Kamis, 27 April 2017

Kiriman Bunga Buat Ahok Memang Aneh dan Tidak Wajar

Adanya kiriman karangan bunga, surat terbuka, surat cinta, dan petisi yang menginginkan Ahok jadi gubernur di daerah lain, menunjukan bahwa Ahok memang istimewa pakai telor. Nggak salah kalau dia dianggap sebagai aset bangsa.
Jadi, selamat buat Ahok yang telah memenangkan hati para pendukungnya di seluruh negeri. Selamat bagi mereka yang masih menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, toleransi dan akal sehat. Bukan mereka yang berpikiran sempit yang memilih Gubernur, Lurah, RW, RT atau pemimpin lainnya harus muslim. Kalau nggak milih pemimpin muslim otomatis jadi munafik, kafir, laknatulloh!
Di atas kertas Ahok mungkin keok, tapi fakta membuktikan bahwa dia lah yang paling berhasil membenahi Jakarta dibandingkan dengan para Gubernur sebelumnya. Jika sekarang dia tidak terpilih, itu bukan karena Ahok kalah hebat dengan Anies, tapi karena dia Cina dan non Muslim. Itu 2 hal yang dimainkan oleh rival Ahok dengan baik dan salah.
Isu sesat yang dihembuskan terus menerus dan massif, lama-lama akan jadi kebenaran. Orang jadi percaya dengan isu itu. Cuci otak yang paling ampuh adalah agama. Jadi hati-hati dengan politikus yang berkampanye menggunakan ayat-ayat suci, ngajak Tuhan kampanye. Maka nggak salah kalau Jokowi bilang agar soal agama dan politik dipisahkan.
Dalam sejarah Jakarta, baru di era Ahok lah Tanah Abang (dan daerah 'angker' lainnya) bisa ditertibkan. Sebelum dipimpin Ahok, Tanah Abang hampir tak tersentuh. Gubernur lama yang terkenal paling tegas pun mlempem jika diminta menertibkan Tanah Abang. Jangankan melakukan, mimpi saja nggak berani.
Jadi, jika sekarang ada yang menginginkan Ahok jadi gubernur Bali, Sumut atau daerah lain, itu wajar. Ahok pasti siap memenuhi panggilan itu. Itu kalau Ahok berpolitik niatnya mengabdikan diri untuk bangsa, bukan karena mengejar karier semata. Nggak cuman ngincer Jakarta doang, karena Jakarta adalah jalan tol menuju tahta Presiden.
Tapi jabatan yang paling efektif bagi Ahok itu Mendagri atau Ketua KPK (kayaknya nggak mungkin). Posisi tersebut sangat pas dengan karakter Ahok : keras, tegas dan tidak bisa dibeli. Di samping wilayah kerjanya seluruh Indonesia. Dan yang jelas kariernya semakin cemerlang.
Bicara soal karier, pejabat atau pemimpin rakyat sebaiknya tidak mengincar jabatan untuk tujuan karier doang. Jika berkarier di Partai politik itu karena butuh alat untuk menuju jabatan (kekuasaan). Kalau sudah jadi Gubernur, harusnya tidak punya jabatan apa pun di partai, agar lebih fokus mengabdi pada rakyat. Jangan kayak SBY dulu, sudah jadi Presiden tapi masih jadi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.
Jadi politik itu cuman alat, tujuannya kekuasaan. Setelah berhasil menduduki jabatan pemerintah, integritasnya harusnya pada rakyat, bukan pada partai lagi.
Pemimpin rakyat yang baik itu di dalam dirinya penuh kepentingan rakyat dan Tuhan. Kepentingan dirinya hampir tidak ada. Dia tidak akan menyakiti rakyatnya karena Tuhannya akan marah dan tidak akan khianat pada Tuhan karena rakyatnya bisa sengsara.
Hakikatnya, pemimpin rakyat adalah pelayan rakyat, mereka dibayar rakyat untuk ngurusi negara. Jadi, rakyat itu juragannya. Kalau ada iring-iringan rombongan Presiden lewat, jangan mau minggir. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau saya yang nyuruh yaaa.
Di Indonesia, pada umumnya jabatan DPR, Walikota, Gubernur, Presiden atau lainnya, itu sebuah pencapaian karier. Bukan niat total pengabdian pada rakyat. Dengan menjadi pejabat negara, mereka berharap dapat keuntungan finansial, nggak cuma dapat akses kekuasaan. Pikirannya cuman bagaimana caranya setelah nggak jadi pejabat dapat laba sebesar-besarnya.
Nggak salah jika Gus Mus pernah bilang, orang yang mencalonkan diri jadi pemimpin daerah atau negara Indonesia harusnya kaya raya dulu. Kalau sudah kaya raya, nggak ngiler lagi dengan uang. Walaupun itu tidak menjamin orang untuk tidak korupsi, tapi minimal meminimalisir korupsi.
Jika soal pengabdian dan karier ini dihubungkan dengan Ahok, menurutmu Ahok jadi Gubernur itu dalam rangka pengabdian atau karier? Jawabannya mudah sekali, tergantung anda Ahoker atau Hater. Saya sendiri nggak perduli, itu urusan Ahok dengan hidupnya, selama doi bisa memenuhi janjinya saat kampanye, itu sudah bagus.
Zaman sekarang pejabat yang baik dan buruk itu abu-abu, nggak jelas. Kelihatannya baik ternyata cuman pencitraan, dalam rangka memprospek dirinya agar tetap memilih dia di Pemilu berikutnya.
Jadi kalau ada pejabat yang membangun jalan, jembatan, masjid pakai dana pribadi, itu jangan cepat diartikan dia adalah orang baik. Kita lihat niatnya dulu, lha wong dia membangun sarana tadi dalam rangka menyuap (membeli suara) warga kok. Dan saya percaya Ahok tidak seperti itu (semoga).
Ahok adalah Gubernur paling istimewa jika dibandingkan gubernur-gubernur sebelumnya. Nggak salah kalau banyak kalangan yang merasa kehilangan saat Ahok tidak terpilih lagi. Seribu karangan bunga simpati pun membanjiri balai kota.
Kalau ada yang menganggap kiriman bunga tadi settingan, itu pasti Hater. Kiriman bunga jelas wajar, yang tidak wajar adalah yang mempersoalkannya. Kiriman bunga buat Ahok memang aneh dan tidak wajar, karena belum pernah terjadi di era gubernur sebelumnya.
That's all.
(c) Robbi Gandamana, 27 April 2017

Jumat, 21 April 2017

Nggak Gampang Legowo Itu Bagus


Istilah 'kalah' dan 'menang' dalam Pilkada, Pilpres dan Pil yang lain, sebenarnya nggak asyik. Pilkada bukan balap karung. Asyiknya istilah yang dipakai adalah 'terpilih' dan 'tidak terpilih'. Kita saudara sebangsa. Mencari yang terbaik bukan siapa yang menang. Dan yang terpilih bukan berarti terbaik, kita lihat dulu hasil kerjanya lima tahun ke depan. Sesuai dengan janjinya nggak. So, mari kita kawal program rumah DP 0%.
Nggak ada orang yang senang dicap kalah, apalagi dibilang pecundang atau loser. Kata-kata seperti itulah yang merusak persahabatan. Pelacur pun marah kalau dibilang lonte. Jadi mari kita sama-sama jaga cangkem.
Kalau Ahok legowo karena tidak terpilih, itu biasa. Tapi kalau pendukungnya langsung legowo atas tidak terpilihnya Ahok, itu baru janggal. Pendukung yang sekarang belum bisa legowo, kecewa atau sedih..itu bagus! Itu menunjukan kalau mereka memilih Ahok dengan sepenuh hati. Seperti kesedihan seorang jomblo yang gagal kawin. Kesedihan itu akan mengendap berhari-hari lamanya di kepala.
Jadi silakan saja kecewa, sedih, marah! satu sampai tiga hari ini. Asal tidak anarkis dan memancing keributan. Menjeritlah, jika itu dianggap penyelesaian : "Jiancokkkk kalahhhh..!"
Buat yang jagoannya terpilih nggak usah nggaya, biasa ae Bude. Jangan menuding-nuding orang lain dengan sebutan pecundang, loser. Pecundang itu orang yang banyak kehilangan teman, sahabat, saudara, pacar, selingkuhan, istri,..akibat terlalu fanatik membela jagoan neon. Pilkada kok diambil hati. Karena ulah si Didik, rusaklah susu si Julaikah.
Akibat tidak bisa menempatkan cangkem dalam menyikapi Pilkada, para sahabat yang dulu suka ngobrol atau ngumpul membahas suatu hobi yang sama : musik, seni, film, badokan,..jadi berkurang drastissss tiss tissss. Awalnya Pilpres, lalu disempurnakan oleh Pilkada. Burek sudah persahabatan kita, seburek tungkak yang full rangen.
Medsos itu bagus untuk sarana komunikasi, memudahkan silaturahmi, tapi nggak bagus untuk pembangunan mental diri. Medsos sangat membuka peluang untuk melampiaskan diri. Padahal fungsi agama itu mengendalikan, bukan melampiaskan. Maka berhati-hatilah pada apa pun yang membuat kita melampiaskan diri dengan mudah.
Di medsos,wajah nggak berhadapan langsung, jadi nggak sungkan kalau nyetatus mewek, mengasihani diri atau ngamuk-ngamuk nggak jelas. Saya herman baca status fesbuk semacam itu. Apes kok dipamerkan, punya mental karak kok bangga. Sudah kwalitasnya KW, mudah mlempem pula.
Hermannya, status-status 'sakit' tadi nggak selalu ditulis oleh abege, tapi juga para babe yang sudah mulai keriput, rambut sudah beruban krowak di sana sini (mbrodol, salah shampo). Mereka dengan suka rela, ikhlas lilahitaala jadi buzzer mengkampayekan jagoannya. Baguslah kalau mereka dikasih gelar Pahlawan Tanpa Tanda Terima.
Kekacauan Pilkada ini pelajaran untuk menyongsong Pilpres 2019 nanti. Apakah kalian nanti jadi lebih dewasa atau tambah babak belur? monggo terserah. Saya dari dulu nggak pernah tertarik eyel-eyelan membela Capres tertentu, jika sudah saling ejek dan bully paling aku cuman tepuk tangan. Hiburan gratis.
Sekarang bagi yang jagoannya gagal terpilih, tenangno pikirmu, gagal itu bukan aib. Gagal terpilih bukan berarti kalah. Istilah 'kalah' dan 'menang' pada saat Pilkada itu berpotensi merusak kerukunan umat, apalagi yang kalah selalu disalahkan, yang menang selalu dianggap benar.
Pilkada itu soal memilih hijau atau merah. Kalau seleramu hijau pilih yang hijau. Simpel banget. Setelah itu boleh berharap pada janji-janji gubernur terpilih saat kampanye dulu, tapi jangan terlalu yakin. Karena janji-janji kampanye itu kebanyakan hoax!
Wis ah, ada yang lebih penting daripada membahas Pilkada. Utangmu ndang disahurrr!
Zuukk mariiiii...
(c) Robbi Gandamana, 21 April 2017

