Jumat, 21 Juli 2017

Dana 1, 5 Trilyun yang Merusak Citra NU dan Sentilan Cak Nun


NU dibully habis-habisan hanya karena berita miring yang menyebutkan "Kementerian Keuangan Salurkan Pembiayaan Rp 1,5 Triliun ke PBNU". Padahal pemerintah menggandeng PBNU (Pengurus Besar Nadlatul Ulama) untuk menyalurkan dana tersebut ke pengusaha lemah yang perlu mendapat kredit non bank. Jadi dana tersebut tidak hanya untuk umat NU.

Sebenarnya ini berita lama, sekitar Februari lalu, tapi di-blow up lagi oleh para "musuh" atau haters NU (pasti anda tahu lah siapa yang suka memusuhi NU) untuk menyudutkan dan merusak citra NU di masyarakat. Saya sendiri bukan umat NU, cuman penggembira.

Ini soal bantuan dana sebesar 1,5 trilyun dari pemerintah yang ditulis di Tribun News 27 Februari 2017 yang di-blow up kembali oleh para wedus haters NU. Membesar-besarkan berita seolah-olah PBNU telah menerima dana tersebut khusus untuk Ormas NU.

Dana tersebut dipercaya oleh para haters NU sebagai "uang damai'" agar NU tetap setia pada pemerintah dan ikut mendukung pembubaran Ormas anti pancasila. Tentu saja itu salah besar,
kejadian itu terjadi jauh sebelum Perppu Ormas diteken dan diberlakukan.

Karena berita kacau itu lah yang membuat NU dibully habis-habisan oleh pendukung Ormas Islam kaku haters NU. Dituduh sebagai Ormas penjilat pemerintah. Apalagi NU adalah Ormas yang mendukung pemerintah membubarkan Ormas intoleran anti Pancasila. Apes.

Padahal berita yang benar adalah pemerintah minta bantuan PBNU untuk memberikan data para pengusaha lemah yang perlu mendapat kredit non bank. Dan lembaga non bank yang akan mengeksekusi. Jadi nggak cuman umat NU yang dapat. Dana tersebut sebenarnya disalurkan ke semua warga negara Indonesia, Ormas Islam yang lain juga dapat, melalui berbagai sarana dan kerjasama.

Itulah kebanyakan manusia, levelnya masih Ksatria, bukan Brahmana. Bahagia kalau rivalnya tertimpa musibah. Umat yang bersebrangan dengan NU, bersorak-sorai bahagia karena nama baik NU rusak karena pemberitaan yang ngawur tadi. Mereka punya bahan untuk mendiskreditkan NU. Seperti lalat yang berpesta di atas borok yang bernanah.

Sebenarnya wajar banget kalau pemerintah menggandeng PBNU, lha wong punya basis kuat sampai ke akar rumput. Selain itu juga memiliki program pembinaan usaha yang paling banyak pesertanya. NU juga lebih dekat dengan pemerintah daripada Ormas Islam lain. Dan NU adalah Ormas Islam yang moderat dan Pancasilais, bahkan NU adalah Pancasila itu sendiri.

Dekat dengan pemerintah bukan berarti NU selalu sejalan dengan kebijakan Pemerintah. Lihat saja saat PBNU menolak kebijakan full day school.

NU sudah lama mengawaI bangsa ini sejak bangsa ini belum merdeka. Ingat Resolusi Jihad yang dirumuskan oleh para Ulama NU (22 Oktober 1945) untuk menghadapi sekutu di Surabaya, 10 November 1945. Resolusi Jihad itulah yang membakar semangat santri NU turut memanggul senjata siap mata sahid. Dan Resolusi Jihad masih berlaku sampai sekarang. Maka nggak heran kalau NU getol mendukung pembubaran Ormas anti Pancasila.

NU setia pada Pancasila karena Pancasila lahir dari sumbangan nilai-nilai Islam. Secara substansial Pancasila itu sangat Islam. Pancasila meminjam 6 kata dari Islam : adil, adab, wakil, musyawarah, rakyat dan khidmat. Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, adalah pengejawantahan dari Surah Al Ikhlas. Begitu juga dengan sila-sila yang lain. Pikiren dewe, golek enake tok ae koen iku.

Jadi NKRI itu sebenarnya sudah Khilafah, tanpa perlu diformalkan jadi negara khilafah.

Oke, kembali ke soal dana 1,5 trilyun.

Di saat panas-panasnya bully-an terhadap NU, beredar video Cak Nun yang ngomong dengan bahasa khas menyinggung NU telah ngrakoti duit negara. Umat NU pun semakin merah mukanya. Padahal yang dimaksud Cak Nun adalah oknum NU. Oknum yang bermain dengan pemerintah, memanfaatkan loyalitas ribuan pasukan Banser yang siap mati membela NU.

Sangat tidak mungkin Cak Nun menghina NU. Lha wong beliau dekat dan bersahabat baik dengan tokoh-tokoh NU. Lagian, omongan Cak Nun kok dimasukan di hati. Semua tokoh atau orang penting di negeri sudah pernah diolok-olok Cak Nun. Dari SBY, Prabowo, Jokowi, Ahok, Anas, Anies, Anus, banyak lah. Itu semua dalam rangka kemesraan, antara sesepuh dengan anak-anaknya. Maka nggak heran kalau Cak Nun tidak pernah diperkarakan.

Jadi sekarang, jangan gampang terseret untuk membenarkan atau menyalahkan berita yang beredar di internet, apalagi sampai ikut-ikutan membully. Gunakan hati dan kecerdasanmu. Teliti dulu sebelum ikutan nggacor, nyangkem gak karu-karuan. Mending ambil saja manfaatnya yang membuatmu lebih baik jadi manusia. Dan yang paling penting jangan gampang diadu domba oleh pihak yang ingin umat muslim perang terus.


Sudah itu saja, zuukk mariii.

(C) Robbi Gandamana, 22 Juli 2017

Kamis, 20 Juli 2017

Ustadz Matre dan Agama Materialisme



Wis rek, gak usah ngrasani Ustadz Tengu..eh, Ustadz Kentu..upss sori, Ustadz mbuh sopo iku! Wadoh lambeku rek. Banyak soal yang lebih asyik untuk ditulis. Daripada mbahas pakaian mana yang lebih baik, gamis atau batik. Bakalan nggak ada ujungnya.

Tulisan ini sebenarnya lebih cocok untuk diri saya sendiri, sebagai pengingat. Nggak ada maksud menggurui dan mempengaruhi. Kalau nggak suka, skip saja, anggaplah ini pendangkalan akidah, beressss.

Kuamati, ustadz yang  kariernya cepat meroket sekarang ini adalah jenis ustadz yang mengiming-ngimingi umatnya cepat  kaya (materi) melalui ibadah. Mengajarkan umatnya materialistis. Menjadikan agama tidak lebih dari transaksi dagang. Pasti anda tahu lah siapa ustadz yang saya maksud.

Ustadz yang mengajarkan kesejatian hidup, shalawatan, dan semacam itu, agak sulit kariernya (walau mereka juga tidak menjadikan ustadz  sebagai profesi).

Karena agama utama seluruh dunia di zaman sekarang adalah materialisme. Beragama tapi dengan cara berpikir materi. Beribadah hanya ingin dapat laba. Rajin shalat Dhuha agar diterima jadi PNS, pengusaha, atau ingin kaya. Naik haji ingin tokonya laris. Sedekah ingin dapat kembalian berlipat. Ingin masuk surga pun karena kerinduan materialistis.

Dalam beragama cara berpikirnya masih jasad. Pahala dibayangkan sebagai duit, emas, akik, mobil mewah, bidadari sexy (maka nggak heran kalau berharap surga agar bisa pesta seks). Itu jenis ibadah level terendah. Menjadikan Tuhan sebagai mitra bisnis. Nggak ada imbalan, malas ibadah.

Ciri khas penganut agama dengan pola pikir materi adalah agama hanya dijadikan pelarian saat "kalah". Lari ke Tuhan hanya saat lagi miskin, susah, butuh sesuatu, mengincar laba berlipat-lipat. Setelah kaya atau pas nggak butuh, lupa agama. Ada juga yang ahistoris, buka usaha nggak bismillah, tapi saat bangkrut nangis bombay minta tolong Tuhan.

Yo wis lah, no problem, semua butuh proses. Cuman nek iso ojok suwe-suwe di level itu (tapi aku sendiri masih di level itu, ojok ngomong sopo-sopo). Karena sebenarnya itu rugi. Walau semua orang pasti melalui proses itu. Seperti anak kecil yang diiming-imingi es krim dulu agar mau berbuat baik, karena belum paham manfaat dari berbuat baik.

Kata Simbah, Ibadah itu dalam rangka bersyukur. Sedekah itu berbagi rezeki, tidak mencari rezeki. Fokuskan ibadah hanya pada (untuk) Tuhan. Nggak usah mikir laba, karena pasti dapat. Tapi jangan terlalu berharap laba itu selalu berupa materi. Lha wong dikasih hidup dan dijadikan manusia saja itu sudah karunia yang luar biasa. Maka sebenarnya nggak pantas manusia beribadah berharap laba. Tapi Tuhan senang  mendengar hambaNya berdoa.

Banyak buku atau status di medsos, shalat dihubungkan dengan kesuksesan materi. Memang ada hubungannya, tapi menghubung-hubungkan shalat dengan materi itu merusak esensi shalat. Shalat itu menjaga hubungan baik (silahturahim) kita dengan Allah. Soal nanti kamu dikasih kekayaan atau nggak, itu urusan Allah. Nggak pakai shalat pun semua orang bisa kaya.

Ada seseorang yang saya kenal, shalatnya jos gandos selalu di masjid, tapi tetap jadi kuli bangunan sampai sekarang. Nasibnya tidak berubah. Mungkin Tuhan tidak memberi kekayaan materi, tapi berupa kekayaan yang lain. Misal diberi ketenangan hidup, kere tapi ayem. Nggak punya uang, tapi ada saat dibutuhkan. Dan hati yang damai itu jauh lebih kaya dari harta yang paling mewah di dunia ini.

Jadi jangan dipikir orang yang sukses dan kaya raya itu selalu karena rajin shalat atau ibadahnya bagus. Juga jangan dipikir kalau miskin itu karena kurang shalat atau jarang ibadah.  Hidup itu nggak hitam putih. Mangkane ojok kakean nonton sinetron.

Dan jangan salahkan Tuhan kalau kamu rajin shalat, sering istighosah, tapi tetep awet kere. Terus mangkel karo wong cino. Soale ndelok wong cino sing nggak tau shalat, nggak pernah istighosah, tapi sugih pol, uripe makmur. Tuhan pun digugat, "Sampeyan iku ya'opo se Tuhan, jarene Rahman Rahim, aku wis istighosah ping sewidak jaran kok tetep kere ae. Gak asyik sampeyan!"

Aplikasi dari materialisme adalah kapitalisme. Dari pembekakan kapitalisme munculah industrialisme.  Selanjutnya dari Industrialisasi tumbuhlah hedonisme, cara hidup yang berlebih-lebihan. Lihat orang sekarang yang nggak cukup punya satu atau dua akun medsos, semua aplikasi medsos punya akunnya.  Sehingga separuh hidupnya habis untuk nulis status dan separuhnya lagi untuk membalas komennya.

Sekarang, gaya hidup hedonis ini benar-benar melanda negeri, sadar atau tidak. Rakyat Indonesia khususnya yang hidup di kota, mulai memasuki era mampu beli mobil. Hidup di kampung dengan jalan sempit, nggak punya garasi, memaksakan diri punya mobil. Akibat jaga gengsi, semua teman-temannya pada punya mobil. Oala, woles ae Sum.

