Selasa, 17 Oktober 2017

Pidato Anies Memang Epic



Pidato Anies memang terlalu jujur. Ngomong soal pribumi dan non pribumi di depat rakyat yang hidupnya 'terancam' itu rawan pertumpahan darah. Itu sama saja memanas-manasi rakyat agar mengambil jarak pada non pribumi (keturunan Cina). Mempertebal tembok pemisah antara orang Nusantara dengan keturunan Cina.

--Rakyat Indonesia itu hidupnya terancam. Terancam tidak mendapatkan makanan yang sehat. Terancam tidak mendapatkan pekerjaan, kesejahteraan yang layak, pendidikan yang pantas, kesehatan yang memenuhi syarat. Hidupnya nggak aman. Banyak birokrat dan aparat yang kerjaannya mengancam daripada mengayomi--

Sudah rahasia umum, kalau orang (keturunan) Cina dirasani dimana-mana. Di pergaulan masyarakat, di warung kopi, di pengajian, di kantor pemerintah dan banyak lagi. Intinya kita takut orang Cina 'menguasai' (menjajah) kita, terutama di bidang perekonomian. Katanya ada 9 naga lah, taipan lah, taek lah. Nggak percaya rugi, percaya juga rugi, mumet ndasmu. Lebih baik waspada saja.

Salahe sopo, sopo mbiyen sing males-malesan. Kalau ingin menguasai perekonomian negeri ini belajarlah dari orang Cina. Tentunya belajar yang baik-baik saja. Sing nggolek pesugihan nang gunung Kawi ojok ditiru.

Jangan salah, orang Cina itu mayoritas kalau dilihat dari segi kwalitas. Sedangkan kita ini minoritas. Orang Cina lah yang sekarang menguasai perekonomian. Secara kwantitas, orang Nusantara yang mayoritas. Tapi sayangnya banyak yang kere. Percuma berjumlah banyak kalau kere berjamaah. Ingat, kere bersatu mudah dikalahkan.

Di zaman ini orang berduit lah yang menang. Semakin berduit, semakin berkuasa. Dengan uang, orang kere bisa dibeli. Itu sebabnya bangsa Nusantara gampang diadu-domba. Maka nggak heran kalau banyak orang hebat (berprestasi) yang mengabdi pada orang kaya. Lulusan S3 pun mengabdi pada orang kaya. Persetan pengabdian pada negara. Negara tidak menjamin jadi kaya. Orang kaya harus dibela!

****
Kata 'pribumi' dan atau 'non pribumi' kalau diucapkan di tempat dan waktu yang salah bisa berbahaya. Yang pidato nggak perhitungan, yang mendengarkan sensitif jenar. Akhire misuh berjamaah. Pidato paling epic di tahun 2017. Epic mblendesss!

Menurutku, pribumi itu definisi singkatnya adalah penduduk asli. Penduduk yang sudah lama menetap, beranak pinak, bersosial budaya di suatu wilayah selama berabad-abad lamanya. Tapi nggak ada jangka waktu yang pasti, harus berapa abad lamanya menetap sehingga dapat copy right "pribumi".

Orang Dayak bisa disebut sebagai penduduk pribumi Kalimantan. Penduduk asli Australia adalah Aborigin. Orang Indian adalah pribumi Amerika. Dan banyak lagi. Mereka sudah menetap duluan di suatu benua, pulau, atau wilayah tertentu selama ratusan tahun. Jadi jika ada kaum yang datang setelahnya, mereka disebut pendatang.

Terlalu jauh kalau menyebut manusia purba sebagai pribumi yang sesungguhnya. Kalau begitu semua manusia keturunan Nabi Adam juga bukan pribumi. Nabi Adam bukan manusia purba. Eksistensi bani Adam sampai saat ini masih sekitar 7000an tahun, sedang manusia purba sudah jutaan tahun.

Menurutku penggolongan pribumi dan non pribumi itu untuk kepentingan ilmu pengetahuan (Anthropologi) untuk mempermudah pembelajaran. Juga untuk kepentingan administratif. Kalau keturunan Tionghoa, ya jangan tersinggung kalau di kantor kelurahan didata sebagai warga keturunan. Itu bukan SARA. Kalau memang wedus ya jangan dibilang luwak.

Menyinggung SARA kalau penyebutan kata 'pribumi' dan 'non pribumi' di luar kepentingan tadi. Misal dalam pidato politik atau kampanye politik. Kata "pribumi" dan "non pribumi" itu semacam aurat yang nggak bisa sembarangan diucapkan. Jadi asyiknya nggak usah mengucapkan kata-kata itu kalau nggak penting.

Wis rek gak usah gelut, jarene Scorpions, "We are live under the same sun." Saiki kerjo ae sing bener, ojok lali bayaren utangmu.

-Robbi Gandamana-

Rabu, 04 Oktober 2017

Supremasi Hukum itu Omong Kosong! (Belajar dari Kasus Setya Novanto)



Bebasnya Setya Novanto (SN) dari jeratan hukum mengingatkanku pada salah satu quotes dahsyat Cak NUn, "Jangan bercita-cita jadi negara makmur, tapi bercita-citalah jadi negara adil!"

Bingung khan?

Karena kalau adil, dipastikan akan makmur. Sebaliknya, makmur tapi nggak adil, negara jadi kacau. Ketika hukum hanya memihak pada mereka yang ber-uang maka rakyat jelata jadi pecundang.

Makan bareng-bareng lauknya cuman tempe nggak masalah, asal dibagi rata (adil). Daripada makan enak sendirian, tapi makan jatah orang. Yang diambil jatahnya jadi nggak makan.

Bebasnya SN juga membuktikan bahwa hukum itu nggak supreme (tertinggi), yang supreme itu akhlak. Menempatkan hukum sebagai posisi tertinggi (supremasi hukum) dalam suatu negara untuk melindungi rakyat itu omong kosong.

Tujuan utama adanya supremasi hukum adalah menjadikan hukum sebagai pimpinan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mana apabila tujuan tersebut tercapai dapat memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Tapi kenyataan yang terjadi, keadilan untuk siapa? Untuk si Tuan Takur.

Makanya negara hukum itu kurang tepat, yang benar adalah negara akhlak. Hakim memutuskan perkara itu tidak pakai pasal-pasal, tapi pakai rasa keadilan (akhlak). Jadi kalau hakim berakhlak mblendes, hasil putusan perkaranya pun jadi nggak beres. Walau adil itu relatif dan nggak ada manusia yang adil, bisanya hanya berusaha seadil-adilnya.

Tapi sudahlah, di negeri ini ketimpangan hukum sudah jadi peradaban, susah untuk dirubah. Lebih asyik kembali ngomong soal kemakmuran.

Kebanyakan orang cita-citanya hidup makmur. Persetan kemakmuran itu didapat dari mana dan dari cara apa, yang penting kaya, gedung mentereng, jalan aspal mulusss, masjid direnovasi ratusan kali, dan seterusnya. Ternyata dana di dapat dari sumbangan (sogokan) para Caleg untuk membeli suara rakyat. Suap tetaplah suap. Haram is haram. Taek gak iso dipoles dadi akik.

Kesalahan orang modern adalah bercita-cita jadi orang kaya, tidak jadi orang bahagia. Dipikirnya kalau kaya itu pasti bahagia. Banyak temanku yang kaya, tapi hidupnya garing, bingung, merana. Soale hobine kenta kentu ae. Aku juga berharap kaya, semua orang ingin kaya, tapi aku lebih suka bahagia. Kaya Alhamdulillah, nggak kaya sudahlah. Salah nggak?

Kerajaan Fir'aun dulu juga sangat makmur. Tapi karena keadilan tidak ditegakan dengan benar, kerajaannya pun hancur juga. Ketidakadilan dan kemaksyiatan itu bagai dua sisi mata uang. Ketika keadilan tidak ditegakan, biasanya kemaksyiatan ikut merajalela. Kemaksyiatan itu juga bentuk dari tidak ketidakadilan, tidak adil pada diri pribadi dan kehidupannya.

Di zaman Orba juga begitu. Rakyat jelata dijadikan kerbau sembelihan. Dikasih kemurahan oleh pemerintah, tapi setelah itu disembelih (kebebasan berpendapat, berekspresi, berkreasi dikekang). Rakyat tidak pernah tahu sejarah asli negerinya sendiri, karena sejarah yang ada direkayasa selama puluhan tahun. Bajingan jadi pahlawan, pahlawan jadi bajingan.

Rezim Orba adalah era penjajahan gaya baru. Serba murah tapi kebebasan dikebiri. Hanya para priyayi dan orang kaya yang berjaya. Selama perut kenyang, mereka nggak akan cari masalah dengan penguasa. Sedangkan yang kere awet merana, barang murah tapi tidak terbeli. Berani bereaksi pasti diculik dan dihabisi.

Kalau ada orang yang ingin kembali ke zaman Orba hanya karena dulu itu serba murah, dipastikan dia nggak paham-paham amat soal 'adil makmur'. "Piye kabare? isih enak zamanku to?" Kiss my ass!

Kalau cuman cari makmur saja, gampang. Datanglah ke Lokalisasi. Dengan selembar dua lembar uang lima puluh ribu (regane piro rek sing murah? aku gak eruh. Sing ngerti inbox yo) kamu akan mendapat pelayanan, kemesraan, pijatan dengan musik mengalun syahdu. Oh yess, oh noooo, oh maigot! Lemes jaya. Tamat.

-Robbi Gandamana -

Kamis, 28 September 2017

Jambul 12 Helai



Nggak jarang saya menjumpai sesama artworker yang nggak mau berkarya kalau tidak ada uangnya. Berkarya kok nunggu orderan atau lomba. Tapi no problem, itu hak mereka. Mereka belum memasuki tahap betapa asyiknya mewarnai dunia. Betapa indah dan nikmatnya berbagi.

Sekali-sekali memberi gratisan pada teman itu perlu (tapi jangan menawarkan diri, bisa benjut jaya kau nak). Seorang ilustrator harus punya pengalaman menggambar gratis temannya atau siapa saja karena simpati. Disamping jam terbang jadi semakin tinggi, Itu juga yang membangun mental. Berkaryanya digerakan oleh hati, bukan oleh materi. Dan itu yang membuatnya jadi legend.

Setidaknya buatlah dirimu berarti bagi kehidupan sekitarmu. Jadilah manusia Sunnah yang kehadirannya diharapkan orang banyak. Atau kalau bisa jadi manusia Wajib, kehadiranmu penting bagi orang lain. Jangan jadi manusia Haram, kehadiranmu malah bikin kisruh.

Nggak perlu ikut-ikutan ngeshare status orang "Menggambar itu profesi, hormati profesi orang dengan tidak minta digambar gratis". Statement itu 100 % benar, tapi itu juga yang membuat tidak nyaman orang yang pernah kamu gambar gratis. Yang ngeshare status seperti itu biasanya tukang gambar kemaren sore. Nggak yakin-yakin amat kalau Tuhan pasti ngasih balasan yang berlipat. Nggak ada yang sia-sia.

Memang kadang tersiksa dengan harapan orang yang minta digambar gratisan itu. Isuk awan bengi ditagih. Gratisan tapi dikongkon cepet, setelah jadi minta revisi. Swemprul. Tapi gak popo, namanya juga nggak paham. Ayat soal profesi belum sampai ke dia. Babah wis, jarno.

****
Kalau kita berkunjung ke Panti Jompo atau Rumah Sakit di bangsal khusus pasien jompo. Kita akan menjumpai Parade Wong Legrek. Sekumpulan manusia usia senja yang nggak berdaya. Dulu berbibir seksi, sekarang ndoweh plus ngileran. Dulu rambut lebat berkilau sekarang full uban, botak, krowak di sana sini, tumo pun menghampiri.

Saat muda membanggakan tatto ular naga, pas wis tuwek dadi uler keket. Nggak perduli kamu buruh pabrik, tentara, cover boy, atau apa pun, kalau sudah tua pendengaran jadi berkurang, ngomong nggak jelas, pikun melanda, ndlahom total. Tubuh kurus tinggal tulang sama riyak. Saat batuk, untune katut metu. Gak iso ngaceng pisan. Perfect! mbuwak byuk.

Kadang beruntung orang yang mati muda, karena kalau tidak, dia pasti akan sampai di masa tua. Masa dimana kegagahan lenyap, kecantikan menyublim, ketegasan menghilang, keperkasaan memudar. Dulu wajahnya kiyut abis, tapi saat tua mirip Orangutan --> kantung mata melorot akut, bibir ndower, rambut jambul cuman 12 helai, wetenge mblendung, kulit kasar bersisik.

Saat tua nanti, orang kembali jadi bayi--> pakai pampers, kencing plus pup di celana. Tiap hari kecirit, celananya lengket. Meludahpun nggak ada tenaga. Maunya meludah, tapi yang terjadi malah ngiler. Cwape dwech.