Selasa, 18 April 2017

Disneyland Boyolali : Antara Hoax dan Neko-neko



Banyak netizen kecewa, berita soal proyek pembangunan Disneyland di Boyolali ternyata hoax! Padahal pihak istana sudah sumringah, menanggapi positif rencana itu. Tapi mereka langsung tengsin saat tahu pernyataan dari Walt Disney : "Kami tidak memiliki rencana untuk membuka Disneyland di Indonesia saat ini." Jrenggg..
Wis talah nggak usah neko-neko bikin Disneyland, cukup Dermolen ae wis apik. Kita tahu selama ini Boyolali dikenal sebagai sentra susu sapi yang lumayan buat perbaikan gizi. Jadi, nggak cocok kalau Disneyland, lebih tepatnya Susuland.
Sekelas petinggi negara pun termakan hoax, apalagi kita-kita yang ndlahom ini. Pigimana nggak percaya, lha wong yang ngeshare berita tersebut media nasional yang lumayan terpercaya.
Sebenarnya nggak benar-benar hoax, cuman ada sedikit kesalahpahaman. Yang akan dibangun itu wahana seperti Disneyland, bukan Disneyland. Jadi wajar kalau Walt Disney membantah membuka Disneyland di Boyolali. Walaupun Walt Disney diikutsertakan (21-23%) di proyek itu.
Saya sendiri nggak terlalu yakin, Boyolali dijadikan lokasi Disneyland? Ciyussss? Enelan? Menurutku Boyolali nggak marketable dijadikan lokasi mega wisata seperti itu. Bisa-bisa malah ngerusak imej atau nama besar Walt Disney. Mungkin itu alasan kenapa namanya nanti bukan Disneyland. Itu strategi untuk menyelamatkan muka jika proyeknya gagal.
Sori, saya nggak meremehkan Boyolali, tapi kok rasanya fals di kuping, Disneyland Boyolali. Kecuali kalau namanya diinggriskan, Disneyland Crocodile Forget. (Boyolali = buaya lupa)
Sebenarnya nggak perlu-perlu amat mbangun Disneyland di Indonesia. Kok ya mau diakali orang Amrik. Di Indonesia, wahana seperti Disneyland itu konsumsinya manusia gengsi. Artinya rekreasi ke Disneyland itu lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan gengsi daripada kebutuhan hati. Seperti kebanyakan pengunjung di makanan cepat saji impor itu. Sukanya kok memuja impor.
Negeri kita itu kaya destinasi wisata dan orang kita juga buanyak yang mampu bikin wahana wisata seperti Disneyland, cuman hanya ada sedikit investor yang pede dan juga karena birokrasinya yang super rumit.
Sekarang, nggak masalah apakah Disneyland jadi dibangun apa tidak. Yang masalah sekarang adalah begitu mudahnya berita hoax terhembuskan. Mungkin karena diberitakan oleh media yang kredibel. Hanya karena kesalahan pengucapan satu dua kata, arti dan maknanya bisa lain. Kasihan Bupati Boyolali yang akhirnya dituduh menyebar hoax. Cacingannn dehh loee.
Di zaman sekarang, orang yang paling 'aman' adalah orang yang buta huruf dan budek, atau wong ndeso sing gak eruh opo-opo. Pikiran mereka freshhh. Dengan kebutaan dan kebudekannya itu pikiran mereka tidak terkontaminasi oleh berita-berita ngawur yang beredar di dumay.
---Konon orang budek itu umurnya panjang lho. Kok bisa gitu??? Karena tiap kali dipanggil Tuhan, dia nggak dengar. Towengwengwengwengwengggggg---
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini adalah media yang paling kredibel pun tidak bisa dijamin validitas beritanya. Jadi jangan gampang menganggap berita itu valid karena diberitakan oleh media yang kredibel, walaupun nara sumbernya juga orang penting.
Ini pelajaran buat mereka yang suka ngrasani pemerintah. Jangan ngrasani pemerintah kalau sumbernya dari berita-berita di internet. Berita-berita yang ada di dumay itu adalah berita yang dibuat oleh pembuat berita. Mereka dibayar untuk membuat berita. Berita dengan membuat berita itu beda.
Pembuat berita itu beritanya tidak otentik, karena sudah dipoles dan dibumbui dengan bahasa yang 'wah'. Apalagi berita politik. Berita politik yang ada adalah versi kebencian dari kubu A atau B. Jelas tidak ada kemurnian di berita-berita tersebut.
Internet itu tempat ngumpul para bajingan sedunia. Dengan memakai akun palsu mereka bisa lempar apa saja ke dumay tanpa rasa berdosa, malu dan takut. Dan gerombolan ndlahomer seperti saya ini langsung mengkonsumsinya mentah-mentah. Setelah itu digoreng lagi dijadikan tulisan baru. Kalau ada istilah junk food, maka yang ini disebut junk note.
Jadi waspadalah pada berita apa pun, jangan gampang percaya. Tabayyun jelas sulit, karena kita nggak bisa menjangkau sumbernya sampai ke ring satu. Latih saja sensormu. Bagaimana caranya? aku gak eruh.
Kalau anda punya jam terbang tinggi dalam hal membaca berita, anda akan bisa memilah dengan sendirinya, mana berita yang bagus dan mana yang mbladus. Seperti pengendara motor yang lama di jalan raya, dia akan paham pengendara motor di depannya akan belok kanan atau kiri walau tanpa menyalakan lampu sein, hanya dengan melihat gelagatnya.
Wis ah, jangan percaya begitu saja tulisan ini, bisa jadi ini hoax!
(c) Robbi Gandamana, 18 April 2017