Gaya hidup hedonis membuat pelakunya jadi konsumerisme. Membeli sesuatu yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat atau nggak sesuai sikon. Sudah tahu gundul tapi beli sisir. Sudah tahu nggak ada tempat parkir kok beli mobil. Itu memperkosa fakta namanya. Dan semua kekonyolan itu muaranya karena menyikapi agama dengan pola pikir materi.

Jadi sekarang monggo, mau beragama dengan cara yang sejati atau pola pikir materi. Sakarepmu, pilih yang the best atau bedes, monggo. Semua tergantung pada hati, pikiran dan iman anda masing-masing. Tapi yang jelas iman tidak bisa distandarisasi.

Wis ah, cukup. Sori tidak menerima perdebatan. Matur nuwun.

(C) Robbi Gandamana, 20 Juli 2017


Senin, 17 Juli 2017

Gak Taek-taekan! Sikat Habis Radikalisme!



Ini bukan soal aku pro atau kontra Jokowi. Aku setuju 100% dengan adanya Perppu Ormas dan blokir aplikasi Telegram. Intinya aku mendukung pemerintah memberantas paham wedus radikalisme. Pemberantasan Ormas aliran kaku intoleran anti Pancasila dan bikin kacau negara, harus didukung. Mendukung radikalisme itu ndeso pol!

(Tulisan iki gawe wong sing durung ngerti, sing wis ngerti menengo yo)

Sempat ada kesalahpahaman di kalangan awam soal pemblokiran yang dilakukan pemerintah. Whoiii, yang diblokir pemerintah itu aplikasi Telegram. Bukan telegram dalam arti yang sesungguhnya seperti telegraf, telepon, televisi, teletubbies, teletong, telek, dan embuh wis, akeh.

Kalau telegram dilarang, itu jelas mengebiri kebebasan berbagi informasi. Iku koyok wong sing oleh mangan tapi gak oleh ngising. Utowo oleh ngising tapi gak oleh nguyuh. Tapi, zaman sekarang ada nggak orang yang masih menggunakan telegram untuk berkirim informasi? Wis gak usum.

Jadi ingat omongan Simbah. Jangan melarang orang membawa pisau, hanya karena pisau bisa dipakai untuk membunuh. Karena sesungguhnya pisau diciptakan tidak untuk membunuh manusia. Jadi, jangan salahkan pisaunya, salahkan manusianya.

Juga cerita Abu Nawas yang ditangkap, diadili dan dimasukan penjara hanya karena membawa pisau kemana-mana, karena ditakutkan bisa membunuh orang. Sebelum dipenjara Abu Nawas minta pak Hakim juga dipenjara. Kok bisa begitu? Karena pak Hakim membawa kemaluan kemana-mana, ditakutkan bisa memperkosa wanita. (O__O)

Dalam kasus pemblokiran aplikasi Telegram ini, tidak bisa disamakan dengan kisah Abu Nawas. Konteks dan substansinya lain. Di sini yang dilarang bukan pisaunya, tapi jenis pisaunya. Jadi bukan kebebasan berbagi informasi yang dilarang tapi jenis kebebasan berbagi informasinya, karena berpotensi membahayakan keselamatan rakyat dan negara.

Apalagi yang diblokir ternyata yang versi web saja. Jadi masih bisa diakses lewat hengpon.

Tujuan pemerintah memblokir aplikasi Telegram itu mulia (ayee), untuk menyelamatkan rakyatnya dari ideologi radikalisme, teroris. Para teroris ini menggunakan aplikasi Telegram untuk keperluan propaganda dan provokasi. Karena aplikasi ini lebih aman, enkripsi dengan keamanan canggih, sehingga kerahasiaan percakapan terjamin dan tidak memberikan informasi nomer telepon pengguna.

Jadi menurutku langkah pemerintah sudah sip. Keselamatan rakyat di atas segalanya. Dalam hidup ada skala prioritas, keselamatan lebih penting dari pada mbelani aplikasi basa basi, nggambleh, nggacor, nggedabrus ngalor ngidul yang bernama Telegram (kayaknya aplikasi yang lain juga begitu).

Apalagi aplikasi Telegram nggak populer di sini, aku ae tas eruh. Blokir-blokiren kono, masih banyak yang lain. Sebut saja Facebook, Twitter, WA, BBM, Instagram, Line, Twoo, Google Plus Plus (saingannya Pijat Plus Plus). Atau kalau mau, hidupkan lagi medsos 80'an macam Sahabat Pena, interkom, ngebrik, embuh opo maneh. Itu kalau berani mencanangkan Gerakan Kembali Ndeso.

Aku yakin 100% nggak mungkin negara ini memblokir medsos, selama UU ITE benar-benar dijalankan dengan benar. Sehingga hate speech, spamming, hoax, dan kejahatan medsos yang lain bisa diatasi. Medsos masih dibutuhkan untuk menjaga silahturahmi, dakwah, bisnis, kampanye, cari jodoh, bertukar ilmu, berbagi informasi, bertukar pengalaman, nggedabrus, pamer kesuksesan, bla bla bla .

****

Di era SBY, kumpulan wedus aliran radikalisme dibiarkan bebas berkembang biak bak mikro organisme di kepala yang penuh koreng akut. Gus Dur pernah mencanangkan pembubaran aliran kaku anti Pancasila, tapi sayang tidak pernah terwujud. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mewujudkan itu, karena melihat gerakannya sekarang yang semakin terang-terangan.

Jadi, diberlakukannya Perppu Ormas dan blokir Telegram adalah upaya menutup pintu masuknya paham radikalisme. Lanjutkan Jok! Kamu bisa!!

Sejak kekalahan ISIS di Mosul, target basis ISIS berikutnya adalah Asia Tenggara, tepatnya di Marawi, Filipina. Di Indonesia sendiri ternyata banyak pendukung ISIS. Banyak dari mereka yang jadi jihadis ISIS di sana, siap mati sangit.

Kabar terakhir Turki telah menangkap 435 pendukung ISIS asal Indonesia. Dalam hal jumlah pejuang ISIS, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Rusia. Ini membuktikan Indonesia banyak penganut paham radikalisme yang perlu disepak peline.

Pokoknya apa pun yang dijadikan media perjuangan bagi kaum radikalisme harus diberantas tuntas. Entah itu berbentuk aplikasi medsos, Ormas, situs yang penuh dengan tulisan, ceramah, video propaganda radikalisme, dan banyak lagi. Pokoke gak taek-taekan, sikat habis!

Sudah, itu saja. Zuukkkk.

(C) Robbi Gandamana, 17 Juli 2017

Jumat, 14 Juli 2017

Gamis VS. Batik



Lumayan fesbukan hari ini dapat quotes adem dari Cak Nun : "Kesaktian tertinggi adalah ketika anda berhasil mengolah kehidupan anda sedemikian rupa sehingga tak punya musuh, tak meransang datangnya musuh atau tidak bisa dimusuhi." Emejing! Ijin share!

Tapi setelah membaca quotes di atas, pikiranku langsung nyambung pada cuitan seorang ulama tersohor Tengku Zulkarnain (TZ) yang menyanjung-nyanjungkan jubah (gamis) dan merendahkan batik. Itu khan merangsang datangnya musuh. Karena batik adalah warisan budaya asli bangsa Indonesia. Merendahkan batik sama saja merendahkan bangsa ini.

Aku sendiri nggak terlalu suka batik dijadikan baju, kaos, sempak, apalagi sprei (nggak romantis). Tapi aku menghormati dan menghargai batik sebagai karya seni asli negeri ini. Aku suka batik jadi karya seni murni dipajang atau dijadikan kostum sebuah tarian, karnaval dan semacam itu. Sori, rokenrol nggak suka kekakuan (baju batik identik dengan resmi, kaku).

Hanya ­karena ada yang menyebut jubah sebagai daster, TZ emosi dan membalas dengan merendahkan batik, budayanya sendiri. Api dibalas dengan api, kebencian dibalas dengan kebencian. Kalau sudah begitu apa bedanya si ulama dengan di penghina tadi.

Itiba' Rasul kok nggak komperehensif. Cuman diolok-olok pakai daster saja sudah mumet ndase. Lha wong Rasulullah dikatain gila, dilempar tai onta, cuek kok.

(Sori, iki rodok ngustadz. Masio aku guduk ustadz tapi wani ngomong agama, jarno ae.)

Jarene Simbah, Jubah atau gamis itu bukan syariat, tapi itu soal cinta (pada Rasulullah). Bahkan bagiku, jenggot dan celana cingkrang pun bukan syariat. Ini soal madzhab, gak perlu dibahas, iso ngerusak seduluran. Tapi sing jelas aku menghormati pilihan orang untuk berjenggot dan bercingkrang. Sakarepmu, sing penting rukun, gak gelut.

Ngene rek, jika kamu ngefan Kurt Cobain, Jojon, Tessy, atau siapa lah, kamu akan meniru persis tongkrongannya. Nggak perduli itu pantas nggak buat gestur tubuh dan model raimu yang ndeso abis. Yang penting kamu ingin persis idolamu.

Begitu juga jika kamu ngefan Nabi Muhammad, kamu akan berpakaian (model kostumnya) persis seperti beliau walaupun itu nggak ada syariatnya. Pakai gamis, kain putih diuntel-untel di atas kepala, berjenggot panjang dan bawah tasbih kemana-mana. Itu bagus, karena itu menunjukan cintamu pada Rasulullah. Lha terus masalahe opo boss??

Masalah ketika Kecintaanmu pada jubah, gamis, daster, mbuh opo istilahe, sampai membuatmu membenci budayamu sendiri, itu gobl..eh maksudku ndeso!

Rasulullah pakai gamis, rambute diuntel-untel kain itu karena kecintaan beliau pada budayanya sendiri (budaya Arab). Dan itu juga trend fashion di Arab saat itu. Rasul memakai baju model begitu bukan karena perintah langsung dari Allah. Rasulullah mencintai dan menghormati budaya Arab, tempat dimana beliau lahir.

Jadi kalau kamu mencintai Rasulullah, meneladani beliau, cintailah negerimu dengan budayanya yang beraneka ragam. Tentu saja yang sesuai dengan syariat. Jangan sampai rasa cintamu pada jubah menjadikanmu membenci batik. Salah nggak?

Budaya orang dijunjung tinggi, budaya sendiri dimaki. Asli Jawa, lahir dan besar di Jawa tapi sama sekali tidak cinta dan tidak kenal budaya Jawa. Bagiku itu tidak meneladani Rasulullah.

Makanya aku lebih suka meneladani daripada ngefan. Kalau meneladani itu mengambil yang baik-baik saja. Kalau ngefan, semua kamu tiru sampai membuatmu tidak ingat lagi siapa dirimu, leluhurmu, budayamu. Padahal, kenali dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu.

Sunnah rasul yang utama itu akhlaknya, ojok dengki. Jadi bukan kostumnya, hobinya, selera makannya. Nabi suka kucing, ikut-ikutan suka kucing. Kalau ditanya kenapa suka kucing, jawabnya karena Nabi suka kucing. Oala, hidup sekali kok tidak jadi diri sendiri

Tuhan menciptakan kamu sebagai kamu, bukan orang lain. Kalau kamu jadi orang lain, kamu menyalahi Sunnatulloh, gagal identitas. Begitu juga dengan Rasulullah, beliau pakai gamis karena beliau berlaku (berpakaian) layaknya orang Arab di zaman itu.

Kalau aku sekarang pakai celana jins, itu karena aku berlaku sesuai dengan zamannya. Itulah fashion abad 21, aku tidak hidup di abad 7. Dan ojok gampang ngomong "menyerupai suatu kaum". Ingat, baju Rasulullah juga sama dengan bajunya Abu Lahab, Abu Jahal, dan orang Arab lainnya di abad 7.