Begitulah sodara sebangsa dan setanah air. Tua itu pasti, siap menghadapi itu pilihan. Mulai persiapkan dari sekarang, pola hidup sehat. Tanyakan pada dokter atau instruktur senammu, aku gak eruh.

Saya tidak sedang menakut-nakuti anda semua, tapi itulah kenyataannya. Makanya sebelum jadi tua dan tidak berguna, sebisa mungkin jadilah orang yang berarti. Sering-seringlah berbagi. Warnai dunia. Berkarya jangan nunggu orderan dan lomba. Atau kalau bisa, berbuat sesuatu bukan karena eksistensi, pokoknya berbuat baik saja (ini level tingkat tinggi yang bisa begini).

Ingat pepatah klasik : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Perbuatann baik maupun buruk seseorang akan tetap dikenang meskipun seseorang telah tiada.

Banyak orang paham nikmat dan indahnya berbagi saat sudah jompo. Ketika tubuh mulai legrek, disenggol pundake jantunge rontok. Ketika materi sudah tidak berarti lagi. Karena kekayaannya tidak akan pernah mengembalikan masa mudanya, tidak bisa membeli kebahagiaannya yang dulu. Tobat kebanyakan telat, janji nggak akan main wanita lagi, tapi itu diucapkan saat usia sudah 80 tahun. Wadoh.

Jangan andalkan kegagahan dan kecantikanmu untuk menyombongkan diri. Semua itu nggak bisa diandalkan. Puncak kegagahan/kecantikan manusia itu saat umur 35 tahunan. Setelah melewati umur itu, mata mulai buram, pakai kaca mata minus (atau plus) bergaya Ebiet G, Ade atau Betty La Fea.

Jangan berharap banyak pada operasi plastik. Operasi plastik hanya menunda sebentar. Itu juga sangat berisiko. Nggak sekali aku lihat seorang bencong yang mengamen di Trafic Light, suntikan solikin di hidung atau dagunya malah membuat wajahnya jadi kayak celengan Bagong.

Wis rek, tulisane tambah suwe tambah mulek koyok entut. Ojok percoyo tulisan iki. Ini untuk menghibur dan menyemangati diri saya sendiri.


-Robbi Gandamana-

Minggu, 24 September 2017

Paluaritphobia adalah Produk Doktrin Orba




Komunisme, sebuah ideologi yang membuat bangsa ini phobia. Orde Baru keparat yang telah berhasil menjenjali jiwa-jiwa labil dengan kisah horor PKI yang dilebih-lebihkan. Akibatnya tega membantai orang yang diduga simpatisan PKI, hanya karena ikutan jadi anggota organisasi yang berafiliasi ke PKI, tanpa pernah membunuh siapa pun. Apes.

Sampai sekarang orang begitu berhati-hati jangan sampai ketahuan kalau dia komunis. Saat nonton film G30S PKI di depan pacarnya mengutuk PKI, "Komunis keparat!" Eh, ndilalah si pacar nyeletuk, "Aku lebih suka komunisme daripada kapitalisme, mas." Si pria langsung meraih jemari si pacar, "Kalau begitu kita sama dik.."

Sebenarnya komunisme datang untuk membendung Kapitalisme yang menindas kaum buruh. Nggak heran kalau petinggi PKI dulu ada beberapa yang lulusan pesantren, bahkan anak Kyai. Mereka berjuang membela kaum cilik atau Proletar. Tapi karena fanatisme buta, mereka menghalalkan pembunuhan bagi siapa saja yang menghalangi perjuangan.

Seandainya PKI tidak melakukan makar atau pemberontakan, bisa jadi partai ini tidak terlarang dan eksis sampai sekarang. PKI adalah kambing hitam yang tepat buat Soeharto untuk mengahancurkan musuh-musuhnya dan mengambil alih kekuasaan, melengserkan Soekarno dan mengibarkan bendera Orba, Orde Bajingan.

Semua ideologi bisa kejam apabila dijadikan sebuah gerakan makar. Mau PKI, DI/TII, atau gerakan yang lain, sama saja, mereka pasti membunuh jika dihalangi. Bahkan ISIS yang katanya membela Islam itu tega membunuh wanita dan anak-anak. Jihad membela Islam tapi kok hobinya gonta-ganti istri, kenta-kentu ae. Islam cap opo iku.

Komunis bukan berarti ateis, dan ateis tidak berarti komunis. Komunis itu percaya Tuhan, tapi ideologinya bertabrakan dengan ajaran agama. Menginginkan semuanya sama rata. Nggak ada kepemilikan pribadi, semua milik bersama. Itu nggak Sunnatulloh, melawan hukum alam.

Nggak ada kehidupan di mana semua penghuninya kaya. Itu utopia namanya. Pastilah ada yang kere. Jika ada pemenang pasti ada pecundang. Some born to win, some born to lose. itu alamiah. Jika melawan kodrat alam, kehidupan bakal kacau.

Jadi komunisme itu isapan jempol. Tetap Pancasila is the best. Dan nggak usah khilafah, Pancasila sudah khilafah. Sila yang lima itu sudah Islam banget. Sila-sila di dalam Pancasila itu sumbernya dari Al Qur'an juga.

Tapi orang tidak berhak melarang orang lain menjadi komunis. Selama itu jadi pemahaman pribadi, monggo saja. Mau ateis, komunis, mbois, itu urusan pribadinya dengan Tuhannya. Yang dilarang itu mendirikan partai politik yang berideologi komunis.

Jika kamu punya band, silakan saja pakai sistem komunis, dimana semua hasil jerih payah selama ngeband adalah milik bersama. Asal tidak istri jadi milik bersama. Komunisme hanya bisa diterapkan di lingkup kecil. Dan komunis bukan berarti PKI. Komunis itu sebuah ideologi, sedangkan PKI itu partai politik yang berideologi komunis.

Sudah nggak zaman komunisme dijadikan ideologi bangsa. Ndeso. Kalau ada yang paranoid dengan kebangkitan PKI (paluaritphobia) itu pasti orang jadul yang sudah kena doktrin Soeharto. Atau anak alay yang baru kenal agama salah berguru pada Ustadz modal terjemahan Depag.

Isu komunis dihembuskan untuk menggoyang pemerintah, agar citra pemerintah buruk di mata rakyatnya. Apalagi menjelang Pemilu 2019. Dipastikan itu adalah kerjaan lawan politik Jokowi. Itulah politik, mencitrakan dirinya baik dengan memperburuk citra orang lain. Terlihat benar dengan cara menyalahkan orang. Wis tau.

Paham khan? Dibaca sekali lagi.

-Robbi Gandamana-

Jumat, 15 September 2017

Jangan Jadi Dokter Mbokneancok



Kasus meninggalnya bayi Debora di RS Mitra Keluarga Kalideres semakin membuat rakyat jelata semakin sinis pada Rumah Sakit, bahwa orang miskin dilarang sakit. Karena tidak mampu bayar uang muka, pihak Rumah Sakit menolak memberikan pertolongan pengobatan yang seharusnya dilakukan pada si bayi.

Uang selalu jadi hal pertama yang dibicarakan saat pasien akan masuk RS. Walau nggak semua Rumah Sakit itu perusahaan (baca sendiri jenis-jenis Rumah Sakit di Wikipedia :) ), tapi semua nggak jauh dari soal bisnis, laba, uang. Harusnya menyangkut nyawa manusia, uang jadi hal terakhir yang diomongkan. Beri pertolongan maksimal, baru bicara uang.

Bagaimana bisa petugas RS mengabaikan nyawa manusia hanya karena takut tidak ada yang menanggung biaya pengobatan. Takut resiko potong gaji jika korban meninggal dan tidak ada pihak yang menanggung biaya si korban tadi, padahal sudah ditangani pakai peralatan dan obat yang tidak murah. Nyawa yang tidak ternilai dengan uang itu dikalahkan dengan administrasi.

Kalau sudah begitu, Rumah Sakit disebut gagal di sebut Rumah Sakit. Rumah sakit adalah tempat penyembuhan. Jangan sampai urusan nurani, akhlak dan kasih sayang dirusak oleh uang. Kesalahan orang modern adalah tidak melibatkan Tuhan saat memutuskan sebuah keputusan. Mereka nggak nggak yakin-yakin amat bahwa Tuhan itu Maha Tanggung Jawab. Dia pasti membalas setiap perbuatan baik, sekecil apap pun itu.

Terlalu sibuk dengan urusan duniawi (uang) membuat tumpul hati nurani. Nggak ada lagi pengabdian. Yang ada adalah peristiwa dagang, kapitalisme. Peristiwa kemesraan (sosial antara pasien dan dokter menjadi hal langkah. Padahal salah satu sumber kesembuhan pasien adalah kemesraan itu. Pasien sudah kesakitan, mumet ndase mikir biaya, eh doktere raine burek terus.

BPJS memang membantu, tapi tidak semua rumah sakit menerima BPJS. Kasus yang menimpa bayi Debora itu karena Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres tidak menerima BPJS. Orang tua Debora memilih Rumah Sakit tersebut karena dikejar waktu, cari yang terdekat, si bayi sudah kritis.

Dan BPJS itu sebenarnya nggak gratis-gratis amat. Itu urunan, subsidi silang. Itu gratis setengah hati. Kalau memang gratis ya nggak urunan, nggak mbayar tiap bulan. Tapi ojok ngomong sopo-sopo yo, cukup awake dewe sing eruh. Yo wis lah Alhamdulillah, daripada nggak ada BPJS.

Kebanyakan Rumah Sakit di negeri ini kapitalis. Jika ada pasien kecelakaan datang  ke UGD, yang pertama dilakukan petugas Rumah Sakit adalah mencari orang yang mau bertanggung jawab, tanda tangan (menanggung biaya). Kalau tidak ada yang tanda tangan, jangan harap si pasien tadi akan dilayani dengan baik, walaupun sudah sekarat berdarah-darah melek merem mau mati.

Dalam soal ini, kita bisa belajar dari Malaysia. Keselamatan pasien (manusia) di atas segalanya. Di sana Rumah Sakitnya memperbolehkan pasien yang tidak mampu membayar biaya pengobatan dengan cara dicicil. Kalau di Indonesia, jika uang kurang atau belum bisa mbayar maka pasien disandera sampai bisa melunasi. T:T

Maka wajar kalau warga Indonesia di perbatasan lebih memilih berobat ke Rumah Sakit Malaysia daripada di Rumah Sakit Indonesia. Selain nggak ribet kakean cangkem, peralatan lebih canggih dan biaya bisa dicicil.

Sori, saya bukan pecinta Malaysia, saya cinta mati Indonesia. Tapi selalu ada sisi positif yang bisa kita tiru dari Malaysia. Malaysia bisa begitu karena makmur dan manajemennya baik.

Guru, ustadz dan dokter adalah sebuah pekerjaan yang melayani hamba Tuhan. Jangan sampai pekerjaan-pekerjaan tadi dikapitalisasi. Dokter dibayar bukan karena menyembuhkan pasien. Pasien membayar dokter itu karena mengganti biaya obat, peralatan, dan waktu si dokter yang dipakai saat proses menyembuhkan pasien.

Dokter itu pekerjaan yang paling mulia karena menolong orang sakit. Tapi jangan pernah dikapitalisasi. Itu yang membuat dokter jadi mbokneancok. Dalam mengobati pasien hendaknya tidak berpikir uang, karena uang pasti datang. Berpikirnya akhlak dan kasih sayang.

Kesembuhan bukan milik dokter. Dokter adalah petugas ikhtiar, orang yang dengan ilmu mengupayakan pengobatan. Sembuh dan sakit itu milik Tuhan. Jadi kesembuhan nggak selalu lewat dokter. Bisa lewat apa saja. Divonis dokter nggak bisa sembuh bukan berarti nggak ada harapan sembuh. Masih ada keajaiban, sugesti, dan seterusnya. Dan dokter yang terbaik adalah diri kita sendiri. Dan para dokter itu cuman asisten kesehatan kita.

Yang paling paham terhadap dirimu adalah kamu sendiri. Kapan saat makan, kapan saat berhenti. Orang sekarang menggunakan lidah hanya untuk fungsi kuliner, tidak untuk memahami itu cocok untuk tubuhnya atau tidak. Tubuh kita bermasalah karena kita terlalu cuek pada diri. Sudah tahu punya riwayat penyakit darah tinggi tapi makan daging kambing berlebihan. Ingin sehat tapi tidak menerapkan cara hidup sehat.

Wis ngene ae.

-Robbi Gandamana-

Jumat, 08 September 2017

Belajar dari Tragedi Rohingya




Etnis muslim Rohingya sedang apes total, jadi korban genosida penguasa Myanmar. Umat muslim Indonesia pun ngamuk. Karena orang islam adalah saudara orang islam yang lain. Kalau ada orang Islam yang nggak ngamuk, dia termasuk golongan Islam bahlul bin ndlahom.

Tapi kebanyakan cuman ngamuk, bingung mau melakukan tindakan apa. Saking bingungnya Borobudur pun akan dikepung. Aku gak paham maksude opo. Mungkin di sana akan ada acara misuh berjamaah, melampiaskan kemarahan. Bahlul!