Rabu, 12 April 2017

Antara Tas Mewah, Ikan Asin dan Air Keras


Kadang aku penasaran dengan isi tas Jessica Iskandar atau Ayu Ting Ting yang harganya bisa buat mbangun rumah itu. Jangan-jangan sama kayak cewek-cewek buruh pabrik itu, tasnya merk terkenal (KW) tapi isinya cuman kotak makan bekal makan siang, isinya sayur bayem dan ikan asin. Ngirit yang dibungkus kemewahan.
Tentu saja, tidak ada larangan untuk membeli tas mewah. Aku guduk bapake rek. Mungkin bagi para Selebritis itu, tas tadi bukan barang yang lux, dia bisa beli tiap hari. Bagi dia, beli tas mahal itu kayak minum air putih, biasa saja tanpa beban.
Kadang fungsi tas wanita memang tidak hanya untuk menyimpan barang, tapi lebih pada untuk aksesoris, hiasan. Tak ubahnya dengan kalung atau cincin. Jadi, nggak heran kalau ada wanita yang menenteng tas kemana-mana tapi tak ada isinya (biasanya saat resepsi). Seandainya diisi Kunci Inggris pun kita mau apa, wong tasnya dia sendiri, sakarepe.
Tapi wajar kalau wanita suka kemewahan. Mereka adalah makhluk yang paling mewah, sekaligus pinter ngirit. Pria juga suka kemewahan walau nggak 'separah' wanita. Sengaja atau tak sengaja, pria kadang tampil 'mewah', misal berpakaian necis dan berambut klimis. Ketika kenalan dengan cewek, dia ditanya, "Mas kerja di Kilang Minyak ya? Rambutnya klimis banget..."
Mewah tidak selalu identik dengan barang atau apa pun yang mahal. Makan mie instan pun bisa jadi sebuah kemewahan. Jika kita di tengah malam, perut lapar, yang ada hanya mie instan, itu adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Mie instan tadi seolah-olah jadi kayak the last food on earth.
Atau pada saat kumpul-kumpul sama teman, suguhannya cuman gorengan dan kopi. Itu sudah termasuk kemewahan yang paripurna. Jadi, dalam kesederhanaan pun ada kemewahan. Bahkan kemewahan sejati itu sebenarnya sederhana.
Buanyak orang yang begitu rakus mengejar materi. Itu karena mereka menganggap kenikmatan yang nomer satu itu adalah materi . Materi memang memberi kenikmatan, tapi sesungguhnya bukan itu yang nomer satu. Yang paling primer adalah kemampuanmu menikmati (indahnya, mewahnya) apa saja yang diberikan Tuhan padamu.
Jadi, jika ada orang yang penghasilannya sudah besar tapi tetap saja korupsi , itu karena mereka pikir kenikmatan yang primer itu adalah materi. Sampai tega membunuh demi mbelani uang korupsi. Bisa jadi orang yang menyiram air keras di wajah penyidik KPK, Novel Baswedan, itu masih ada hubungan dengan kasus koruspsi E-KTP yang diusutnya.
Terjadi dialoq antara Polisi dengan pelaku penyiram air keras, sebut saja Paimo. .
Polisi : "Mengapa kamu menyiram Novel dengan air keras!?"
Paimo : "Saya benci Novel pak....saya lebih suka Cerpen."
Polisi : "Ojo gojek kowe le!!"
Paimo : "Saya bukan Gojek pak, saya Uber Taxi..."
Polisi : "Bajingan weduzzz!!"
(Gojek = guyon = bercanda ; bahasa Jawa).
Tentu saja dialoq di atas cuma Simulasi. Guyon rek.
Bicara soal mewah, Indonesia adalah bangsa yang bisa hidup mewah dalam kemiskinan, keterbatasan dan keterpurukannya. Ampas tahu yang seharusnya jadi makanan hewan, disulap menjadi makanan gaul : tempe Gembus, Sate Kere. Kalau di Malang namanya Menjes atau Tempe Levi's (teksturnya mirip celana Jeans).
Mewah atau tidak, itu juga tergantung dari sikap manusianya. Jika kamu sedang makan nasi lauknya ikan asin jangan membayangkan Pizza Hut. Sudah ikan asinnya jadi nggak enak, Pizza Hut-nya cuman angan. Nikmati saja ikan asin seperti tidak ada makanan lain selain itu, itu yang membuatnya nikmat. Setelah itu boleh berangan-angan makan Pizza.
Jadi, jangan percaya kalau materi berlimpah nan mewah itu pasti membuat manusia bahagia. Maka yang benar itu bercita-citalah jadi orang bahagia, bukan bercita-cita jadi orang kaya. Sugih tapi pegatan, rumah tangga kacau, yo podo ae. Ingat falsafah Jawa, Nrimo ing pandum (ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan) bukan Nrimo ing branded.
Oalaa, embuh wis....adza adza ajza dwech ach.
(c) Robbi Gandamana, 13 April 2017

Bangsa Yang Paling Bahagia


Sepertinya PBB kurang kerjaan, bahagia kok dikompetisikan. Tahun ini PBB merilis daftar negara paling bahagia di dunia. Norwegia menempati urutan pertama, selanjutnya Denmark, Islandia, Swiss, dan seterusnya. Indonesia sendiri menempati urutan 81.
Aku gak ngurus dan nggak percaya dengan daftar peringkat semacam itu. Itu semua dibuat oleh kaum materialis. Yang selalu menilai sesuatunya dari segi materi, bahwa orang yang pendapatannya rendah, miskin, itu nggak bahagia. Dan tentu saja penilaiannya pasti subyektif.
Bangsa Indonesia itu punya keistimewaan lain dibanding bangsa-bangsa cengeng itu, yang kesejahteraan hidupnya dijamin negara. Bangsa kita punya teknologi jiwa yang dahsyat. Punya ketangguhan luar biasa karena kesejahteraan nggak dijamin oleh negara. Negara isinya cuman ngrepoti rakyatnya.
Jadi kebahagiaan bangsa Indonesia tidak bisa diukur pakai parameter pendapatannya, tata kelola pemerintah, bla bla bla bla bullshit!
Bagi saya bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling bahagia. Persetan opini kalian!
Oke, mereka akan sedih, marah ketika harga bensin, tarif listrik naik, tapi seminggu dua minggu setelah itu mereka akan lupa. Menjalani hidup seperti biasanya, seperti tidak ada kenaikan, cengengesan tanpa beban. Tetap akan berburu kuliner, beli gadget yang paling canggih, jalan-jalan naik pesawat dan seterusnya.
Mereka punya daya adaptasi yang tinggi. Oleh rakyat Indonesia, semua problema dan tekanan hidup itu akan disulap menjadi ilmu, disulap menjadi hikmah, disulap menjadi revolusi diri, disulap menjadi optimisme melangkah ke depan. Mereka bisa tertawa dengan segala keterbatasan dan penindasan.
Orang Papua yang hidup di Lembah Baliem, mangane telo, bisa sangat bahagia kok. Bahkan mendengar suara klakson Bis Sumber Selamet saja bisa membuat bangsa ini bahagia (om telolet om).
Jadi, kebahagiaan sebuah negara tidak bisa diukur dari maju atau tidaknya sebuah negara.
Jangan dipikir kalau tukang becak, tukang angkut, kuli bangunan dan bahkan pengemis itu tidak bahagia. Mereka bisa sangat bahagia. Walau sepi penumpang, para tukang becak ini tetap ketawa ketiwi main gaple di pojokan.
Pengemis pun kalau di rumah wajahnya tidak semelas saat meminta uang di jalanan. Memelas itu akting, mereka sengaja berkarir jadi pengemis. Walau ada juga yang terpaksa jadi pengemis karena memang hanya itu yang bisa dilakukan (cacat misalnya).
Angka bunuh diri di Indonesia itu lebih rendah dibanding negara lain seperti Korea, Jepang, Tiongkok dan negara maju lainnya. Di sini yang kebanyakan bunuh diri adalah 'kaum sinetron', kelas menengah ke atas. Mereka yang sukses disusupi paham-paham dari Barat, materialis, hedonis, dan seterusnya.
Kalau rakyat jelata tidak seperti itu. Sukses atau tidak sukses itu bukan parameter sebuah kebahagiaan. Selama bisa bergaul, punya gadget canggih, selalu update berita, itu sudah sangat membahagiakan mereka. Minimal urip dan nggak ngisruh ngono ae wis apik.
Kebanyakan rakyat kita itu kreatif, bisa jadi apa saja, kerja apa pun no problem, asal halal. Hanya bawa sulak membersihkan kaca mobil di lampu merah, mereka bisa hidup. Mereka jenis manusia 'fighter', tidak menggantungkan hidupnya pada negara. Seandainya negaranya hancur lebur mereka tetap bisa cengar cengir, piss man!
Di negeri ini, sangat nyaman jadi manusia, karena aturan hidup bermasyarakat tidak setertib di negara-negara lain. Lihat saja orang bisa dengan santainya menutup jalan umum saat mengadakan pernikahan anaknya (kepentingan individu di atas kepentingan umum). Tapi sebagai warga negara, kita banyak nggak nyamannya. Ngurus apa saja ruwet, banyak pungli. Birokrat dan aparatnya banyak yang korup. Tak ada uang ke laut aja.
Kita adalah bangsa yang terbiasa menderita. Bahkan bagi rakyat Indonesia penderitaan itu adalah prestasi. Penderitaan bagi mereka adalah sarana untuk meneguhkan diri, lelaku prihatin. Nenek moyang kita adalah bangsa lelaku. Puasa mutih, puasa senin kemis, puasa ngebleng (nggak makan 3 hari 3 malam) itu adalah rutinitas yang biasa dijalani.
Rakyat kita punya standar dasar filosofi hidup yang di negara maju hanya dimiliki oleh kaum terpelajar lulusan kampus. Jadi walaupun tidak sekolah tinggi, rakyat kita filosofi hidupnya matang, punya kearifan, kesabaran dan keteguhan. Di Jawa ada filosofi dasar kehidupan seperti 'jer basuki mawa bea', 'ngunduh wohing pakarti', dan seterusnya.
Kalau krisis ekonomi melanda, mereka bisa sangat survive. Bahkan mereka tidak mengenal krisis, krisis itu cuman itung-itungan di atas kertas yang dibesar-besaran oleh media.
Jadi, persetan dengan penilaian PBB, Amrik dan anteknya soal kebahagiaan. Kita punya cara yang berbeda dalam menyikapi hidup. Bahagia itu ada di dalam hati, nggak bisa diukur dari apa yang tampak di fisik luar manusia. Dan bahagia itu sebenarnya soal yang sangat sederhana, kuncinya cuma bersyukur dan sabar. Syuperrr sekaliiii.

(c) Robbi Gandamana, 27 Maret 2017

Pilkada is My Ass!