Aku sendiri males pakai jarik dan blangkon, itu kostum jadul zaman sepur lempung yang hanya dipakai saat ada kegiatan budaya dalam rangka mengenang dan melestarikan budaya leluhur. Nggak cocok buat dengan keseharianku yang kerjanya nggambar, ribet boss. Makane aku saaken karo PNS sing ngantor dikongkon jarikan plus blangkonan, meksooo.

Tapi silakan saja pakai kostum sesuka hatimu. Pakai gamis nggak masalah, pakai baju batik no problem. Semua baik, nggak ada yang lebih baik. Kalau orang cinta seni dan budaya pastilah memilih batik. Apalagi gamis itu boros kain. ---Ini yang membuat saya bingung, mereka bercelana cingkrang agar nggak boros kain (takut dibilang sombong), tapi kok bergamis yang kainnya panjang sekali. Harusnya yang dihitung volume kain, bukan cingkrang atau tidaknya---

Kostum apa pun nggak masalah, asal sesuai syariat. Dan yang penting nggak lebay, salah kostum, membajak sawah pakai gamis, yo repot. Batik pun juga begitu, nggak di semua waktu cocok untuk berbatik ria. Apakah jubah lebih baik untuk shalat daripada batik? Hanya Tuhan yang berhak menilai shalatnya manusia, aku gak eruh.

Sampai sekarang aku masih heran lihat orang yang kemana-mana pakai gamis. Senam pakai gamis, demo pakai gamis, menek klopo yo nggawe gamis. Kok yo betah, sampeyan iku serius ta?

Wis ngono ae rek. Kalau diterus-teruskan aku takut tulisanku ini merangsang datangnya musuh. Semoga nggak ada yang gondok. Yang jelas mengkritisi beda dengan menghina. Ini cuman opini awut-awutan. Percoyo monggo, gak percoyo matio. Zuukk marii.

(C) Robbi Gandamana, 15 Juli 2017

Selasa, 11 Juli 2017

Hak Angket DPR Terhadap KPK adalah Kejahatan yang Sempurna



Aku yakin, KPK tetap kuat menghadapi rongrongan DPR. Karena rakyat akan selalu di belakang KPK, men-support, memompa semangat, juga aksi dukungan nyata dengan cara dan lewat media apa pun.

Tenang saja, DPR nggak bisa membubarkan KPK. Kedudukan DPR tidak lebih tinggi dari KPK. Dan membubarkan KPK sama saja dengan mengusik macan kentu. Bisa-bisa gedung DPR diratakan dengan tanah oleh rakyat, dan penghuninya ditelanjangi disuruh pulang jalan kaki. Peline gondal-gandul turut dalan.

KPK hanya bisa dibatasi geraknya lewat regulasi, undang-undang (UU). Ndilalah, DPR adalah lembaga pembuat UU (bersama presiden) dan DPR berhak tidak menyetujui Peraturan Pemerintah pengganti UU yang diajukan presiden. Padahal, kejahatan yang paling sempurna adalah undang-undang. DPR membuat undang-undang lebih pada menguntungkan dirinya dan mencurangi rakyat.

Nggak salah kalau banyak rakyat yang ingin DPR dibubarkan. Mereka tidak mewakili rakyat, tapi lebih pada mewakili partai dan dirinya. Memihak rakyat hanya pada saat Pileg. Mereka butuh suara rakyat untuk tetap bercokol di tempat basahhhhh. Oh yessss.

KPK seharusnya jadi lembaga yang total indepeden. KPK harusnya tidak dilantik oleh presiden. Lha wong kerja KPK itu mengawasi presiden kok malah dilantik oleh presiden. KPK jadi sungkan menindak presiden jika terbukti korupsi, walau saya yakin Jokowi itu bersih.

KPK sebagai ujung tombak pemberatasan korupsi kelas kakap di negeri ini masih diandalkan oleh rakyat. Karena itu rakyat pasti membela mati-matian KPK. KPK hanya bisa dibubarkan lewat dekrit. Cuman masalahnya, berani nggak presiden Jokowi melakukan itu? Rasanya kok tidak mungkin. Rakyat pasti akan marah besar. Dan sesungguhnya rakyat adalah pemegang kedaulatan atas penyelenggaraan suatu negara.

Kita tahu kasus korupsi semakin menumpuk, banyak yang belum tuntas. Kasus seperti Century, Hambalang, mafia pajak yang berkaitan dengan Gayus Tambunan, dan banyak lagi. Akankah kasus-kasus tersebut akan terselesaikan? Mbuh gak eruh. Dilihat dari terbatasnya waktu, dana, penjara dan petugas yang ngurusi, sepertinya nggak bakalan tuntas ntasss.

Kasus-kasus korupsi baru bermunculan bak panu di selangkangan gelandangan yang tidak pernah mandi. Yang terbaru kasus penyalahguaan dana E-KTP yang menyeret nama-nama besar yang rasanya tidak mungkin terlibat. Rupanya korupsi mulai menjadi peradaban. Itu persoalan gawat untuk sebuah negeri.

Masyarakat sendiri mulai punya sistem imun, kebal, terhadap kasus atau berita korupsi. Itu bahaya. Ketika kejahatan dianggap sudah biasa, maka lama-lama akan dimaklumi. Dan korupsi di negeri sudah memasuki babak 'dimaklumi'. Coba perhatikan aktivitas di kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten, selalu ada korupsi kecil-kecilan di sana, disadari atau tidak. Rasakan saat kau datang ke sana, aroma tikus sudah tercium sejak pintu kantor dibuka.

Korupsi terjadi dimana-mana, di dunia pendidikan, di bidang ketenagakerjaan, bahkan departemen agama yang harusnya paham betul agama, malah angka korupsinya tertinggi. Di dunia pendidikan, banyak oknum kepala sekolah yang menerima sogokan wali murid yang anaknya ingin masuk sekolah favorit. Di dunia ketenaga kerjaan, buanyak PNS yang masuk lewat jalan belakang, nyogok pakai duit ratusan juta. Dan itu semua sudah jadi rahasia umum.

Partai yang gencar meneriakan yel-yel anti korupsi ternyata malah lumbungnya koruptor. Mereka tidak anti korupsi tapi anti korupsinya ketahuan. Makanya sekarang mereka terus gencar mencari celah mencari cara yang paling canggih agar korupsinya lancar jaya. Salah satunya adalah melalui Hak Angket terhadap KPK.

Hak Angket terhadap KPK adalah sebuah kejahatan yang sempurna. Tapi rakyat sudah semakin cerdas, karena seringnya dikadali DPR, sekarang mereka sudah bisa mencium aroma busuk itu. Baru-baru ini 400 dosen UGM secara tertulis menyampaikan penolakan terhadap Hak Angket DPR terhadap KPK. Dan mungkin akan ada banyak lagi bentuk dukungan yang lain untuk menolak Hak Angket dari DPR.

Mari jadi bagian dari rakyat yang cerdas, menolak kesewenang-wenangan DPR, tolak Hak Angket, save KPK!

Zuukk mariiii.

(C) Robbi Gandamana, 11 Juli 2017

Jumat, 07 Juli 2017

Sufi Itu Ndeso!



Iki serius rek, ojok cengengesan ae. Iki tulisan wong ndeso khusus buat wong ndeso.

Dulu ada seseorang teman yang bilang padaku, "ojok belajar tasawuf, iso gendeng!" Belajar tasawuf kok selalu dihubung-hubungkan dengan belajar ilmu hitam. Dan lagian aku gak kuat dadi sufi (pelaku tasawuf), iman dan Islamku pas-pasan. Aku juga pecinta rokenrol dan takut mati. Tapi kalau belajar tasawuf  tipis-tipis yo nggak masalah.

Seorang sufi itu harusnya waras jiwanya. Karena menyikapi segala sesuatunya dengan  keluasan hati dan pikiran. Selalu berprasangka baik. Menjauhi gemerlap dunia yang penuh kepalsuan. Sedikit makan, minum, dan tidur. Begadangnya untuk ibadah, bukan nongkrong atau konser di pos ronda.

Sebutan sufi tidak selalu untuk muslim. Siapa pun yang menjaga jarak dari kesenangan duniawi itu adalah sufi. Kalau kita pakai kata 'kasta' bukan berarti Hindu atau kata 'karma' bukan berarti Budha. Tasawuf itu cuman sebuah tarekat, lelaku menyikapi kehidupan.

Kejawen adalah bentuk tasawuf yang bersifat kultural, bukan Islam, tapi nilai-nilai moral, keluhuran budi yang diterapkan secara garis besar sama dengan Islam. Di kejawen ada istilah 'Nrimo in pandum' kalau di Islam istilahnya 'qonaah'. 'Ngunduh wohing pakarti' kalau di Islam 'faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah', dan banyak lagi yang lain. Kejawen is not religion but religiosity of Java (boso Indonesiane opo rek).

---Nrimo in pandum = menerima segala pemberian, ketentuan Tuhan, dengan ikhlas, apa adanya tanpa menuntut. Ngunduh wohing pakarti = setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Perbuatan baik maupun buruk, sekecil apa pun pasti ada balasannya---

Orang yang mendalami tasawuf baiknya sudah paten keIslamannya. Kalau Islamnya belum tegak benar, imannya akan goyah. Ditakutkan akan terjerumus ke dalam kesyirikan. Syekh Siti Jenar dihukum oleh para Wali bukan karena sesat, tapi karena terlalu intens mengajarkan tasawuf pada orang yang masih dangkal ilmu Islamnya. Sehingga banyak dari mereka yang malah lari ke ilmu sihir. Karena ilmu kebatinan dekat dengan ilmu hitam.

Bagi seorang sufi, dunia ini kecil. Jika ada kesulitan dunia, mereka takaburi kesulitan itu. Manusia harus lebih besar dari kesulitannya, sehingga  bisa sangat rileks menghadapi kesulitan. Karena dunia yang harus kita pegang atau kita mainkan. Jangan sampai dipermainkan oleh dunia.

Mereka mentalak  3 dunia, karena bagi mereka kesenangan dunia hanya menghalangi hubungannya (kekhusyuan) dengan Allah. Tapi itu sufi Arab, kalau sufi Indonesia cukup talak 1 saja. Bagaimana pun kita perlu harta dunia untuk mendukung, melancarkankan kita dalam beribadah.

Menjauhi keduniawian bukan berarti menjauhi pergaulan di masyarakat. Sufi juga manusia yang harus menghidupi hidupnya. Mereka tidak mengejar kekayaan materi, hanya melakukan sesuatunya dengan kesungguhan hati, berbuat baik pada penghuni alam semesta, menghormati hidup dan kehidupan. Dan pasti dikasih rizki, Tuhan maha tanggung jawab.

Seorang sufi menjalani hidupnya dengan ringan. Karena sebenarnya apa pun kalau dikerjakan karena Allah pasti akan terasa enteng. Taraf level keimanan seorang sufi itu tarafnya sudah level cinta. Melakukan ibadah bukan karena perintah semata, tapi karena kebutuhan. Ibadah mereka ibadah yang merdeka, artinya ibadah hanya fokus untuk Allah, bukan karena pahala, takut neraka dan berharap surga.  Kalau yang dicari Tuhan otomatis mendapatkan surga.

Tuhan mengayomi hambanya. Semua perintahNya adalah kebutuhan manusia, Tuhan nggak gila hormat! Shalat, puasa atau zakat, semua bermanfaat dari segi jasmani dan rohani. Secara empiris sudah terbukti. Tuhan sama sekali tidak merepotkan hambaNya.