Mengepung Borobudur itu salah sasaran. Itu bentuk persekusi pada tempat ibadah agama Budha, juga menyamakan umat Budha di sini dengan umat Budha Myanmar yang membantai etnis Rohingya. Yang bermasalah itu pelakunya (oknum) bukan agamanya. Apalagi Borobudur tidak hanya milik umat Budha.

Tapi syukurlah aksi di Borobudur batal! dialihkan ke masjid An Nur, Sawitan, Kabupaten Magelang. Acaranya shalat Jum'at disambung dengan doa bersama dan penggalangan dana. Lumayanlah efek dari tragedi Rohingya, umat Islam jadi bersatu, kompak Ndes.

Yang nggak ikut aksi nggak usah minder. Minimal sedekah empati. Lha wong sedekah uang nggak mampu, sedekah tenaga juga nggak bisa. Akhirnya hanya bisa berdoa, di fesbuk pula. Mungkin hukumnya Fardhu Kifayah, kewajiban jadi gugur kalau sudah ada yang mewakili (melakukan tindakan nyata). Aku gak paham agama, tanyakan Ustadzmu.

Dari zaman neolitikum ya seperti itu. Ketika ada bencana, banyak orang yang sibuk empati, tapi tidak berbuat apa-apa. Gak popo, lha wong isone cuman ngomong. Kalau semua menyerang, yang jaga gawang siapa?

Ada cerita seorang pedagang cina yang sakit keras, dijenguk keluarganya di Rumah Sakit. Dijenguk nggak jadi senang, tapi malah panik, "May Ling ada,  Lu Ping San ada,  Tan Tjep Nho ada,  Che Bo Khan ada, Cwi Lan Tseng ada, Mhe Kho Kwok juga ada, terus yang jaga toko siapa???"

Manusia itu jenisnya bermacam-macam. Menurut Cak Nun ada 4 jenis manusia : pencetus, pembangun, pemelihara dan pendobrak. Pencetus ini kerjanya cuman ngomong, ngasih ide tapi nggak pernah merealisasikan. Pembangun kerjanya merealisasikan ide yang baik. Pemelihara itu memelihara 'bangunan' yang sudah ada. Kalau pendobrak itu jenis manusia pemberontak, nggak gampang puas dengan 'bangunan' yang sudah ada. Catet!

Jadi, nggak papa kalau bisanya hanya ngomong. Memang jenisnya manusia pencetus kok, bisanya cuman ngomong. Mari ngomong terus turu.Tangi turu ngomong maneh.

Dari tragedi Rohingya ini, kita dapat pelajaran berharga. Ekstrimis Budha di Myanmar adalah cermin kaum aliran kaku intoleran di negeri ini. Kaum yang suka nggak terima kalau ada agama atau aliran yang tidak sesuai dengan ideologinya. Aliran sesat pun disematkan, boleh dibunuh, dibakar rumahnya dan diusir dari tanahnya sendiri.

Apa yang terjadi pada etnis Rohingya mirip dengan nasibnya umat Syiah, Ahmadiyah, Gafatar dulu. Mereka dipersekusi total, dibakar rumahnya, diusir dan dihinakan oleh mereka yang merasa agamanya paling benar. Padahal yang membuat para agamis merasa benar itu lebih banyak karena keyakinan daripada kenyataan. Yakin Tuhan ada, tapi nyatanya nggak pernah melihat Tuhan. Hanya iman yang membuat kita yakin Tuhan itu ada.

Jadi istilah 'No Pic Hoax' itu nggak selalu benar. Kita tidak pernah melihat fotonya Tuhan. Bahkan Rasulullah juga nggak pernah kita lihat gambarnya, kita hanya dikasih tahu ciri-cirinya. Tapi dengan keimanan yang ada di dalam hati, kita tetap meyakininya. Dan itu tidak menjadikan agama Islam hoax. Awas kalau berani bilang agama Islam hoax, pelimu ilang.

Malah sekarang banyak foto hoax yang beredar. Ada seorang teman yang pagi-pagi berfoto di atas genteng dengan bekgron sunrise di pagi hari pakai kostum pendaki gunung. Setelaj jadi, fotonya dikasih caption "Asyiknya menikmati sunrise di gunung Bromo". T:T

Rasul tidak ingin digambar karena tidak mau dikultuskan, dijadikan poster, ditempel di kamar disandingkan dengan poster Metallica atau artis Korea. Rasulullah itu itu intan permata kok disandingkan dengan Metallica yang cuman batu cadas atau artis Korea yang cuman upil itu.

Semua orang yang beragama itu sebenarnya masih 'sesat'. Lha wong doanya, "Ya Tuhan tunjukan kami jalan yang lurus." Kalau sudah merasa lurus, nggak perlu ikut pengajian atau majelis keagamaan. Karena orang datang ke pengajian itu orang yang merasa masih sesat, sehingga butuh petunjuk ke jalan yang lurus.

Jadi nggak usah nuding-nuding sesat penganut agama lain. Ayat "Hanya Islam agama yang diterima oleh Allah" itu untuk pemahaman kita, tidak untuk diumbar-umbar kepada penganut agama lain. Ngomong begitu hanya pantas di lingkungan intern, sesama muslim.

Pasti lah semua penganut agama merasa benar dengan agamanya dan menganggap sesat agama lain. Sunni menganggap sesat Syiah. Syiah pun menganggap sesat Sunni. Begitu juga dengan agama lainnya. Butuh keluasan hati untuk menerima perbedaan. Selama tidak ada pemaksaan dan tindakan dekstruktif monggo saja beragama menurut keyakinan masing-masing.

Kaum ekstrimis Budha di Myanmar  adalah mereka yang menolak perbedaan. Mereka hanya ingin ada agama Budha di Myanmar. Bagi mereka Islam itu agama sesat yang mengancam  ideologi dan budaya Myanmar. Ruang gerak mereka dipersempit, cari makan susah. Mereka tidak diakui sebagai warga negara walaupun sudah menetap di sana berabad-abad lalu.

Ketakutan Myanmar berkiblat pada sejarah bangsa Nusantara tempo doeloe, dimana agama Budha adalah mayoritas. Ketika Islam datang, keadaan pun terbalik, Islam menjadi agama mayoritas di Nusantara. Salahe sopo.

Mbak Retno sudah menemui Asu Kyi minta agar segera melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghentikan konflik dengan tidak menggunakan cara kekerasan. Tapi rupanya Asu Kyi lebih menyelamatkan karier politiknya daripada menyelamatkan etnis Rohingya.

Bahkan Asu Kyi meminta pemerintah Indonesia untuk tidak ikut ngurusi urusan Myanmar. Bantuan kemanusiaan pun belum disalurkan karena belum mendapat ijin dari otoritas Myanmar. Juga Tim Pencara Fakta dari PBB pun mrongos jaya, dilarang masuk ke TKP. Oala Su Su.

Sudah saatnya hadiah Nobel untuk Asu Kyi dibatalkan, diganti hadiah Monel yang dibeli di pasar rombeng.

Sudah, itu saja. Zuukkk.


-Robbi Gandamana-



Senin, 04 September 2017

Berjilbab Itu untuk Menutupi Kecantikan? yang Benar Saja!



Membaca postingan soal jilbab di sebuah grup fesbuk, sebut saja Muslim Jos, kepala saya jadi cenut-cenut. Postingan tersebut menyebutkan bahwa berjilbab itu fungsinya untuk menutupi kecantikan wanita. What!?

Jadi kalau bude atau mbokde yang sudah uzur, yang mukanya jelek, nggak wajib jilbaban? Ingat, nggak semua wanita di dunia ini cantik. Banyak juga yang mblendes. Apakah yang masuk kategori jelek (hayo ngacung) nggak wajib berjilbab?

Gile lu Ndro. Orang yang wajahnya jelek bersusah payah agar terlihat cantik, kok ini malah nggak boleh cantik. Emane rek.

Saya nggak anti jilbab, cuman kok rasanya kurang pas kalau tujuan berjilbab itu menutupi kecantikan. Suami mana yang nggak galau kalau istrinya ijin berjilbab agar tidak terlihat cantik. "Oala dik dik, raimu iku pas-pasan, gak ayu-ayu banget, kok malah ate kok ilangno ayune, " kata si suami sambil tepok jidat.

Justru banyak wanita berjilbab yang jadi terlihat cantik. Karena ternyata jilbab bisa juga untuk menutupi kekurangan, sori. Apa karena rambut tipis mberodol akibat salah shampo atau rambut kriwul kayak dakron susah ngurusnya (hayo ngaku). Tapi itu no problem.

Yang aku tahu jilbab itu berfungsi  untuk menutupi dan melindungi keindahan wanita yang berpotensi membangkitkan syawat lelaki. Jadi apa pun yang ada di diri wanita yang berpotensi bikin pria ngaceng, wajib ditutup. Nggak perduli kamu cantik atau tidak.

Cantik itu pasti indah, tapi wajah cantik itu tidak pasti membangkitkan nafsu syahwat. Hanya pria kelainan seks yang langsung 'greng' hanya dengan melihat wajah cantik. Yang pasti membangkitkan syahwat itu bodi dan alat seksual wanita. Bukak titik jozzzz.

Dan jilbab itu nggak cuman menutupi. Ditutup tapi kalau bodi dibalut dengan ketat ya sama saja Bude, bikin ngiler lelaki. Karena itu yang seharusnya dijilbabi. Kalau wajah dan rambutnya sih nggak ngacengable. Walau ada memang cewek bermake up dan bergincu menor plus gaya bicara yang mendesah-ndesah sok sexy. Itu yang membuat sebagian pria bergetar pelinya.

Iman juga butuh proses dan nggak bisa distandarisasi. Butuh keluasan hati untuk memaklumi kalau taraf  berhijabnya masih jilboob (bahkan yang tidak berjibab). Yang penting ada kemauan untuk terus meningkatkan level imannya, Insya Alloh melbu surgo. Aamiin.

Juga nggak perlu mempermasalahkan jilbab modis, trendy atau gaul. Karena Jilbab gaul itu bisa menarik minat para muslimah untuk berjilbab. Dan itu juga memperkaya jilbab. Nggak sekedar jilbab, tapi ada usaha untuk memperindah. Manusia itu makhluk yang berbudaya. Dulu kursi hanya berupa potongan kayu yang dipotong-potong. Sekarang kursi diukir, dicat, dibentuk sedemikian rupa agar terlihat indah.

Baguslah kalau kamu ingin mempertahankan jilbab oldschool (syar'i ) sampai titik darah penghabisan, tapi nggak perlu memaksa orang lain agar jadi seperti dirimu dan nggak perlu juga mengejek mereka karena memakai jilbab trendy dan gaul.

Islam itu soal kemajuan, lha kok malah mundur ke belakang kembali ke abad 7 masehi. Teknologi tekstil dan industri fashion terus berkembang. Dulu kain cuman dijahit sederhana sekedar untuk menutupi badan, sekarang didesain sedemikian rupa. Nggak cuman sekedar fungsi, tapi memperhatikan keindahannya juga, karena manusia butuh keindahan.

Tuhan Maha indah dan mencintai keindahan. Manusia adalah pengejawantahan dari Tuhan, karena itulah manusia juga suka dan butuh keindahan. Semua tergantung niat dan tujuannya. Selama tidak bertujuan pamer, boleh saja. Tampil rapi dan enak dipandang mata di depan orang lain itu juga ibadah. Karena itu juga menyenangkan orang khan.

Tidak semua keindahan membangkitkan syawat. Menurutku jilbab yang indah tidak membuat pria onani. Jadi nggak masalah mau jilbab syar'i, jilbab gahul, jilbab gajul, yang penting tingkah laku di masyarakat baik. Ada dan siap saat orang lain membutukan pertolongan.

Sudahlah, nggak perlu mendiskreditkan kostum orang. Sudah jilbaban masih saja dicari-cari kesalahannya. Banyak anak Kyai atau Ulama yang malah tidak berjilbab. Lihat saja Najwa Shihab, Yenny Wahid, juga putrinya Cak Nun. Bagi mereka lebih penting pakai pakaian yang terhormat daripada berjilbab tapi berbusana ketat.

Saya nggak ngomong baju ketat itu tidak terhormat lho ya. Tapi menonjolkan susu montok dan bokong semok itu bisa diartikan permisif pada semua lelaki untuk menikmati. Itu bisa mengundang pikiran mesum mampir di otak lelaki, yang akhirnya dilanjut dengan melakuken hal yang buken-buken di kamar mandi. Sabun mana sabun.

Monggo saja kalau memilih untuk jadi sexy, itu urusan pribadi wanita dengan hidup dan Tuhannya (jika berTuhan).  Sexy is not a crime. Tapi sebenarnya cewek sexy lebih bisa merusak karier lelaki. Walau sexy nggak selalu cewek yang berbaju ketat atau berbaju minim. Semua bisa sexy, tergantung imajinasi si lelaki. Cewek yang berjilbab syar'i pun bisa sangat sexy. Ojok salah Jum.