Bangsa ini belum bisa dewasa. Gampang sekali diprovokasi dan diadudomba. Kupikir setelah Pilpres selesai rakyat Indonesia akan kembali rukun, eh ternyata malah tambah ruwet.
Bangsa Indonesia saat ini kayak rumput kering yang gampang terbakar. Ada api di mata mereka. Fanatisme buta lah yang membuat mereka sangat sensitif, gampang ngamuk, raine burek.
Begitu gampangnya menyimpulkan sesuatu. Ketika melihat foto cewek menunjukan tanda 2 jari, langsung dicap Ahoker, karena identik dengan Ahok. Padahal itu tanda 'piss', cinta damai. Foto itu dibuat jauh sebelum Pilkada DKI dan orang yang difoto tadi bukan warga DKI.
Dendam simpatisan yang jagoannya kalah dalam Pilpres tahun lalu, rupanya berlanjut ke Pilkada DKI. Salah satunya karena ada Cagub yang non muslim plus keturunan China.
Gara-gara Pilkada DKI, terbukalah lebar kedok atau sifat asli teman kita di Medsos. Foto profil yang kelihatan kalem, alim, berjilbab, ternyata cangkemnya bosok total. Kita jadi tahu mana muslim yang asyik (toleran, luas hati dan pikirannya) dan mana yang kolot, yang dikit-dikit ngasih label kafir, munafik, laknatulloh.
Banyak sekali orang yang saya kenal itu baik, anteng, introvert, jadi berbalik 180 derajat temperamennya saat membela Cagub pilihannya . Dengan mengutip ayat suci, mereka dengan keras menyerukan siapa Cagub yang wajib dan haram untuk dipilih. Padahal Pilgub nggak ada hubungannya dengan agama. Ibarat bengkel yang butuh seorang mekanik handal, bukan imam agama yang pinter ngaji.
Juga banyak dari kita yang terjebak jadi Rasis dan Fasis. Ada upaya untuk memilah-milah, memisahkan mana pribumi dan mana yang China (keturunan). Seperti yang terjadi di aksi 313 kemarin (31 Maret 2017), penempelan stiker 'pribumi' di mobil-mobil. Mereka begitu takut (paranoid) negeri ini dikuasai oleh China. Seperti bangsa Jerman terhadap ras Yahudi.
Seorang muslim yang tidak menerima perbedaan, sebenarnya gagal sebagai muslim. Karena muslim itu bisa menerima semua (perbedaan) manusia, tidak perduli apa pun ras, suku dan agamanya. Karena perbedaaan itu rahmat.
Efek Pilkada DKI ini benar-benar dahsyat. Gara-gara kaum yang suka mengkafirkan orang itu, anak-anak kecil yang masih ingusan pun ikut-ikutan teriak "kafir!" pada temannya yang non muslim. Bahkan mengganggap non muslim itu halal darahnya alias boleh dibunuh.
Siapa pun yang membela Ahok pasti langsung dapat label kafir. Tidak terkecuali Djarot, Wagub DKI pasangan Ahok, saat mengikuti haul Soeharto dicemooh dengan kata-kata kotor dan diteriaki "kafir!" oleh mereka yang ngakunya muslim. Padahal saat itu sedang di dalam Masjid, rumah Tuhan.
FYI, muslim adalah orang yang menyelamatkan, menentramkan sesama manusia. Jadi kalau masih suka menyakiti hati manusia, mereka gagal jadi seorang muslim.
Jadi, tidak salah ketika GP Ansor menghentikan paksa ceramah Ustadz Khalid Basalamah beberapa waktu lalu. Karena ucapannya menyinggung, menyakiti perasaan umat NU. Penghentian itu nggak ada hubungannya dengan sentimen Wahabi. Siapapun yang menyakiti hati manusia pasti dapat masalah.
Akibat kejadian tersebut, GP Ansor disindir dengan lagu lama : "Sama umat Islam sendiri memusuhi tapi sama non muslim malah mesra. Ustadz yang jelas muslim diusir, tapi gereja yang jelas milik non muslim dijaga (saat Natal) ". Padahal GP Ansor menjaga gereja itu dalam rangka menerapkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi sekalian alam.
Itu semua terjadi karena kesempitan hati dan pikiran. Mengkritisi pun diartikan menghina. Mengkritisi Ulama diartikan memusuhi Ulama, memusuhi Islam atau Anti Islam. Ketika seorang Ulama ditangkap karena melanggar hukum yang berlaku, langsung dituduh kriminalisasi Ulama. Nggolek menange dewe.
Saya tidak anti Pilkada, tapi saya tidak suka perpecahan. Buat apa mbahas Pilkada kalau menimbulkan permusuhan, perpecahan antar saudara sebangsa. Pilkada itu harusnya pesta demokrasi bukan ajang 'perang' agama, sekte atau madzhab antar simpatisan Cagub atau partai politik yang bertikai. Mencari pemimpin bukan pemenang. Yang tidak terpilih bukan berarti kalah.
Demokrasi di negeri ini memang sudah nggak beres sejak dari awalnya. Politik yang ada sekarang menyimpang jauh dari Azas Musyawarah Mufakat : mencari kebenaran bersama. Mencari yang paling benar bukan mencari siapa yang menang.
Pilgub atau Pilpres sekarang ini adalah mencari siapa yang menang, yang kalah tersisihkan dan tidak punya tempat untuk beraspirasi. Padahal dalam konsep musyawarah, semua pihak bergandengan berjalan bersama untuk menjalankan hasil musyawarah tadi dan mewujudkannya dalam kehidupan bernegara.
Asas Pemilu (Luber : langsung, umum, bebas, rahasia) itu juga konyol. 'Rahasia' tidak bisa disandingkan dengan 'bebas'. Bebas kok rahasia, kalau rahasia ya nggak bebas. Ya'opo se rek.
Negara ini dibangun oleh sistem konyol semacam itu. Ketidakbenaran yang dilakukan terus menerus dan massif akan membuat kapal (negara) akan oleng. Jika sudah oleng, maka melakukan apa pun jadi sulit presisi dan akurat.
Apa yang terjadi sekarang adalah akumulasi dari kekonyolan-kekonyolan sejak negara ini berdiri. Nggak heran kalau tiap Pilpres atau Pilkada selalu gegeran, perang berdarah-darah di medsos. Apalagi bangsa ini adalah bangsa perumpi. Ngerumpi tapi tidak punya keluasan hati dan pikiran. Asal njeplak tapi nggak paham ilmunya. Sumbunya pendek pula, bahkan ada yang nggak punya sumbu. Disenggol langsung mbledozzzz.
Jadi sekarang, jika nulis soal Pilkada, pikirkan diksi dan bahasanya. Gak usah pakai istilah yang menyakitkan, merendahkan. Misuh gak popo asal gak misuhi uwong. Kalau tulisan menimbulkan kebencian, permusuhan dan perpecahan, lebih baik nggak usah nulis atau nyebar tulisan soal Pilkada.
Jika masih ada yang nyangkem soal Pilkada dengan kata yang 'njancuki', lebih baik skip saja. Anggap itu wong gendeng lagi kumat. Jadikan mereka sumber kegembiraanmu. Mereka sedang ngelawak dan kita lah penontonnya. Atau kalau bisa jauhi soal Pilkada sekalian. Pilkada is my ass!
Nggak perlu diblokir atau unfriend. Karena bisa jadi suatu hari nanti kamu butuh mereka. Siapa tahu kamu terperosok di lembah MLM dan butuh teman banyak untuk diprospek, dijadikan downline. Atau kamu terpaksa jualan Cilok online yang membutuhkan banyak pembeli. Ingat, semakin banyak teman semakin banyak rejeki .
Pokoknya jangan pernah tersiksa oleh keributan Pilkada. Kalau nggak paham dan atau ilmunya cekak, lebih baik nggak usah ikutan nimbrung soal Pilkada. Buanyak urusan yang lebih puenting daripada ngurusi Pilkada. Jangan sampai kehidupanmu dirusak oleh omong kosong soal Pilkada. Wis ah, Saiki tulung inggirno becakmu disik, aku kate liwat.
(c) Robbi Gandamana, 3 April 2017