Karena ajaran tasawuf itu menjauhi kesombongan, merendahkan diri, maka seorang sufi  tidak suka memperlihat-lihatkan status Islamnya, kealimannya, kelebihannya. Beda dengan kita yang malah berharap pengakuan dari orang lain kalau kita paham agama, orang baik, muslim taat. Kemana-mana pakai baju taqwa, busana atau aksesoris yang menunjukan diri kalau kita alim, muslim (padahal ngoleksi film bokep, ngaku saja).

Status, label, cap, jabatan, atau diri kita  itu nggak penting, yang penting akhlaknya baik di masyarakat.  Label itu lah yang sering membuat kita ribut. Islam dikasih label : Islam Nusantara, Islam Nusakambangan, Islam Liberal, Islam Rileks. Mending lakukan saja yang menurutmu baik, embuh iku aliran opo, nggak usah dikasih label.

Manusia awam seperti kita biasanya ingin disanjung, dinilai sebagai orang alim di depan masyarakat. Tapi sufi malah benci disanjung, dicap alim atau tahu agama. Mereka lebih senang kalau tidak dianggap alim, biasa-biasa saja. Bahkan ada sufi yang ingin orang lain mengenalnya sebagai orang tidak mungkin mengerjakan shalat. Penampilannya kumuh padahal sebenarnya dia ahli ibadah.

Mereka lebih suka dikafir-kafirkan daripada dimuslim-muslimkan. Dikafirkan lebih menenangkan hatinya daripada dianggap ahli ibadah. Mereka sendiri tidak mengkafir-kafirkan, karena merasa ibadahnya tidak lebih baik dari orang lain. Apalagi kemusliman atau kekafiran seseorang hanya Tuhan yang tahu. Tuhan yang berhak menilai. Dan istilah kafir itu buat pemahaman kita, tidak untuk dijadikan hujatan buat orang lain.

Karena low profll, merasa ilmunya dangkal, merasa kecil di hadapan Allah, mereka nggak suka dikultuskan, dijadikan idola, panutan, karena itu mengurangi totalitasnya pada Allah. Seperti kisah Abu Yazid Al Bustomi, seorang sufi yang didewa-dewakan orang banyak. Karena merasa keberhambaannya pada Allah terusik, beliau pun copot baju dan makan di siang hari pas bulan puasa di tengah keramaian. Rasakno koen.

Banyak dari kita yang bangga berjidat hitam karena jadi terlihat kalau sering shalat (sujud).  Sufi sejati nggak ingin seperti itu, mereka berupaya bagaimana menyembunyikan kalau dia rajin ibadah (shalat). Biar hanya Tuhan yang tahu. Karena berbuat baik sebaiknya tidak ada orang lain yang tahu. Kalau jidatnya hitam, jadi ketahuan kalau rajin shalat (sujud).

Walau menjauhi kesenangan dunia, mereka lebih bahagia hidup di dunia daripada di surga. Bukan berarti cinta dunia dan takut mati, tapi karena di surga tidak berjuang, tidak ada gairah berkompetisi, tidak bersaing, nggak ada penelitian. Di surga isinya cuma senang-senang, semua diperbolehkan. Di surga kita bukan mahkluk sosial. Tidak ada kerja sama antar manusia. Apa pun yang diinginkan tinggal minta, tanpa perjuangan.

Seorang sufi itu hatinya sudah selesai. Ukuran hidupnya tidak laba rugi. Mereka ikhlas jika harus mengerjakan sesuatu yang bukan kerjaannya. Nggak itung-itungan. Tapi bukan berarti mental budak. Tentu saja  bisa membedakan antara bekerja dan dikerjain. Itu semua dilakukan dalam rangka mengalah, dan mengalah  ada batasnya.

Apakah ajaran sufi sesat? Jawabannya tergantung pada pikiran dan hati masing-masing orang. Dan tidak perlu men-sesat-sesat-kan, menengo. Ambil saja manfaatnya, yang membuatmu lebih baik jadi manusia. Lebih baik kamu pelajari (atau tidak) daripada ribut padahal nggak paham-paham amat ilmunya.

Di zaman modern ini juga ada sufi. Kebanyakan dari mereka tidak dikenal, karena menjauhi eksistensi dan popularitas. Ada juga yang karena alasan dakwah, harus muncul di publik. Tapi tampil di publik bukan karena eksistensi dan popularitas. Juga tidak bertujuan mengejar materi. Kalau mereka kaya itu karena amalan, kesungguhannya dalam  melakukan perbuatan baik melayani umat, akhirnya terpaksa kaya.

Jadi, apakah mempelajari tasawuf membuat orang jadi gila? Yo nggak lah. Semua tergantung pada niat masing-masing orang. Kadang memang sufi itu mirip orang gila. Sukanya menyendiri dan gayanya ndeso tidak seperti orang kebanyakan. Tapi itu nggak penting, karena mereka nggak perduli dengan penilaian manusia, satu-satunya audience-nya adalah Tuhan.

Kalau memang sufi itu ndeso, terus koen kate lapo? Ndeso atau tidak ndeso, itu wilayah manusia. Tuhan nggak ngurusi ndesomu. Tuhan menilai kesungguhanmu mencintaiNya.

Wis ah, aku nulis ini karena nggak ada kerjaan. Kalau mau tahu lebih banyak soal tasawuf tanyakan mbah Google atau cari buku soal itu (golek enake tok ae koen iku, aku kesel nulise). Tapi tulisan soal tasawuf  kebanyakan ditulis dengan gaya khas anak lulusan kampus Islam atau pondok pesantren, banyak istilah Arabnya. Mumet ndase! Jarang yang ditulis dengan bahasa koboi.

Yang aku tulis ini cuman seujung kaku dari khazanah tasawuf yang ada. Makanya jangan dicopypaste, karena belum tentu yang aku tulis ini benar, bisa jadi malah menyesatkan!

(C) Robbi Gandamana, 8 Juli 2017

Kamis, 06 Juli 2017

Konyolnya TV Lokal



Kemarin saat mudik di Malang, mumet ndasku nonton TV yang banyak sekali pilihan channelnya. Banyak sekali TV lokal baru. Sebut saja Batu TV, UB TV, Dhamma TV, CRTV, ATV, Gajayana TV, B Channel, Bios TV, Arema TV, FTV, JTV, Malang TV, Maling TV, pokoke uakeh pol. Itu belum yang TV nasional. Iku serius ta?

Ada beberapa stasiun TV yang sudah lumayan kwalitasnya, tapi ada juga yang remuk jaya. Pokoknya sekedar siaran. Ada sebuah TV yang sering menayangkan live musik band lokal, tapi yang nyanyi --ya Alloh, ampuni hambamu--nggak layak tampil, baik suara maupun manusianya, gak marketable blas. Iku konser opo latihan stress se. *trenyuh*

Tapi bagaimana pun aku cukup terhibur oleh stasiun TV konyol tadi. Karena apa pun tayangannya jadi acara lawak, membuatku pringisan dewe. Thanks a lot, you made my day!

Nggak semua TV lokal tadi mblendes. Ada satu dua acara TV lokal yang aku suka karena unik. Salah satunya adalah siaran berita tapi pakai bahasa Suroboyoan. Saat itu beritanya : "Pas riyoyo ngene iki rego daging petek mundak, mergo akeh wong sing nggawe opor.." Oala, apa kalau beli daging ayam saat lebaran itu pasti diopor. Yo onok sing digoreng, disoto, dibakar, malah onok sing dipakakno kerek barang.

Ya, semua butuh proses, bisa jadi stasiun-stasiun TV baru tadi kedepannya bakal berjaya. Namanya juga usaha, karena mendirikan stasiun TV lebih masuk akal dibandingkan dengan bikin surat kabar baru. Zaman sekarang, koran, tabloid, majalah sedang sekarat, hidup segan mati tak mau. Hanya kaum tua yang membaca koran. Kaum muda kerjanya WA-an, BBM-an, fesbukan, males baca koran. Baca berita di internet saja.

Aku sendiri sebenarnya sudah lama bercerai dengan tontonan TV. Jujur saja, aku tidak mau menghabiskan umurku melihat kepalsuan, penuh polesan, tidak ada yang indah tapi diindah-indahkan. Nggak tambah pinter, tapi malah dumber than before---Jarene Simbah, TV zaman saiki iku isine taek. Karena "kerikil" ditempatkan dimaqamnya "emas" dan sebaliknya--- Juga karena TV-ku rusak, belum sempat beli lagi, oala wedussss.

Tapi nggak papa lah sekali-kali nyambangi TV. Kalau sudah mentok bingung nggak ada kerjaan, TV pun jadi pilihan. Lumayan, dari hasil kurang kerjaan nongkrong di depan TV, aku jadi nonton film Indonesia (bukan sinetron). Sudah lama sekali aku tidak pernah nonton film Indo (karena nggak ada donlotannya, *__*). "AADC 2" pun aku nggak nonton! Tahunya film Barat, kadang juga Korea, Jepang, India, pokoknya yang recomended, sembarang gelem.

Ternyata film "Cahaya Cinta Pesantren" boleh juga. Film yang diadopsi dari novel yang ditulis oleh Ira Madan berjudul sama. Disutradarai oleh Raymond Handaya yang non muslim. Pemeran utamanya Yuki Kato yang memerankan Marshila Silalahi. Gadis Batak yang alergi Pondok Pesantren tapi harus belajar di sana karena tidak diterima di SMAN favorit, ortunya nggak mampu menyekolahkannya di SMA swasta bla bla bla bla.

Yuki Kato bermain dengan sangat meyakinkan, adorable, mbois jaya. Bagiku film ini bolehlah kalau dibandingkan dengan film Korea atau Jepang yang recomended seperti "Welcome to Dongmakgol" (2005), "Departures" (2008), "A Girl At My Door" (2014), "Umimachi Diary" (2015), "The Handmaiden" (2016) lesbian suck!, dan banyak lagi. Itu menurutku, seleraku memang ndeso.

Kalimat kunci film tersebut oke juga : “Kalau kita mencintai segala sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati."

Lha kok ngomongno film se. Oke, kembali ke soal TV lokal.

Sisi baiknya, dengan adanya serbuan TV lokal, TV nasional atau yang sudah duluan ada, mau nggak mau harus meningkatkan kualitasnya kalau tidak ingin ditinggalkan pemirsa. Seperti nasib TVRI di 90an, begitu TV swasta bermunculan, TVRI pun dilupakan. Walaupun aku kadang merindukan masa kejayaan TVRI dulu, dimana nonton serial film barat yang sebenarnya biasa saja, jadi begitu sangat excited, karena kekurangan tontonan (hiburan).

Zaman sudah berubah, teknologi memudahkan kita menjadi apa pun. Beli kamera merk top markotop, bergaya fotografer, tapi hasil jepretannya garing sring. Lha wong nggak ada bakat, adanya cuman tekad. Sudah begitu berani ngeklaim diri fotografer.

Maunya serba instan. Ngakunya karya digital painting tapi ternyata hasil manipulasi photoshop. Dan dengan pede-nya ngaku seniman. Dipikirnya kalau cap seniman itu keren, kere! Tapi hebatnya banyak klien yang tertipu. Wake up Mbul, kembalilah berpijak di bumi lagi kawan, hentikan onanimu.

Revolusi informasi melanda negeri. Apa-apa digitalisasi. Harga-harga mahal tapi terbeli. Semua orang bisa bikin TV, menyampaikan berita sendiri, walau konyol yang penting hepi, walau nggak ada bakat yang penting unjuk gigi. Kalau nggak suka tinggat pencet, mati. Ndang baliyo Sri.