Kapasitas manusia untuk bisanya hanya mengajak atau mengingatkan, tidak memerintah atau memaksakan. Begitu juga dengan Qurasih Shihab, Gus Dur atau Cak Nun, mereka tidak bisa memaksakan putrinya untuk berjilbab. Hidayah 100 % kuasa Allah. Lha wong sekelas Nabi Luth saja gagal mengajak istrinya beriman kok. Juga Nabi Nuh pada anaknya. Sudah tahu kisahnya khan? Itu Pelajaran Agama Islam anak SD.

Wis ah, soal jilbab cukup sampai sini saja. Untuk lebih detailnya tanyakan ustadz anda masing-masing. Saya bukan ustadz. Saya cuman memberdayakan akal pikiran saya. Di zaman ini semakin banyak muslim yang pikirannya keseleo karena tidak menggunakan akal dengan benar. Ada yang seolah-olah benar tapi dengan cara menyalahkan orang lain.

Islam adalah agama yang aqliyah, sangat mengutamakan akal. Akal Itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Seberapa hebat sistem nilai yang terkadung di Al Qur'an tidak ada gunanya bila tanpa menggunakan akal. Al Qur'an akan sia-sia jika disodorkan ke kambing, lha wong kambing nggak dikarunia akal, adanya cuman otak.

Ingat kata Ustadz Nganu, "Afala ta'qilun afala tatafakkarun. Apakah kamu tidak menggunakan akalmu? Apakah engkau tidak berpikir?"

Jadi, alat utama untuk berIslam itu bukan Al Qur'an, tapi akal. Islam itu sistem nilai. Al Qur'an itu cuman menghantarkan Islam, bukan Islam itu sendiri. Ibarat seseorang pria yang jatuh cinta pada seorang cewek. Si pria memberikan bunga pada si cewek sebagai tanda cinta. Cinta tidak terletak pada bunganya. Bunga itu cuman menghantarkan cinta si pria.

Kalau anda tidak paham dengan tulisan saya ini, kemungkinan besar anda tidak menggunakan akal anda dengan benar. So, gunakan akalmu! Jangan melakukan sesuatu tanpa pemahaman.

(C) Robbi Gandamana, 25 Agustus 2017

Selasa, 22 Agustus 2017

Mata Najwa itu Palsu




Di zaman yang serba cepat ini, begitu cepatnya obrolan di medsos berganti topik. Topik yang kemaren belum tuntas, sudah diganti topik yang baru. Sekarang topik yang lagi anget adalah kasus Opick yang kena masalah karena peligami.

Tapi sori, saya sudah bosen mbahas peligami, wis tau. Saya lagi ingin mbahas Najwa Shihab. Mungkin agak basi, tapi gak ngurus, karena sampai hari ini, masih ada yang menyayangkan hengkangnya Najwa Shihab (NS) dari Metro TV, meninggalkan acara Talk Show-nya yang legend itu---> Mata Najwa.

Saya sendiri nggak "berbela sungkawa" atas berakhirnya program Mata Najwa. Kenapa? Lha wong saya nggak pernah nonton sejak TV saya rusak sejak setahun yang lalu (pantatsss). Yang jelas saya maklum, NS pastilah bosen 17 tahun nggambleh di acara yang sama.

Tapi, semua acara di TV itu sebenarnya cuman dagangan. Itu soal kapitalis, jangan terlalu diambil hati. Begitu juga dengan Mata Najwa. Pastilah cari untung atau memihak (membela) yang menguntungkan.

Oke, NS memang cerdas. Tapi NS itu juga manusia seperti kita. Kalau anda jeli mengamati, anda akan tahu bahwa NS itu sebenarnya juga "asal boss senang" sama seperti sikap kebanyakan buruh pada majikannya. Itu terlihat dalam menyikapi atau memberikan pertanyaan pada nara sumber yang diundang di acaranya.

Jika yang diundang Jokowi, Prabowo, Dahlan Iskan, Risma atau orang yang banyak lover-nya, maka pertanyaannya aman, tidak menjebak, nyantai, rileks, penuh tawa, piss man. Beda jika nara sumbernya Angel lelga (artis yang nyaleg), Suadi Yahya (Walikota Lhokseumawe, soal Perda ngangkang), pokoknya yang banyak hater-nya, pasti pertanyaannya berat, mbulet, penuh jebakan sampai njawabnya glagepan kudu nangis.

---Sori Ndes, saya bukan fan Angel Lelga atau lovernya Suadi Yahya. Saya tidak sedang membela
mereka. Dan tentu saja juga tidak membenci atau anti Najwa Shihab. Biasa ae---

NS bakalan kena masalah jika pertanyaan yang diberikan sama mbuletnya pada tokoh yang dianggap punya nama besar. Bayangkan saja kalau NS kasih pertanyaan yang mbulet penuh jebakan pada Dahlan Iskan dan Dahlan Iskan njawabnya gelagepan sampek mripate mrabak mili. Metro TV bisa kehilangan jutaan pemirsa (Dahlan Iskan's Lover) plus iklan. Benjut jaya.

Aroma dagang merebak di tayangan TV, terutama TV Nasional. Jangankan Mata Najwa, acara pengajian pun itu sebenarnya dagangan. Mereka itu sedang jualan, bukan karena TV tersebut alim beneran. It's such a bussiness!

Cak Nun pun dulu (nggak tahu kalau sekarang) punya keinginan agar TV nasional tidak menyiarkan siaran agama : adzan maghrib, pengajian dan lainnya. Agar benar-benar jelas kalau setan!

Kemunafikan TV Nasional akan terlihat jelas saat bulan puasa. Semua host-nya pakai busana muslim. Yang wanita pakai kerudung , yang pria pakai baju taqwa dan kopyah. Saat mengawali acara mengucapkan salam "Assalamualaikum Wr Wb". Padahal biasanya siaran pakai tank top, susune mecotot, celono hipster melorot, ngomonge pating pecotot.

Para ustadz yang mengisi pengajian di TV nasional kebanyalan jenis "Ustadz Halal Haram" (istilahnya Sujiwo Tedjo), yang memberikan ilmu agama berdasar tafsir terjemahan Depag, tanpa pemahaman mendalam. Mengenalkan madzhab sebagai agama. Padahal madzhab itu bukan agama. Ibarat kayu itu agama. Madzhab itu kursi, meja, atau benda yang terbuat dari kayu.

Oke, kembali ke soal NS.

NS itu cuman orang yang beruntung dipercaya Metro TV membawakan program Talk Show yang namanya dipakai judul. Sama beruntungnya dengan Tukul Arwana yang sukses dengan Empat Mata, walau beda kelas. ----Ya iya lah, kalau soal kecerdasan jangan samakan Najwa Shihab dengan Tukul Arwana bla bla bla bla off the record---Mungkin nasib NS berbeda jika bukan anaknya Quraish Shihab. Mungkin.

Jadi, tidak ada kesucian di siaran TV nasional. Ditonton boleh, diyakini jangan. Karena banyak kepalsuan di sana. Seperti acara pengajian di TV nasional, itu bukan peristiwa religius tapi peristiwa dagang. Begitu juga dengan acara Mata Najwa. Jadi, pada semua itu sikapku sangat tegas : Fuck off!
Zuukkk.

(C) Robbi Gandamana, 22 Agustus 2017

Minggu, 20 Agustus 2017

Surat Terbuka untuk Generasi Copas

Ngene rek,
"Ikhlas" itu gampang diucapkan, tapi ternyata prakteknya sungguh buerattttsss. Walau aku menulis soal keikhlasan, tapi tetep saja saat tulisanku di-copy paste tanpa menyertakan namaku aku sulit untuk ikhlas. Jancok!..pisan maneh : jancokkkk! (misuhi diriku sendiri).
Alhamdulillah..lego.
Okelah kebaikan harus disebarkan, tapi ingat itu adalah karya tulis yang ditulis pakai waktu, tenaga, mikir dan bakat yang tidak semua orang punya. Jadi kalau kamu punya tenggang rasa, sopan santun, mending jangan main copy paste tanpa menyertakan link atau inisial penulis.
Sering aku menuliskan pemikiran-pemikiran Cak Nun yang dahsyat jaya. Aku dengan telaten merangkainya dari puzzle-puzzle pemikiran beliau yang bertebaran di berbagai ceramah atau pengajiannya. Aku pilah-pilah berdasarkan tema yang akan aku tulis. Eh lha kok mereka, para generasi copas, dengan santainya mengkopinya dan inisial penulisnya diganti Cak Nun. Jancok maneh! (misuhi diriku yang sulit ikhlas).
Sudah berapa ratus kali tulisanku di-copy paste tanpa ijin, atau gambarku dipakai dan semua tanpa inisialku. Ngono iku lak jancok se. Ada dulu tulisanku "Surga Itu Nggak Penting" yang inisial penulisnya diganti Mohammad Taufik Jaelani. Tulisan itu sangat viral, sudah di-share jutaan nitizen. Sampai sekarang aku masih penasaran, anake sopo Jaelani iku. Kalau ketemu akan aku ajari nulis (gayamu Su!).
Banyak orang yang masih belum bisa menghargai sebuah karya, apa itu tulisan atau lukisan. Di zaman medsos seperti sekarang ini, orang begitu santainya copy paste tanpa ijin, tanpa perduli bahwa itu sebenarnya adalah "pencurian".
Malingggg jiancokk! Kalau yang ini aku misuh-misuh bukan karena nggak ikhlas, tapi karena kamu maling. Ya kamu itu, generasi copas. Jancokk!!!!
Mungkin cukup ini saja, besok kalau ada waktu saya sambung, ini lagi sibuk. Dan maaf kalau anda semua terganggu dengan pisuhan saya yang kasar dan kampungan. Untuk seterusnya saya berjanji nggak akan misuh lagi dwech.
Solo, 8 Agustus 2017
Robbi Gandamana

NB : Eh..aku berubah pikiran....Jancok!!!
*Ingat : Jancok bukan kedzaliman, justru jancok diucapkan untuk melawan kedzaliman. Dan jangan berkata kasar kecuali dalam keadaan didzalimi.

Jumat, 18 Agustus 2017

Jokowi Presiden yang Dzalim? (Katanya)


Hari yang indah untuk menggemparkan dunia,

Salah satu hiburanku berfesbuk adalah "menyesatkan" kalian. Salahe sopo, gampang banget percoyo karo tulisanku. Dipikirnya aku ini cerdas, cerdas opo. Nek aku cerdas, aku wis dadi Kepala Sekolah ket mbiyen. Aku nek nulis ngawur pol rek, gak mikir abot, tapi serius. ???

Yang aku tulis ini tentang "kebodohan " kalian. Kalian yang gampang banget mengamini dan meyakini kebenaran hanya berdasar katanya, tanpa data yang valid dan akurat.

Aku nulis Ini tidak ada urusan dengan dukung mendukung, lover atau hater Jokowi dan Prabowo. Geluto kono, Fuck you all (kapok koen). Aku berada di luar lingkaran alias Golput. Soal kenapa saya Golput, kapan-kapan aku rangkumkan.

Sebelum membaca tulisan ini, aku sarankan kompres dulu telingamu dengan es, karena pasti akan panas. Dan tulisan ini juga akan menonjok lambemu, hook in mouth!

Sampai sekarang aku masih bingung dengan orang yang menyebut Jokowi sebagai pemimpin dzalim. Apa karena Novel Baswedan disiram air keras? atau Johannes Marliem tewas? Lha wong yang banyak tersandung kasus korupsi E-KTP itu koalisi pendukung Prabowo. Jokowi nggak ada urusan dengan KPK.

Apa karena tarif listrik yang mbokneancok itu? Apa karena harga garam yang naik 100 persen? Rego-rego mundak kok langsung auto dzalim. Asline aku yo kecewa berat dengan biaya tarif listrik, tapi yo gak lebay purik gulung-gulung koyok raimu.

Ojok salah, aku Golput sejak dalam kandungan. Gak nyoblos Jokowi, tapi aku nggak ikut gegabah mendzalim-dzalimkan Jokowi. Jangan dipikir kalau Prabowo yang jadi presiden harga-harga nggak bakalan naik? Sama saja. Siapa pun presidennya, harga-harga pasti naik tiap tahun. Harga naik itu pasti, bersabar itu pilihan.  Lha terus kate lapo nek gak sabar?

Kalau harga seharusnya naik tapi nggak dinaikan yo bandare jebol. Seperti di era SBY. Karena jaga imej, bensin yang harusnya naik tidak dinaikan.  Begitu juga dengan tarif listrik. Malah ngajari rakyatnya males dengan Bantuan Langsung Tunai. Yang kaya ngaku miskin, yang miskin jadi males kerja. Pantats kalau SBY menjabat sampai 2 periode, rakyatnya mudah disuap. Katanya sih.