Minggu, 19 Maret 2017

Antara Poligami dan Ustadz Ngacengan

Inilah Zaman Kalatida, zaman yang serba membingungkan. Orang jahat dan orang baik sulit ditebak. Ada orang yang tampangnya medeni bocah, mulutnya kasar tapi baik hati. Ada yang kelihatan alim, sopan bertutur, ngajinya fasih, tapi diam-diam mencuri rantang.
Kemarin ada berita seorang Ustadz yang top sering masuk tipi, wajahnya innocent tapi ternyata poligami diam-diam (selingkuh). Oala, ternyata ngacengan juga. Subhanalloh.
Kok ya berani menggadaikan agama dan nama baiknya demi sekerat empal gondrong. Karena Secara tidak langsung dia telah mencopot gelar Ustadz dari dirinya. Itu hukuman moral yang pantas dan harus diterima.
Kalau seorang Profesor melakukan tindakan cabul, dia tetap bergelar profesor. Karena gelar akademis tidak ada hubungannya dengan moral (walau sebenarnya ada, tapi tidak linear). Tapi kalau Ulama, Ustadz atau Kyai berbuat cabul, mereka harus menanggalkan gelarnya. Karena mereka adalah contoh teladan bagi umat.
Maka aneh, kalau ada Ustadz yang terbukti berbuat cabul tapi masih tetap eksis bertausyiah dan jamaahnya tetap setia mengikutinya. Ustadznya yang tak tahu diri atau umatnya yang cinta buta.
Dakwah yang sebenarnya itu tindakan nyata. Ngasih teladan yang baik, nggak cuman ceramah doang. Saya menghormati pilihan seorang Ustadz atau siapa pun untuk berpoligami. Itu urusan mereka dengan keyakinannya. Ini soal madzhab. Tapi cara berpoligaminya itu yang nggak fair. Poligami kok menyakiti hati istrinya (wanita).
Bicara soal poligami memang membuat perdebatan panjang tanpa ujung. Selalu ada yang pro dan kontra. Karena itu soal keyakinan, madzhab. Saya sendiri tidak pro poligami. Siji ae wis ampun-ampun, cukuuupp Mbrot.
Semua lelaki normal pasti lah ingin memiliki lebih dari satu wanita. Karena jantan memang dikodratkan tidak cukup satu betina. Tapi sayangnya kita ini manusia, bukan hewan. Hewan tidak pakai hukum atau aturan. Nggak masalah jika sang jantan kawin dengan seratus betina.
Kamu bukan wedus khan Mbrot?
Fungsi agama itu mengendalikan, tidak melampiaskan. Itulah kenapa orang beragama menyebut dunia adalah penjara. Oke, merdeka dan berdaulat itu harus. Tapi merdeka itu adalah jalan untuk mencari batasan. Kalau manusia tidak tahu batasannya, maka ia menjadi binatang.
Semua ada hukum dan atau aturannya. Begitu juga dengan poligami. Ayat yang dipakai adalah surat Annisa ayat 3 : "Nikahilah wanita-wanita yang kalian senangi, dua atau tiga atau empat. Bila kalian takut tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah satu wanita saja."
Tapi ayat tersebut di atas bukanlah ayat hukum ----Tidak semua ayat di Al Qur'an adalah bahasa hukum----. Kalau bahasa hukum itu tegas, bunyinya akan seperti ini, "Seorang pria dibolehkan menikah lebih dari satu wanita atau maksimal empat wanita."
Jadi surat Annisa ayat 3 itu sebenarnya mengajak kita berpikir, benarkah manusia bisa adil? Tidak Mbrot, manusia bisanya berbuat adil sebisa-bisanya. Allah berfirman : "Sesungguhnya manusia tidak akan pernah bisa berbuat adil."
Jadi sebenarnya ayat soal poligami tadi menganjurkan untuk bermonogami, cukup satu istri saja. Poligami berat, jika tidak mendesak betul sebaiknya tidak dilakukan. Karena sebenarnya manusia tidak bisa adil. Tuhan sendiri yang bilang kalau manusia tidak bisa berbuat adil. Tuhan tidak plin plan!
Kalau ada manusia yang berpoligami tanpa alasan yang mendesak, sesungguhnya dia sombong pada Tuhan, "Tenang Tuhan, aku bisa adil kok."
Ojok nggaya koen, merasa kalau poligamimu itu dalam rangka mengikuti jejak Rasul. Jangan salah, Rasullullah berpoligami karena alasan yang mendesak, alasan sosial, menyelamatkan para janda sahabat beliau yang gugur dalam pertempuran, agar tidak dijadikan tawanan (budak seks) oleh pihak musuh dan membantu memelihara anak-anaknya.
Poligami Rasulullah juga bertujuan menyatukan (merukunkan) kabilah-kabilah yang sering bertikai. Dan masih ada alasan lain yang memang mendesak. Yang jelas Rasul berpoligami tidak untuk tujuan biologis, tidak untuk memuaskan hawa nafsu.
Rasulullah adalah pria yang setia. Menikah saat berumur 25 tahun dengan janda Siti Khadijah yang berumur 40 tahun. Di zaman itu (sampai sekarang) mempunyai banyak istri merupakan kebanggaan bagi lelaki Arab, tapi Nabi tidak melakukan hal tersebut. Dia tetap setia mendampingi Khadijah selama 25 tahun ( Khadijah wafat umur 65 tahun) dan sempat menduda selama 4 tahun.
Jelaslah bahwa Nabi berpoligami karena alasan sosial. Sedangkan banyak Ustadz sekarang yang berpoligami urusannya biologis, ngacengan. Nabi berpoligami karena perintah Tuhan, sedang mereka berpoligami karena perintah hawa nafsu.
Jadi kalau mau poligami, carilah janda-janda yang beranak banyak. Hidupi mereka. Konyol kalau poligami, berdalih mengikuti Rasulullah tapi yang dijadikan istri kedua itu gadis muda kinyis-kinyis, sexy, susune gede..wadawww, nek ngono aku yo gelem rekkk.
Oalaa, ampun bossss.
Ya begitulah nggedabrus saya kali ini, saya cukupkan segini saja. Membahas poligami bakalan bisa jadi berjilid-jilid buku, menghabiskan berember-ember kopi. Ingat, saya tidak anti atau benci orang yang berpoligami. Cuman kalau memang ngacengan, berpoligamilah yang fair. Jangan pernah menyakiti hati wanita. Wanita bukan ungkal yang hanya dipakai saat mengasah pedangmu.
Sebagai penutup, saya ceritakan kisah nyata yang lumayan bisa jadi bahan renungan. Cerita tentang Tuan Guru (kyai) di Bima yang istrinya sakit-sakitan. Si istri rela dan mempersilahkan Tuan Guru untuk mencari istri baru karena dia sudah tak sanggup memenuhi kewajibannya sebagai istri. Dengan serius Tuan Guru menolak berpoligami yang ditawarkan istrinya, "Aku mau membuktikan bahwa kamu tidak salah memilih aku jadi suamimu..."
(C) Robbi Gandamana, 18 Maret 2017

Rabu, 15 Maret 2017

Kepincut Arab


Membaca status soal kehidupan rakyat Arab Saudi di tetangga sebelah, aku cuman bisa ndlahom. Status yang menggambarkan kehidupan berbangsa dan bernegara di Arab Saudi yang memang joss gandos, emejing. Wajar kalau status itu sudah di-share hampir dua belas ribu orang.
Rata-rata komentarnya "Subhanalloh..". Padahal kata itu dipakai saat melihat keburukan, untuk mengingat kesucian Allah. Tapi gak popo, wis kadung gaul, sing penting niate.
Ada beberapa poin yang perlu kita tiru dari Arab, seperti mementingkan akhirat daripada dunia, memuliakan wanita dan ibu, anti riba, keamanannya yang canggih, ringan dalam bersedekah dan lainnya.
Tapi saya tidak mau menelan mentah-mentah begitu saja tulisan itu. Wacana yang datang harus diolah dulu. Seperti kata Simbah, Jangan jadi keranjang sampah, tapi jadilah mesin pengolah. Dan sepertinya ada beberapa yang 'nggak beres' dalam tulisan tersebut.
Soal Mengutamakan Shalat tapi Malas Bekerja
Dalam hal ibadah (shalat), orang sana sangat tertib dan tepat waktu. Toko langsung tutup saat mendengar adzan. Tapi anehnya orangnya malas-malas, sangat rileks dalam bekerja. Buat mereka, kerja hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk menunggu waktu sholat. Statement itu seolah-olah benar, tapi sebenarnya nggak sepenuhnya benar (imho).
Oke, orang yang mendahulukan akhirat pasti akan mendapatkan dunia. Tapi shalat itu melatih orang agar tepat waktu, disiplin, yang outputnya kerja jadi lebih giat. Kalau sudah shalat tapi tidak merubah kebiasaan malas, berarti tujuan shalatnya gagal Ndes (shalatnya tetep sah).
Agama mana pun tidak membenarkan sifat malas. Karena malas itu kufur nikmat atas karunia yang diberikan Tuhan : tangan, kaki, akal pikiran, dan seterusnya.
Kita harus pahami latar belakang kenapa orang Arab Saudi begitu malas bekerja. Lha wong di sana pengangguran saja digaji, gajinya bisa menggaji seorang pembantu (TKW). Jadi mentalnya lain dengan kita yang sudah kerja keras pun gajinya nggak jauh beda dengan gaji pembantu.
Pengangguran saja gajine gede, apalagi yang kerja kantoran. Seandainya di Indonesia penggangguran dapat gaji, bisa jadi akan rileks dalam bekerja. Ibadah pun bisa lebih fokus seperti mereka. Dan mungkin tidak akan ada motto populer 'gantungkan cita-citamu setinggi PNS'.
Soal Memuliakan Wanita
Di Arab Saudi, wanita sangat dimuliakan. Tentu saja itu bagus, cuman sayang agak 'fals' penerapannya. Diceritakan, ada seorang wanita menyeberang ngawur dan mendadak, menyebabkan mobil yang lewat menginjak rem sekuatnya, hampir terjadi kecelakaan, tapi polisi tetap tidak akan menyalahkan si wanita hanya karena dia wanita!?
Memuliakan wanita itu tindakan mulia, tapi yo tetep harus proporsional. Kalau salah ya tetep salah.
Atas nama memuliakan, terus hak-hak perempuan Arab dibatasi. Itu lah yang membuat banyak wanita Arab merasa terkekang. Ibarat burung hidup di dalam sangkar emas. Dimanjakan, dikasih makan enak, tapi terkekang. Apa enaknya.
Soal Menomersatukan Ibu 
Di belahan bumi mana pun, ibu dimuliakan anaknya. Cuman di Arab Saudi agak kebablasan. Ada anak lelaki yang patuh pada ibunya. Dia tidak bekerja karena tidak diijinkan oleh ibunya. Itu baik atau tidak, tergantung kasusnya. Kalau ibunya memang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga butuh ditemani, itu bagus. Tapi kalau ibunya sehat-sehat saja, itu khan ngajari anak malas. Ibunya yang salah.
Sepertinya masih ada kaitan dengan kesejahteraan di Arab, pengangguran digaji. Ketika ada kesempatan menyenangkan ibunya, diperintah nggak kerja pun bukan hal yang berat. Nganggur tetap dapat gaji kok.
Sebenarnya kita tidak diwajibkan taat pada orang tua, tapi diwajibkan berbuat baik, berbakti (birrul walidain). Walau salah satu wujud berbakti itu taat, tapi hakikatnya taat itu hanya pada Tuhan.
Ojok salah rek, aku gak ngajari durhaka. Tapi bertindaklah yang proporsional. Memuliakan Ibu itu perbuatan mulia, tapi ibu juga manusia biasa yang bisa salah. Jangan menabi-nabikan orang yang bukan Nabi atau metuhan-tuhankan orang yang bukan Tuhan.
Soal Riba
Negara ini sudah terlanjur basah dalam masalah riba. Kita sulit keluar dari lingkaran riba. Utang di bank, kredit motor, nyicil rumah..semua pasti ada bunganya (riba). lha terus ya'opo rek..mumet khan. Jadi menurutku boleh toleransi dikit-dikit, karena terpaksa. Semua tergantung niat dan konsep di dalam hatimu. Angel iki, aku dewe ngelu ndasku.
Sementara iku sing iso tak kritisi, soal yang lain sudah joss gandos. Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu.
****
Kalau saya mengkritisi Arab, bukan berarti saya anti atau benci Arab. Tapi mengajak ente semua mencintai bangsamu sendiri. Nggak gampang kepincut dengan gemerlap yang tampak dari fisik luarnya saja. Ada orang cerita enaknya hidup di Jerman yang sekolah gratis sampai perguruan tinggi, kesehatan gratis, angkot gratis..langsung ingin jadi orang Jerman.
Yang jelas jangan dipahami secara linear, kalau negara Arab makmur karena mereka rajin ibadah. Buanyak negara yang penduduknya jarang ibadah tapi lebih makmur dari Arab. Dulu Mesir di zaman Fir'aun yang kafir itu pun sangat makmur. Soal kenapa negara yang satu lebih makmur dari negara lain, itu rahasia Tuhan, bisa kita cuman mengira-ngira.
Banyak yang nggak sadar dan nggak mau meneliti bahwa kita adalah bangsa yang besar. Makane pelajari budayamu dan leluhurmu ojok dikit-dikit bid'ah. Sama budayanya sendiri nggak paham, tapi budaya bangsa lain diagung-agungkan. Kalau sekarang kita terpuruk itu karena manajemen negoromu koyok taek.
Menurutku kita tetap lebih istimewa dari mereka. Kesejahteraan nggak dijamin, cari makan susah, tapi kita masih semangat ibadah (shalat). Nabi bukan leluhur kita, tapi kita sangat mencintai dan mengikuti jejaknya sama dengan orang Arab yang masih satu ras dengan Nabinya. Kita bersusah payah menabung dan menunggu 10 tahun untuk berhaji. Sedangkan orang Arab berangkat haji tinggal naik angkot beberapa menit nyampai. Jadi lebih joss mana boss?
Jrenggg.