Tapi no problem, mari kita lanjutkan kekonyolan ini, konyol it's not a crime dan konyol itu halal!

(C) Robbi Gandamana, 6 Juli 2017

Minggu, 02 Juli 2017

Hati-Hati dengan Reuni



Hallo everybody, body ten pundi? Sudahkah anda bereuni tahun ini? Biasanya seminggu atau lebih pasca lebaran, sekolah atau organisasi mengadakan reuni. Dari reuni PAUD, TK, SD sampai Perguruan Tinggi. Dari organisasi pecinta alam, pecinta hewan sampai pecinta sesama jenis, semua larut dalam euphoria reuni.

Semua orang pasti senang jika diajak reunian, kumpul teman lama saat masih sekolah dulu. Masalahnya,  tidak semua orang punya kesiapan mental, biaya dan waktu. Banyak halangan (atau pantangan?) yang membuat orang memilih untuk tidak memilih bereuni.

Ada yang waktunya longgar, bisa datang reunian, tapi malu karena merasa belum sukses secara materi atau  malu karena masih jomblo, benci menghadapi pertanyaan "Kapan nikah?" dan pertanyaan sejenis. Ada juga yang ingin datang tapi tidak ada biaya, karena ada kebutuhan yang lebih mendesak, karena reuni bertepatan dengan tahun ajaran baru yang membutuhkan banyak biaya.

Di samping karena waktunya yang nggak pas (reuni tidak di hari libur) dan biaya, ada juga yang terpaksa nggak datang reuni karena jarak yang terlalu jauh. Domisili di pelosok pegunungan Papua, acara reuninya di pulau Sempu. Kapan-kapan ae boss.

Jadi, kalau ada orang yang tidak datang reuni, jangan langsung dicap sombong. Buanyak kemungkinan kenapa temanmu tidak memenuhi undangan reuni. Lebih baik berprasangka baik saja.

Karena reuni adalah sarana silahturahim yang ampuh, maka harusnya dipermudah, biaya reuni ditekan seminim mungkin. Jangan dipikir bahwa teman-temanmu semakmur dirimu. Banyak dari mereka yang kere. Some born to win, some born to lose. Jangan selalu dipikir biaya seratus ribu itu sedikit. Seratus ribu-mu tidak sama dengan seratus ribu temanmu yang cuman jadi tukang sapu. Kecuali memang reuninya dibikin eksklusif, reuni khusus orang berada.

Reuni tidak harus di hotel atau di tempat yang mewah, yang membutuhkan dana besar untuk ukuran buruh pabrik tempe. Kecuali ada sponsor yang mau menanggung semua itu. Kalau sudah ada sponsor tapi masih saja dipungut biaya besar, itu mencurigakan, ada yang cari keuntungan dari acara tersebut. Kecuali ada laporan dana yang masuk dan yang dikeluarkan untuk keperluan reuni.

Walau begitu aku tetap salut pada para panitia reuni. Kok mau-maunya sibuk ngurusi segala tetek bengek keperluan reuni, ganok penggawean liyo ta Mbul. Menawarkan proposal kesana kemari ganok sing ngreken. Salut, kudoakan semoga amal ibadah para panitia reuni diterima di sisiNya, mugi-mugi jembaro kubure. Aamiin.

Terus terang aku nggak terlalu suka dengan reuni akbar sekolah atau semacamnya. Biaya dari mana, lari kemana, tidak ada laporan setelah itu. Such a business! Dipaksakan harus di tempat mewah agar terlihat mentereng dan bergengsi. Dan reuni semacam itu kebanyakan jadi ajang pamer kesuksesan. Datang dengan polesan dan topeng keindahan, wedus dipupuri, kostum artis yang siap konser dangdut koplo di THR.

Sebenarnya wajar kalau prestasi dan kesuksesan dipamerkan, itu manusiawi. Masalahnya cuman bagaimana caranya memamerkan kesuksesan dengan elegan, tidak dengan cara yang norak dan ndeso. Terus caranya? aku gak eruh! aku bukan pakar sosiologi. Minimal berlakulah sewajarnya. Aku sendiri nggak mau pamer. Bukan karena alim, tapi karena nggak ada yang dipamerkan, kere of the year!

Pamer di acara reuni kadang tidak direncanakan, tapi dilakukan dengan sadar. Bisa jadi karena ingin mensejajarkan diri dengan teman-temannya yang status sosialnya lebih tinggi atau hidupnya lebih makmur. Menunjukan diri bahwa dia sudah sukses, tidak semiskin dulu.

Kalau ikut reuni, coba rasakan aura pamer di sekitarmu. Misal ada seseorang yang sering banget ngecek gadgetnya, padahal nggak ada telpon atau pesan masuk. Bisa jadi itu pamer terselubung, memamerkan gadget canggihnya keluaran terbaru. Walau tidak selalu begitu, karena siapa tahu dia pelaku bisnis online, yang dikit-dikit harus tengok HP, atau memang tidak punya teman, satu-satunya temannya adalah HP.

Salut pada sebuah organisasi yang mengadakan reuni, halal bi halal, atau kumpul-kumpul lainnya, dilarang membawa (mengoperasikan) gadget. Sebelum masuk tempat acara, gadget dititipkan di depan. Biar yang datang lebih fokus berinteraksi satu sama lain sampai acara kelar, nggak asyik sendiri dengan gadgetnya.

Itulah kenapa aku lebih suka reuni mini, kumpul-kumpul dengan teman lama yang paling akrab. Karena itu lebih murni, sejati. Tidak berhias, tanpa hiasan dan polesan. Mereka datang tidak untuk mengekspresikan kesuksesannya. Tapi datang sebagai dirinya, seperti kata Kurt Cobain : "Come as you are". Karena memang diri kita itu nggak penting. Siapa dirimu, dimana kerjamu, jabatanmu, itu semua nggak penting, yang penting itu kelakuanmu, akhlakmu.

Jadi, reuni bisa jadi ibadah, bisa jadi malah tambah dosa. Semua tergantung pada niat masing-masing orang.  Jelas nggak asyik kalau niat datang ke reuni ingin membanggakan diri dengan pencapaian kesuksesan. Tapi iku urusanmu karo uripmu, aku gak ngurus, sing penting gak gelut.

Sori, ini cuman hipotesa awur-awuran dari seseorang yang penuh dendam karena sering tidak bisa datang reuni karena sesuatu hal di atas. Don't take it seriously, jangan percaya begitu saja tulisan ini!

Wis ah, matur nuwun.

(C) Robbi Gandamana, 3 Juli 2017







Selasa, 20 Juni 2017

Kapitalisme Pendidikan di Negeri Ini




Saat ini para ortu yang akan menguliahkan anaknya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mumet ndase! Apalagi PTN yang punya nama besar. Duit puluhan juta harus disiapkan. Jumlah uang yang besar untuk ukuran rakyat jelata yang pendapatannya pas-pasan. Apesnya, kebanyakan dari mereka yang akan kuliah itu golongan pas-pasan.

Kapitalisme melanda dunia kampus. Lha ya'opo, semua keperluan pendidikan kok dibebankan ke rakyat. Biaya pembangunan kampus dan peralatan pendidikan dibebankan kepada mahasiswa (rakyat). Gaji para dosen dan para stafnya diambil dari dana APBN (uang rakyat). Dan juga gedung PTN didirikan di atas tanah negara yang sesungguhnya milik rakyat.

Ketika ada yang menyinggung soal biaya yang fantastis itu, malah dicemooh, "Uripo nang alas, nang kono serba gratis!" Wadoh. Sepertinya di negeri ini tidak berlaku logika apa pun. Seharusnya marah tapi tidak marah, seharusnya bereaksi tapi tidak bereaksi, seharusnya kesakitan tapi malah cengengesan, seharusnya protes tapi memaklumi. Itu aneh bin ajaib.

Nggak heran kalau banyak anak lulusan SMA yang tidak meneruskan kuliah. Ortunya angkat tangan dengan biaya masuk kuliah yang fantastis. Padahal banyak dari mereka yang berotak cerdas, punya potensi yang dibutuhkan bagi negeri ini.

Kita adalah bangsa yang membunuh potensi rakyatnya sendiri. Tugas negara adalah mencerdaskan rakyatnya, tidak perduli kere atau kaya, semua berhak mendapatkan pendidikan. Tugas sekolah itu mencerdaskan. Jadi tidak pilih-pilih, baik yang miskin atau kaya, yang bodoh atau pintar. Anak masuk SD tujuannya agar bisa membaca, lha kok syarat masuknya harus sudah bisa membaca.

Negara yang butuh rakyat, bukan rakyat yang butuh negara. Negara harusnya yang "menjemput bola", bukan rakyat yang ngemis mengajukan proposal. Masyarakat tanpa negara, tetap bisa jadi masyarakat. Tapi negara tanpa masyarakat nggak bisa jadi negara. Jerman adalah contoh yang  bagus, bagaimana di negara itu pendidikan digratiskan sampai perguruan tinggi. Jerman tidak sekaya negeri ini, tapi sangat cerdas me-manage negerinya.

Nggak cuman masuk kuliah, masuk SMPN dan SMAN yang layak, rakyat terpaksa memecah celengan Bagong dan menguras habis isinya. Karena sekolah (yang layak) dijual mahal. Coba rasakan aura mereka yang menerima wali calon murid saat wawancara penerimaan siswa baru. Ketika bertanya soal kesanggupan bayar biaya pembangunan, matanya begitu "ngaceng", ada semacam kelaparan yang parah akan uang.

Ada memang sekolah gratis, tapi kacangan! Sarana dan fasilitasnya apa adanya, pokoknya sekedar sekolah. Kalau nggak terpaksa, nggak mau ortu yang menyekolahkan anaknya di sana. Walau ada juga yang sebenarnya mampu, tapi tetap menyekolahkan anaknya di sekolah gratisan.

Harusnya menyekolahkan anak di sekolah yang bagus adalah indikator gengsi. Tapi kenyataannya, Indikator gengsi rakyat indonesia  itu gadget canggih atau kendaraan. Mereka sama sekali nggak malu kalau anaknya sekolah di sekolah gratis, tapi malu kalau nggak bergadget canggih atau kendaraan bagus.

Maka jangan heran kalau ada orang yang lebih memilih ngredit motor baru, daripada pusing membayar biaya masuk kuliah anaknya. Nggak malu anaknya nggak kuliah, asal punya motor baru. Bagus kalau untuk keperluan wiraswasta, tapi ini cuman buat nggaya keliling kampung cengengesan unjuk gigi.

Ada komentar sinis, "lapo kuliah, paling nek lulus nasibe podo karo sing gak kuliah, dadi buruh." Oala. Kewajiban manusia itu berusaha, soal sukses atau tidak itu urusan Tuhan. Tugas manusia itu menanam, soal panen atau tidak, biar Tuhan yang memutuskan. Yang dinilai Tuhan itu usahanya, bukan suksesnya. Kaya (materi) pun tidak berarti sukses.

Harusnya orang tua adalah tumbal buat anaknya. Demi pendidikan yang baik buat anak, orang tua harus berani gembel, hidup secara miskin. Berikan anak pendidikan yang baik, juga kenangan masa kecil yang baik yang hanya terjadi sekali dalam hidup mereka. Itulah pengabdian. Tapi yang banyak terjadi, ortunya kemana-mana nenteng gadget canggih tapi anaknya sekolah di sekolah negeri ndeso burek gratisan nggak jelas.

Lain perkara kalau sudah berusaha tapi tidak diterima di sekolah yang baik, itu bisa dimaklumi. Ada banyak hal yang membuat anak gagal diterima di sekolah yang baik. Misal sistem poin yang menurutku konyol. Anak yang ortunya guru otomatis poinnya (nilainya) bertambah. Poin itu harusnya sebuah prestasi, bukan karena anaknya seorang guru, walikota, camat, dan lainnya. Itu diskriminasi. Mau guru, buruh, tentara, petani, pemulung, semua punya peran dalam kehidupan bernegara.