Semua  penundaan itu terakumulasi dan jadi beban Jokowi.  Apes awakmu Wi. Sekarang, pemerintah butuh duit gede. Makanya semua subsidi dicabut. Jokowi gencar mbangun infrastruktur dimana-mana untuk mendongrak ekonomi dan merangsang terciptanya lapangan kerja. Nggak mudah merubah etos kerja masyarakat kita yang nyantai jaya.

Kalau sekarang Jokowi pakai jargon "Kerja! Kerja! Kerja!" itu sebenarnya nyindir SBY. Kalau SBY khan "Bantuan! Bantuan! Bantuan!" atau "Ada Bantuan Langsung Tunai! Nyantai saja!" Katanya lho.

Jokowi berusaha keras meratakan pembangunan, nggak cuman terpusat di Jawa. Banyak infrastruktur yang sedang dibangun di Indonesia timur. Papua yang dulu harga premiumnya seliter bisa sampai Rp. 50.000 -100.000, sekarang harga sudah normal, Rp. 6500.  Bayangno ae nek awakmu tuku bensin seliter satusewu, langsung nangis getih.

Saya jadi maklum, kenapa rakyat Papua ingin lepas dari NKRI, lha wong dianak-tirikan. Makanya sekarang ajudan Jokowi yang baru seorang putra Papua --> Jhonny Edison Isir. Itu untuk mengambil hati orang Papua. Katanya sih.

Kulihat orang yang nge-judge Jokowi dzalim itu mereka-mereka yang tidak bisa legowo dengan kekalahan Prabowo dulu. Masih belum berdamai dengan dirinya, masih ada dendam kesumat, tidak pernah lega hatinya. Tidak mengakui hasil pembangunan yang dicapai Jokowi, tapi diam-diam ikut menikmati. Taek rek.

Dzalim opo se rek, apa karena Jokowi minta agar memisahkan politik dengan agama? Lha wong itu tujuannya agar agama tidak dijadikan alat politik kok. Orang langsung menghubungkan statement itu dengan paham komunis. Jangan kesusu menuduh komunis hanya karena satu kesamaan. Ajaran sama bukan berarti seagama.

Apa karena UU ITE? Justru kalau tidak ada aturan itu, kita nggak punya kontrol dalam memanfaatkan medsos, hate speech akan merajalela. Atau Perpu Ormas? Lha wong itu untuk melindungi rakyatnya dari ancaman paham kolot yang bisa bermuara pada radikalisme. Paham-paham seperti itu kalau dibiarkan bisa jadi penyakit yang menggerogoti negara.

Jadi sebenarnya yang dzalim itu siapa? Jokowi, DPR, Politikus Nganu, Ormas kolot, opo raimu?

Rupanya banyak yang masih termakan kampanye hitam kalau Jokowi itu PKI, terutama penganut madzhab kolot Prabowo lover. Itu fitnah kelas kakap, tanggung jawabe gede di akhirat nanti boss. Kalau masih "katanya", nggak usah nggaya ikut-ikutan nge-judge Jokowi PKI.

Aku bukan lovernya Jokowi. Tapi siapa pun yang sudah rela remuk untuk negara perlu diapresiasi. Tahu nggak, kenaikan harga  BBM dan tarif listrik itu adalah bukti bahwa Jokowi bukanlah presiden yang suka tebar pesona dan siap dibully. Katanya begitu.

Dulu (dan sekarang) aku Golput bukan berarti benci pada para Capres. Justru Golput itu mengambil jalan sunyi. Nggak ingin terlibat dalam "perang" kalian. Aku ingin bersih dari urusan politik di negeri ini. Sori aku tidak sedang kampanye Golput. Jangan sampai Golput, gunakan hak pilihmu.

Siapa pun yang berani mencalonkan diri jadi presiden, aku dukung! ---Karena itu aku nggak bisa mencoblos keduanya---Orang yang mau jadi presiden Indonesia itu nekad. Lha wong negara sudah hancur lebur begini kok mau-maunya ndadani. Hanya Tuhan yang bisa ndadani Indonesia. Katanya Simbah.

Siapa pun presidennya, mau Jokowi, Prabowo, Sukirno, Prayitno..Indonesia tetap jadi Indonesia. Begitu juga dengan Ahok atau Anies, siapa pun yang  jadi Gubernurnya, Jakarta akan tetap jadi Jakarta, tidak kiamat. Hanya butuh sedikit adaptasi. Kita tetap usaha sendiri, nyeret gerobak sendiri, menjajakan dagangan sendiri, macul sendiri, sengsara sendiri.

Soal kecurangan dalam Pilpres atau Pilgub sudah jadi rahasia umum. Sudah cukup jangan terlalu menuntut. Jangan ngomong keadilan! Di negeri ini keadilan tidak bersemai, lahannya tandus.

Yang penting jangan berlaku 100%, banyak dari kita kalau sudah mendukung Jokowi, apa pun yang dilakukan Jokowi pasti benar, Prabowo selalu salah. Begitu juga dengan pendukung Prabowo, apa pun kelakuan Jokowi selalu salah, nggak ada benarnya.

Kita nggak bisa memaksa pilihan orang untuk memilih Jokowi, Prabowo, Ahok, Anies. Pilihan  itu soal selera, tergantung dari bekgron agama, tingkat intelektualitas, juga subyektifitas . Kalau pilihan kita berbeda, harusnya tidak menjadikan kita musuh. Makanya soal milih pemimpin, sebaiknya nggak usah diambil hati, iso pecah ndasmu. Biasa ae.

Ada desain besar konspirasi dunia di balik itu semua. Negara ini memang disetting tetep kere, nggak maju-maju, utang terus pada Bank Dunia. Dengan begitu Bank Dunia (yang dimonopoli Amrik) bisa turut serta punya hak mengambil kebijakan. Karena itu jangan terlalu yakin kalau Jokowi jadi presiden itu karena 100% pilihan rakyat.

Indonesia tidak benar-benar merdeka, kita masih dibawah cengkeraman kolonialis global (Amrik dan sekutunya). Mereka punya andil dalam memenangkan Jokowi. Jokowi disukai para kolonialis karena tidak terlalu Islam. Prabowo juga nggak Islam banget, tapi didukung partai Islam dan Ormas kolot. Jokowi di-blow up Barat melalui berbagai media Barat agar rakyat kesengsem memilih Jokowi. Iki rahasia rek.

Soeharto dulu ayem tentrem selama 32 tahun di singgasananya. Tapi ketika Soeharto mulai alim, Amrik stress. Maka digulingkanlah Soeharto dengan segala trik yang seolah-olah itu karena student power. Padahal Soeharto tidak gentar sedikit pun dengan gerakan mahasiswa. Do'i punya pasukan lengkap. Soeharto mau turun karena nggak tega hati melihat rakyatnya menjarah.

Jadi, apakah memang benar ada konspirasi dunia untuk kemenangan Jokowi kemarin? Aku gak eruh, lha wong itu semua cuman katanya kok. Ojok gampang percoyo.

Rakyat Indonesia itu gampang diadudomba. Karena masih banyak orang bodoh, gampang percaya dan bersumbu pendek. Di negeri ini, beda berarti musuh. Bukan pendukung disebut hater. Apalagi sukanya berbalas pantun, yang satu teriak "Jokoplak!", yang satunya "Prabocor!" Mbok wis gak usah kakean taek. Kita sama-sama "goblok", mending akur saja.

Merdeka tapi nggak akur, apa asyiknya.

Kita nggak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Semua berdasar "katanya" tanpa data yang valid dan akurat. Ngrasani Jokowi (atau Prabowo) tapi referensinya dari internet, wadaw. Tidak ada berita politik yang murni di internet, semua sudah dipoles, diplintir, dimanipulasi disesuaikan dengan kepentingan dan permintaan. Dibaca boleh, percaya jangan. Tapi nggak percaya juga rugi. Cukup waspada saja.

Sudahlah, kerjo ae sing bener. Kalau ada kebijakan yang nggak sreg, silakan dikritik. Ojok kakean mikir konspirasi dunia, paling awakmu yo gak paham.  MERDEKAKAN DIRIMU DARI "KATANYA" (seharusnya ini judulnya, tapi kurang kontroversial). Ada urusan yang lebih penting dari itu, nguripi anak bojomu, menjaga hubungan baik dengan temanmu, tonggo-tonggomu dan mbayar utang. Duh dadi eling utang rek.

Ingat kata Soekarno dulu, "Penjajah tidak akan punah dan tidak sudi enyah dari muka bumi Indonesia ini, meskipun pada tanggal 17 Agustus 1945 telah kita proklamasikan kemerdekaan Indonesia!”

Wis, ngono ae. Ingat : Jangan percaya tulisan ini, karena semua yang saya tulis ini berdasarkan "katanya".

Zuukkk.

(C) Robbi Gandamana, 18 Agustus 2017

Kamis, 17 Agustus 2017

Bingungnya Negeri Ini



Asem, bulan Agustus memang bulan yang penuh dengan penutupan jalan. Apa itu buat pernikahan (bulan Syawal, bulan besar, bulan yang baik untuk nikah), kerjabakti, lomba, dan puncaknya malam tirakatan atau syukuran HUT RI. Lha kok ndilalah masih ditambah dengan penutupan jalan karena ada yang meninggal. Ya Alloh, mati kok yo pas lomba pitulasan.

Penutupan jalan memang bikin keki pengguna jalan, karena harus muter lewat jalan alternatif, bahkan juga lewat jalan tikus. Ada yang kesasar masuk dapur orang. Ada yang terpaksa ngikut mobil di depannya karena nggak paham jalan, eh lha kok tahu-tahu sudah ada di garasi orang yang diikuti tadi. Ya'opo se rek.

Kalau pengendara motor nggak repot banget, yang stress itu yang pakai mobil. Jalan di kampung nggak konduksif buat mobil, sempit Ndes. Repotnya kalalu berpapasan dengan mobil lain. Harus ada yang berhenti, mobil satunya jalan dengan pelan dan hati-hati. Tergores sedikit bisa nangis gulung-gulung. Apalagi kalau mobilnya Alphard. Tapi jarang ada Alphard di kampung. Kemaren ada yang pamit beli BMW, tapi ternyata yang dibawa pulang BMX. T:T

Rakyat Indonesia memang cuek bin nekad kok. Garasi nggak punya, lahan parkir nggak ada, tapi beli mobil. Akhirnya parkirnya di jalan kampung.  Jalan sudah sempit dipakai parkir mobil. Mau ngelarang sungkan, nggak dilarang kok tuman. Sing liyane melok-melok Ndes.

Tapi itulah Indonesia, negeri yang penuh dengan kebingungan. Jalan diaspal atau diplester itu khan agar nyaman dilewati, lha kok malah dikasih polisi tidur. Malah jadi nggak nyaman lagi.Gronjalan bosss. Karena kesadaran kita dalam berkendara masih primitif, akhire podo gemblung kabeh. Apalagi namanya "polisi tidur", itu khan sarkas sebenarnya. Polisi mangkel asline, "taek rek."

Pernah saat HUT POLRI, ada lomba nggambar khusus anak TK, syaratnya nggambar polisi. Ada seorang teman yang anaknya iku lomba minta saran ke aku. Yo wis kusarankan nggambar saja polisi tidur alias gundukan yang melintang di jalan. Salahe sopo.

Disamping jalan ditutup paksa dan kondisi jalan yang nggak nyaman (banyak polisi tidur), juga ada peraturan bagi pengguna jalan yang membingungkan (maaf pak polisi). Ngasih aturan : lampu motor harus dinyalakan di siang hari. Lha wong di sini iklimnya nggak berkabut. Siang hari bolong, tanpa lampu semua terlihat dengan jelas. Dan pengendara motor adalah pengguna jalan mayoritas. Sialnya, lampu sepeda motor sekarang terang sekali, silau men.

Tapi segala kebingungan itu sama sekali nggak masalah buat rakyat Indonesia. Mereka nyaman-nyaman saja. Jalan itu khan milik umum, dipakai untuk kepentingan umum. Tapi di Indonesia, jalan ditutup untuk kepentingan pribadi, apa itu pengajian pamitan haji, resepsi nikah, arisan keluarga, dan lainnya. Asyik yo, kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Sopo guru PKn-mu mbiyen rek.

Yo wis jarno, sing penting rukun, gak tawuran ae. Aku nulis ini juga karena bosen nunggu donlotan film "The Lost City of Z" (Siti ilang nang endi) kok belum juga beres. Daripada bingung, nulis ae. Lumayan yo tulisanku huwehehe, ayee.

Mari kita bingung! Elingo, Urip iku cuman mampir bingung. (Hadits riwayat Musyrik).

Zuukkkk.

(C) Robbi Gandamana, 17 Agustus 2017







Selasa, 15 Agustus 2017

Belajar dari Hitler



Jangan salah, kalau aku nggambar Hitler bukan berarti ngefan, setuju atau membenarkan tindakan biadab Hitler dan Nazi-nya membantai jutaan rakyat sipil Yahudi. Justru aku menggambar Hitler agar kita ingat dan belajar dari sejarah masa lalu. Jangan sampai terulang kebiadaban ideologi rasisme dan fasisme.

