Islam sendiri memusuhi tapi sama non muslim malah mesra. Ustadz yang jelas muslim diusir, tapi gereja yang jelas milik non muslim dijaga (saat Natal) ". Padahal GP Ansor menjaga gereja itu dalam rangka menerapkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi sekalian alam.
Itu semua terjadi karena kesempitan hati dan pikiran. Mengkritisi pun diartikan menghina. Mengkritisi Ulama diartikan memusuhi Ulama, memusuhi Islam atau Anti Islam. Ketika seorang Ulama ditangkap karena melanggar hukum yang berlaku, langsung dituduh kriminalisasi Ulama. Nggolek menange dewe.
Saya tidak anti Pilkada, tapi saya tidak suka perpecahan. Buat apa mbahas Pilkada kalau menimbulkan permusuhan, perpecahan antar saudara sebangsa. Pilkada itu harusnya pesta demokrasi bukan ajang 'perang' agama, sekte atau madzhab antar simpatisan Cagub atau partai politik yang bertikai. Mencari pemimpin bukan pemenang. Yang tidak terpilih bukan berarti kalah.
Demokrasi di negeri ini memang sudah nggak beres sejak dari awalnya. Politik yang ada sekarang menyimpang jauh dari Azas Musyawarah Mufakat : mencari kebenaran bersama. Mencari yang paling benar bukan mencari siapa yang menang.
Pilgub atau Pilpres sekarang ini adalah mencari siapa yang menang, yang kalah tersisihkan dan tidak punya tempat untuk beraspirasi. Padahal dalam konsep musyawarah, semua pihak bergandengan berjalan bersama untuk menjalankan hasil musyawarah tadi dan mewujudkannya dalam kehidupan bernegara.
Asas Pemilu (Luber : langsung, umum, bebas, rahasia) itu juga konyol. 'Rahasia' tidak bisa disandingkan dengan 'bebas'. Bebas kok rahasia, kalau rahasia ya nggak bebas. Ya'opo se rek.
Negara ini dibangun oleh sistem konyol semacam itu. Ketidakbenaran yang dilakukan terus menerus dan massif akan membuat kapal (negara) akan oleng. Jika sudah oleng, maka melakukan apa pun jadi sulit presisi dan akurat.
Apa yang terjadi sekarang adalah akumulasi dari kekonyolan-kekonyolan sejak negara ini berdiri. Nggak heran kalau tiap Pilpres atau Pilkada selalu gegeran, perang berdarah-darah di medsos. Apalagi bangsa ini adalah bangsa perumpi. Ngerumpi tapi tidak punya keluasan hati dan pikiran. Asal njeplak tapi nggak paham ilmunya. Sumbunya pendek pula, bahkan ada yang nggak punya sumbu. Disenggol langsung mbledozzzz.
Jadi sekarang, jika nulis soal Pilkada, pikirkan diksi dan bahasanya. Gak usah pakai istilah yang menyakitkan, merendahkan. Misuh gak popo asal gak misuhi uwong. Kalau tulisan menimbulkan kebencian, permusuhan dan perpecahan, lebih baik nggak usah nulis atau nyebar tulisan soal Pilkada.
Jika masih ada yang nyangkem soal Pilkada dengan kata yang 'njancuki', lebih baik skip saja. Anggap itu wong gendeng lagi kumat. Jadikan mereka sumber kegembiraanmu. Mereka sedang ngelawak dan kita lah penontonnya. Atau kalau bisa jauhi soal Pilkada sekalian. Pilkada is my ass!
Nggak perlu diblokir atau unfriend. Karena bisa jadi suatu hari nanti kamu butuh mereka. Siapa tahu kamu terperosok di lembah MLM dan butuh teman banyak untuk diprospek, dijadikan downline. Atau kamu terpaksa jualan Cilok online yang membutuhkan banyak pembeli. Ingat, semakin banyak teman semakin banyak rejeki .
Pokoknya jangan pernah tersiksa oleh keributan Pilkada. Kalau nggak paham dan atau ilmunya cekak, lebih baik nggak usah ikutan nimbrung soal Pilkada. Buanyak urusan yang lebih puenting daripada ngurusi Pilkada. Jangan sampai kehidupanmu dirusak oleh omong kosong soal Pilkada. Wis ah, Saiki tulung inggirno becakmu disik, aku kate liwat.
(c) Robbi Gandamana, 3 April 2017
Langganan:
Postingan (Atom)