Saat ajaran baru, selalu ada fenomena menarik yang selalu terulang. Ada yang kesulitan biaya karena miskin, tapi ada yang mampu tapi pura-pura kere dengan ikutan program Gakin (warga miskin). Ada juga orang kaya yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah bagus, tapi nilai anaknya pas-pasan, akhirnya lewat jalan belakang  menyetorkan sejumlah uang agar anaknya tidak dieliminasi.

Itulah sisi kusut dunia pendidikan di negeri ini, yang sepertinya sulit untuk dibenahi, karena sudah mendarah daging. Beruntunglah pemimpin negeri ini, karena rakyatnya sangat manut (atau cuek?). Untuk mengejar selembar gelar sarjana, disuruh bayar berpuluh-puluh juta pun sanggup. Sekolah dijual mahal tapi tetap laris terbeli, salut!

Wis ah, matur nuwun.

(C) Robbi Gandamana, 20 Juni 2017

Sabtu, 17 Juni 2017

Cak Nun : Khilafah adalah Jalan Satu-satunya



Yang saya tulis ini adalah pemikiran Cak Nun. Ini semacam reportase dari salah satu pengajian Cak Nun, Sinau Bareng di Polresta Malang, 7 Mei 2017. Saya olah kembali dari bahasa ucapan menjadi bahasa tulisan. Ada beberapa penambahan dan pengurangan seperlunya dari saya agar enak dibaca dan gampang dimengerti tanpa mengubah arti dan maksud dari pemikiran beliau.

Ada yang menarik dari pitutur Cak Nun, soal khilafah. Saya kaget ketika Cak Nun ditanya apakah beliau setuju khilafah. Beliau menjawab sangat setuju, karena khilafah adalah satu-satunya jalan dalam kehidupan. Tapi Cak Nun tidak mau memaksakan harus dilabeli khilafah. Karena sebenarnya NKRI itu sudah khilafah. Nggak jadi kaget.

Menurut Cak Nun, khilafah itu sistem yang alamiah, taat kepada Allah. Semua yang ada di dalam badan kita itu khilafah. Detak jantung itu khilafah. Semua yang ada di alam itu juga khilafah. Angin berhembus, ayam berkokok itu khilafah, tapi tidak perlu disebut khilafah. Hewan itu taat sama Allah, mereka tidak pernah salah karena tidak dikaruniai akal pikiran seperti manusia.

Ada 2 macam khilafah, ada khilafah yang makro, menyeluruh dan ada khilafah yang sekedar kemampuan manusia. Allah tidak menagih melebihi kadar kemampuan manusia. Untuk jadi orang islam yang baik, tidak mesti hafal Al Qur'an, tidak harus menguasai semua dimensi ilmu Islam. Nggak masalah kalau tahunya masih surat Al Fatihah, yang penting hidupmu benar, penuh kasih sayang, menghormati tamu, ringan tangan menolong orang lain.

Keinginan untuk bersatu membentuk suatu negara itu juga khilafah. Jadi tanpa diresmikan negara khilafah pun, NKRI sudah khilafah. Buat apa memaksakan negara khilafah seolah-olah bangsa Indonesia tidak taat sama Allah. Bahwa tingkat ketaatan manusia berbeda-beda, itu lumrah, tidak ada muslim yang ketaatannya 100%. Sudah umroh sepuluh kali pun tetap bisa tersesat.

Bahwa bentuknya NKRI, apakah NKRI itu bertentangan dengan khilafah? Apakah Pancasila bertentangan dengan Islam? Tidak. Pancasila lahir atas sumbangan nilai-nilai dan ilmu Islam. Bagaimana para perumus Pancasila dulu tahu "Ketuhanan yang Maha Esa" kalau tidak dari Allah sendiri lewat Al Qur'an (surat Al Ikhlas). Begitu juga dengan sila-sila yang lain, semua sudah memenuhi kriteria Islam.

Tidak perduli namanya NKRI atau apa, yang penting sudah memehuhi kriteria Islam. Bahkan secara substansial negara Indonesia itu adalah negara Islam. Satu contohnya adalah pada saat acara Halal Bi Halal, non muslim nggak cuman ikutan, tapi juga ikut urunan. Tapi secara formal tidak perlu menyebutnya negara Islam. Sungkan rek.

Jadi, negara ini secara substansial sudah khilafah. Jangan diresmikan secara formal. Yang penting perbuatannya sudah khilafah. Mau disebut ayam atau tidak, yang penting berkokoknya. Tidak perduli namanya gula atau apa, yang penting rasanya manis. Yang penting itu manisnya, bukan gulanya.

Khilafah itu bisa dengan akal (punya kesadaran untuk mengabdi pada Allah) dan bisa khilafah begitu saja, seperti alam semesta yang taat, mengabdi, bertasbih padaNya. Jadi seandainya tidak ada Hizbut Tahrir, tidak ada PKS, bahkan tidak ada NKRI pun khilafah itu sudah ada sejak Allah menciptakan kehidupan di dunia.

Boleh saja khilafah dijadikan sistem nilai dalam sebuah negara, asal harus dimulai dari nol. Lha wong negara ini sudah berdiri selama 72 tahun. Pancasila sudah final, disepakati sebagai falsafah bangsa. Kalau diganti negara khilafah, maka harus mengubah Pancasila, UUD 45, DPR, MPR dan seterusnya.

Kita punya saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, beda sejarah, beda latar belakang. Jika dipaksakan khilafah pasti akan terjadi benturan, permusuhan dan pertumpahan darah. Itu tidak sesuai dengan Islam yang Rahmatan Lil Alamin : menjamin semua keamanan semua umat manusia di sekitarnya. Jangan sampai ada nyawa yang terancam, jangan sampai ada harta yang dicuri, jangan sampai ada martabat yang dinista.

Jadi, jangan jadikan khilafah sebagai alat politik dan memaksakan negara bersistem khilafah. Itu namanya radikal. Radikal itu memaksakan sesuatu paham atau keyakinan pada orang lain agar sama dengan keinginan si pemaksa atau kelompok tertentu.

Sistem Khilafah tidak bisa diwujudkan kecuali dengan menumpahkan darah saudara sebangsa. Maka, terimalah NKRI dengan segala kehebatan dan kekurangannya. Hidup tidak berlangsung berdasar keinginanmu, tapi berdasar harusnya begitu. Hiduplah berdasarkan yang punya hidup dan kehidupan, Allah.

Trims.

-Robbi Gandamana-

*Trims Simbah atas ilmunya.

Selasa, 13 Juni 2017

Jokowi Memang Asyik, Tapi Tetap Perlu Dikritik (Antara Jokowi dan Cak Nun)



Kalau bicara tentang pencapaian Jokowi, nggak perlu diragukan lagi. Banyak sekali pencapaiannya. Anda pasti lebih tahu daripada saya. Maaf, saya bukan pengamat pembangunan.

Lihat saja pembangunan SPBU di Kabupaten Puncak, Papua. Premium yang semula berharga Rp 50.000 per liter sekarang turun jadi 6.500 per liter. Kelihatannya memang sepele, tapi dampaknya sangat terasa. Hal-hal kecil seperti itu kalau tidak diurusi bisa jadi pemicu kecemburuan sosial antara rakyat Papua dengan propinsi lain yang sudah lama tersentuh pembangunan.

Juga pembangunan jalur kereta api pertama kali di Kalimantan, Sulawesi dan Papua Barat. Daya angkut KA jauh lebih bagus dibanding Bus. Diharapkan dengan adanya KA, laju pertumbuhan ekonomi akan lebih terdongkrak. Setidaknya orang luar Jawa nggak nggumun melihat KA. Ingat cerita Kasino Warkop DKI tentang temannya orang Ambon yang takjub lihat KA, "Aih ada besi merayap! Merayap sudah begini kencang, bagaimana kalau berdiri???"

Banyak pencapaian Jokowi yang memang dibutuhkan oleh rakyat, anda bisa tanyakan mbah Google, karena jujur saja saya malas menyertakan referensi. Tapi Jokowi bukanlah Nabi, tidak semua kebijakannya cocok, diterima dan disetujui oleh rakyat. Apa soal reklamasi Teluk Benoa, soal kenaikan tarif TDL, atau soal apa pun.

Fanatik boleh, buta jangan. Jika sudah mendukung Jokowi, maka menganggap Jokowi 100% benar, sedangkan Prabowo 100% salah. Begitu juga jika mendukung Prabowo. Tidak ada manusia yang lebih unggul, kekurangan manusia yang satu adalah kelebihan manusia yang lain, begitu sebaliknya. Fanatik buta membuat orang jadi "kerdil". Karena menutup diri pada ilmu atau kebaikan hanya karena ilmu dan kebaikan itu dibawa oleh orang yang dibenci, atau bukan dari kelompoknya.

Pemerintah harus selalu membuka pintu kritik lebar-lebar. Mengkritik itu halal bahkan wajib jika memang diperlukan. Yang dilarang itu fitnah, menghasut, provokasi dan hatespeech. Tapi yang sering terjadi, ketika seseorang mengkritik orang lain langsung dianggap hater oleh pendukung orang yang dikritik.

Terhadap negara, rakyat diharapkan perduli pada persoalan (polemik) yang ada. Jangan terlalu cuek pada negara. Pasif itu mendorong orang jadi apatisme. Sifat apatis menjadikan orang tidak punya jiwa patriot, militansi, perjuangan untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Selama kritikan itu membangun, silakan saja. Seorang presiden dilarang alergi kritik. Bahkan kritikan sepahit apapun tetap harus diterima, presiden harus berjiwa besar. Tingkat intelektual rakyat tidak bisa distandarisasi. Ada yang mengkritik pakai data, tapi banyak juga yang asal kritik. Apalagi kritik tidak diharuskan pakai solusi.

Jadi, siapa pun yang mengkritik presiden, pendukungnya harus legowo. Saya percaya presiden Jokowi pasti legowo. Kritik adalah bentuk keperdulian pada negara, mereka mengkritik karena cintanya yang sangat pada NKRI. Siapa pun yang mengkritik harus kita sikapi dan prasangkabaiki dengan luas hati.

Begitu juga dengan Cak Nun, seorang tokoh budaya yang sering mengkritik Jokowi. Cak Nun melakukan itu karena sangat mencintai negerinya. Orang sekaliber Cak Nun sangat layak mengkritik pemerintah. Cak Nun adalah sesepuh, tidak hanya di antara jamaahnya, tapi bagi bangsa ini. Para pejabat penting, petinggi partai, petinggi Ormas, dan orang penting lainnya pernah sowan ke Cak Nun, minta nasehat dan petunjuk dari beliau.

Cak Nun bukan bagian dari pemerintahan, bukan dari Parpol apa pun, bukan dari Ormas apa pun dan juga bukan bagian dari sekte atau madzhab apa pun. Jadi bisa melihat masalah dengan lebih jernih, karena berada di luar lingkaran.

Sedikit tentang Cak Nun :

Di masa mudanya Cak Nun adalah aktivis pembela rakyat (sampai sekarang). Beliaulah yang memperjuangkan jilbab di perusahaan-perusahaan yang melarang pekerjanya berjilbab saat bekerja. Di zaman itu perempuan berjilbab bisa dihitung dengan jari, tapi Cak Nun dengan pede-nya mementaskan drama kolosal "Lautan Jilbab". Dan perempuan berjilbab sekarang sama sekali tidak tahu siapa yang telah memperjuangkan mereka.