Semua boleh dipelajari, semua yang ada di dunia adalah cahaya ilmu. Polisi pun boleh belajar pada maling, soal ilmu maling.

Ada banyak hal di diri Hitler yang asyik untuk dipelajari (tentu yang baik saja). Hitler adalah orator ulung, anti rokok, anti minuman keras, nggak hobi gonta-ganti wanita, mencintai anak-anak (bukan pedofil lho), seorang patriot sejati dan anti korupsi.

Karena anti korupsi, sikapnya sangat tegas pada koruptor--> tembak mati.

Hitler sebenarnya berkebangsaan Austria. Lahir di kota Braunau am Inn, 20 April 1889. Hitler awalnya adalah seorang pelukis. Tapi setelah bergabung dengan pasukan Bavaria (sekutu Jerman) di Perang Dunia I melawan Perancis, Hitler nggak ngelukis lagi.

Selama di pertempuran Hitler menunjukan dedikasinya yang sip lah. Dia kecewa berat saat komandannya (seorang Yahudi) melaporkan bahwa pemerintah Jerman menyatakan menyerah pada Perancis. Apalagi semua kerugian perang ditanggung oleh Jerman (Perjanjian Versailes). Hitler pun misuh-misuh, "mbokneancok!"

Sejarah ditulis oleh orang yang menang. Pengetahuan kita soal Hitler akan jauh berbeda bila Jerman yang menang perang. Termasuk soal mengapa Hitler begitu anti-semitisme atau benci orang Yahudi. Jerman sendiri sampai sekarang tidak benar-benar berani mengungkapkan kebenarannya.

Soal jumlah Yahudi yang tewas dalam peristiwa Holocaust itu pun masih diperdebatkan. Apa benar berjumlah 6 juta jiwa. Banyak foto-foto hoax beredar. Foto korban wabah pes di Bergen Belsen pun diklaim sebagai korban Holocaust. Di Israel, rakyatnya dilarang keras meragukan atau menolak Holocaust, bisa dihukum berat.

Kenapa Hitler anti-semitisme?

Menurut sumber yang bisa dipercaya, Hitler punya pengalaman menyakitkan akibat ulah orang Yahudi. Ceritanya, orang tua Hitler punya hutang pada rentenir Yahudi. Karena tidak sanggup membayar, kakak perempuan Hitler dijadikan pelacur oleh si rentenir sebagai pengganti pelunasan hutangnya.

FYI, bank itu awalnya adalah produk Yahudi. Yahudi memang joss dalam hal bisnis atau mengolah duit, ahli riba. Tapi ojok ngomong sopo-sopo.

Ada banyak alasan kenapa Hitler benci Yahudi. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang cepat berkembang. Mereka adalah ras yang cerdas. Baru kemarin datang, bertahun kemudian sudah menguasai Jerman, menjalankan roda perekonomian, bercokol di pemerintahan, militer, bank, dan banyak lagi. Rakyat Jerman pun terdesak, termasuk Hitler yang sempat kere total, terlunta-lunta di Jerman.

Film "Hitler: The Rise of Evil" (2013) adalah film yang recomended sebagai referensi kisah Hitler sejak kecil sampai dia sukses menapakan kariernya di pemerintahan. Bagaimana Hitler membuat publik terpukau dengan orasinya yang luar biasa. Sampai-sampai hakim yang menangani kasus kudetanya terpesona. Acara pengadilan jadi kayak khotbah jum'at dengan Hitler sebagai ustadznya.

Bicara soal kematiannya yang misterius, ternyata tengkorak yang diklaim sebagai Hitler (dipamerkan di Moskow, tahun 2000) tidak benar. Setelah diteliti oleh ilmuwan (Nick Bellantoni), ternyata tengkorak tersebut berjenis kelamin perempuan berusia 20 - 40 an.

Penelitian tersebut menjadikan kematian Hitler jadi misteri lagi. Kabar yang bikin semaput adalah Hitler mati di Indonesia?

Berdasar kesaksian dr. Sosro Husodo yang pernah bertugas di Sumbawa Besar di sebuah Kapal yang dijadikan rumah sakit. Di tahun 1960 dia bertemu dengan Dr. GA Poch, pemimpin rumah sakit tersebut yang sosoknya sangat mirip Hitler, berjalan dengan kaki kiri diseret, tangan gemetar karena menderita kelainan saraf dan kumis ala Gogon.

Dr. Poch juga tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan. Penduduk setempat memanggil Dr. Poch dengan sebutan "dokter Jerman". Istrinya (yang diduga Eva Braun) memanggilnya "Dolf", paggilan masa kecil Hitler, kependekan dari Adolf.

Setelah istrinya kembali ke Jerman, Dr. Poch menikah dengan Sulaesih, wanita Sunda yang mengembara di Sumbawa yang dikenalnya di tahun 1960. Mereka menikah secara Islam di tahun 1964. Setelah masuk Islam, Dr. Poch mengganti namanya jadi Abdul kohar. Oala Har Har, ngancengan koen iku.

Sempat tinggal di rumah dr. Soetomo (tokoh Budi Oetomo) di Surabaya. Tanggal 15 Januari 1970 (usia 81 ) Dr. Poch meninggal karena serangan jantung. Dimakamkan di pemakaman Islam, Ngagel, Surabaya.

Apakah betul Dr. Poch itu Hitler? aku gak eruh. Tanyakan ke Eyang Google atau beli buku "Hitler Mati di Indonesia" karya Ir KGPH Soeryo Goeritno.

Tapi bisa jadi Hitler memang kabur ke Indonesia. Sejak dulu Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel. Selain itu di zaman kepemimpinan Soekarno, Indonesia sangat tidak menyukai imperialisme yang dipelopori oleh Inggris dan Amerika.

Wis ah, tulisan ini cuman caption dari gambarku. Ingat, jangan ngefan Hitler! Jangan benci Yahudi. Mereka memang dihakikatkan ada, biar kita semua mumet, iman kita kacau. Ingat kata ustadz, nggak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Al Fatihah.

Zuukkkk.

(C) Robbi Gandamana, 15 Agustus 2017

Sumber diolah dari Wikipedia, Film "Hitler : The Rise of Evil" (2013), buku "Hitler Mati di Indonesia" oleh Ir KGPH Soeryo Goeritno dan interprestasi pribadi.

Senin, 14 Agustus 2017

AADJ (Ada Apa dengan Jancok)



Peringatan : Kalau anda sudah pinter, lebih baik jangan membaca tulisan ini. Nggak penting banget!

Karena seringnya aku menyisipkan kata kasar (menurutnya sih) dalam tulisanku, ada sejumlah priyayi yang menolak  tulisanku (unfriend). Padahal, bisa jadi ada ilmu yang nylempit di antara kata-kataku yang kampungan dan liar itu. Siapa tahu..

Hanya karena nggak mau membongkar bongkahan batu, akhirnya seseorang nggak jadi menemukan emas yang tertimbun oleh bongkahan-bongkahan batu tadi.

Bahasa liar Itu cuman style. Sengaja. Tulisanku segmen pasarnya adalah kaum jelata yang nggak doyan membaca, alergi bahasa profesor dan anti formalitas. Bahasa yang aku pakai  adalah bahasa yang paling familiar dengan kuping mereka--> bahasa jalanan.

Tenang ae, aku menulis kata "jancok" tidak dengan amarah, kepala penuh asap, tapi dengan rileks dan cengengesan. Lha wong jancok itu kata yang abstrak kok, epistemologisnya masih abu-abu. Malah yang menurutku kasar itu "nyinyir!", "pecundang!", "kamu waras?" Itu ngajak perang, arti dan maksudnya sangat jelas.

Jadi, ada apa dengan jancok???

Nggak ada yang salah dengan "jancok", salah jika jadi hujatan buat hater. Salah karena ditempatkan di tempat yang salah. Semua tergantung pada maksud, tujuan dan peristiwanya. Kamu nggak terima karena kamu tidak bisa lepas dari doktrin mbahmu dulu, "jancok iku saru lho le." Doktrin itu khusus untuk anak kecil, masa perjuangan. Kita sudah pasca dari hal-hal seperti itu.

Tapi jangan salah, saya tidak sedang kampanye atau ngajari anda misuh "jancok". Jangan salah koordinat.

Menurutku, lebih menyakitkan dipisuhi "Nyinyir!" daripada "Jancok!" Karena itulah aku tidak pernah menggunakan kata "nyinyir" dalam tulisan-tulisanku terdahulu, i hate that word! Apalagi yang sering misuh "nyinyir!" itu namanya sangat Islami, Muhammad Syuaib Al Idrisi. Gak cocok blas, mending namanya diganti saja --> Feli Al Jembuti.

Aku berjancok ria dalam rangka agar tidak dianggap alim atau disangka ustadz (terutama saat nggedabrus soal agama). Ustadz what!? Aku nggak suka dan tidak akan pernah mau disebut ustadz. Ojok sampek! Seandainya aku lulusan kampus Islam top luar negeri pun aku nggak bakalan menggelari diriku ustadz.

Nggak ada kata 'ustadz' di Al Qur'an. Gelar ustadz disematkan oleh masyarakat pada orang yang paham agama dan konsisten berdakwah. Jadi bukan dirinya sendiri yang menggelari dirinya ustadz. Kalau orang sudah berani ngeklaim dirinya Ustadz, itu orang yang sangat pede sekali (aku nggak bilang sombong). Oughh, ustadz ni yeeee. Pinter agama la yauww.

Apalagi yang nggaya ngeklaim dirinya ustadz itu ternyata modalnya cuman Al Qur'an terjemahan Depag. Pantesan banyak muslim yang pemahamannya remuk jaya bla bla bla bla *off the record*.

Oke cukup, kembali ke soal tulisan..

Ojok nggumunan, kagetan dan ngamukan. Kalau nggak suka dengan tulisan orang, skip saja. Nggak perlu sampai unfriend (tapi sakarepmu). Nggak ada orang yang 100% sama. Kembar identik pun nggak benar-benar sama. Selalu ada pro dan kontra. Lebih baik lebih banyak permakluman daripada penolakan, itu kalau ingin punya pengetahuan yang luas. Ambil sari-sarinya yang baik saja.

Orang yang banyak membaca biasanya punya sensor yang lebih baik. Mana tulisan (atau berita) yang layak, asyik, perlu dibaca dan valid. Hanya dengan membaca sekilas kalimat awalnya, orang sudah tahu kalau tulisan itu bagus (atau mblendes). Tanpa di-tagg pun pasukan bodrek akan berbondong-bondong hadir membaca.

Maka ada baiknya kalau bikin status fesbuk dengan tulisan yang panjang : Jangan nge-tagg temanmu. Karena itu pemaksaan, belum tentu temanmu suka dengan tulisanmu yang mawut itu. Walau tujuanmu sebenarnya untuk berinteraksi. Itu juga membuktikan kalau kamu nggak pede, sungkan kalau tulisanmu sepi sambutan. Pokoke nulis, persetan mau dibaca atau tidak.

Wis ah, orang bebas memilih untuk membaca atau tidak tulisan orang. Tapi orang yang punya kans besar mendapat hidayah adalah orang yang mau membaca, punya keluasan hati, tidak menutup diri pada ilmu hanya karena ilmu itu tidak disampaikan oleh ustadz, ulama, guru. Jangan kerdilkan dirimu.

Zuukkkkk.

(C) Robbi Gandamana, 14 Agustus 2017

Selasa, 08 Agustus 2017

Singkekphobia



Rupanya ada semacam gejala "Singkekphobia" di masyarakat kita, begitu takutnya negeri ini dikuasai oleh China. Waspada itu bagus, tapi kalau terlalu waspada yo nggak asyik. Hidup isinya cuma prasangka dan curiga. Patung dewa perang Kongco Kwan Sing Tee Koen di Tuban yang baru saja kelar, diminta dirobohkan oleh golongan tertentu. Karena mereka takut itu bisa jadi awal tonggak invansi budaya ras Tionghoa di Indonesia.

Aku nulis seperti ini biasanya ada yang menuduh aku mbelani cino. Taek arek arek, pikirane sempit banget, kok selalu yang dilihat itu suku, ras atau agamanya. Seperti nasib Gus Dur dulu yang dicap Pembela Cina, padahal yang dibela manusianya, bukan suku atau agamanya. Banyak yang masih terkungkung dengan padatan-padatan : Tionghoa, China, Pribumi, Islam, Kristen.

Memang, bangsa Tionghoa atau Cina, singkek atau apa pun istilah kita, adalah bangsa yang "larinya cepat'. Ketika datang awalnya menyewa tanah pribumi, tapi beberapa tahun kemudian tahu tahu sudah jadi pemilik tanah plus tempat usaha, dan pribumi yang jadi jongosnya. Itu nggak bisa disalahkan. Kalau ingin jadi besar ya harus kerja keras, ulet dan tahan banting. Salahe raimu bendino nyantai, tenguk-tenguk karo ngelus-elus manuk.