(c) Robbi Gandamana, 15 Maret 2017

Jumat, 10 Maret 2017

Indonesia Sedang Goblok


Saya nggak bilang rakyat Indonesia goblok lho ya, mereka hanya sedang goblok. Di negeri ini, nyaris tidak ada orang goblok. Rata-rata orangnya cerdik. Kelihatannya goblok tapi pinter ngakali. Apa saja bisa diakali. Apa sih yang nggak diakali di negeri ini?
Begini pakde bude,
Sejak Pilpres 2014 sampai Pilkada sekarang, banyak orang jadi ndlahom karena mabuk politik dan atau mabuk agama. Analisa ngawur, statement ngawur, berita (posting) ngawur penuh hate speech bertebaran di dunia maya. Tapi setelah terbukti postingannya ngawur, cepat-cepat dihapus atau mewek- mewek minta maaf saat analisa ngawurnya disomasi.
Orang begitu nyantai dan rileks menyebarkan berita (kebencian) yang tidak jelas juntrungannya. Berita yang menyudutkan seorang Cagub yang dibencinya. Padahal berita itu hoax (fitnah). Berita tersebut menyebar cepat bagai air kencing di got yang sulit dilacak karena bercampur air comberan yang warna, wujud dan baunya sama.
Memang, medsos adalah comberan. Banyak jenis 'sampah' dibuang ke sana. Fitnah, tipu-tipu, kampanye hitam, campur aduk dengan kalimat motivasi paklek Maryono. Para penjahat politik menggunakan medsos sebagai perpanjangan congor untuk mencuci otak manusia lugu bin ndlahom seperti saya.
Ketika manusia terobsesi pada kekuasaan, maka segala cara pun dilakukan. Yang sebenarnya lawan, jadi kawan. Kemarin musuh, sekarang bersatu. Ayam memaksakan diri jadi wedus. Jadinya ayam berbulu wedus. Termasuk suku bangsa apa itu?
Subhanalloh.
Karena fanatisme buta pada partai dan atau agama, banyak orang kehilangan kejernihan dalam berpikir . Mereka rela menggadaikan hidupnya untuk kepentingan partai politik atau Paslon Cagub pilihannya. Mereka lupa, ada yang lebih puenting dari semua itu. Penting mana sih DKI Jakarta hancur atau keluargamu, nama baikmu, hubungan persaudaraanmu yang hancur????
Perjuangan memang butuh pengorbanan. Tapi ingat skala prioritas. Orang yang kamu bela tidak akan bisa menyambungkan lagi hubungan persaudaraanmu yang rusak atau mengembalikan nama baikmu atau keluargamu yang remuk jaya. Jadi, berhati-hatilah menyikapi Pilkada, Pilgub atau Pilpres. Ojok ngawur!
Salah satu contoh ngawur lagi adalah ocehan seorang kader Partai Dakwah yang memakai istilah Pahlawan Kafir untuk menyebut pahlawan non muslim. Ya'opo se rek, pahlawan kok kafir. Pahlawan ya pahlawan, kafir ya kafir. Pahlawan adalah orang yang berani berkorban membela kebenaran. Sedang kafir adalah orang yang menutupi kebenaran.
Menurutku Pahlawan Kafir hanya cocok disematkan pada orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab yang membela kaum kafir Qurais memerangi Rasulullah dan pengikutnya.
Istilah 'Pahlawan Kafir' jelas melecehkan Pahlawan Nasional. Karena mereka (pahlawan yang beragama non muslim) telah berjuang mengorbankan jiwa raga untuk negeri ini, tidak hanya untuk muslim saja. Jadi jangan pernah sekali-sekali menyebut mereka Pahlawan Kafir.
Pengertian kata 'kafir' dan siapa saja yang disebut kafir itu memang ada ayatnya di Al Qur'an. Tapi itu untuk pemahaman dan bekal kita dalam beragama. Tidak untuk dituding-tudingkan ke orang lain. Karena itu menyakitkan hati manusia. Kata ada 'aurat'nya juga. Kita tidak boleh sembarangan menggunakannya di sembarang orang dan tempat.
Itu lah yang banyak terjadi pada Orang Alim Baru, fanatisme yang wagu. Berkembang pesat di segi syariat teknisnya saja, tapi logikanya payah. Semakin banyak orang jilbaban, masjid banyak dibangun, pengajian ada dimana-mana, teknologi semakin maju, pengetahuan agama mudah diakses di internet, tapi kelakuan umatnya tidak berbanding lurus dengan segala riuh kegiatan keagamaan tadi.
Gara-gara pilihan Cagupnya beda, dicap munafik. Padahal ada madzhab yang membolehkan memilih Cagub non muslim. Karena memang cuma memilih gubernur (petinggi administrasi wilyah propinsi) nggak milih imam agama. Jadi kalau ada yang menuding munafik, itu berarti dia sombong dengan madzhabnya atau sektenya.
Konyolnya lagi, yang milih Cagub non muslim diancam tidak akan disholati jenazahnya. Sopo ustadz sing ngajari ngono iku rek. Itu pasti ajaran ustadz yang ilmunya hanya dari Al Qur'an terjemahan Depag.
Ada benarnya kalau Gus Mus ingin Al Qur'an tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin Gus Mus ngasih shock terapy saja, agar orang tidak sembarangan mengajarkan Al Qur'an. Karena banyak orang yang ngaku-ngaku ustadz padahal modalnya cuman hapal terjemahan Al Qur'an versi Depag.
Bahasa Arab dan Indonesia itu tulangnya berbeda. Al Qur'an penuh dengan bahasa sastra yang tinggi. Hanya orang yang paham bahasa, sastra dan sejarah Arab, yang bisa memahami Al Qur'an. Ada banyak ayat yang tidak boleh dipahami apa adanya. Ada latar belakang sejarah, alasan dibalik turunnya ayat yang tidak dijabarkan secara lengkap di terjemahan Depag. Dan yang pasti tidak semua ayat di Al Qur'an itu bahasa Hukum.
Kembali ke soal goblok.
Ada lagi kemarin yang termasuk ngawur--> seorang hater mengungkit-ngungkit cerita masa lalu salah satu Cagub saat masih kuliah dulu. Ya'opo se rek, aib masa lalu (kelakuan buruk) saat masih kuliah kok dibukak-bukak.
Track record seorang pemimpin memang penting untuk dijadikan parameter seorang pemimpin yang oke. Publik juga boleh dan berhak men-screening calon pemimpinnya. Tapi ya nggak lebay, aib zaman kuliah kok diurusi. Rentang waktunya terlalu jauh. Baru sipss kalau mempermasalahkan kelakuan buruk atau segala sesuatu yang berhubungan dengan indisipliner Cagub saat masih menjabat jadi pejabat negara.Tapi yang jelas Panwaslu tentunya nggak goblok dalam menentukan layak tidaknya seseorang jadi Cagub.
Oalaaa.
Zaman dulu Nabi mencari kebaikan pada diri seseorang dan didoakan masuk surga, eh zaman sekarang orang yang sudah baik dicari-cari keburukannya. Keburukan tersebut dibuka-buka di muka umum dan didoakan masuk neraka. Benjuuttt.
Well, sebenarnya masih buanyak kegoblokan-kegoblokan lain, efek dari Pilkada paling stress dalam sejarah negeri ini. Tapi cukup segini saja, karena kalian pasti capek bacanya. Dan aku juga males nulisnya. Presisikan otak anda, pasti bakal banyak menemukan kegoblokan yang lain.
Jadi kesimpulane, biasa ae rek. Silahkan berpolitik, membela, memperjuangkan pilihan politikmu. Tapi Jangan lebay, terobsesi. Karena itu bisa bikin otak nggak jernih, ngawur, guoblok, ndas pecah. Saat pilihan Cagubmu kalah, kamu bakalan nggak bisa move on. Tiap hari isinya uring-uringan. Apa pun yang diperbuat oleh Gubernur (yang bukan pilihanmu) dan segala kebijakannya selalu salah di matamu! Ndeso boleh, goblok jangan.
Wis ah, anda boleh tersinggung.
(c) Robbi Gandamana, 11 Maret 2017