Cak Nun adalah tokoh reformasi yang dilupakan bangsa ini. Bersama Nurcholis Madjid, Amien Rais dan para aktivis pemuda, menggulingkan Soeharto. Tapi yang dikenal sebagai tokoh reformasi cuman Amien Rais, yang lainnya terlupakan.

Di masa itu Cak Nun berani "menabrak" semua aturan rezim Soeharto yang kolot dan kejam. Ajaibnya Cak Nun malah dijadikan guru ngaji oleh Soeharto. Pemahaman Islam Soeharto pun mengalami konversi dari Islam Jawa (Kejawen) ke Jawa Islam.

Cak Nun tahu persis alasan Soehato mau turun (21 Mei 1998). Bahkan istilah "gak patheken" yang diucapkan di pidato pengunduran diri Soeharto : "Nggak jadi presiden gak patheken!", itu didapat dari Cak Nun. Soeharto turun bukan karena gerakan mahasiswa, tapi nggak tega hatinya melihat rakyat mulai menjarah. Kalau cuman gerakan mahasiwa, kecil! Soeharto punya pasukan militer yang setia. Sekali perintah, gerombolan mahasiswa pasti musnah.

Maaf, saya tidak pro Soeharto atau Rezim Orba. Saya kisahkan ini agar anda yang mantan aktivis mahasiswa '98 jangan geer. Soeharto lengser bukan karena Student Power, tidak seperti yang anda baca di berita-berita mainstream tentang lengsernya Soeharto.

Setelah Soeharto lengser, Cak Nun malah menjauh dari peta politik dan urusan kepemimpinan di negeri ini. Beliau sadar, ternyata para tokoh atau aktivis reformasi tidak 100 % bertujuan reformasi. Kebanyakan cuma ngincar jabatan, ladang basah untuk diri dan partainya. Sekarang kesibukan Cak Nun cuman keliling shalawatan membesarkan hati dan mencerdaskan rakyat.

Kalau Cak Nun mau, beliau bisa jadi orang penting di pemerintahan. Tapi itu tidak dilakukannya. Beliau punya banyak umat yang fanatik yang kalau Cak Nun mau bisa digerakan untuk kepentingan beliau. Tapi itu juga ditepisnya, malah Cak Nun melarang jamaahnya untuk taat dan membela beliau.

Cak Nun lah yang membujuk Gus Dur agar mau jadi presiden menggantikan Habibie. Karena saat itu jika Megawati yang naik, partai hijau pasti galau. Tapi jika Habibie yang naik, partai merah nggak rela. Kuatir masyarakat akan terpecah, maka presiden yang naik harus dari kalangan ulama, bukan dari partai politik. Cak Nun pula lah yang membujuk Gus Dur untuk meninggalkan istana saat di-impeachment oleh MPR.

Maaf kalau out of topic, cerita soal Cak Nun ini saya kisahkan kembali untuk para pendukung Jokowi yang membenci Cak Nun hanya karena seringnya Cak Nun mengkritik pemerintah. Cak Nun bukanlah anak kemaren sore. Beliau sangat paham apa yang dilakukannya.

Cak Nun mengkritik itu pasti karena alasan dan dasar yang kuat. Beliau punya pengalaman panjang, wawasan yang luas dan pengetahuan yang mendalam di bidangnya. Walau pendidikan terakhirnya cuman semester 1 Fakultas Ekonomi UGM, tapi otaknya nggak kalah dengan profesor. Bahkan para profesor minder bila bersanding dengan Cak Nun dalam satu majelis ilmu.

Jadi, mengkritik itu bukan berarti membenci. Malah sebaliknya, mengkritik itu dalam rangka perduli, tidak rela melihat bangsa ini terus-terusan menderita. Dan hidup itu lebih banyak yang tidak kita setujui daripada setujunya. Maka butuh keluasan hati untuk menyikapi ketidaksetujuan itu. Benar kita relatif, tidak ada sesuatu di dunia ini yang betul-betul benar. Hanya Tuhan yang pasti benar.

Akhir kata, Jokowi memang hebat, tapi itu tidak berarti apa-apa tanpa pendukung yang hebat. Maka, jadilah Jokower yang punya keluasan hati dan bermartabat. Terimalah semua kritik pada presiden Jokowi dengan lapang dada dan legowo.

Iya sudah itu saja, trims.

(C) Robbi Gandamana, 14 Juni 2017

Minggu, 11 Juni 2017

The Great Guy of Slamet




"Diakali wong Arab!" itu jawaban teman saya dulu, waktu saya tanya kenapa nggak puasa saat bulan puasa. Jawaban yang cukup singkat, padat dan..salah. Konyolnya, kalimat Itu lah yang selalu saya ingat tiap kali bulan puasa datang. Oala, semproel.

Puasa memang sengsara, disamping lapar juga capek kurang tidur. Jadi, jujur saja kalau tidak suka. Tapi berhubung puasa itu kewajiban dariNya, maka harus mau dan ikhlas menjalankannya. Allah mengayomi kita, Dia ingin kita belajar dan meneliti manfaat dan kedahsyatan puasa. Allah tidak pernah merepotkan hambaNya!

Kalau kita tidak suka puasa tapi tetap menjalankannya, itu hebat. Apa hebatnya melakukan perbuatan yang disukai. Kalau sudah suka, wajarlah kalau dilakukan. Jadi nggak papa kalau kita jujur bahwa kita nggak suka puasa, asal tetap ikhlas menjalankan. Karena letak kemuliaan itu melakukan sesuatu yang tidak sukai tapi tetap dilakukan dengan ikhlas karena tahu itu baik dan bermanfaat.

Jadi, jadikan puasa sebagai pembelajaran, pemahaman, pelatihan untuk kebaikan kita. Dan diakhir bulan Ramadhan kita semua akan takbir : "Allahu Akbar!", karena takjub dengan kemuliaan dan kedahsyatan Ramadhan, sekaligus terharu karena Ramadhan telah berlalu, sedangkan selama Ramadhan kita ogah-ogahan menjalankan puasa.

Tapi itu cuman intermezo, bukan itu yang akan saya bahas. Yang akan saya bahas sekarang adalah fenomena ustadz anyaran (ustadz dadakan) saat bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan jadwal ustadz benar-benar padat. Nggak cuman ngisi kultum saat shalat Tarawih, Subuh pun juga ada kultumnya. Padahal jumlah ustadznya terbatas. Apalagi mereka jauh hari sudah di-booking di lain tempat. Walhasil ta'mir masjid kelimpungan. Lowongan ustadz pun dibuka lebar-lebar.

Bulan puasa adalah saat yang tepat bagi mereka yang ingin meniti karier sebagai ustadz. Walau ustadz dilarang untuk dijadikan profesi, tapi profesi ustadz sangat menjanjikan di akhirat nanti. Ngustadz itu pekerjaan Tuhan, melayani umat. Maka seorang ustadz dilarang pasang tarif. Dibayar untung, nggak dibayar jangan mutung, kayak lutung.

Dalam sikon seperti ini, semua orang dibolehkan tampil memberi kultum. Nggak perduli kamu rakyat jelata, tukang sapu, gondes, mrongos, cebol, hobbit, gembrot, kalau memang berani dan sanggup memberikan kultum, silahkan tampil. Itu lah demokrasi. Tapi tentu saja ada semacam kurator yang menyeleksi layak tidaknya seseorang jadi penceramah, kayak juri di acara Indonesia Mencari Zakat..eh Bakat.

Apalagi sebenarnya semua orang boleh ngustadz. Asal tidak menyombongkan diri ngeklaim dirinya Ustadz padahal ilmunya cuman didapat dari Al Qur'an terjemahan Depag. Dan pengajian itu sebenarnya bukan mengajari, tapi orang berkumpul mencari derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah.

Di antara ustadz-ustadz anyaran tadi, ada satu orang yang paling menarik perhatian saya. Slamet namanya. Tongkrongannya sangat berkarakter, marketable kalau dijadikan bintang iklan obat tumo.

Face-nya Jawa abis, tapi busananya gamis. Orangnya alim, ngajinya fasih karena pernah mondok di sebuah pesantren kelas kampung. Nggak heran kalau dia tiap hari pakai baju Islami (walau busana tidak ada agamanya). Kalau saya yang pakai gamis atau baju taqwa, itu "penipuan" namanya. Lha wong nggak bisa ngaji, ilmu agama pas-pasan kok bergaya orang alim.

Slamet ini sejenis "suku Jawa terakhir", karena orangnya sangat njawani, sopan, sumeh dan supel dan ringan tangan. Beda dari kebanyakan orang Jawa sekarang yang sudah nggak njawani lagi. Dia sendiri adalah seorang marbot, penjaga sekaligus perawat Masjid. Sebuah profesi mulia yang tidak akan pernah dicita-citakan oleh anak TK seantero negeri ini. Di samping marbot , dia juga buruh tani, kerja serabutan, jadi penggali kubur pun siap.

Saat beliau tampil memberikan kultum, semua mata dan telinga tertuju padanya. Yang ngantuk langsung "pyar", yang lemes langsung bugar. Bukan karena konten ceramahnya yang menarik, bahkan sudah sering dibahas, normatif. Tapi cara penyajiannya yang apa adanya, autentik, lucu tapi tidak dibuat-buat. Walau tanpa teks, tapi ngomongnya lancar dan mengalir. Ada semacam faktor X yang membuat ceramahnya asyik untuk disimak.

Ada memang orang yang punya bakat terpendam seperti Slamet. Walau nggak berpendidikan tinggi, tapi pidatonya asyik, rileks, meyakinkan dan membumi. Bahasa yang dipakai bahasa rakyat, Jawa campur Indonesia. Yang membuat ceramahnya jadi hidup, segar dan konyol. Seperti saat dia bilang, "Ibadah niku patute nggih khidmat lan khusyu'. Dua-duanya niku kale." (Ibadah itu baiknya ya khidmat dan khusyu'. Dua-duanya itu dua). ???? Dua = kale; bahasa Jawa Kromo. Itu khan setingkat dengan : "kita harus selalu always".

Kadang kognitif itu nggak penting-penting amat. Yang penting hati Ustadz dan jamaahnya nyambung. Banyak ustadz yang lulusan kampus atau pondok pesantren mentereng tapi ceramahnya membosankan. Cara penyajiannya nggak asyik, apalagi terlalu banyak istilah Arab dan pakai bahasa kampus. Padahal yang dihadapi itu orang kampung yang nggak berpendidikan tinggi dan awam agama. Mereka cuman ndlahom mendengar ceramahnya.

Ada ustadz yang hobinya merekayasa kesan. Biar terkesan intelek, berilmu tinggi, orang kampung diceramahi pakai bahasa mentereng. Akhirnya ilmu yang disampaikan nggak nyampai, lha wong jamaahnya nggak paham.

Mungkin karena itu lah kenapa sopir Bus lebih mudah masuk surga daripada Ustadz. Karena saat si sopir bus menyetir busnya dengan cepat, penumpangnya pada berdoa khusyuk menyebut namaNya. Sedangkan saat Ustadz ceramah pakai bahasa yang mbulet bertele-tele, jamaahnya ngantuk, misuh dalam hati, dan sama sekali tidak ingat Tuhan. Guyon rek.

Kembali ke soal Slamet. Jika bakat ngustadznya Slamet diasah terus, nggak mimpi kalau dia bisa jadi Zainudin MZ berikutnya. Dia hanya terlalu lugu, polos dan ceplas-ceplos. Ayo Met, kamu bisa!!!!!