Saking takutnya dikuasai oleh etnis Tionghoa, di Jogja orang Tionghoa tidak diperbolehkan membeli tanah di sana. Tapi aku nggak mau membahas lebih jauh soal ini. Iku urusane wong Jogja, aku gak eruh. Mungkin takut Jogja jadi kayak Singapura yang dulunya penuh orang Melayu sekarang sejauh mata memandang yang ada kebanyakan singkek. Subhanalloh.

Etos kerja orang Tionghoa dalam berdagang memang jos gandos. Dalam berdagang, mereka sangat menghormati pelanggannya. Salah satunya adalah selalu siap kembalian. Beda dengan cara berdagang kita. Saat toko baru buka, nggak siap uang receh buat kembalian, akhirnya kembaliannya diganti permen atau yang lain. Dengan santainya bilang, "Susuke kerupuk ae yo.." Lha wong niate nang warung gak tuku kerupuk kok dipekso tuku kerupuk.

Dalam berdagang,  orang  Tionghoa tidak pernah "mentung" atau "nggorok", harga cuman seribu nggak dibilang sepuluhribu. Dan labanya nggak diambil semua, tapi diambil sedikit, sisanya dipakai untuk memgembangkan lagi usahanya. Nggak seperti kita yang untung sedikit langsung beli gadget baru, kendaraan baru, kesusu seneng disik. Tempat usaha  pun jalan di tempat.

Yo wis lah, ngomongno wong cino malah dimusuhi wong akeh. Karena kita nggak bisa benar-benar sportif mengakui bahwa  usaha kita nggak sekeras, seulet dan sefokus  orang Cina. Juga kita nggak benar-benar ber-Bhineka Tunggal Ika. Masih ada sedikit rasis di hati kita. Kalau memang Bhineka, harusnya menerima semuanya, termasuk Cina, gendruwo, jin iprit. Dan jangan salah kaprah, WNI keturunan Tionghoa itu beda dengan orang China, walau satu ras.

Lebih baik kembali ngomong soal patung saja.

Kalau aku monggo-monggo saja mau dibangun patung jenderal Cwi Lan Tseng, Kopral Bong Keng, Raja Tong Seng...sakarepmu kono. Asal patung-patung tadi dibangun di lahannya sendiri, pakai biaya sendiri, dirawat sendiri. Asal jangan patung DN Aidit, karena rakyat Indonesia masih belum bisa lepas dari trauma masa lalu dengan PKI.

Sebenarnya di Semarang  sudah ada patung ukuran besar laksamana Cheng Ho di klenteng Sam Po Kong. Warga Semarang no problem dengan keberadaan patung tersebut. Bukan karena laksamana Cheng Ho seorang muslim. Tapi memang nggak ada yang perlu diributkan. Sudah sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah. Dan klenteng Sam Po Kong malah jadi destinasi wisata, lumayan ada pemasukan buat Pemkot.

Harusnya kita salut pada mereka yang masih mau mengenang, menghormati dan menghargai perjuangan para leluhurnya. Apalagi patung Laksamana Cheng Ho yang muslim itu dibangun di dalam klenteng, tempat ibadah penganut Khonghucu. Dan di dalam kompleks Klenteng Sam Po Kong juga disediakan Mushola. Ini khan implementasi dari Bhineka tunggal Ika.

Aku sendiri malah senang ada banyak patung raksasa tokoh atau pahlawan di tempat-tempat strategis di kota-kota besar. Disamping untuk mengenang perjuangan mereka, juga agar tidak terputus ingatan (hubungan) kita dengan leluhur.

Apakah patung itu haram? Ini soal madzhab. Yang mengharamkan itu biasanya kaum tekstual, yang hanya membaca ayat tanpa tahu ada apa dibalik ayat itu. Ada ayat "Celana di bawah mata kaki dibakar di neraka" langsung mencingkrangkan diri, nggak paham asal usul sejarahnya, nggak paham idiom, paradigma, konteks, konotasi dan nggak dipahami budaya dimana ayat itu turun. Mengharamkan patung tapi punya celengan Bagong, yo podo ae.

Wis ah, ngono ae. Jadi menurutku konyol melarang  orang mendirikan patung dewa untuk lebih memantapkan ibadah yang dibangun di tempat ibadah mereka sendiri. Selama nggak ada pemaksaan ideologi yang disertai tindakan dekstruktif, monggo-monggo saja. Bhineka Tunggal Ika harga mati!

(C) Robbi Gandamana, 9 Agustus 2017

*Yang mengAmini dan ngeshare tulisan ini masuk neraka. Hati-hati pendangkalan aqidah!

Jumat, 04 Agustus 2017

Manusia yang Belum Lulus jadi Manusia



Secara hukum memang nggak bisa disalahkan duduk seenak udel kita di gerbong KA kelas ekonomi. Tapi secara moral dan etika sosial itu salah, karena tega membiarkan orang lain menderita akibat tidak mau berbagi tempat duduk.

Zaman sekarang Islam berkembang pesat tapi lebih di wilayah syariat teknis. Semakin banyak orang jilbaban, berpakaian taqwa, tapi kelakuannya tidak berbanding lurus dengan kostum taqwanya. Itu adalah "penipuan". Sepertinya paham agama tapi kok bajingan.

Harusnya berjilbab itu nggak cuma menjaga dirinya tapi juga menjaga nama baik agamanya. Tapi kasus di foto tersebut sebenarnya bukan soal jilbab atau tidak berjilbab. Ini soal moral secara umum. Bukan berarti yang tidak berjilbab boleh berlaku seenaknya seperti yang terjadi di foto tersebut.

Zaman sekarang banyak orang berjilbab bukan karena tuntunan agama semata. Nggak heran kalau kelakuannya juga keliru. Susah kalau berjilbab niatnya agar terlihat trendy, kekinian atau cuman menutupi rambutnya yang kayak dakron bla bla bla ayeee.

Jilbab itu sebenarnya untuk menutupi keindahan wanita agar terjaga dari pandangan lelaki sing ngacengan. Walau sebenarnya bukan kepala (wajah dan rambut) wanita yang membuat pria ngaceng, tapi susune sing gede iku lho, karo bokonge sing semok. Itu yang harusnya dijilbabi. Tapi babah wis, semua butuh proses, nggak perlu dibahas karena pasti banyak yang tersinggung. Sori bude, mbokde, mbakyu..piss.

Di tahun 80'an sangat jarang cewek jilbaban. Dulu, jilbab itu anti-mainstream. Cewek yang berjilbab biasanya memang alim beneran, lulusan pondok pesantren. Tapi yang tidak berjilbab juga relatif sopan, sungkan duduk mekokok saat dibonceng pakai motor, walau pakai celana panjang. Tapi sekarang hal seperti itu sudah dianggap wajar, sakarepmu kono. Itu urusan pribadi mereka dengan hidupnya, nggak usah dibikin Perda.

Ah, itu soal kecil, hampir tiap hari kita menjumpai hal seperti itu. Endonesah geto loch. Sad but true.

Yang parah itu kejadian kemarin, seorang yang dibakar massa karena dituduh mencuri amplifier. Oala, ada orang yang terpaksa jadi pencuri karena terdesak kebutuhan (biaya tarif listrik sungguh mbokneancok), tapi konyolnya ada yang lebih memilih jadi pembunuh, membunuh pencuri ampli kere tadi. Tuhan tepok jidat,  mumet lihat kelakuan hambanya.

Betul kata Cak Nun, sekarang ini banyak umat Islam karbitan, mereka hafal Fiqih, hadits, bahkan Al Qur'an dibolak-balik pun tetap apal, tapi sesama manusia tega mengkafir-kafirkan, tega membunuh hanya karena berbeda pandangan. Dan pikirannya dangkal, ketika ada yang mengkritisi ulama malah dituduh membenci ulama, menghina Islam, taek rek.

Banyak orang Islam jangankan menjadi muslim, dia menjadi manusia saja belum sanggup. Kalau manusia menggunakan hati, nurani dan akal pikirannya pasti akan muncul kasih sayang sosialnya, muncul kesantunannya pada sesamanya.

Pencuri, pembunuh, bahkan pemerkosa, semua itu dihakikatkan ada oleh Tuhan. Sebagai penyeimbang kehidupan agar tidak hanya positif. Dan juga sebagai contoh, yurisprudensi, agar kita bisa belajar, mengambil hikmah dari kesalahan manusia. Jika tidak ada kejahatan di dunia, maka tidak akan ada Nabi, Ulama, Ustadz, Polisi, KPK. Tuhan tidak bisa menjalankan sifatnya yang Maha Pengampun. Kalau semua orang baik, sopo sing diampuni.

Jadi cintailah manusia dengan segala kesalahannya dengan cara menghukumnya dengan benar.

Pelaku pembakaran pada seorang pencuri amplifier adalah contoh manusia yang belum sanggup menjadi manusia tapi sudah terlanjur berIslam. Demi agama, mereka tega membunuh manusia. Padahal jika demi manusia, mereka nggak akan tega. Harusnya tahapnya setelah dia lulus jadi manusia dengan akal dan nuraninya, nanti akan ditambahi, dimuliakan, dimatangkan dengan nilai-nilai agama.

Al Qur'an sebenarnya sudah ada di dalam diri manusia. Seandainya tidak ada kitab suci pun manusia dengan akal budinya tidak akan tega melukai hati manusia, apalagi sampai membunuhnya. Itu yang membedakan manusia dengan hewan. Nggak heran kalau ada orang yang tidak mengenal Al Qur'an tapi kelakuannya baik sesama manusia, sangat Islami, bahkan bisa lebih Islam dari orang yang kostumnya sangat Islam.

Kalau manusia belum lulus jadi manusia kemudian memakai agama, agama bisa menjadi alat kekejaman, kebinatangannya. Agama bisa menjadi legalisasi bagi perilakunya yang belum jadi manusia. Teriakan "Allahu Akbar!" digunakan sebagai original sountrack saat mentungi atau membunuh manusia.

Jadi, jangan nggaya kalau sudah berjilbab, bercingkrang, berjenggot, hafal fiqih, Hadits atau Al Qur'an. Itu tahapan yang bagus, tapi lebih bagus lagi kalau kelakuannya baik saat di masyarakat atau saat bernegara. Jangan saat kumpul sesama kaummu teriak "Pancasila itu Thagut!", tapi saat akan dibubarkan ngakunya Pancasilais. Raimu Ndes.

Wis ah, zuukkk.

(C) Robbi Gandamana, 5 Agustus 2017

Senin, 31 Juli 2017

Tani Maju, Band Jenaka yang Tangguh



Tani Maju, sebuah kelompok musik paling kucluk di Malang ini akan membuat album yang ke 4 dalam waktu dekat. Rencananya judul albumnya "Beda TOPI MIRING Bersama". Dengan personil yang paling gres : Novan (vokal), Joni (gitar), Wibi (bass), Sri (vokal), Leo (ketipung), Agus (cak cuk), Pleki (keyboard), dan Sinyo (drum).

Aku tahu kelompok musik Tani Maju karena beberapa personilnya pernah satu kandang di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) IKIP Malang di tahun 90 an, Sanggar Minat (seni rupa dan kerajinan) dan Opus 275 (seni musik). Kere bersatu menjalani hidup day by day di sanggar kumuh, mbambung total, mangan gak mangan pokoke berkesenian.

FYI, iklim berkesenian antar UKM seni IKIP Malang di era 90 memang sangat tinggi. Dari seni suara, seni musik, seni rupa, teater, karawitan, dan banyak lagi, semuanya berlomba-lomba unjuk gigi. Banyak lahir kelompok teater, kelompok musik maupun kelompok lakon (?). Aku sendiri dulu punya kelompok musik akustik yang memainkan lagu latin macam "Bamboleo" Gipsy King, tapi juga punya band yang memainkan lagu Metallica, aneh bin ajaib.

Tani Maju dibentuk tahun 1999. Kalau sekarang Tani Maju masih bertahan, itu karena daya survive-nya tinggi, tangguh. Lha wong sudah teruji hidup bertahun-tahun di "kamp konsentrasi" UKM IKIP Malang. Karena saking kerenya, pernah suatu kali berburu bekicot, untuk digoreng dijadikan lauk, di sekitaran kampus. Saat ada anak kecil bertanya, "Gawe opo mas?" Dijawab dengan santai oleh mereka, "Gawe pratikum.."

Setahuku nama Tani Maju adalah plesetan dari merk minuman keras Topi Miring (disingkat TM). Karena dulu kalau "upacara" yang diminum Topi Miring, minuman keras kere yang murah meriah, gampang dicari, dan nendang di kepala dengan cepat.

---Disebut upacara karena dulu acara minumnya dilakukan di lapangan upacara persis di bawah bendera merah putih saat malam hari di depan IKIP Malang gedung lama, sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas. Makanya nggak ada Satpam yang curiga, dipikirnya latihan teater---

Itu dulu, biasalah tiap mahasiswa biasanya pernah memasuki masa itu. Masa mencoba dan bergaya. Dan sekarang mereka sudah tahu kalau minuman keras itu nggak asyik dan nggak enak--> karena rasanya pahit! Makanya sekarang kapok, nggak mabuk lagi, tobat nasuha.