Senin, 27 Februari 2017

Tidak Ada Buku Pendidikan Seks yang Porno


Dari jaman Neolitikum sampai Millenium, di negeri ini belum punya konsep yang pas bagaimana baiknya konten buku pendidikan seks untuk anak.

Buku "Aku Berani Tidur Sendiri" yang baru saja diluncurkan oleh penerbit TS pun kandas di tengah jalan. Padahal dalam proses pembuatannya sudah konsultasi pada dokter dan psikolog. Tapi tetap saja, masyarakat masih ndlahom bin plonga plongo pola pikirnya.

Dulu di tahun 1989 juga ada buku pendidikan seks untuk anak  judulnya"Adik Baru". Buku ini nasibnya nggak jauh beda dengan "Aku Berani Tidur Sendiri" (ABTS), sama-sama lengser keprabon.

Buku ABTS seolah-olah porno karena dibaca sepenggal. Penggalan tadi di blow up di medsos. Gegerlah  dunia perkentuan. Apalagi pola pikir masyarakat kita masih kolot, sempit, kagetan, nggak paham konteks dan sering keseleo otak alias berpikir tidak pada koordinat yang pas. Walhasil buku ABTS pun harus balik kucing, ditarik dari peredaran.

Membaca buku pendidikan seks itu harus dibaca dari awal sampai akhir. Jangan kayak nonton film bokep, dilihat hanya pas adegan tumpak-tumpakan tok.

Buku pendidikan seks beda dengan majalah porno. Namanya juga pendidikan seks, yang dibahas pastilah seputar kelamin, perilaku seksual, pengendalian diri dan resiko dari perilaku seksual yang menyimpang. Tentu saja diksi disesuaikan dengan segment pembacanya. Jika cuman bicara seks dan mengeksploitasi bodi wanita atau pria telanjang, itu majalah porno.

Ibarat seorang Ustadz,  nggak cuma bercerita soal indahnya surga, tapi juga ngerinya siksa neraka.  Sebaliknya jangan cuma ngajak berbuat baik, tapi kasih tahu nikmat dan manfaatnya berbuat baik.

Bagiku konyol kalau buku itu dilarang, mengingat buku itu sudah dikonsultasikan ke dokter dan psikolog, pihak yang berkompeten di bidangnya. Pelajaran Agama dan Biologi memang ada bahasan soal seks. Tapi tidak semua dibahas oleh guru, karena keterbatasan waktu dan keterbatasan ilmu si guru. Ada beberapa aspek yang tidak mampu dibahas oleh guru-guru tadi.

Susah kalau berhadapan dengan manusia kolot plus nggak paham konteks. Dulu Ibnu Sina (seorang pakar kedokteran muslim) dimusyrik-musyrikan ketika mempelajari anatomi wanita. Beliau dianggap mengeksploitasi tubuh wanita yang bukan muhrimnya.

Towengwengwengggg.

Ya'opo se rek, mempelajari ilmu kedokteran ya memang begitu, wajib tahu detail anatomi manusia. Konyolnya, mereka memusyrik-musyrikan Ibnu Sina, tapi ngamuk saat ilmunya diklaim oleh ilmuwan Barat. Sudah kolot, goblok pula.

Di zaman sekarang pun kebodohan seperti itu masih banyak terjadi. Ketika seorang wanita hamil, suaminya tidak mau kalau dokter yang memeriksa kandungan atau membantu kelahiran istrinya seorang pria. Dipikire doktere ngaceng nonton 'gua garba' bojone. Padahal banyak wanita yang saat akan melahirkan belum sempat mandi. Howeeek, ambune, gilo rek!

Kalau nggak bermental baja, dokter kandungan bisa stress karena tekanan batin. Saking seringnya nonton vagina wanita, bisa jadi membuatnya kurang greng saat lihat punya istrinya.

Sekarang dunia kedokteran sudah sangat modern. Nggak cuma pria yang jadi dokter, wanita pun banyak.  Jadi jangan heran kalau ada dokter wanita (berjilbab pula) yang mengautopsi mayat. Nggak cuman mengautopsi mayat wanita, tapi juga pria. Tentu saja mayat yang diautopsi telanjang bulat, ketok peline gondal gandul.

Buku panduan menyusui bagi ibu muda pun digambarkan dengan vulgar, gambar susu beserta pentilnya. Dan itu bukan pornografi. Kalau menurutmu porno, itu karena pikiranmu tidak pada koordinat yang pas.

Seorang mahasiswa senirupa jurusan nggambar pun dituntut tahu anatomi luar manusia. Karena untuk menggambar gesture tubuh, harus paham dulu anatomi. Maka jangan kaget kalau mahasiswa seni rupa murni modelnya wanita telanjang saat kuliah gambar. Dan itu bukan urusan seks. Pikiranmu kentu tok ae.

Jadi, Jangan gegabah menilai dulu sebelum jelas persoalannya. Sebelum menvonis vulgar atau porno, dipahami, ditelusuri dulu, untuk kepentingan apa suatu produk dibuat. Karena untuk tujuan ilmu pengetahuan, mempelajari seks atau organ tubuh manusia bukanlah pornografi. Dan itu bukan sekulerisme.

Jadi ingat Tuan Guru (Kyai) di Bima yang memperbolehkan santrinya berinternet di jam-jam tertentu, agar santrinya mengenal dunia luas. Banyak kalangan (kolot) yang memprotesnya, mereka takut santrinya akan mengakses situs porno.

Tentu saja Tuan Guru tidak menanggapi pemikiran kolot itu, beliau cuma bilang, "Kalau anda berpikir seperti itu, berarti anda juga begitu!" Artinya, omongan seseorang itu menunjukan dirinya. Jadi mereka yang nggak setuju santri berinternet itu sebenarnya mengakses situs porno saat berinternet.

Itu lah yang terjadi pada kebanyakan kita, lebih takut dampaknya daripada manfaatnya. Lebih fokus pada kemungkinan terburuk daripada berprasangka baik. Akhirnya awet goblok (koyok aku).

Kalau cara berpikir kita masih keseleo dan sukanya berprasangka buruk, nanti jadi kayak cerita Abu Nawas di bawah ini.

Suatu hari Abu Nawas ditangkap dan selanjutnya diadili. Di persidangan Abu Nawas bingung, karena merasa tidak melakukan tindakan kriminal.
Abu Nawas : "Pak Hakim, kenapa saya ditangkap?"
Hakim : "Karena kamu bawa parang kemana-mana, dikuatirkan bisa membunuh orang."
Abu Nawas : "Kalau begitu bapak Hakim juga saya tangkap!"
Hakim : "Memangnya saya salah apa??"
Abu Nawas : "Karena pak Hakim bawa kemaluan kemana-mana, dikhawatirkan bisa memperkosa wanita."
Hakim : "Cangkemmu!!!"

****
Masyarakat kita memang suka nggaya, seolah-olah alim. Buku pendidikan seks dikatain cabul, padahal kalau internetan diam-diam mampir ke situs porno. Bergaya malaikat tapi diam-diam jadi iblis.

Buku Pendidikan Seks Untuk Anak bisa penting bisa tidak. Itu tergantung pada kecerdasan masing-masing orang. Tapi yang jelas, nggak ada orang tua yang bisa jujur menjawab pertanyaan anak seputar seks. Saat anak bertanya asal asul dirinya, jawaban ortu pasti ngawur, "Mbiyen awakmu metu tekan kene lho le..(sambil menunjuk ketiak)."