Ngomongin Slamet bakalan bisa berjilid-jilid, karena banyak sisi dari sepak terjangnya yang asyik untuk ditulis. Slamet itu jenis manusia yang one in million. Dia hidup apa adanya, nrimo ing pandum, menjauhi eksistensi dan popularitas. Sedangkan kita, hidupnya cuman acting, pamer dan segala macam urusan duniawi yang membuat diri kita lari dari kesejatian, sadar atau tidak.

Kita butuh lebih banyak orang seperti Slamet dalam kehidupan kita. Mereka bisa menjadi pengontrol, pembuka mata hati kita, agar tidak terlalu kerasan asyik masyuk dalam kehidupan dunia yang busuk ini. Karena semakin lama manusia itu lari dari dirinya. Ada yang jadi anjing, babi, bahkan ada yang jadi Buto Terong, Wewe Gombel dan banyak lagi.

Wis ah.

(C) Robbi Gandamana, 11 Juni 2017

Kamis, 08 Juni 2017

Selamat Hari Kasih Sayang Islam



Ternyata Islam punya semacam Hari Kasih Sayang. Tentu saja kasih sayang dalam arti yang universal, bukan kasih sayang ala Valentine Day.
Hari Kasih Sayang di sini adalah mengenang Fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah) yang diabadikan dalam Al Quran sebagai Fathan Mubina (kemenangan yang nyata), tanggal 10 Ramadhan tahun 8 H. Pasukan Islam dari Madinah berhasil merebut kembali kota Mekkah.
Saat itu ribuan tawanan musuh diberi pengampunan oleh Rasulullah, "Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing‑masing."
Pokoknya tidak ada yang boleh ngasah pedang, dipersilahkan kembali ke istrinya masing-masing, kentu-kentu kono sakarepmu. Perang sudah berakhir.
Tentu saja pasukan Islam langsung purik mendengar pidato Rasulullah. Sudah capek-capek mempertaruhkan nyawa, dihinakan, dinistakan bertahun-tahun, lha kok saat kemenangan sudah diraih, disuruh membebaskannya. Ciyus??? enelan???
Apalagi ternyata masih ada perintah lagi. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, harta benda termasuk unta, dibagikan kepada para tawanan. Pasukan Islam sendiri nggak kebagian apa-apa. Akibatnya pasukan Islam pun protes keras.
Melihat pasukan Islam galau, Rasulullah pun bertanya, "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku? Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian? Kalian memilih mendapatkan unta ataukah memilih cintaku kepada kalian?"
Mereka pun terharu, nangis bombay, karena cinta Rasulullah pada mereka begitu besar, sama sekali tidak sebanding dengan pampasan perang, unta, harta benda yang dibagikan pada para tawanan.
Lewat kejadian ini Rasulullah memperlihatkan pada umatnya tentang kemenangan yang sejati. Yaitu kemenangan mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan nafsu duniawi. Beliau menunjukan pada kita bahwa Islam adalah agama kasih. Dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa rela memaafkan musuh yang telah melecehkan, menghina, bahkan membunuh keluarga mereka.
Karena hakikatnya manusia diciptakan tidak untuk mengalahkan manusia lain, tapi mengalahkan diri sendiri. Dalam perang antar manusia, permainan, olah raga, boleh menang (atau kalah). Tapi di luar itu, tiap hari manusia sebisa mungkin menang berperang melawan dirinya.
Btw, apa yang sudah dicontohkan Rasulullah di atas sebenarnya sudah lama dikenal dan diamalkan oleh orang Jawa dengan falsafahnya "menang tanpo ngasorake" (menang tanpa merendahkan) sebelum Islam hadir di bumi Nusantara. Makanya Islam tidak di turunkan di Nusantara. Karena pemahaman (filosofi) hidupnya sudah mateng. Rugi kalau diturunkan di Jawa.
Kembali ke soal Hari Kasih Sayang.
Menurutku momentum Fathu Mekkah ini layak dijadikan hari besar Islam. Untuk mengenang keikhlasan, kesabaran dan kebesaran jiwa Rasulullah dalam memperlakukan musuh-musuh Islam. Daripada Hari Ayah, Hari Anak, Hari Om, Hari Tante, Hari Ponaan, nggak penting-penting amat, yang sepertinya nggak ada akar filosofi, nilai, hikmah yang bisa jadi alasan yang kuat kenapa dijadikan hari besar.
Mungkin namanya bukan Hari Kasih Sayang Islam, embuh opo terserah. Kalau Hari Kasih Sayang takutnya disalah-artikan jadi kayak Valentine Day. Lha wong Hari Ibu saja diartikan seperti Mother's Day-nya Amrik kok. Padahal Hari Ibu itu mengenang Kongres Perempuan Indonesia di Jogja 22-25 Desember 1928. Kongres yang dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.
Ya sudah itu saja, matur nuwun.
(C) Robbi Gandamana, 8 Juni 2017
*Ojok ngomong sopo-sopo yo, tulisan ini terinspirasi dari bukunya Cak Nun : "Jejak Tinju Sang Kyai".

Senin, 05 Juni 2017

Antara Afi dan Generasi Copy Paste


Kasihan juga sama Afi Nihaya Paradisa, anak muda yang sedang berproses dibully habis-habisan, api semangat kreatifnya dipadamkan paksa. Tulisannya yang berjudul ''Belas Kasih dalam Agama Kita'' disebut-sebut menjiplak tulisan Mita Handayani yang berjudul "Agama Kasih" (ingin tahu isi tulisannya tanyakan Mbah Google).
Lapo se rek membesar-besarkan kasus plagiariasme Afi. Lha wong tulisan Afi itu sebenarnya cuman status fesbuk yang panjang. Sebuah opini yang ditulis di Medsos. Bukan karya tulis yang dipublish di situs opini, media, bukan karya tulis yang dilombakan, juga bukan karya tulis yang akan dibukukan.
Status fesbuk is status fesbuk. Belum ada UU Hak Cipta untuk sebuah status fesbuk. Makanya orang dengan santainya copy paste tulisan orang tanpa menyertakan nama penulis asli. Secara hukum nggak salah, tapi salah menurut etika, moral dan akhlak.
Jadi, bagi yang ray gedhek, ray kapoor, gak duwe isin, silakan saja copy paste tulisanku dan inisial penulisnya ganti namamu. Tapi maringono tak kaplok ndasmu, huwehehe guyon mas.
Mungkin Afi terinspirasi oleh tulisan Mita, tapi sayang dia belum pandai 'menggoreng' ide orang. Plagiat dan terinspirasi itu beda. Kalau terinspirasi itu ada upaya mengembangkan ide orang lain (tulisan atau omongan) yang sudah ada. Bagaimana memilih diksi yang cocok buat "kaum wedus" yang alergi baca tulisan panjang penuh bahasa kampus, bagaimana caranya tulisan bisa jadi kickass, lebih enak dibaca, lebih asyik disimak, orgasme total full joss duerr.
Sadar atau tidak, banyak kasus plagiarisme di medsos. Banyak tulisan opini, kisah motivasi atau artikel apa pun yang dicopy paste tanpa menyertakan penulis aslinya. Itu dilakukan oleh para durjana medsos yang ngebet populer, haus panggung, ingin terlihat bijak, alim, intelek, sok yes. Kalau sekarang tulisan Afi dipermasalahkan, itu karena Afi sudah ngetop dan pastilah ada gerombolan haters yang pikirannya nggak sejalan dengan apa yang telah ditulis Afi.
Ingat, semakin ngetop seseorang, semakin banyak asu yang menggonggong.
Dulu penulis humor Mukidi tidak dianggap plagiarisme karena mengembangkan ide yang sudah ada. Humor Mukidi itu sebenarnya humor lama yang didaur ulang. Saya tahu karena pernah jadi penulis humor di harian "Meteng Pos" selama kurang lebih 10 tahun. Jarang ada tulisan humor yang benar-benar orisinil, kebanyakan daur ulang.
Jadi kesimpulannya, saya nggak kaget kalau anak seusia Afi menulis status yang sebenarnya sudah pernah ditulis orang lain. Yang penting dia sadar kesalahannya. Masanya masih panjang, nggak perlu mewek berlarut-larut. Kata Kai Hansen, "Time is short to cry, long enough to try."
Orang nyetatus hasil copy paste tanpa inisial penulis asli itu sudah jamak di medsos. Disamping nggak ada UU Hak Cipta, di medsos orang begitu santainya menepiskan unggah ungguh, nggak punya apresiasi, nggak punya empati, bahkan nggak punya harga diri. Angel aturane.
Apalagi ternyata cuman satu saja tulisan Afi yang diduga plagiat . Banyak tulisan (status) Afi yang lain yang memang jos gandos buat seumuran dia. Buat apa membesar-besarkan satu kesalahan sehingga melupakan seratus kebaikan yang lain. Bagiku yang lebih penting adalah lewat status-status Afi, banyak orang yang telah tercerahkan, terinspirasi, membuka pori-pori kecerdasan pada jiwa-jiwa yang impoten toleransi, keberagaman, kewarasan.
Bagus dan perlu share kebaikan dan kewarasan, tapi tetap hargai orang yang sudah repot-repot nulis. Ada sebuah page di fesbuk yang saya blokir. Page yang kere kreatifitas. Postingannya cuman copy paste tulisan orang. Seolah-olah itu adalah tulisan page itu sendiri. Inisialku selalu dihapus walaupun menyertakan linknya, tapi nylempit di pojokan, terabaikan. Sorry, this river no sorry fo you! (Maaf, kali ini tak ada maaf bagimu).
*****
Pernah beberapa kali saya menuliskan pemikiran-pemikiran Cak Nun yang dahsyat jaya. Mengumpulkan puzzle puzzle pemikiran beliau yang berserakan di berbagai sumber, dari ceramahnya, pengajiannya, maupun buku karya beliau. Saya susun kembali satu persatu berdasarkan pada kesamaan tema. Eh lha kok mereka dengan santainya copy paste satu dua alinea dari tulisanku tadi dan diakhir tulisan inisialnya bukan saya, tapi Emha Ainun Nadjib.
Sungguh terwelu.
Pernah dulu tulisanku ada yang pakai inisial penulis Mohammad Jaelani. Anake sopo iku, kok wani-wanine ngeklaim tulisane uwong. Saat aku tanyakan ke Mbah Google, ternyata ada banyak sekali Jaelani di jagad raya ini. Oala Ni Niii, yo wis lah, gak popo..ikhlas itu pedih jendral. Susah memang ngasih pengertian pada Generasi Copy Paste yang haus popularitas itu.
Saya sih ikhlas ikhlas saja kalau sudah terlanjur begitu, mereka belum paham arti kata 'menghargai'. Mungkin belum paham etika tulis menulis, karena nggak etis copy paste tulisan tanpa menyertakan inisial penulis dan ngomong dalam hati, "Paling penulisne yo ikhlas, tenang ae." Bukan hak kamu bilang seperti itu. Itu 100% haknya yang nulis.
Ibarat seorang sopir yang mengendarai mobil bersama bossnya. Di tengah jalan srempetan dengan mobil lain, sehingga spionnya pecah. Terus si sopir cengengesan ngomong ke boss, "Tenang boss, spion murah kok, ikhlaskan saja ya?". Bukan haknya sopir bilang begitu. Walaupun akhirnya si boss demi menjaga imej bilang, "Sudah nggak papa, besok kita ganti yang baru." Tapi dalam hatinya misuh : "J....a....n....c....o....k....!"
Wis ah.
(C) Robbi Gandamana, 6 Juni 2017
Poso poso ojok misuh rek. Aku gak misuh lho, sing misuh si boss iku kok. Oh iya, ini tulisan saya yang banyak dicopy paste dimana-mana tanpa mencantumkan nama saya sebagai penulis, klik di sini dan di sini.