Karena lulusan Fakultas Sastra dan Seni, wajarlah kalau personil Tani Maju raine terkesan ndeso dan medeni bocah. Tapi jangan salah, mereka warga Indonesia yang baik. Mereka adalah seniman yang nyambi jadi guru, dosen, pokoke wong penting lah.

Personil lama yang aku kenal adalah Novan (vokal), Wibi (bass), Joni (gitar), Poleng (menyusul penonton (embuh arek iki mbiyen nyekel opo))  dan lainnya, lali aku. Personilnya silih berganti, ada yang keluar karena diterima jadi PNS , ada juga yang diterima di sisiNya. Seperti nasib Poleng  yang "pamer kesaktian" naik motor dan menabrakan dirinya dengan truk yang melaju kencang. Akibat kebanyakan Topi Miring. Innalillahi..

Band ini (kok rodok wagu yo nek disebut band, asyike ancen kelompok musik) memang dikonsep untuk jadi band kucluk, mengajak orang gembira. Karena musik itu harusnya membuat orang bahagia. Jangan mendengarkan musik yang melemahkan, yang membuat mewek, meratapi hidup, dadi wong gendeng. Karena dunia ini sejatinya memang cuma senda gurau, jadi ojok serius-serius banget.

Karena band kucluk, musiknya pun suka-suka. Disebut band pop, tapi kok pakai ketipung. Disebut band dangdut tapi ngepop habis. Embuhlah itu disebut genre apa, yang penting hepi. Apalagi tiap personil punya latar belakang musik yang berbeda. Beberapa personilnya dulu pernah ngeband mengcover lagu yang ngetop di era 90 an dari G 'N' R, Nirvana sampai Sepultura. Sembarang gelem, pokoke iso gawe joget.

Tani Maju solid karena keberhasilan bersinergi antar personilnya. Bukan karena skill yang mumpuni dari tiap personil. Band yang tiap personilnya punya skill tinggi biasanya malah cepet bubar atau sering gonta ganti personil. Karena semua merasa punya andil, merasa paling berjasa membesarkan band, merasa paling yes, merasa paling penting. Akhirnya band pecah, personilnya pada solo karier, malah nggak laku, latihan terus tapi gak tau manggung.

Aku sendiri tahu Tani Maju punya lagu sendiri saat di rantauan (Solo), nggak di Malang lagi. Kupikir band ini kayak band IKIP lainnya yang cuman genjrang genjreng sesaat setelah itu bubar. Ceritanya, ada seseorang di kantor yang muter lagu "Castol". Awalnya aku nggak tertarik blas dengan lagu semacam itu, aku hanya muter lagu \m/etal gedabukan. Karena liriknya aneh, aku jadi penasaran. Dan ternyata..ngakak cuk! cukup menghibur.

Musik dan lirik lagunya fresh, unik dan konyol, pokoknya anti mainstream. Seperti lagu "Castol" di album pertama "Artis Top Daerah" (2005) yang bercerita tentang lem atau perekat. Di lirik lagu itu disebutkan Liem Swie King itu artinya Raja Perekat (Liem = lem, Swie = lama (suwe ; bahasa Jawa), King = raja). Iso ae.

Tani Maju bukan band humor kebanyakan yang  cuman meng-cover lagu orang yang di-medley dan dibikin lucu. Mereka percaya diri dengan karya sendiri. Walau sementara ini memang jadi artis daerah yang terkenalnya hanya di Malang dan sekitarnya, tapi yang penting mereka sudah berbuat sesuatu. Daripada terkenal tapi memainkan karya orang yang lirik lagunya dibikin lucu, apa hebatnya.

Wiz ah. Zelamat dan zuksez buwat Tani Maju. Zemogah zelaluh zehat, bizah teluz berkalyah zampai tuwah. Majzu myundul majzu myundul czanthik, tebal pezona bial menalik. Buwat pecintah muzik Indonezah : Jzangan belih kazet atauw zidi bajzakan, dan czintailah ploduk ploduk dalam negeli.

Adza adza ajza dwech ach.

(C) Robbi Gandamana, 31 Juli 2017

Senin, 24 Juli 2017

Cak Nun sang Pawang Bangsa



Suatu kali Cak Nun bilang, "Setiap orang harus bunuh diri!" O_O. Orang yang tidak paham bahasa sastra tentu bingung jaya, "Maksude opo Ndes!?" Ternyata maksudnya, setiap orang harus membunuh dirinya yang sekarang untuk menjadi dirinya yang baru. Seperti bayi yang baru lahir. Jadi bukan bunuh diri dalam arti yang sesungguhnya. Itu konsep ruwatan dalam budaya Jawa.

Itu lah Cak Nun, petuahnya selalu membuat orang takjub, koyok dikampleng mubeng tapi nggak iso mbales. Dua kali saja mengikuti pengajiannya, kamu bakalan merasa nggak masuk akal dengan hidupmu. Karena akalnya tinggi, di atas rata-rata layaknya orang kebanyakan.

Maka rugi besar kalau ada yang benci atau menjauhi Cak Nun hanya karena tokoh idolanya atau Ormas-nya diolok-olok Cak Nun. Karena dia sebenarnya kehilangan kesempatan mendapatkan ilmu yang tidak pernah didapatkan di guru-guru konvensional. Membesar-besarkan secuil kesalahan, tapi melupakan sebongkah kebenaran ilmu yang dahsyat. What a stupid!

Cak Nun punya pengalaman dan pergaulan yang sangat luas. Maka nggak heran kalau beliau di terima oleh semua kalangan. Apalagi Cak Nun bukan orang pemerintah, bukan dari kelompok atau Ormas tertentu, bukan dari Partai manapun. Bukan NU, Muhammadiyah, JIL, apalagi HTI.

Nggak heran kalau Cak Nun sering diminta untuk mendamaikan kelompok yang bertikai. Tanpa mediasi yang ruwet, semua kelompok yang bertikai pun akur. Pejabat dan aparat pemerintah, petinggi Parpol, pemimpin Ormas, semua datang ke Cak Nun minta petuah. Karena beliau dianggap sesepuh oleh bangsa ini, tidak hanya di kalangan jamaahnya.

Kabarnya pendukung Anies dan pendukung Ahok minta Cak Nun untuk dirukunkan kembali lewat "pernikahan kebangsaan", melupakan permusuhan Pilkada, bersama-sama kembali membangun Jakarta. Apakah sudah terlaksana? Kurang tahu mas, saya orang baru.

Jangankan merukunkan manusia, jin pun segan sama Cak Nun. Iki serius Ndes. Tiap kali ada orang kesurupan, Cak Nun dan orang dekatnya diminta untuk mengusir jinnya. Tiap kali dengar nama Cak Nun, jin yang merasuki langsung pergi dengan mengeluh meminjam suara orang yang kesurupan, "Wadoh, Cak Nun maneh..yo wis aku lungo. Aku wedi karo Cak Nun."

Saya tidak pernah tahu, Cak Nun ini manusia jenis apa, menjalankan lelaku apa. Sehingga beliau punya wibawa yang luar biasa. Cak Nun sering dianggap Paranormal karena punya sidik paningal (pandangan yang jernih pada kehidupan). Bagiku beliau adalah seorang Sufi. Yang jelas beliau jadi sekarang ini karena lelaku tirakat yang luar biasa sejak kecil.

Di zaman Orba, Cak Nun sering kucing-kucingan dengan aparat karena menabrak aturan yang kolot saat itu. Walau sering menentang Orba, Cak Nun malah dijadikan guru ngajinya Soeharto. Aneh bin ajaib. Lebih aneh lagi Cak Nun ikut pula melengserkan Soeharto. Tapi bangsa Indonesia tidak tahu andil Cak Nun dalam memperjuangkan reformasi, tahunya cuman Amien Rais.

Pernah hidup menggelandang berbulan-bulan di Belanda, karena nggak ada ongkos pulang. Hidup di rumah kosong tanpa pemanas ruangan di musim dingin, seperti hidup di dalam freezer. Ketika ditangkap dan ditolak ijin tinggal di Utrecht, Cak Nun malah misuhi aparatnya sembari nggebrak meja, "Mbahmu mbiyen ngrampok mbahku! Aku mrene nggawe duwik-duwiku dewe...ancene Mbokneancok!" Ajaibnya, saat itu juga Cak Nun langsung dibebaskan.

Di zaman Gus Dur Cak Nun pernah disantet yang membuatnya divonis dokter umurnya tinggal 3 bulan. Badanya kurus kering kayak junkies. Tapi nyatanya Cak Nun masih hidup dan segar bugar sampai sekarang. Cak Nun memaafkan, tidak dendam pada orang yang menyantetnya. Bahkan jangan sampai pelakunya tahu kalau Cak Nun tahu dia pelakunya.

Cak Nun mengajarkan ilmu kehidupan dengan bahasa  rakyat yang familier oleh telinga awam. Jangan kaget kalau mendengar kata "jancok", "taek", "asu". Itu semua dalam rangka kemesraan dengan umatnya, dan kemesraan itu di atas moral. Tentu ada sikon yang membuat beliau tidak menggunakan kata "kasar" tadi, misal ada banyak anak kecil di event tersebut.

Kalau orang yang belum kenal Cak Nun, pasti mensesat-sesatkan. Padahal itu cuman style, metode Cak Nun memposisikan diri sejajar dengan rakyat yang paling jelata. Dan juga tiap orang diberikan keunikan yang berbeda dengan manusia lainnya. Dan itu lah keunikan Cak Nun. Daripada pusing, ambil saja yang bermanfaat, buang jauh yang nggak cocok denganmu.

Menurut Cak Nun, zaman sekarang harusnya ada re-edukasi, mencari ilmu yang benar di masjid-masjid. Jadi, bukan cuman doktrin atau menaku-nakuti umat. Sekarang kebanyakan ulama atau ustadz punya doktrin dan punya kepentingan untuk punya umat. Yang nantinya dimanfaatkan, digerakan, dimobilisasi, untuk suatu kepentingan suatu kelompok.

Cak Nun tidak pernah memanfaatkan jamaahnya untuk kepentingan pribadi. Seperti katanya, "Awas kalau kamu Cak Nun Mania, tak tonyo ndasmu! Saya bukan Kyai, aku temanmu, sahabatmu, aku cinta padamu kamu cinta padaku, tidak ada feodalisme, tidak ada kultus individu, saya tidak punya anak buah. Saya tidak mau bertanggung jawab atas kelakuanmu. Saya datang ke sini tidak untuk minta dihormati, saya ke sini untuk mengajak anda menghormati Allah dan Rasulullah."

"Saya tidak ngomong syar'i, saya ini ngomong budaya. Yang penting anda terurai, pikirannya bebas, adrenalin anda tumbuh, keringat anda mengucur, sehingga semua akan sehat, sel-sel anda menguat, pikiranmu cerdas, kepada istri makin sayang, kepada anak-anak kamu semakin bisa mendidik. Itu yang nomer satu. Bukan menakut-nakuti begini begitu. Yang terpenting hatimu dekat dengan Allah." Kata Cak Nun di lain waktu.

Walau nggak ingin disebut Ulama atau Kyai. Tapi bagiku hakikat Cak Nun adalah seorang ulama yang dibungkus dengan budayawan, seniman, atau penyair.

Cak Nun mewanti-wanti agar omongannya jangan dianggap kebenaran. Karena semua omongan ulama, kyai, ustadz itu bukan kebenaran, tapi tafsir. Yang pasti benar itu Al Qur'an, Allah. Semua aliran, sekte, madzhab itu nggak ada yang betul-betul benar. Mereka sama-sama mencari Islamnya Rasulullah. Dan pengajian itu bukan mengajari, tapi mencari derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah.

Orang awam tidak bisa menafsirkan Al Qur'an. Bahkan Kyai atau Ulama pun nggak semua bisa. Hanya ahli tafsir yang bisa menafsirkan Al qur'an. Bisa kita cuman Taddabur, mencari manfaat dari pergaulan kita dengan Al Qur'an. Kalau kita beli motor, kita nggak perlu tahu siapa yang membuat motor tersebut, pabriknya dimana, yang penting kita tahu manfaat dari motor tersebut.

Jadi begitulah Cak Nun, sang Pawang Bangsa sekaligus Guru Rakyat. Nggak hanya buat muslim, penganut agama lain juga senang mendengar khotbahnya yang adem, membuka pori-pori kecerdasan. Tidak mengajak benci kepada siapa atau apa pun. Setan pun jangan dibenci, karena setan sengaja diciptakan untuk menjadi sparing partner-nya manusia dalam melatih iman. Setan nggak punya piihan, pilihannya cuman berbuat buruk. Cacingan dech loe.

Wis ah, Iki serius rek. Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu.

(C) Robbi Gandamana, 25 Juli 2017