Dan buku ABTS dibuat untuk mengatasi kesulitan menjawab pertanyaan semacam itu. Disamping juga mengajarkan anak untuk berani tidur sendiri, menjelaskan kepada anak tentang pentingnya melindungi diri dari orang yang berniat jahat. Membekali anak bagaimana cara melindungi diri dari ancaman penyakit dan kejahatan seksual.

Sayangnya masyarakat kita lebih menangkap aspek pornonya daripada aspek pendidikannya.

Tapi, tiap keluarga punya cara yang berbeda dalam menangani hal semacam itu dan tiap anak mempunyai karakter dan masalah yang berbeda pula. Kalau anda tidak membutuhkan buku itu atau kalau menurut anda itu porno, ya jangan beli bukunya. Apalagi sampai memposting sepenggal dan memprovokasi orang lain untuk ikutan nge-judge porno. Malah ketok ndesomu.

Gitu aja kok repot!

Jadi kesimpulannya, bukan buku pendidikan seksnya yang porno tapi cara anda memperlakukan buku tersebutlah yang membuat buku itu jadi porno. Juga jangan membaca informasi hanya sepenggal, harus utuh. Dan yang penting buka pikiran, luaskan pergaulan, biar nggak kolot, ndeso! Bagiku itu cuman masalah sepele yang dibesar-besarkan, paling juga soal persaingan dagang, wis tauuu.

(c) Robbi Gandamana, 28 Februari 2017

*Sori saya tidak dibayar untuk menulis ini dan saya tidak ada hubungan apa pun dengan penerbit TS.

Jumat, 24 Februari 2017

Nggak Gemblung Nggak Rame

istimewa
Sori ya, saya nulis ini nggak ada urusan dengan Ahok, Ahong, Basuki, Basoka, Anies, Anus, nggak kabeh.  Saya bukan Ahoker apalagi Anieser (Anies who? no thanks!). Nulis ya nulis aja. 

Tulisan ini adalah refleksi dari ke-lebay-an oknum rakyat negeri ini bla bla bla bla bla...Ya sudah, langsung saja...crewet!

Saya nggak paham dengan kelakuan muslim sekarang ini. Kelihatannya paham Al Qur'an, tapi kok gampang banget nuding orang 'munafik!', 'kafir!'. Pokoknya orang lain harus sepaham dengan dia, kalau tidak, bakalan dituding, "PKI kafir!".

Sudah PKI, kafir pula...pusing pala babi. *_*

Cap kafir, munafik pada seseorang itu hak prerogatif Tuhan. Memang ada ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang kafir dan munafik, tapi itu buat pemahaman dan bekal kita dalam beragama. Nggak usah dituding-tudingkan ke orang lain. Kata pun ada 'aurat'nya juga. Kalau itu menyakitkan orang, jangan diucapkan. Agama mana pun melarang menyakiti hati manusia.

Tiap muslim punya ulama panutan. Dan tiap ulama berbeda dalam menafsirkan ayat, termasuk Surat Al Maidah 51. Ini soal madzhab. Terserah masing-masing umat untuk menentukan pilihan ulama dan madzhabnya. Dan itu tidak bisa disebut munafik atau kafir.

Jadi, kalau ada kyai atau ulama yang membolehkan memilih gubernur non muslim, ojok ngamuk, dipertanyakan keIslamannya, apalagi dicap munafik. Gayamu koyok Tuhan ae. Letak keIslaman seseorang itu ada di dalam hati, bukan di tampilan fisik luar. Gak koyok raimu, shalat Dhuha diketok-ketokno. Alim ni yeeee.

Anak kemarin sore menanyakan keIslaman seorang Kyai, oalaaa. Boleh-boleh saja mengkritisi kebijakan Ulama, tapi yo ojok nemen-nemen. Opo maneh menyebut mereka 'munafikun!'. Kualat gak iso ngaceng koen!

Gara-gara pilihan gubernur nggak sama, terus dituding munafik, kafir, Anti Islam. Padahal ada madzhab yang beda dalam menafsirkan Al Maidah 51 (kata 'aulia' ). Kalau ada yang meyakini Pilgub itu milih petinggi administrasi, bukan imam agama..ya jangan dibilang munafik. Itu namanya sombong dengan madzhabmu, aliranmu, sektemu.

Sebaliknya, kalau menurutmu haram hukumnya memilih gubernur non muslim, maka jangan memilih Lurah Kristen, ketua RW Katolik, ketua RT Kejawen, dan seterusnya. Kalau nggak begitu berarti nggak konsisten. Dan itu bisa disebut munafik.

Rasakno melbu neroko, gosong, kapok koen...salahe, sopo sing ngejak gemblung disik.

Saya tidak sedang membela Basuki atau siapa saja. Tapi aku gak percoyo blas Basuki menistakan ayat suci, karena doi tidak segoblok itu. Pemimpin Kristen berada di tengah-tengah rakyat Kepulauan Seribu yang mayoritas Islam, pastilah goblok bin stress kalau menjelek-njelekan kitab sucinya orang Islam.

Ibarat seorang Dangduter di tengah-tengah gerombolan Anak Metal, terus si Dangduter teriak : "Musik Metal taek!". Pastilah si Dangduter jadi sansak hidup, dikaploki mubeng karo arek \m/.

Mungkin si Dangduter lelah...Aqua mana Aqua.

Sekarang jangan kaget kalau perolehan suara Basuki di Kepulauan Seribu tinggi alias menang. Orang sana tahu bahwa Basuki memang bicara fakta, tidak menjelek-njelekan agama. Karena ada politikus yang menggunakan Al Maidah sebagai alat untuk meraup suara dengan membodohi para taqlid buta .

Kata jangan hanya dinilai dari saat kata diucapkan, tapi pahami nuansa dan peristiwa saat kata terucap.
Karena opini publik sudah terlanjur terbentuk kalau Basuki adalah penista agama, maka Hakim pun harus mendakwanya sebagai Penista Agama. Kalau tidak, bisa merusak karier si Hakim dan atau institusinya. Kalau berhadapan dengan publik, siapa yang berani.

Oala Bas Bass raimu kok apes temen seee..

Menjatuhkan Basuki dengan isu agama maupun Sara, itu nggak asyik, kurang nendang, terlalu menyolok. Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa membuat Basuki harus pulang ke Belitung, tapi nggak saya omongkan di sini..kapan-kapan ae.

Urusan kepemimpinan di negeri ini tak jauh dari soal dagang. Ada sebuah grand-design politik besar dibalik semua itu. Tahu nggak, siapa Taipan, Pemodal dan Cukong dibalik Cagub-Cagub itu? nggak tahu khan?....Podo, aku yo gak eruh.

Statementku dari dulu tetap sama jika menyangkut soal kepemimpinan di negeri ini : "I don't want to be a part of this sick society!!"

Pesanku pada kalian wahai generasi muda, anak terlantar dan kaum duafa : Jangan gampang disetir, gampang digiring oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam. Kayak kerbau yang hidungnya diikat tali, pasrah diseret kemana-mana.

Ingat, ada 'Wedus Besar' dibalik itu semua. Kalian cuman jadi alat mereka untuk memuluskan jalan menuju nafsu kekuasaan.

Oh yesssss..Oh Noooo..Oh maigottt.

Jangan terlalu lama beronani. Negara Khilafah itu Utopia, sulit diterapkan di negeri yang beragam agama dan budayanya. Kenali dirimu, budayamu, leluhurmu, bangsamu, maka kau akan mengenal Tuhanmu.

Jangan gampang percaya dengan isapan jempol Ormas yang katanya membela agama itu. Suriah luluh lantak salah satunya karena ulah kaum yang mabuk agama. Itu kelemahan orang yang terlalu fanatik pada agama, sekte atau madzhab. Fanatik itu pada Nabi dan Tuhanmu, jangan pada Sekte, Madzhab, Ulama, Cagub, apalagi Club Bola.

Alat cuci otak yang ampuh itu adalah agama. Jika menyangkut sekte, mereka akan membela mati-matian. Dan Amrik melihat titik lemah itu. Dengan hasutan kecil, provokasi, propaganda, terjadilah konflik. Maka remuklah para kelompok fanatik itu diadudomba. Negara pun hancur. Selanjutnya seperti biasa Amrik datang atas nama polisi dunia ikut campur tangan, padahal ngincer minyaknya. Wis tauu..

Be careful who you choose to believe!

Ngakunya Ormas Pembela Tuhan yang Anti Amrik, eh lha kok petingginya pengacaranya Freeprottt. Wadawww, gak masuk blasss. Dasar Ormas 'Pentung Sakti', nggak ada uang jadi lawan, ada uang jadi kawan. Tapi aku gak mau menyebut doi sebagai munafik. Biar Tuhan saja yang memberi gelar-gelar seperti itu.

Jadi, kalau ada yang ngajak demo dan bilang "ini demi Islam", ojok percoyo!!! Nggak ada yang namanya 'Ahok Vs. Islam' atau 'Ahok Vs. NU', yang ada adalah 'Ahok Vs. Sebuah Kelompok Islam'. Konyolnya, hanya karena ada label Islamnya, banyak muslim yang merasa terpanggil, jihad. Dibela-belain jalan kaki ke Monas. Telapak kaki melepuh, bodi meriang : "Diakali wong Arab!"

Towengwengwengwengggggggg.

Wis gak ngurus rek, silakan lestarikan kegemblungan ini, karena kalau nggak gemblung nggak rame!
Hidup gemblung!

(c) Robbi Gandamana, 23 Februari 2017